
Akhirnya setelah kejadian waktu itu Naura yang benar memblokir nomor Fiki pun tak terasa sudah satu bulan lamanya tanpa kabar dari kakaknya itu. Sedangkan untuk Fiki selalu dapat informasi dari teman sekolahnya yang ia mintai tolong dan bik Ina yang selalu tertib menghubunginya. Dan untuk hari ini semuanya tak berjalan mulus karena yang ibuk Dini rasakan sedari pagi kontrasi ingin melahirkan sampai pendarahan hebat yang tak terpantau dari sebelumnya jika sudah mendekati HPL_nya. Naura yang ingin pergi ke sekolah untuk sekedar melepaskan penatnya sampai menangis melihat Ibuknya yang sudah bersumpah darah. Karena pak Catur sedang pergi keluar kota akhirnya Naura dan bik Ina langsung membantu ibuknya untuk dilarikan ke rumah sakit. Sekitar 15 menit mereka sampai dirumah sakit dengan dibantu suster ibuk Dini langsung dibawa ke ruang operasi dan bik Ina sibuk dengan menghubungi bos laki-lakinya. Dengan perasaan ketakutan akhirnya Naura juga menghubungi kakaknya untuk sekedar memberitahukan kondisi ibuknya saat ini.
"Kak, ibuk pendarahan ini Naura dirumah sakit sama bik Ina. Bapak lagi diluar kota kak, kata Naura yang sedikit menagis mungkin jika Fiki juga di posisi itu juga sama. Kakak Naura takut kak, ibuk udah lemas banget tadi.
"Iya kakak sekitar 10 menit sampai rumah sakit dek, Adek tunggu ibuk ya. Ini kakak rencananya mau berkas untuk pendaftaran sekolah ditempat eyang gak taunya ada kabar seperti itu jadi kakak susul kamu sama bik Ina aja, tunggu dan tenang ya, sahut Fiki yang pas dia sedang pulang kesini. Akhirnya Fiki tiba di rumah sakit dan mencari sosok Naura untuk sekedar menghilangkan rasa takut Naura.
__ADS_1
"Sayang bagaimana kondisi ibuk, kata seseorang yang selama sebulan ini tak ada kabar yang bisa ia terima karena baru detik ini nomor kakaknya di bukak blokirnya. Dengan hati yang bahagia bercampur duka akhirnya ia juga bisa melihat sosok adiknya yang sangat ia rindukan.
Naura yang melihat arah belakang dang langsung lari ke pelukan kak Fiki tanpa menghiraukan semua orang yang ada disekitarnya. Rasa yang begitu terpendam selama sebulan ini sudah membuat pikiranya tanpa ada rasa malu dan takut karena ia sangat menginginkan bersama kakaknya itu.
"Ibuk, masih didalam Aden, belum ada dokter yang keluar dari ruangan beliau. Terus ini Bapak juga baru kondisi mau balik kesini, jelas bik Ina yang sedari tadi ada disamping mereka tapi tak dihiraukan.
__ADS_1
"Ya udah kita berdoa aja ya biar ibuk gak kenapa- napa. Naura pakai jaket kakak aja jangan pakai baju sekolah kaya gini. Kamu ganti di kamar mandi dulu ya biar kakak sama bik Ina yang akan menjaga beliau.
Akhirnya karena Naura yang menurut ia pergi ke kamar mandi untuk ganti pakaian dengan jaket kakaknya itu. Selama perjalanan ke kamar mandi ia tak henti-hentinya tersenyum sambil menciumi jaket yang ia pegang itu. Andai saja tak di rumah sakit mungkin Fiki sudah tak bisa berkutik apa-apa karena kena Omelan dari Naura.
Fiki yang hanya mondar-mandir didepan ruang operasi hanya berdoa sambil menunggu apa yang dokter perintah nantinya. Dia siap untuk apapun demi keselamatan ibuknya dan orang yang ia sayangi.
__ADS_1