
Sekitar 3 jam lebih akhirnya pak Aan tiba dirumah sakit dimana Naura dan semuanya dirawat. Sedangkan bocah perempuan yang tadinya pingsan sudah siuman dan menangis sambil memeluk tubuh kembarannya itu. Rasanya tak adil bagi kedua anak itu. Tak ada yang membuat mereka merasa aman karena tak ada yang ia kenali sama sekali. Sedangkan kedua orangtuanya juga belum ada tanda-tanda untuk sadarkan diri. Wajah ayahnya yang terluka dan harus mendapatkan perawatan langsung, sedangkan untuk ibuknya saat ini mungkin karena sedikit benturan jadi ia belum bisa siuman lagi.
"Sayang, bagaimana keadaan kalian. Suara opa yang ia sayangi dan langsung memeluk tubuh ke dua anak itu. Sebenarnya mereka masih ada yang menjaganya karena mereka belum mengetahui itu jadi mereka menganggap hanya sendiri. Sedangkan anak buah pak Aan yang tadi menolong Naura dan menelfon ambulans pun hanya melihat kedua pemandangan itu dari jauh. Ia tak mungkin lancang menganggu momen Opa dan kedua cucunya. Karena ia tahu betapa pak Aan menginginkan kehadiran anak yang belum juga diberikan. Itu semua tak luput dari pengabdiannya pada pak Aan yang sejak pak Aan merintis bisnisnya ia sudah setia pada bos-nya itu. Apapun yang menyangkut tentang bos dan keluarga pasti akan bisa dia tangani tapi berbeda dengan masalah ini ia sangat kehilangan jejak yang seperti terhapus oleh air hujan dan tak membekas. Ia yakin bahwa yang dibalik ini semua pastinya orang yang memiliki kekuasaan juga. Baginya apapun itu bisa dibeli dengan kekuasaan dan jabatan jadi akan sulit untuk menangkap kepala dari ular itu jika ia tak bisa menangkap ekornya saja.
"Huuu Opa, Oca takut Opa. Kami disini hanya sendiri ibuk sama ayah gak bangun-bangun Opa. Tangis yang akhirnya pecah lagi karena tadi ia sempat diam dan menghibur saudara yang baru terbangun dari pingsannya itu.
Kemarahan pak Aan sangatlah terlihat dari bagaimana ia mengeratkan barisan gigi yang jika orang dewasa yang mengetahui itupun langsung ketakutan. Kemarahan yang selama ini tak ada yang mengetahui kalau dulu kemarahan seperti ini sering ia lakukan. Sudah lebih dari 17 tahun lamanya ia pendam dan berganti dengan kelembutan yang semua orang ketahui itu.
"Tenang sayang, disini ada Opa. Kita berdoa agar ibuk sama ayah cepat sadar ya. Kita bisa main bersama lagi kaya dulu. Oya sayang apakah kalian sudah makan biar Opa belikan makanan buat kalian ya. Sambil memeluk tubuh cucu perempuannya yang masih terdiam dalam pikiran kosongnya itu.
"Kita belum makan Opa, tapi apakah kita bisa makan sedangkan ibuk dan ayah juga belum makan. Kita takut jika ayah dan ibuk akan kelaparan. Jawaban anak laki-laki yang polos itu membuat anak buah pak Aan menguap dadanya karena sesak, betapa bahagianya bosnya mendapatkan cucu sebaik itu. Karena ia sendiri belum memiliki pasangan hidup jadi ia berharap jika anak-anaknya juga akan memiliki hati yang sama dengan anak kecil itu. Senyum yang akhirnya terbit dari sudut bibir anak buah pak Aan saat ini yang mana memikirkan ia yang sangat belum akan terjadi. Tanpa ia sadari sedari tadi pak Aan juga sedang memangilnya untuk membelikan makan untuk kedua cucunya itu tapi tak didengarkan panggil itu. Karena jarak pak Aan dan dia juga sangat jauh jago pak Aan tak mau mengakibatkan keributan. Akhirnya pak Aan langsung mengambil ponselnya dan menelfon anak buahnya itu. Karena mungkin jika ditunggu sadar pasti sampai lebaran gajah pun juga belum akan sadarkan diri.
