
"Udah eyang, ini surat kesehatannya. Ya udah kita berangkat aja ya, ajak Fiki karena tak mau menundanya agar eyang juga cepat kembali pulih seperti sedia kala lagi. Fiki yang langsung menuju garasi mengambil mobil eyang pun akhirnya mengantarkan eyang kerumah sakit yang ditemani oleh bik Ijem. Dalam perjalanan Fiki yang masih penasaran dengan sosok yang ada dalam foto itupun hanya terdiam sambil fokus dengan perjalanan.
"Nak, kamu kok diem terus kenapa? ,atau kamu ada pekerjaan yang lain ya kok jadi kepikiran gitu. Kan eyang tadinya gak mau ngrepotin kamu nak kalau kamu banyak tugas kaya gini, kata eyang yang memulai pembicaraan didalam mobil.
"Enggak kok eyang tenang aja, Fiki gak kenapa-napa kok, Oya eyang janji ya pokoknya harus nurut sama Fiki agar Fiki masih mau tinggal ditempat eyang. Kan sekarang Fiki tanggung jawab eyang, sedangkan eyang juga tanggung jawab Fiki juga kan, iya kan bik? , tanya Fiki pada bik Ijem yang hanya tersenyum aja melihat eyang dan Aden berdebat terus.
__ADS_1
"He'em eyang nurut, tapi kamu jangan pindah ke tempat ibukmu ya kan sini juga udah rumah kamu juga kan, sahut eyang yang tak mau kalah. Akhirnya mereka tiba dirumah sakit dan langsung dibantu oleh suster mengungkapkan kursi roda untuk menuju ruang. Dulu waktu eyang tinggal masih sama Nenek Leni dia bebas keluar masuk ke rumah sakit ini tapi setelah Nenek Leni ikut suami maka eyang tak pernah lagi menginjakkan kaki di sini.
"Eyang masuk dulu ya biar Fiki urus administrasinya dulu, ucapnya yang menyuruh eyang masuk bersama bik Ijem dulu.
Fiki yang menerima kartu eyang pun binggun kenapa kartu eyang pun dengan pin tanggal lahir dirinya!' Dan foto yang ada disaku pun masih dalam pikirannya saat ini. Sebenarnya siapa yang bersanding di pelaminan dengan ibuknya itu. Selama ini dia tak pernah mengetahui hal ini dan begitu pun keluarga yang seperti menutupi ini semua. Kan jika Fiki tau dari dulu mungkin ia tak akan sepenasaran seperti ini.
__ADS_1
Setelah membayar administrasi ia langsung menuju ke ruangan eyang dan ikut mendengarkan apa yang di ucapkan oleh dokter nanti. Dia ingin eyang cepat pulih dan itu waktu yang tepat untuk Fiki mencari tahu dari eyang. Ya hanya beliau yang bisa Fiki andalkan.
Semua yang di katakan dokter semuanya sudah Fiki cerna dalam pikirannya, dari pantangan yang tak boleh eyang makan sekalipun. Dan setelah menebus obat akhirnya mereka pulang agar eyang cepat bisa pulih dan istirahat yang cukup.
Pokoknya Fiki sudah harus bisa merawat eyang seorang diri jika bik Ijem pulang. Karena kondisi eyang yang masih membutuhkan apapun dengan bantuan orang lain. Kalau beliau tak sakit seperti ini biasanya apapun kebutuhan masih bisa dilakukan sendiri padahal usia beliau sudah 66 tahun. Walaupun usia sudah segitu tapi jiwa muda eyang tak kalah dengan orang-orang muda sekarang yang seringkali mengeluh tentang semuanya. Maka dari itu Fiki harus bisa meniru dari eyang betapa beliau tak mau merepotkan orang lain tentang semua urusan hidup selagi beliau mampu.
__ADS_1