
"Pak, Vineta punya penyakit pernafasan pak, ia harus dibawa ke rumah sakit pak. Pak Aan yang panik langsung berlari ke arah istrinya yang nampak semakin pucat itu. Ia berharap jika tak akan terjadi sesuatu pada istrinya itu. Dengan dibantu pak Budi akhirnya satu mobil berhasil membawa dokter Vineta untuk kembali ke rumah sakit untuk penanganan dokter Vineta. Pak Huda yang ikut satu mobil dengan pak Budi dan pak Aan sangat panik melihat dokter Vineta tak sadarkan diri ini. Ada rasa sakit yang tak tahu apa itu di ulung hatinya. Mungkin karena dokter Vineta mirip dengan mendiang anaknya. Tapi ia juga berdoa semoga dokter Vineta bisa terselamatkan kembali.
Sesampainya di rumah sakit dokter Vineta langsung di larikan di ruangan IGD untuk mendapatkan penanganan yang maksimal. Dari dokter yang menanganinya pun juga begitu panik karena detak jantungnya yang semakin melemah itu. Sedikit kepanikan jika ia tak bisa menolong dokter Vineta itu. Dari riwayat penyakit dokter Vineta hari ini yang sangat terlihat fatal. Padahal sebelum ia dilarang untuk mendonorkan tulang sum-sumnya tapi ini yang akhirnya ia dapatkan selain penyakit bawaan ia juga mengalami penyakit yang sama dengan Naura yang mengharuskan untuk segera mendapatkan pendonor agar ia selamat. Setelah dokter akhirnya memutuskan untuk memberikan informasi ini ia langsung menemui suami dari dokter Vineta untuk meminta persetujuan.
"Pak mohon maaf sebelumnya, tapi ini sangat penting mengingat kondisi dokter Vineta yang semakin melemah. Ia harus mendapatkan donor sumsum tulang belakang yang sama dengan miliknya saat ini juga. Jika tidak,, ucapan dokter yang terhenti untuk menceritakan resiko yang akan dialami dokter Vineta itu.
"Jika tidak apa dok, kami akan mencarinya secepatnya dok tolong bantu istri saya dokter aku akan pergi mencari pendonor yang tepet dok tunggu. Setelah mengucapkan kesanggupan pada dokter tersebut akhirnya pak Aan langsung akan pergi entah tujuannya saat ini yang terpenting ia ingin mencari orang yang sama dengan sumsum milik istrinya itu. Ia tak ingin terjadi sesuatu pada istrinya sambil mengusap air matanya dengan kasar akhirnya ia pamit pada pak Huda yang masih binggun dan menitipkan istrinya itu.
"Pak tolong jaga Vineta pak, aku ingin pergi sebentar aku mohon pak demi aku pak. Pas pak Aan ingin membalikkan badannya akhirnya pak Huda dengan cepat langsung merangkul tubuh tegap pak Aan itu. Tak tau apa yang ia rasakan tapi kehancuran pak Aan tak berbeda jauh dengan keadaan pak Huda saat ini. Rasa ditinggalkan orang yang ia cintai begitu berat baginya saat ini yang mengharuskan ia mengingat waktu Lia meninggalkannya dulu.
Sambil memeluk dan menenangkan pak Aan akhirnya pak Huda mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan itu.
__ADS_1
"Nak kita coba cek sumsum punya bapak nak, siapa tahu jika Allah berkehendak maka kami ada kecocokan. Saya yakin karena Naura saja bisa cocok dengan dia. Kalau tidak juga masih ada pak Budi dan nak Catur siapa tahu kita juga sama.
"Aku juga mau dicek nak, suara lembut milik ibuk Fina yang baru datang dengan sebagian ibuk keluarga yang menyusulnya itu. Tak tega jika ia tak menyusulnya saat ini. Tapi kejadian yang terjadi saat ini memang begitu bertubi-tubi baginya.
"Aku juga nak, sambung ibuk Dina masih terlihat jelas jika ia juga menginginkan menjadi orang yang bermanfaat bagi keluarganya itu.
"Kami juga, kami juga, kami juga, sahut bersama yang dilakukan ibuk Dini, ibuk Rita dan ibuk Tini. Mereka memang keluarga yang begitu kompak jika urusan hal ini.
Dengan begitu banyaknya dukungan akhirnya pak Aan kembali bisa bersemangat dan menemui dokter untuk mengecek satu persatu dari keluarganya itu. Berharap jika dari mereka ada yang cocok untuk ia donor kan.
Berbagai cara sudah ia lakukan tapi tak satupun yang bisa membuat Anand terluka. Tapi ia tak boleh tinggal diam jika ia menyerah sama halnya ia menyerahkan Tika dengan cuma-cuma. Sedangkan Fiki saat ini dan Naura serta kedua anaknya sudah pergi ke tempat yang jauh aman dulu agar tak ada kejadian yang terjadi lagi. Walaupun ia ingin sekali ada disamping dokter Vineta, tapi karena permintaan semaunya akhirnya Fiki mengalah dan langsung pergi dari tempat itu. Dengan telfon yang dimatikan dapat dipastikan jika Harun akan kesusahan mencari keberadaannya. Apalagi ia juga ingin membuat kedua anaknya tak trauma lagi atas kejadian itu.
__ADS_1
Setibanya di rumah yang ia sewa itu Fiki langsung menggendong Naura untuk segera istirahat. Sedangkan Oca dan Oci langsung di bina bobokan. Karena ingatan anak kecil lebih berharga akhirnya Oca dan Oci langsung di tidurkan. Hanya satu kamar dengan Naura saat ini yang ia gunakan karena rasa takut masih menyelimuti Fiki untuk anaknya dan Naura, orang yang ia cintai itu. Setelah mendapati kedua anaknya terlelap akhirnya Fiki langsung mendekati Naura yang masih terjaga itu.
"Sayang kenapa gak istirahat?
Atau kita hubungi keluarga yang ada dirumah sakit saja?
"Tapi kita bisa dilacak kak, tapi aku ingin sekali melihat kondisi ibuk. Kak apakah ini juga ulah Harun kak?
Kenapa sehari ini kita mendapati kesialan itu terus sih.
"Udah gak usah dipikirkan masalah Harun, yang terpenting saat ini kedua anak kita aman dan kau juga bisa pulih lagi. Kita pikir jika ini murni kecelakaan saja sayang. Sambil mengecup kening Naura akhirnya ia langsung memegang kedua kaki Naura untuk ia pijit. Dengan telaten ia selalu memperlakukan Naura dengan istimewa agar Naura cepat segera pulih. Nafas yang tadi sebelum kejadian kebakaran tadi ntah hilang kemana yang akhirnya hanya menyisakan rasa tak ingin kehilangan orang yang ia cintai. Dan sampai saat ini pun Fiki juga tak pernah menceritakan tentang Beti yang akhirnya berujung seperti ini. Tapi jika Naura tahu Beti diperlakukan seperti itu pastinya Naura orang yang paling utama yang akan memarahi Fiki. Jiwa wanita manapun akan sama dengan apa yang dilakukan Fiki waktu itu dapat dipastikan jika jalan solusinya hanya bunuh diri juga.
__ADS_1
*****
Semoga terhibur ini hanya cerita yang sebenarnya tak tahu ada di dunia atau gak. Semoga menghibur kakak💕💕💞