
Gleg,, hati Naura yang duduk disamping ibuknya itu. Naura pikir kakaknya menghubungi untuk sekedar memberikan kabar. Perih yang teramat perih dari luka yang pernah ia rasakan. Haris berpisah dengan kakaknya untuk waktu yang cukup karena ia harus melanjutkan kelas 3 disini disekolah yang ia tempati saat ini. Berbeda dengan pak Catur yang sudah tau dari dulu emang sudah ada perjanjian jika Fiki harus tinggal dirumah peninggalan eyang suatu saat nanti jika ia sudah mau. Dan untuk Dini sendiri sebenarnya tak mengijinkan hal itu karena ingin tetap bisa jadi satu dengan anaknya itu. Tapi jika ke egoisnya semakin besar akan membuat keretakan antara keluarga mendiang suaminya dulu.
Nampak hening tak ada jawaban dari 3 orang yang ada di ruang tamu itu yang binggun dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
"Nak eyang bicara kok gak ada yang jawab sih, kata eyang menyadarkan ketiga keluarga yang tenggelam dalam kondisi hatinya saat ini.
"Em,,, maaf nek, Dini tak bisa mencerna perkataan nenek barusan, kenapa harus sekarang nek gak kalau Fiki kuliah aja, kata ibuk Dini yang memberikan penawaran agar eyang luluh dan dengan ucapan ibuk tadi hati Naura yang tadinya sakit bisa merasakan sedikit harapan untuk membujuk juga. Sedangkan untuk pak Catur tak berani bicara apa-apa karena ini semua hak dari Dini buka hak dia.
__ADS_1
"Usia nenek tak panjang lagi dari ini semua nak, jika keluarga kalian ikhlas nenek akan bahagia jika itu semua terjadi toh Fiki juga masih bisa pulang kapan pun kan. Dan untuk Naura jika ingin ikut kakak kamu sekolah disini eyang akan sangat bahagia. Nak tolong berikan jawaban kalian saat ini juga karena nenek ingin bisa tidur nyenyak malam ini?.. Merasa tak kunjung ada jawaban akhirnya eyang mengeluarkan jurus merayunya. Karena hanya ini yang bisa melelehkan hati ibuk Dini dan pak Catur.
"Em,,, Iya nek kita berdua ijinkan Fiki mau lanjutin sekolah disitu sekalian jaga nenek. Tapi jika adiknya kami gak tau, ucap pak Catur yang mewakili istrinya memberikan jawaban. Sambil melihat kearah anak gadisnya pak Catur tak bisa menjelaskan ekspresi wajah Naura yang sudah ingin menangis dan pasti saja ia menoleh ini semua.
__ADS_1
"Sayang mau kemana? ,teriak pak Catur yang melihat Naura lari ke arah taman belakang. Dapat dipastikan ia pasti akan menangis sejadi-jadinya. Akhirnya ibuk Dini melanjutkan percakapannya dengan eyang sedangkan pak Catur mengejar anaknya takut terjadi sesuatu.
"Ya udah nek pokoknya kita memperbolehkan Fiki mau sekolah dimana aja asalkan ia belajar yang tekun. Dan masalah selanjutnya kami serahkan pada Fiki_nya langsung gimana nek. Ya udah nek udah dulu ya, Naura marah ni kita mau menangi dulu aja, pamitnya sambil melihat sekitar nenek yang tak nampak batang hidung Fiki. Setelah mematikan teleponnya tadi ibuk Dini langsung menyusul suaminya yang ternyata mengejar Naura ke taman belakang. Sambil duduk di Gasebo Naura nangis sejadi-jadinya sambil mengucapkan isi hatinya yang sudah ia pendam selama beberapa hari ini. Ada yang tak adil menurutnya tentang semua ini.
__ADS_1