CATATAN HARIAN NAURA

CATATAN HARIAN NAURA
Akhirnya Naura sadar juga


__ADS_3

Tak terasan setelah sepeninggalan dokter jastin tadi sekitar 20 menit akhirnya dokter Vineta datang keruangan Naura. Ia sangat terkejut melihat kondisi Naura saat ini yang semua badannya langsung berubah warna menjadi kemerahan itu. Kalau di pikir obat yang beliau berikan pada Naura juga sama dengan apa yang kemarin berikan. Tapi kenapa efeknya baru terlihat saat ini. Dengan pikiran yang kalang kabut akhirnya dokter Vineta langsung ingin menganti infus milik Naura agar diberikan obat yang baru. Tapi bukan mau nganti karena masih banyak tapi infus milik Naura sudah habis masuk ke tubuh Naura itu. Binggung mau melakukan apa akhirnya dokter Vineta menelfon seseorang yang sering ia ajak berunding tentang kondisi Naura itu. Ia meminta dokter jastin masuk keruangan Naura dengan cepat takut terjadi apa-apa pada Naura.


Dokter jastin pun tiba dengan ketakutan apa yang ia lakukan tadi akan membuat Naura kenapa-napa. Pas pintu kamar rawat Naura dibuka oleh dokter jastin pas itu pula pandangan semua orang yang ada diruangan itu tertuju pada sosok laki-laki yang tak jauh berbeda dengan postur tubuh pak Aan yang baru datang dengan wajah yang menyimpan ketakutan itu. Dihadapan semua keluarga dokter jastin tak bisa berbuat banyak karena ia juga sebenarnya tak tau apa yang terjadi pada pasien Naura tersebut. Keringat dingin yang timbul saat ini melebihi keringat kecapekan waktu menjalani operasi. Sedangkan yang ini binggun mencari alasan yang pas untuk menjawab pertanyaan yang terjadi nanti.


"Kak, kaak ucapan yang lirih tapi masih sanggup didengar oleh para penghuni kamar Naura itu. Semua langsung mencari ke arah suara yang yang barusan memanggil kakak itu. Dan betapa bahagianya akhirnya Naura sadarkan diri dan bisa membuka matanya kembali. Kebahagiaan yang tak bisa di ucapkan dari keluarga yang menunggu Naura tadi akhirnya ia menangis melihat Naura kembali bisa sadar. Sedangkan yang tadinya dokter jastin ketakutan akhirnya bisa bernafas lega karena bantuan Naura sadar jadi ia tak jadi bahan pertanyaan. Mungkin saja jika ia langsung pergi dari ruangan itu ia juga tak akan dicari kali ya. Sedangkan Fiki yang dipanggil Naura pun langsung mendekat tubuh yang masih lemas itu. Setelah memgengam tangan Naura untuk memberikan semangat akhirnya Fiki bisa tersenyum melihat apa yang ia tunggu akhirnya bisa kembali pulih lagi.


"Kak, kakak gak apa-apa kan?


Mungkin jika dia sudah sedikit sadar mungkin pertanyaannya gak cuma sedikit seperti ini. Tapi berhubung saat ini ia masih dibantu alat pernafasan maka ia tak begitu bisa bicara.


"Baik sayang, aku tak apa-apa. Kenapa kau lama sekali yang tidur, apa mungkin kamu lelah. Jika Naura lelah tinggal bilang ke kita tapi jangan buat kami khawatir seperti ini ya. Kakak janji akan buat kamu merasa aman Naura. Mungkin karena kakak gak bisa jaga kamu sehingga kamu kaya gini. Tangisnya penyesalan yang Fiki keluar kan sanggup membuat keluarga yang lainnya ikut merasakan apa yang ia rasakan terutama kakek Huda dan nenek Fina itu.


