
Malam panjang bagi dua insan yang tertidur di dalam kalbu rasa tak ingin berpisah. Fiki yang senantiasa memeluk tubuh ramping didepannya itu bak memeluk boneka hidup. Naura yang merasa lebih nyenyak pun tak kunjung bangun untuk sekedar memindahkan posisi tidurnya.
"Sayang kamu sudah tak lagi kecil bagi ku, kau sudah bisa merasakan arti cinta dalam hatimu. Walaupun kakak tau apa yang kau rasakan saat ini kakak akan berjanji untuk menjaga hati ini untuk tak menyakitimu. Esok adalah harapan kita untuk tetap bisa bersama selama. Dan kamu adalah hidup kakak yang akan kakak jaga seutuhnya, ucap Fiki yang terbangun dan semakin memeluk tubuh Naura. Karena sudah tengah malam Fiki memutuskan untuk pindah ke kamarnya takut bapak atau Ibuknya mengetahui hal ini. Sambil mengecup bibir merah Naura akhirnya Fiki pergi dan membenarkan selimut adiknya itu.
Mungkin apa yang dilakukan Fiki saat ini dibatas normal seorang kakak dan adik. Rasa ingin memiliki hati dan raga Naura utuh terpatri dalam kalbunya yang membara. Setelah sampai di kamarnya sendiri dan merasa ada yang tak beres dengannya akhirnya ia memutuskan untuk mandi agar lebih rileks. Padahal tepat pukul 12 malam saat ini dia sampai tak menghiraukan hal itu. "Maafkan aku Naura aku tak sanggup untuk tak melakukan hal tadi. Andai kamu tau apa yang kakak rasakan saat ini sakit yang tak kunjung ada obat penawarnya. Sekitar 15 menit Fiki berendam dan merilekskan pikiran akhirnya ia bisa kembali tertidur.
__ADS_1
"Sayang bangun sayang, kamu mau ikut bapak beli oleh-oleh buat eyang gak? ,tanya pak Catur yang mengeruk pintu Naura. Karena sudah pukul 6 lebih dia tak kunjung terbangun.
"Iya pak, sahut Naura yang membukakan pintu sambil mengusap kelopak mata yang masih ingin tertutup itu.
"Biasanya kamu udah bangun jam segini, gak subuh apa kamu sayang tanya pak Catur lagi.
__ADS_1
*******
Benar apa yang direncanakan akhirnya Naura dan pak Catur pergi membeli oleh-oleh. Tanpa mengajak Fiki karena belum terbangun sedangkan untuk mengajak istrinya yang hamil besar adalah mustahil. Karena setelah mencari buah tangan nanti mereka akan mengantarkan Fiki ke stasiun jadi biar lebih gampang.
Tepat pukul 11 setelah melakukan makan siang akhirnya mereka berempat pergi ke stasiun seperti apa yang direncanakan tadi. Tak ingin terlambat maka Fiki minta diantar lebih awal. Pak Catur yang fokus dengan kemudinya hanya melihat arah depan sedangkan ibuk sedari tadi sudah memberikan peringatan untuk Fiki tidak lakukan di rumah eyang nanti. Semuanya sibuk dengan apa yang mereka lakukan tetapi Naura sibuk dengan pikirannya sendiri tentang mimpi yang semalam ia dapatkan. Mimpi yang serasa itu nyata bibir hangat yang sampai saat ini masih bisa ia ingat.
__ADS_1
"Naura kamu kenapa, tegur Fiki sambil memegang tangan adiknya itu.
"Gak apa-apa kak, nanti kalau sampai sana kakak kabari Naura ya. Jangan sampai lupa itu kalau lupa Naura janji tak akan angkat telepon kakak lagi.