CATATAN HARIAN NAURA

CATATAN HARIAN NAURA
Naura yang ngotot ingin melihat Fiki


__ADS_3

Dirumah sakit tempat Naura dirawat saat ini sudah ada dua pelayan rumah pak Aan yang bertugas untuk membantu mengurusi kebutuhan Naura dan kedua anaknya. Naura yang saat ini habis disuapi oleh bibik yang pernah merawatnya waktu dipindahkan ke rumah Mama Vineta itu meminta padanya untuk melihat kondisi dari kak Fiki. Karena sedari ia sadar belum melihat kondisi dari Fiki yang saat ini belum juga sadar. Entah separuh apa saya juga tidak tahu makanya ia memutuskan untuk melihat kondisinya.


"Bik, bisa minta tolong bawa saya ke ruangan kakak. Mumpung anak-anak masih sama mamang di taman.


"Tapi Non, bagaimana dengan kondisi non juga jika aku ajak kesana.


"Udah bik biar aku naik kursi roda aja nanti biar gak terlalu merepotkan bibik juga. Yang terpenting saat ini kakak bik, karena anak-anak juga sudah ada yang ngasuh juga.


Setelah berdebat dengan Naura yang gak mau mengalah akhirnya bibik menuruti apa yang Naura inginkan. Sambil mendorong kursi roda itu akhirnya mereka tiba di kamar ICU yang dimana Fiki dirawat. Tak bisa masuk diruangan itu. Nampak dari luar jendela kaca yang memperlihatkan Fiki yang masih terkujur kaku dengan berbagai alat bantu.


"Sungguh tak indah nasib kita kak, hanya ingin melangsungkan pernikahan ada saja halangan yang menerpa kita. Sampai kapan kak kau akan berbaring disitu. Aku dan anak-anak akan siapa yang akan menunggu dan menjaganya kak. Tak terasa air mata Naura pecah saat itu juga. Bibik yang melihat itu juga ikut sedih betapa peristiwa Naura dari hamil hingga saat ini tak pernah sekalipun bahagia. Disaat mereka akan mendapatkan kebahagiaan ada halangan yang besar menimpanya.


"Cheklek,,


Suara pintu ruangan Fiki dirawat. Dengan langkah pelannya nampak Dokter yang akan masuk dan mengecek kondisi Fiki saat ini. Tapi sebelum Dokter itu berhasil masuk sudah dipanggil oleh Naura.

__ADS_1


"Dokter, sebenarnya apa yang terjadi pada kakak saya dok. Kenapa ia tak kunjung sadar. Kami tak tahu Dok apa yang terjadi padanya. Susi Iskan pun masih terdengar di telinga dokter dan bibik yang ada disana.


"Anda saudara dari pasien, dokter yang mendengar kata kakak dari Naura langsung menanyakan hal itu. Mungkin keluarganya juga harus tahu tentang ini pikir dokter laki-laki yang mungkin juga tak jauh dari Mama Vineta.


"Iya Dok, sayang adalah adiknya dok. Apakah ada yang belum kami ketahui Dok, pertanyaan Naura yang masih menatap ke arah dokter tadi. Rasanya ia tak ingin mendengar berita buruk tentang orang yang ia cintai, tapi jika tak mengetahuinya mungkin dia juga tak akan tahu apa yang sebenarnya dirasakan oleh kakaknya itu. Dengan meningkatkan hatinya akhirnya Naura mantap ingin mendengarkan apapun yang akan diucapkan oleh dokter sepesial tadi.


"Sebenarnya pasien nampak mengalami benturan hebat di kepala bagian depan. Karena itu sampai harus di jahit 35 jahitan. Ehem',, suara dokter itu yang menyempurnakan suaranya yang juga terlihat nampak gerigi akan mengucapkan hal yang lainnya. "Tapi karena benturan tadi akhirnya pasien akan mengalami koma, atau mungkin akan sadarkan diri jika ada keajaiban dari Allah, karena kami disini hanyalah perantaranya saja. Karena tak ingin menutup itu semua akhirnya terucap jelas dari dokter tadi walaupun sebenarnya berat baginya tapi ia tak bisa berbuat apapun.


Sedangkan Naura yang mendengar hal itu langsung lemas seperti tak ada lagi yang ia harapkan lagi. Semuanya yang ia miliki harus hilang dan ntah bagaimana ia akan mengambilnya.


"Permisi saya ingin melihat kondisi dari pasien dulu, pamit dokter yang langsung masuk keruang yang akan ia tuju tadi. Walaupun sebenarnya ia tak tega setelah melihat keadaan Naura tadi tapi ia juga tak boleh menutup- nutupi apa yang. sebenarnya terjadi pada pasien.


Bibik yang tak mendapatkan jawaban dari Naura akhirnya langsung mendorong kursi roda Naura dan menuju ke ruangan yang Naura miliki juga. Sebenarnya kamar yang ia tempati tak begitu jauh dari teman Fiki, tapi karena ia juga masih membutuhkan bantuan orang lain untuk kesana jadi ia tak begitu bisa pergi sendiri.


"Ibuk, panggil Oca anak yang sudah habis bermain dari taman bersama mamang tadi. Sedangkan Oci masih nampak bercanda gurau dengan mamang.

__ADS_1


"Iya, udah main'ya. Ibuk istirahat dulu ya nak kalian sama bibik dan mamang dulu ya. Pamit Naura yang tak mau memperlihatkan rasa kecewanya pada kedua anaknya itu. Hatinya sangat sakit setelah mendengar ucapan dokter tadi. Ntah sampai kapan ia akan menunggu Fiki tersadarkan diri.


Sedangkan digedung tua yang ada di pinggir kota sudah ada pak Aan yang memasang wajah menakutkan itu. Karena Harun yang ia tunggu akhirnya datang juga. Dengan bantuan tiga anak buahnya akhirnya pak Aan bisa mengikat orang jahat itu di kamar yang berbeda dengan anak buah Harun yang masih tersekap itu.


"Ternyata kamu Harun yang ada dibalik ini semua. Aku tak menyangka jika kau berani mengusik hidup ku dan keluarga ku. Kau tak pernah melihat betapa istriku tersiksa atas apa yang kau perbuat Harun!!! Dengannya dan akhirnya duduk didekat Harun dengan tangan di dadanya. Seperti polisi yang sedang mengintrogasi penjahat sebelum akhirnya masuk ke penjara juga.


Harun yang sudah keringat pun tak banyak kata. Ia tak menyangka jika akan seperti ini. Padahal selama perjalanan tadi ia sudah bahagia karena Naura tersekap di gedung ini. Sampai pikiran tentang bagaimana ia akan memperlakukan Naura pun sudah tersusun rapi di ingatannya. Tapi setelah melihat hal ini ia pun tak bisa berbuat apapun. Jika yang saat ini ada didepannya adalah polisi mungkin saja ia akan bebas dengan iming-iming begitu banyaknya tebusan. Tapi jika itu pak Aan yang ada didepannya ia tak bisa apa-apa lagi. Padahal ia tak membawa anak buah lagi untuk sekedar menjaganya saja.


"Kau bisu Harun, betapa kejamnya kau telah menculik Tika waktu itu. Tapi aku tak sampai dikit ternyata orang yang menculiknya adalah kau,, tunjuk pak Aan tepat di wajah Harun yang sudah sedikit hitam karena ketakutan.


*****


Makasih kakak semua...💞💕


Ditunggu like, komentarnya ya. Jangan lupa bahagia selalu kak.

__ADS_1


__ADS_2