"Jangan pikirkan aku kak, aku baik-baik saja. Aku juga bisa mendengarkan apa yang kalian bicarakan lho kak, aku hanya tidur dan sangat lelah mungkin aku gak akan seperti ini jika suatu sedikit membaik. Apa yang Naura ucapkan langsung menjadi pertanyaan besar bagi dokter Vineta. Karena penuturan Naura yang saat ia tertidur juga masih bisa mendengarkan percakapan orang lainnya. Padahal jika orang tak sadarkan diri itu sangat tidak mungkin jika akan sedikit sadar dan mendengarkan percakapan orang yang ada di sekitarnya. Karena kejanggalan yang dilakukan Naura akhirnya dokter Vineta langsung melihat ke arah dokter jastin yang hanya diam itu. Padahal dokter jastin sudah merasa jika dirinya aman, tapi setelah tatapan mata dokter Vineta kembali melihat kearahnya ia langsung mati kutu kenapa ia juga tak pergi dari tadi dan tak akan ditanyai yang aneh-aneh.


Sangat tergesa-gesa akhirnya dokter Vineta langsung meminta dokter jastin untuk keluar dan keruangan dokter Vineta, karena ini harus ditanyakan agar ia juga tak bertanya-tanya terus.

__ADS_1


''Dok, ini permainan seperti apa ya. Aku tau tadi sebelum saya masuk ke ruangan Tika dokter lebih dulu yang masuk kan? ,Apa yang dokter berikan pada infus Tika dok?


Ternyata ada dokter yang tak jujur seperti anda seperti ini. Apalagi anda sudah saya percayai atas khusus Naura ini lho dok. Aku yakin dokter ada yang ditutup- tutupi kan? ,tanya dokter Vineta sedikit meninggikan suaranya.


Setelah sampai keruangan dokter Vineta semua yang akan ditanya tadi akhirnya ditanyakan langsung oleh dokter Vineta. Beliau tak ingin jika ternyata beliau dipermainkan oleh dokter jastin tersebut. Apalagi menyangkut nyawa dari keluarga beliau sendiri.


Dengan tertunduk dokter jastin akhirnya menjelaskan apa yang ia ketahui saat ini. Mungkin beliau juga tak tau apa yang sebenarnya terjadi seperti ini. Dengan hati-hati akhirnya beliau menceritakan apa yang ia ketahui tapi jika ia akan jujur yang sebenarnya mungkin ia juga akan langsung dipecat oleh dokter Harun juga. Binggung akan melakukan apa akhirnya sebuah cerita dimulai.


"Sebelumnya saya minta maaf ya dok, memang saya sebelum dokter Vineta masuk yang lebih dulu masuk keruangan Tika. Dan benar adanya jika saya memberikan obat pada infus Tika dok. Tapi asal dokter tahu jika obat itu juga dokter tadi pagi yang memberikan pada infus Tika kan Dok, kita gunakan obat itu untuk 3x pemakaian kan Dok, jadi pas siang hari itu saya yang memberikan obat itu. Kalau dokter Vineta gak percaya saya masih menyimpan bungkusnya kok. Ini dok kalau dokter ingin melihatnya ucapan dokter jastin yang memperlihatkan botol kecil bekas obat yang sebenarnya buka milik Tika itu. Tapi untuk mengantisipasi hal seperti ini maka tadi sebelum beliau dihubungi dokter Vineta untuk keruangan Tika ia sudah menyiapkan apa yang sekiranya ia butuhkan. Dan benar apa yang ditakutkan akhirnya terjadi jika buka karena bantuan botol bekas itu dapat dipastikan jika dokter jastin mendapatkan sangsi atas apa yang ia lakukan itu.


