
Setibanya di rumah sakit Fiki langsung mendapatkan penanganan yang paling bagus. Karena Nenek Dina saat ini juga masih dirawat maka kakek Budi juga saat ini sedang ada diruangan menunggu istrinya itu. Setelah kemarin mendapatkan kabar jika Naura dan Fiki mengalami kecelakaan maka ia langsung tak sadarkan diri. Begitu nenek Dina terpukul karena cucu yang ia sayangi mengalami koma. Jika ia memilih maka ia akan memilih dia yang terluka daripada mengorbankan cucunya itu. Karena hanya Fiki yang ia punya sebagai peninggalan anaknya Firman dulu.
Diruangan Fiki saat ini semuanya dikerjakan langsung oleh beberapa dokter spesialis agar Fiki mendapatkan penanganan yang terbaik. Karena sebelum pasien datang pak Aan sudah meminta untuk semuanya itu.
"Mama, panggil Naura yang masuk ke ruangan dokter Vineta yang didorong oleh kedua anaknya itu. Walaupun ia sudah sehat tapi jika tak memakai kursi roda ia juga belum bisa berdiri terlalu lama kadang masih suka pusing takut akan jatuh.
"Naura dan cucu-cucu Oma,,, apa kabar kalian... apa kabar nak, sahut Mama Vineta yang sambil menciumi Oca dan Oci bergantian itu. Rasanya kangennya melebihi apapun yang belum pernah ia rasakan.
"Kami baik Oma, Oya Oma bagaimana kondisinya kata Opa sakit harus gantian dirawat dokter gini. Sahut Oci yang terlihat lucu itu.
"Oma sudah sembuh sayang, maaf ya buat kalian khawatir. Oya Oma punya sesuatu di laci meja itu untuk kalian berdua lho. Kalian ambil ya, perintahnya pada Oca dan Oci.
Setelah Oca dan Oci berebutan mengambil yang dimaksud Omanya tadi, Mama Fina langsung gantian menyapa anaknya itu. Sambil mengusap rambut Naura Mama Vineta memberikan semangat untuk anaknya itu.
"Nak kamu harus kuat demi Fiki ya. Jaga anak-anak dan beri dukungan buat Fiki juga. Dan satu lagi kami disini juga ada untuk kamu nak, ucapan Mama Vineta yang baik hati itu. Begitu banyak cobaan Naura yang membuat hidup seperti ini.
__ADS_1
"Iya sayang kami juga ada untuk kalian semua. Hanya kalian yang kami utamakan saat ini, sambung Nenek Fina dan kakek Huda yang baru keluar dari kamar mandi.
"Kakek, Nenek makasih kalian sudah ada buat kami. Saya terima kasih karena kalian juga sudah menyelamatkan Mama Vineta kakek, jika tak ada kalian saya tak tahu ingin mengucapkan ini semua untuk siapa.
"Udah jangan begitu sayang, kami sudah menganggap kalian adalah keluarga satu-satunya kami, jadi tak akan mungkin kami tak membantu kalian juga. Ya udah kita ke ruangan Fiki aja kakek pingin lihat dari luar jika belum bisa masuk juga gak apa-apa, ajak kakek Huda yang akhirnya pergi mengunakan kursi roda juga. Dokter Vineta juga memakai kursi roda yang di bantu dorong oleh Oci sedangkan Oca mendorong ibuknya. Bagaikan lomba lari kursi roda yang tiga kursi itu berurutan keluar bersama-sama sampai-samapi pengunjung yang lainnya pada ikut memperhatikan penampakan itu semua.
Pas semuanya sudah ada di depan ruangan Fiki ternyata Nenek Dina juga sudah ada didepan ruangan itu yang masih dibantu oleh kakek Budi untuk duduk. Mungkin karena ingin sekali bertemu atau sekedar melihat cucunya sehingga walaupun beliau sedang lemas tak berdaya masih tetap menghampiri ruangan itu. Pokoknya hari yang begitu pilu karena satu demi satu keluarganya sakit dan harus dirawat.
