CATATAN HARIAN NAURA

CATATAN HARIAN NAURA
Telepon dari ibuk Dini


__ADS_3

"Ih nenek gemes lho kalau lihat Naura lagi jengkel kaya gini, apalagi kalau Nenek lebih mengutamakan Kak Fiki pasti Naura akan ngambek untuk waktu yang lama. Hanya Kak Fiki yang bisa bikin Naura ceria lagi, ungkap Nenek yang sambil meminum teh hangatnya. Kehadiran kedua cucunya membuat hari ini sedikit gundah terobati. Jika beliau teringat tentang mendiang Firman dan anaknya Cika beliau selalu memanggil kedua cucunya untuk bisa bersama untuk sedikit waktu Walaupun tidak bisa setiap hari karena kesibukan yang lainnya juga sudah mengobati rasa yang ada di benak beliau tadi.


Kring,,kring,,kring...

__ADS_1


Bunyi telepon Fiki yang ada disaku celananya itu dan langsung diangkat oleh Fiki karena ibuknya yang sedang menghubunginya. Karena mereka lupa memberitahukan bahwa gak pulang dulu Fiki pasti sudah tahu apa yang ingin ibuknya tanyakan.


"Fiki kamu masih disekolah sama adikmu nak, kok jam segini kalian belum pada pulang, ucap ibuk Dini di balik telfonnya itu. Betapa khawatirnya beliau menunggu kedua anaknya tak kunjung pulang itu.

__ADS_1


"Maaf buk, Fiki sama Naura lupa memberi tahu pada ibuk jika saat ini kami main ke tempat nenek Dina dulu buk, ucapnya yang melihat adiknya karena mereka sama-sama lupa memberitahukan pada orangtuanya jika tidak langsung pulang kerumah.


Nenek Dina yang melihat Fiki melihat Naura dengan tatapan takut pun akhirnya meminta telefonnya agar beliau bisa ngobrol sama ibuknya anak-anak itu. "Nak anak-anak pada main kerumah kok jadi aman aja. Gimana kondisi kamu dan kandungan kamu nak, maaf ibuk belum bisa main kerumah apalagi ibuk juga sering kerumah eyang yang kadang sakit, jelas ibuk Dina yang menceritakan kondisi ibuknya yang karena kangen Fiki. Karena Fiki yang tampak mirip dengan mendiang ayahnya yang tinggi, putih, ganteng, dan satu lagi dia selalu hangat dengan keluarga besar mereka itu membuat eyang selalu mendambakan jika Fiki bisa tinggal bersama beliau di hari tuanya itu. Ada harapan untuk Fiki bisa tinggal dengan beliau sebelum beliau tutup usia. Maka dari itu rumah besar milik beliau emang sengaja diwariskan pada Fiki supaya ia mau tinggal disana nantinya.

__ADS_1


"Dini baik buk, kabar Dini dan kandungan Dini juga baik, Giman bapak buk beliau masih sibuk kaya dulu? tanya Dini yang memang masih biasa dengan ibuk Dina dan pak Budi seperti orang tua sendiri bagi mereka. Apalagi untuk keluarga yang lain selalu masih menganggap Dini adalah bagian hidup mereka membuat tali yang terjalin dengan mereka tetap membaik sampai saat ini. "Oya buk, kemarin Fiki pamit sama kami mau kerumah eyang yang habis ujian Minggu depan katanya buk. Kami disini mengijinkan cuma Naura yang begitu berat melepaskan kakaknya.


"Iya ini tadi kita bahas itu Naura pun juga masih sedikit manyun kok, sahut nenek Dina yang langsung melihat cucu perempuannya binggun setelah dilihat begitu dalam. Ya udah nak biar anak-anak disini sebentar ya ibuk masih ingin sama merasa, ucap ibuk Dina yang setelah mendapatkan ijin oleh Dini langsung mematikan telepon tadi.

__ADS_1


__ADS_2