
Akhirnya dokter Vineta keluar ruangan dan menemui suaminya yang sedari datang tadi bercakap-cakap dengan Harun.
"Pah, kita perlu bicara Pah, sambil menarik tangan suaminya akhirnya dokter Vineta dan suami sudah berpindah keruangannya.
"Pah, Tika sakit parah Pah, dia harus dioperasi dan ini harus segera, tapi apakah ada yang sama sum-sum tulang belakang kita dengan Tika Pah, aku gak ingin terjadi apa-apa pada anak kita Pah, hanya dia satu-satunya milik kita saat ini, seraya menyeka air mata dokter Vineta tak bisa menyembunyikan kesedihannya di depan suaminya. Sudah 16 tahun hidup bersama membuat mereka terbiasa dengan keterbukaan. Tapi siapa sangka pintu ruangan dokter Vineta yang terbuka membuat Ananda Fiki yang mengejar Oca dan Oci pun ikut mendengarkan percakapan kedua pasangan itu. Hati Fiki juga ikut merasakan betapa kepedihan yang mereka rasakan.
"Apa aku juga ikut periksa ya, siapa tahu sumsum tulang belakang aku sama dengan Naura. Walaupun mereka semua tak mengenal siapa Naura tapi aku sangatlah yakin jika ia adalah Naura. Tapi jika ia Naura kenapa kedua anak ini memanggilnya kakak?
Karena berfikir keras akhirnya Fiki sedikit teriak dan memeluk dinding di depan ruangan itu. Yang membuat Oca dan Oci penasaran tentang apa yang dilakukan om yang menghalanginya untuk masuk ruangan Omanya itu.
"Om kenapa? ,"kok marah-marah kaya gitu, pertanyaan Oca yang langsung melihat lawan bicaranya seperti tak menyukai jika ia melakukan hal itu.
Sambil berjongkok akhirnya Fiki memeluk kedua anak kecil itu sambil menitihkan air mata, ia tak tau akan menceritakan hal itu pada siapa lagi. Karena ia hanya seorang diri setelah kejadian orang tua yang mengetahui perbuatannya itu. Kadang hanya nenek Dina yang ada disampingnya tapi setelah ia pergi ke pulau Kalimantan ia hanyalah orang yang tak punya siapa-siapa lagi.
__ADS_1
"Kenapa om menagis, apa om juga sakit, pertanyaan dari Oci yang membuat Fiki beralih menatap netra Oci lebut.
"Kakak kalian sakit kita harus mencari obat untuknya saat ini, didalam Oma sama Opa sesudah berusaha mencari obat itu untuk dirinya. Aku juga ingin sekali membantu untuk mencarikan obat. Walaupun aku baru mengenal kalian tapi aku teringat seseorang yang pernah ada dihati ku ini adik yang sudah lima tahun ini menghilangkan dari keluarga om. Om Ingin sekali menganggap kalian juga keluarga om tapi, om takut jika Oma sama Opa tak memperbolehkan om dekat dengan kalian. Kan om juga orang asing bagi kalian. Fiki yang menjelaskan dengan ekspresi sedihnya membuat Oci tak tega dan langsung membalas pelukan pada laki-laki yang baru ia temui itu berbeda dengan Oca yang sudah kedua kalinya mereka bertemu.
"Udah om, coba nanti kita yang jelaskan pada Oma dan Opa, Opa sama Oma kadang gak ngebolihin kita deket dengan orang yang gak disukai sama kakak, contohnya Abang Harun kita gak boleh deket-deket banget, Oci yang tak tau berbicara tentang hal sensitif seperti itu membuat Fiki juga semakin penasaran dengan itu semua.
Sambil melihat Oci akhirnya Fiki bisa melihat ketulusan yang kedua anak itu pancarkan. "Kenapa sayang kok gak boleh deket-deket gitu? "Bukan nya mereka berdua mau nikah?
"Ya gak tau om, yang penting kakak kalau di deketin Abang Harun mesti menjauh. Kan Kakak gak akan nikah kok, siapa yang bilang mereka mau nikah? Orang kakak itu tak pernah bilang suka kok sama Abang Harun. Dianya aja yang suka sama kakak. Jawab yang dilontarkannya dari Oca sangat membuat hati Fiki lebih tenang lagi.
" Terus siapa diantara kalian yang kakak? ,aku nanti panggilnya siapa? Fiki yang masih asik berbincang-bincang pun sudah mulai rileks dan lebih tenang kembali. Tak bisa disembunyikan jika ia sangat bahagia bisa mengenal kedua anak itu. Rasa nyaman dan rasa ingin melindungi mereka tumbuh begitu saja.
"Aku kakaknya, tapi cuma selisih 5 menit aja sih om, terus aku Oca dan ini Oci. Sedangkan om sendiri siapa dan kenapa ada disini didepan ruang kakak lagi.
__ADS_1
"Wat,, kalian kembar berarti.
Asih ya kalian punya saudara kaya gini, sedangkan om gak punya siapa-siapa disini. Kalian bisa panggil om Anand aja. Perbincangan ke tiga orang tepat didepan ruangan dokter Vineta pun ternyata diawasi oleh pak Aan yang sedari ingin keluar mencari ke dua cucunya dan melihat sedang asik dengan orang yang belum beliau kenal sama sekali itu. Penasaran tentang tapi beliau juga menunggu dan mendengarkan perbincangan apa yang mereka bicarakan.
"Ehem,, kok kalian gak masuk ruangan Oma, terus ini siapa sayang? Opa yang menyadarkan ketiga orang yang asik bercerita didepan ruangan istrinya itu tak Ingin cucunya kenal orang yang tak akan baik padanya.
"Kenali Opa ini om Anand, dia yang waktu itu nolong Oca pas mau ditabrak mobil itu lho. Katanya tadi dia juga gak sengaja lihat kakak pingsan di kafe sebelum kakak dirawat disini itu Opa. Melihat ekspresi Opa nya Oci tau jika beliau tidak begitu suka dengan kehadiran Om Anand yang sangat dekat dengan mereka itu.
"Oh, Abang ya nyelamtin cucu saya, terima kasih ya saya hutang Budi sama Abang Anand. Terus kenapa Abang tadi bisa di kafe dan membantu anak saya? ,pertanyaan opa yang begitu penasaran kenapa orang yang ia sayangi ditolong olehnya terus.
"Iya pak, sama-sama saya tadi gak sengaja aja ketemu anak bapak karena saya juga pas itu lagi ketemuan sama Mas Harun. Saya disini cuma sedang ngerjain proyek mas Harun saja pak jadi ya gak tau jika saya bisa mengenal dan bertemu mereka disini, jelas Fiki yang masih melihat ke arah Oca dan Oci berganti. Boleh saya bicara empat mata pak?
Penasaran kenapa anak muda itu ingin berbicara empat mata akhirnya pak Aan mengajaknya lebih menjauh dari kedua cucunya. "Pak saya tadi sempat mendengar kan ucapan ibuk sama bapak mengenai donor sumsum tulang belakang. Apakah saya bisa ikut donor pak jika itu cocok, merasa jika ini perlu ia bicara akhirnya ia memberanikan diri untuk mengungkapkan hal itu semua. Dan berharap jika itu disetujui oleh orang tua Tika itu. Walaupun tak tau benar atau tidak jika Tika adalah Naura tapi ia akan tetap berusaha yang terbaik untuk itu semua. Karena mungkin dia juga akan menemukan hal yang indah setelah ini semua.
__ADS_1