Setelah berkumpul dan hanya menunggu kepastian dari dokter yang menangani Fiki tak ada yang berani berbicara sedikitpun karena menunggu kepastian dari dokter.
"Aaahhhkk,,
"Sudah buk, kita berdoa saja agar cucu kita baik-baik saja. Kalau ibuk kaya gini nanti kita dimarahi sama penjaga lho buk, menganggu ketenangan pasien yang lainnya lho, bujuk pak Budi yang merasa jika istrinya akan kena teguran jika tidak di ingatkan. Sebenarnya memang akan menganggu ketenangan yang lain tapi jiwa seorang ibuk dan wanita akan terluka jika anak atau keluarganya sakit apa lagi sampai tak kunjung sadarkan diri kaya gini.
Sebenarnya yang merasa sedih tidak hanya Nenek Dina, tapi semuanya tak sampai histeris kaya beliau itu.
__ADS_1
"Cheklek,,
Pintu ruangan yang ditunggu-tunggu akhirnya di buka oleh dokter yang tadi merawat Fiki. Langsung saja pak Aan dan pak Catur langsung mendekati dokter itu ingin menanyakan kondisi Fiki yang terbaru. Berharap jika ia akan cepat sadarkan diri.
"Dok, bagaimana kondisi anak kami Dok, mungkinkah ada hari baik agar ia sadarkan diri lebih cepat. Kami akan berdoa semoga rumah sakit ini yang bisa menyadarkan anak kami., tanya pak Catur yang langsung memegang lengan dokter itu. Tanpa rasa apa-apa ia meminta yang terbaik hanya untuk anaknya itu.
"Maaf pak, kami juga sudah semampu menjalankan tugas kami pak, tapi untuk kehendak Allah saya belum tahu akan sampai kapan pasien terus koma pak. Yang terpenting keluarga selalu mengajak pasien untuk selalu berbicara jika pasien terus ada perubahan untuk merespon perkataan dari salah satu diantara keluarga maka itu sudah akan sadarkan diri pak. Karena walaupun seseorang koma tapi sebenarnya organ kepala masih terus merespon apa yang dia tangkap, jelas dokter tadi sebenarnya dokter Vineta juga tahu itu semua tapi biarkan pak Catur mendengar itu semua dari dokter yang bertugas. Apalagi dokter Vineta dan pak Catur tidak begitu dekat dan belum begitu terbiasa. Karena merasa canggung jadi lebih baik agak jaga jarak pikiranya.
Setelah mendengarkan penuturan dokter tadi pak Catur langsung terperosok ke lantai. Begitu beratnya hidupnya saat ini. Melihat anaknya yang terbaring dengan alat bantu. Walaupun tak ada hubungan darah sama sekali tapi pak Catur tak pernah menganggap Fiki anak tiri tapi anak kandung yang sama persis mendapatkan kasih sayang darinya. Pak Aan yang mendapati pak Aan begitu hancurnya langsung ikut berjongkok dan menghiburnya betapa kasih sayang orang tua yang tak lengkang oleh waktu. Sampai darah penghabisan pun ia perjuangkan hanya untuk buah hatinya. Maka jadilah anak yang selalu ingat akan jasa dari orang tuamu. Karena hanya itu yang bisa kau buat tolak ukur untuk membahagiakannya kelak.
Kembali pada topik utama yang Pak Aan memberikan dukungan buat pak Catur. Betapa tersayat rasanya melihat seorang ayah yang menangis di lantai itu. Karena pemandangan itu akhirnya di depan ruangan Fiki tadi semua keluarga besar itu bersedia dan ada yang sampai sesegukan karena menahan suaranya agar tak ikut keluar.
"Pak kami disini juga berharap jika Fiki akan segar pulih pak. Pak Aan langsung memberikan pelukan hangat agar pak Catur tak larut dalam kesedihan seperti ini.
****
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya kakak tercinta. Semoga walaupun tak begitu menarik ceritanya tapi sedikit menghibur ya kakak..💕💕💕💕
Salam hangat dari ku...Hugo Wijaya