
Hari demi hari tak terasa akhirnya sudah 2 hari dokter Vineta dirawat. Setelah sadar dari operasinya waktu itu akhirnya ia dipindahkan ke ruangan yang bisa terhubung dengan pak Huda. Ia tak ingin sedikit pun jauh dari laki-laki yang sudah membantu hidupnya itu. Mungkin jika tak ada beliau maka saat ini belum bisa sadar seperti ini. Tapi sebenarnya didalam lubuk hatinya saat ini ia merasa ada sesuatu yang ia rasakan jika jauh dari pak Huda. Apalagi jika melihat istri dari pak Huda yang menangis rasanya ia tak tega dan tersayat- sayat.
Tidak dapat dipungkiri jika ini rasa dimana seorang anak dan orangtuanya yang sedang diterpa masalah dan musibah. Pastinya ada ikatan dari satu sama lainnya. Sedangkan sedari tadi pak Huda yang juga melihat ke arah dokter Vineta selalu tersenyum dan bahagia tak ada tara karena melihatnya bisa bersama dengan anak itu. Sulit dilakukan jika ia mengingatkan dokter Vineta itu menjadi anaknya yang menggantikan sosok Lia.
Deret..Dret... suara getaran telfon milik pak Aan yang membuyarkan lamunannya pada istrinya yang lebih ceria dari kemaren. Tak mau didengar oleh orang lain akhirnya ia pergi keluar dan mengangkat telfon tersebut.
"Bos ada yang janggal bos. 'Ini kami mengikuti mobil yang waktu itu sedang ada dirumah dokter Harun, ternyata ia seperti sedang mencari seseorang karena mereka sampai ke kota dan melacaknya.
"Ok kalian ikuti saja jangan sampai ada yang menaruh curiga pada kalian. Terlihatlah seperti orang biasa saja. Satu lagi jika ada yang lebih dari ini kalian cepat beri tau saya jangan sampai keluarga ku terluka lagi. Camkan itu'.
Setelah mematikan teleponnya pak Aan langsung berjalan pergi ingin masuk ke ruangan istrinya tapi ia tak sengaja melihat Harun yang sedang datang ke rumah sakit tadi. Dan langsung menuju ke ruangannya. Dengan rasa penasaran akhirnya pak Aan berjalan mengendap-endap dan menuju ke depan ruangan itu. Sebenarnya ingin rasanya mendengar sendiri jika ia sedang menghubungi anak buahnya agar itu bisa menjadi bukti yang sangat akurat untuk pak Aan membalaskan dendam pada Harun yang sudah ia curigai itu. Rasanya tak adil jika Harun bisa tetap bebas sedangkan satu persatu dari orang yang ia sayangi sudah menjadi korbannya. Tak mendapati apapun akhirnya pak Aan yang tadinya berharap mendapatkan informasi pun akhirnya akan beranjak dari tempat tadi. Ia mendengarkan Harun yang ada diruang tadi sedang sedikit marah-marah entah dengan keberanian apa akhirnya telinga pak Aan sedikit mendekat ke arah pintu yang sedik samar-samar itu. Tapi masih bisa mendengarkan betapa Harun murkanya dengan si penelepon tadi.
"Gak becus, kerja kalian apa sih.
__ADS_1
Aku maunya kedua orang itu ada didepan aku dalam keadaan yang masih bernyawa. Aku akan buat mereka tersiksa dengan caraku. Jika aku tak bisa memeras keluarganya maka aku juga bisa menemukan mereka dengan cara ku sendiri. Dan satu lagi aku saat ini sedang dirumah sakit jadi jangan telfon saya jika tak penting sekali.
Hanya itu yang didengar pak Aan karena dengan tergesa-gesa ia juga langsung pergi dari tempat itu takut yang punya ruangan akan mengetahui hal ini. Dengan Harun tahu pastinya pak Aan tak bisa dengan mudah ikut memantau perkembangan rencana Harun lagi.