"Ya udah dok, terima kasih dok atas bantuannya. Mungkin jika tak ada dokter saya juga kwalahan untuk mengurus Tika seorang diri juga dok. Kalau dokter berkenan ijinkan kami sekeluarga mengundang dokter jastin dan keluarga untuk besok peresmian Tika anak saya untuk menjelang pernikahan dok. Mungkin tak lama lagi jika Tika sudah sembuh ia akan langsung melangsungkan pernikahan itu, penuturan dokter Vineta yang sebenarnya dokter Jastin berbeda pemikiran. Dokter jastin berfikir jika Tika anak dari dokter Vineta akan menikah dengan dokter Harun yang memang memiliki perasaan yang besar bagi anak Dokter Vineta itu. Sampai seisi rumah sakit juga tahu tentang hal itu makanya jika menyangkut tentang Tika semua rumah sakit juga ikut binggung dan selalu tunduk pada dokter Vineta ibuk dari calon istri sang pemilik rumah sakit tadi. Padahal dokter Vineta sendiri malah gak tahu tentang gosip yang beredar selama ini di rumah sakit. Mungkin karena setelah praktek dirumah sakit langsung praktek di kliniknya sendiri jadinya dokter Vineta tak pernah mendengar apa yang selalu dibahas orang lain jika sudah jam pulang bekerja. Karena urusannya dengan dokter jastin sudah usai akhirnya dokter Vineta langsung kembali ke ruangan Tika untuk melihat kondisi Tika saat ini. Mungkin karena tak sabar juga akhirnya beliau memberikan kabar gembira ini pada suaminya agar mengajak cucunya ke rumah sakit. Bahagia sekali saat ini melihat apa yang kita inginkan akhirnya bisa kembali bersama kita.


"Nak kita habis ini pulang ke kampung kita aja ya nak, nenek pingin kamu tenang bersama cicit- cicit Oma disana. Nenek Fina mengucapkan perkataan itu sambil memgengam tangan cucunya. Sudah lama beliau tak bisa merasakan hal seperti ini lagi. Apalagi beliau juga ingin sekali bisa bermain dengan cicit-cicitnya juga. Tapi siapa sangka pas Nenek Fina mengucapkan hal itu dokter Vineta yang ada di luar ruangan Tika pun ikut mendengarkan apa yang Nenek Fina ucapkan. Ada rasa sedih yang mendalam dari lubuk hati dokter Vineta karena akan ditinggal oleh orang-orang yang ia sayangi. Walaupun baru pertama bertemu tapi rasanya dokter Vineta enggan untuk berpisah dengan nenek Fina dan kakek Huda. Tak tau perasaan apa yang terjadi pada beliau yang penting dokter Vineta pernah merasakan hal itu sebelumnya tapi beliau juga lupa. Apalagi akan ditingkatkan oleh Oca dan Oci pastinya pak Aan dan dokter Vineta merasakan kehilangan yang amat berat bagi beliau. Tapi jika Naura sudah memutuskan apa yang akan ia jalani maka selaku dokter Vineta hanya bisa mengikhlaskan hal itu, yang terbaik mereka tetap akan baik-baik saja. 15 menit usai dokter Vineta hanya terpaku tepat didepan pintu itu, rasanya berat untuk membuka pintu yang sebenarnya sering beliau buka.


"Oma, kenapa gak masuk aja?

__ADS_1


Kan Oma bilang tadi kalau kak Tika sudah sadarkan diri. Suara kecil Oca yang mengagetkan dokter Vineta yang melamun tadi.


"Ah iya sayang ini baru mau masuk tapi habis ditelpon sama dokter jastin tadi, alasan yang membuat anak kecil itu manggut-manggut saja seperti tahu. Dan setelah melihat ke arah Oca betapa kagetnya ternyata semua keluarga yang tadinya pulang sudah ada didepan pintu juga.


",Ya udah kita masuk bareng-bareng yuk biar tambah rame. Genggaman erat tangan Oca yang dilakukan dokter Vineta, mungkin selama ini yang terdekat sama beliau hanya Oca sedangkan Oci lebih memilih dekat dengan Opa. Rasanya tak rela jika anak kecil ini akan meninggalkan dia di sini di kesunyian lagi. Padahal semenjak ada Naura dan kedua anaknya itu keluarga dokter Vineta tambah berwarna dan selalu membuat beliau bisa tersenyum. Dia ingin menceritakan tentang ini semua pada suaminya tapi belum ada waktu yang tepat, akhirnya hanya beliau saja yang mengetahui rencana keluarga yang lainnya tadi.


