
Setelah kejujuran eyang akhirnya Fiki mencoba untuk terus tak memikirkan hal itu, dengan melupakan apa yang ia sudah ketahui mungkin adalah jalan terbaiknya. Tepat siang ini setelah ia pulang sekolah ia mendapatkan kabar dari ibuknya jika Naura masuk rumah sakit. Dengan tergesa-gesa Fiki terus menanyakan bagaimana kondisinya saat ini. Dan apa penyebabnya Naura sampai masuk rumah sakit. Walaupun dia ingin sekali langsung menuju ke sana tapi kondisi tempat dan waktu yang tidak memungkinkan.
"Nak, Naura masuk rumah sakit nak, ini kami semuanya sudah ada di rumah sakit, kata ibuk pas lagi telafon Fiki tadi. Beliau memberitahukan hal ini bukan karena pingin Fiki langsung datang tapi agar Fiki tau kondisi Naura saat ini.
"Apa buk, terus sekarang bagaimana kondisi Naura buk? 'tanya Fiki yang terlihat cemas dari nada bicaranya. Mungkin jika ia ada disamping Naura saat ini yang paling cemas adalah dia. Melihat Naura terluka aja sudah bikin Fiki naik darah.
__ADS_1
"Tadi dia pulang sekolah pas mau nyebrang jalan ada temannya yang tak sengaja menabrak Naura jadi Naura ketabrak mobil yang sedang melaju didepannya nak, tapi Alhamdulillah sekarang sudah ditangani dokter. Mungkin gak begitu lama lagi dia juga sudah pulang kok, karena hanya betisnya yang terluka, jelas ibuk yang menceritakan semuanya.
"Ya udah buk, semoga Naura lekas sembuh ya.
Fiki yang mendengar cerita ibuk langsung terlihat sangat marah dan mengakhiri telafon pada ibuknya dan langsung menghubungi temannya yang selalu memberitahukan tahukah tentang kondisi Naura jika ada disekolah. Dalam deringan ke tiga telfon tersebut langsung diangkat oleh yang punya.
__ADS_1
"Aku dapat kabar dari ibuk katanya Naura sedang dirawat karena tadi ketabrak mobil, kok kamu gak kasih tau aku sih bro, tanya Fiki yang langsung menaikkan nada bicaranya.
"Waduh aku malah gak tau bro, apa jangan-jangan yang jadi pusat perhatian anak-anak tadi ya, tadi aku pas ambil motor didepan emang ada insiden tapi aku gak berhenti sama sekali bro. Gak taunya itu Naura aku gak tau benaran bro minta maaf ya.
"Ya udah aku gak akan marah sama kamu asal kamu cari tau siapa yang udah ngelakuin hal ini pada Naura, perintah Fiki yang terdengar marah dibalik telfon. Dan satu lagi aku ingin kamu lebih mengawasi Naura ya aku gak mau ada kejadian untuk yang kedua kalinya, ucap Fiki sebelum langsung mematikan teleponnya.
__ADS_1
Belum sempat dijawab dari si penerima telepon tadi Fiki sudah mematikan telefonnya dan langsung membanting ponselnya diatas ranjangnya. "Gak becus kalau gak ada aku jaga sendiri. Siapapun itu yang udah ngelakuin ini akan ada balasan yang akan membuat ia takut pada Naura lagi, kata Fiki sambil duduk dipinggir ranjangnya. Pingin sih mau lihat kondisi Naura tapi esok dia juga harus ujian yang tak bisa ditinggalkan juga.
Hanya harapan dan doa yang bisa Fiki lakukan karena jarak antara mereka sangatlah jauh. Tinggal menunggu kabar dari temannya itu maka ia bisa mengetahui dia yang sudah melakukan hal ini pada adiknya itu. Jika ketahuan ada yang benci dengan Naura dan memang ini semau sudah direncanakan maka jangan harap ia akan terbebas dari hukum yang akan Fiki berikan.