Sedangkan Fiki saat ini yang sedang tidur bersama anak-anak sedang memantau perkembangan akan usahanya yang ada di tempat eyang yang sudah begitu lama ia tinggalkan selama ia ada di kota ini. Sebenarnya ia ingin lari ke kota eyang dan cepat hidup bahagia bersama keluarga kecilnya, tapi ia juga ingin melihat kondisi dokter Vineta dulu baru ia akan memutuskan apa yang akan ia pilih esoknya. Dan sambil mengusap anaknya yang begitu mirip dengannya akhirnya Fiki langsung pergi ke kamar satunya yang Naura tempati itu. Karena selama ini tak ada yang janggal akhirnya kedua anaknya bisa di pisahkan kamar karena kalau Naura sedang ingin dimanjakan takut anaknya yang jadi alasan.
"Sayang gimana mau makan apa gitu gak biar kakak buatin. Kamu dari tadi gak begitu nafsu makan lho. Jangan sakit lagi ya kakak ikut sakit jika kau sakit lagi, sudah cukup kita kesakitan kaya gini sayang semoga kita cepat nikah dan bisa hidup tanpa rasa was-was kaya gini.
Gimana kak kondisi ibuk pingin kesana Naura, kak". Tapi bagaimana jika kita ada yang tak suka lagi.
"Udah kita disini aja besok pagi kita Pindah tempat lagi ya soalnya kata bapak kita saat ini lagi gak aman. Ada yang mencari kita, kalau ibuk sudah sedikit sehat mungkin beberapa hari lagi bisa pulang sayang. Oya kakak mau tanya sebenarnya itu Harun itu seperti apa sih karakternya?
"Ehem',, kenapa kak?
__ADS_1
Soalnya Naura juga gak begitu dekat, cuma kadang dia yang ndekati Naura kak. Kadang memberikan perhatian pada Naura tapi kami gak pernah mau begitu dekat dengannya. Apalagi bapak yang tak memperbolehkan anak-anak dekat padanya.
"Ya udah lah lupakan kakak tanya apa, saat ini kita istirahat aja ya toh aku capek. Sambil ikut tidur disamping Naura Fiki langsung membenarkan selimut untuknya dan Naura walaupun mereka belum ada ikatan tapi rasanya jika tak seranjang ia merasa hampa. Tapi jika dipaksakan mungkin juga akan menimbulkan dosa besar karena nyatanya selama seminggu ini Fiki selalu meminta hal itu. Seperti malam ini ntah karena dingin akhirnya pelukan itu semakin dalam dan menyatukan bibir mereka agar membagi kehagatan satu sama lainnya. Tanpa ada yang bisa dibuat alasan Naura pun ikut terbuai dengan permainan Fiki. Fiki pun juga meresapi apa yang ia lakukan mungkin sekarang sudah menjadi kebutuhan yang setiap hari ia butuhkan.
"Eem, suara lengkingan Naura yang tengah menerima serangan Fiki yang bertubi-tubi. Bagikan sepakbola yang selalu mengoper bolanya ke gawang lawan. Dengan sorakan dari penonton yang menjadikan pemain tambah semangat saja. Dapat dilihat dari cara dia menendang bola yang semakin menggebu agar segera mencetak gol. Dengan sentakan semaksimal mungkin akhirnya bolanya bisa dengan masuk ke gawang lawan menandakan jika pertandingan telah usai.
***
Sore kakak. Salam kenal ya dari saya.
Maafkan saya yang kadang tak bisa fokus dengan novel ini. Karena kesibukan yang begitu padat dan kondisi badan yang belum begitu setabil jadi ala hasil ya hanya sebisanya ya kakak. Semoga kakak semuanya sehat selalu, kurangi tidur terlalu malam ya kak agar kita tetap bisa bertemu terus lewat novel ini. Amin...
Saya tunggu di novel imajinasi ya kakak💞
__ADS_1