
Setelah kejadian Harun yang mabuk dan bermalam di rumah Anand waktu itu mereka tak pernah berjumpa untuk lebih dari satu Minggu. Karena Harun juga sibuk dirumah sakit sedangkan Anand juga sibuk mengurusi proyek. Hanya saling komunikasi memakai telefon genggamnya saja. Pas siang ini Harun sengaja meminta Anand untuk menemuinya di kafe dekat rumah sakit ada yang ingin Harun bicarakan mengenai bangunan yang ia akan tambahi ruangan lagi. Sekitar 10 menit Harun yang sudah datang lebih dulu karena tempat kerjanya hanya dekat saja ia pun akhirnya melihat Anand yang masuk ke kafe itu dengan sedikit tergesa-gesa mungkin takut jika akan mengecewakan Harun yang tak tau sudah datang atau belum. Setelah sampai di dekat meja pesanan Harun yang melihat Anand pun langsung melambaikan tangan berharap jika Harun juga akan mengetahuinya. Akhirnya Anand langsung duduk disamping Harun dan memesan minuman. Cuaca sangat panas karena pulang yang terdapat garis katulistiwa itu adalah pulau yang menyimpan sejuta keistimewaan yang akan kita temukan jika kita sudah singgah ke pulau itu. Percakapan demi percakapan akhirnya terlaksana dengan lancar. Semua apa yang Harun inginkan sudah ia sampaikan pada Anand berharap jika bangunan villa itu akan cepat usai. Karena saat ini juga jam makan siang akhirnya Harun juga memesankan makanan untuk Anand agar mereka bisa sedikit makan bersama. Kafe yang juga sangat ramai para dokter dan perawat yang memesan makanan serta dari kalangan pembelian yang bukan kompleks rumah sakit. Pas pesanan Harun datang betapa kagetnya Anand yang baru ingin makan sedang melihat orang yang tak asing sedang memesan makanan juga di kafe ini. Bahagia bercampur penasaran jika yang ia lihat adalah benar apa yang ia cari. Mau meninggalkan Harun juga ia tak mungkin karena ia tau rasa sopan yang diajarkan keluarganya dulu. Baru mau berpamitan pada Harun ternyata Harun lebih dulu pamit pada Anand yang masih bengong itu.
"Bentar ya aku mau nyapa Tika dulu, dia pasti makan kesini jika ibuknya sedang tugas jadi aku juga menantinya, jelas Harun yang langsung pergi meninggalkan Anand dimeja nya itu. Sedangkan Anand yang melihat Harun malah mendekati wanita itupun semakin penasaran pada wanita itu. Kenapa tadi Harun bilang mau ketemu Tika? ,'Siapa Tika itu kenapa aku merasa jika dia adalah Naura. Semua yang telah ia pikirkan akhirnya tumpah begitu saja. Ya karena Anand yang Harun kenal adalah Ananda Fiki kakak Naura yang sudah berupaya penuh untuk mendapatkan Naura kembali. "Tapi kenapa tadi ia bilang Tika sering makan sini sambil menunggu ibuknya. Siapa sebenarnya dia, akhirnya Anand yang binggung pun memutuskan untuk mendekat pada Tika bersamaan dengan dia mendekat ada satu wanita paruh baya yang juga hadir diantara Harun dan Tika tadi. Dapat dipastikan jika beliau adalah ibuknya. Akhirnya Anand tak jadi mendekat karena tak ada yang harus ia lakukan jika bersama mereka juga apalagi mereka juga belum kenal. Pas Anand mau duduk lagi Harun yang diseberang sana memanggil Anand untuk mendekat.
"Anand sini biar aku kenalkan Tika sama ibuknya, panggil Harun yang menginginkan Harun mengenal siapa yang akan ia biarkan villa yang masih dikerjakan Anand itu. Dengan langkah tegapnya Anand yang berjalan kearah Tika serta ibuknya dan Harun melihat ada yang tak beres dengan penglihatannya. Semakin ia mendekat semakin terlihat jelas wajah wanita cantik yang ada didepannya. "Akankah ini mimpi? ,'Aku bisa bertemu orang yang aku sayang lagi. Atau ini hanya hayalan ku saja. Pikiran yang Anand pikirkan saat ini. Entah bahagia atau sedih karena ternyata semakin ia semakin dekat Naura tak mengenalinya lagi. Akankah ini bukan Naura melainkan Tika?
__ADS_1
Karena bengong Anand yang sudah tiba didepan ketiga orang yang sudah melihatnya dari kejauhan tadi sampai ia tak menghiraukan ucap Harun.
"Woe, kenalin dia Tika bro dan ini dokter Vineta ibuk dari Tika, ucapan Harun sambil menepuk pundak Anand yang masih bengong tadi. Akhirnya Anand bersalaman pas ia bersalaman dengan Tika ada rasa yang tiba-tiba timbul tapi ia enggan untuk mengutarakan. Sedangkan Tika yang menyadari jika itu Ananda Fiki kakaknya pun tak mau jika semuanya mengetahui ini jadi ia memutuskan untuk tampak biasa saja. Padahal hati kecil Naura sangat menangis melihat Fiki yang terlihat sedikit tua dan kurus rambut yang tak terurus sedikit panjang dan merah. Ingin rasanya Naura memeluk tubuh kecil itu tapi apa daya semua tak akan boleh terjadi apalagi ia sudah lima tahun ini berusaha untuk setegar mungkin. Sorot mata yang terlihat kesedihan pada Naura terlihat jelas di hati Fiki. Ini pertama kali mereka bertemu selama ini. Tubuh Naura yang sedikit berisi dan lebih cantik lagi. Tak salah seorang Harun memperjuangkan hal itu semua baginya. Tapi siapa sangka jabat tangan Naura a dan Fiki yang amat lama itu di tegur langsung dengan dokter Vineta.
"Ehem,, udah sayang dilepas dong, kita langsung makan aja ya ibuk gak lama istirahatnya. Kamu juga kan harus balik ke kampus kan, ucapan yang terlihat memerintah itu sanggup membuat Naura dan Fiki kelabakan menutupi kegugupannya.
__ADS_1
"Harun aku pamit dulu ya, aku mau balik ke proyek dulu mari buk, pamitnya sambil membungkuk dan tersenyum.
"Ya udah hati-hati ya aku mau duduk sebentar sama dokter Vineta jadi kamu duluan aja ya, Harun tak menyadari jika Anand yang pergi melalui pintu samping yang menghubungkan toilet tadi. Pas ia sampai di depan toilet wanita ia sengaja menunggu Tika yang ternyata juga sudah selesai. Tangan putih dan mulus miliki Tika langsung di tarik oleh Anada Fiki tadi natah ia tak tau mau kemana. Mau mencari pertolongan dan teriak tapi takut Harun dan ibuknya mengetahui itu semua. Pas Fiki berhasil membawa Naura di gudang kafe tadi Fiki langsung menatap manik mata Naura dengan seksama.
"Kamu bisa ya lupain kakak Naura, ucapan yang langsung menuju ke Naura. Dapat dipastikan jika saat ini Fiki juga sedang marah.
__ADS_1
"Siapa Naura, anda salah orang kak, aku buka Naura aku Tika sedangkan aku saja tak pernah melihat kau, balasan yang sangat lebih menyakitkan ternyata dia benar tak mengenalnya.