Kring.. kring..
__ADS_1
Menyadari ponselnya bergetar akhirnya anak buah itu langsung mengangkat dua menatap ke arah bos-nya. Kenapa satu ruangan harus menelfon ya. Kan ini sangatlah lucu, baru mau tersenyum suara pak Aan yang garang langsung mengurungkan niatnya untuk tersenyum karena terlalu takut.
"Kamu aku panggil dari tadi melamun aja. Cepat belikan cucuku bubur. Pokoknya aku gak mau tahu 10 menit udah ada disini ya. Kedua cucuku sudah lapar ni. Suara pak Aan yang mengisyaratkan kemarahan tiada tara.
Sambil mengumpat akhirnya anak buah itu pergi meninggalkan lorong rumah sakit ini dan membelikan apa yang di inginkan oleh bosnya itu. Karena tak ingin dipecat tanpa pesangon jadi ia harus tunduk terus sama majikannya itu. Maklum dapat gajinya banyak sih😀.
Sedangkan dirumah sakit ternyata dokter Vineta sudah terbangun dari tidurnya. Ia melihat di sekelilingnya mencari sosok laki-laki yang ia cintai tapi tak ada pergerakan dari arah manapun.
"Udah bangun nak, gimana mau makan atau minum. Suara lembut ibuk Fina yang mendekat dengan sosok seseorang yang begitu mirip putrinya itu. Andai saja dia juga putriku maka aku adalah wanita terbahagia saat ini.
Deg,, Deg
Suara detak jantung ibuk Fina yang semakin cepat, ntah apa yang terjadi yang penting ia tak melakukan apapun dan makan apapun yang tak boleh ia makan. Atau mungkin karena ia merasakan betapa ia merindukan putri kecilnya dulu yang selalu manjanya dipangkuan itu.
__ADS_1
"Ibuk kok nangis sih ada apa?
Ibuk capek atau gimana, suara lembut Dokter Vineta yang bisa membantu ibuk Fina menyadari jika ini salah. Dengan cepatnya ia langsung mengusap air mata itu ia tak ingin terlarut- larut dalam kesedihan terus.
"Maaf nak ibuk gak sengaja. Apakah kamu menginginkan sesuatu? pertanyaan yang sebenarnya ingin mengalihkan perhatian wanita cantik yang sedang menatapnya itu.
"Gak buk Vineta, gak menginginkan sesuatu. Jika ibuk ingin menagis Vineta mau kok buk diajak bercerita agar ibuk bisa lega. Sambil memegang tangan orang yang lebih tua itu akhirnya dokter Vineta membenarkan bed nya agar sedikit naik agar enak untuk bersandar.
"Gak kok ibuk gak apa-apa. Oya suami kamu tadi nampak buru-buru dan pergi katanya ada yang harus ia urus jadi kalau kamu menginginkan sesuatu aku akan bantu atau saya siapakah. Jangan sungkan jika ingin memintanya jangan sampai kamu canggung ya nak.
"Eem iya buk, tapi apakah boleh Vineta meminta ibuk menganggap aku sebagai anak kandung sendiri. Aku bahagia buk bisa dekat dengan keluarga ibuk dan bapak. Apalagi bapak rela sakit kaya gini hanya buat Vineta. Tangisan yang sedari dulu tak pernah ia tumpahkan pun akhirnya pecah dengan keadaan ini. Ingin rasanya memeluk tubuh mungil ibuk-ibuk di depannya itu.
"Alhamdulillah kalau kamu mengakui kami sebagai orang tua nak, kami akan bahagia selalu. Dan masalah bapak seperti ini ia ingin sekali membantu orang lain yang membutuhkan di waktu dimana beliau masih bisa. Akhirnya ibuk Fina langsung memeluk anak angkatnya yang baru saja menyatakan jika ia mau dianggap sebagai anaknya juga.
__ADS_1