"Ibuk panggil Oci dan langsung lari memeluk ayahnya. Rasa bahagia yang anak kecil itu rasakan karena sekarang sudah ada ibuk dan ayah yang ada disampingnya itu. Tak ada lagi teman sekolah yang akan mengejeknya karena tak memiliki Ayah. Berat baginya jika sekolah mengadakan acara dan mewajibkan kedua orang tua mereka datang, sedangkan selama ini hanya Opa Aan dan kak Tika yang bisa mengisi posisi itu.


"Hai jagoan kakak, Gimana sekolah kalian kakak bangga pada kalian. Berkat doa kalian kakak bisa sehat lagi. Oya kita besok kalau Ibuk sudah sehat jalan-jalan ya ke tempat yang kalian mau, goda Naura yang sebenarnya ia mengalihkan perhatian dari pertanyaan nenek Fina tadi. Mungkin karena ia masih binggun antara kembali ke kampung atau tetap tinggal disini. Sedangkan sosok ibuk Vineta itu yang Naura perhatian. Sedikit pucat tak ada tenaga untuk akhirnya hari ini. Tapi ia juga melihat keluarga yang ada disitu seolah-olah meminta untuk kembali ke kotanya.


"Ya udah kalau nak Naura dan Fiki sudah sehat betul, kakek ingin menanyakan sesuatu yang sangat penting dari kemaren. "Apakah kalian tahu siapa dalang dari penculikan ini nak? ,tanya kakek Budi yang ingin kejujuran dari kedua cucunya itu.


Sedangkan Naura dan Fiki hanya saling tatap. Binggun mau jawab apa karena jika ia jujur Harun pasti akan mendapatkan masalah yang besar. Padahal ia ingin kehidupan mereka aman dam tentram lagi tanpa masalah. Akhirnya dengan anggukan kepala Naura Fiki berbicara agar keluarga yang lain tenang jika sudah dibayar.


"Maaf kek, Naura dan Fiki tak melihat pelaku sama sekali, yang kami tahu hanya ada anak buahnya saja. Tapi kami juga belum yakin akankah kami kenal dari pelaku itu kek. Karena selama kami disekap anak buahnya hanya mendapatkan telafon perintah saja kok pak.Tal ingin keluarga binggun akhirnya Fiki berbohong seperti ini.

__ADS_1


"Tapi kami memiliki bukti sesuatu lho nak. Kayaknya kita akan bisa mengungkapkan siapa yang sebenarnya ada dibalik penculikan ini. Karena tadi malam orang yang mencurigakan memantau kondisi di kamar kamu itu. Padahal kamarnya kita ada banyak orang yang tertidur didepan kok ya berani muncul ya. Walaupun pak Budi membicarakan bukti yang beliau simpan tapi tak memperlihatkan pada Fiki dan Naura takut mereka malah memikirkan juga. Padahal semuanya hanya meminta agar Naura dan Fiki jujur tapi tak tau kenapa hati kecil dokter Vineta berbicara jika sebenarnya Naura dan Fiki sedang berbohong. Tapi jika ia mendesak terus, dan posisi hanya mereka bertiga pastinya akan menjawab pertanyaan itu juga karena selama ini Naura pasti terbuka pada dirinya itu.


Tawa yang mengema diruangan Naura saat ini. Canda tawa yang sebenarnya membuat hati Harun yang tak sengaja lewat depan ruang Tika itu kembali marah. Harusnya ia yang merasakan kebahagiaan hal itu saat ini kalau bukan dari obat yang ia berikan dokter jastin pasti tadi Naura juga belum sadarkan diri.


__ADS_2