
Walaupun Fiki yang sedari tadi telafon tak menapakkan batang hidungnya ternyata ia juga ada disebelah eyang yang takut jika melihat Naura akan bersedih. Tapi walaupun tak melihat ia mendengar perkataan ibuknya yang bilang kalau Naura sedang menagis di taman belakang. Perih rasanya jika mengetahui hal itu. Ada harapan untuk tak membuat ia bersedih tapi ia sendiri yang menciptakan luka itu untuk Naura. Tapi jika ia tak seperti itu rasa yang ada dalam jiwanya akan semakin tumbuh dan kekal abadi. Dan tak akan bisa tergantikan dengan hati yang lainnya.
Malam ini saya pastikan jika Fiki tak bisa tidur nyenyak karena masih memikirkan Naura yang tak ada yang bisa ia tanyai kondisinya. Dan tak akan mungkin bagi Fiki untuk bisa menghubungi Naura untuk beberapa hati sampai dia bisa kembali seperti biasa. Karena sudah menjadi pilihan yang Fiki mau jadi ia akan bisa berusaha untuk menerima ini semua sampai Tuhan memberikan jalan terbaik lagi untuknya.
__ADS_1
Setelah pembicaraan dengan eyang selesai Fiki langsung pamit untuk naik ke kamarnya diatas untuk sekedar berbaring agar anggota tubuhnya bisa sedikit rileks. Karena hanya masalah ini yang bisa membuat pikiranya kacau. Ya hanya ini sampai ia tak bisa membayangkan bagaimana Naura saat ini menangis di pangkuan ibuknya karena ulah darinya itu. Sambil melihat foto Naura diponselnya ia terus mengucapkan kata maaf yang tak henti-hentinya. Mungkin kalau ada yang tau dipastikan jika Fiki seperti orang yang sedang mabuk. Ya walaupun mabuk tapi bukan mabuk minuman tapi mabuk Naura.
Karena frustasi akhirnya ia mencoba menghubungi bik Ina untuk sekedar Fiki bisa mengetahui apa yang Naura lakukan saat ini. Dalam deringan ke-tiga telfon bik Ina sudah diangkat oleh bik Ina. Dengan pelan-pelan Fiki akhirnya menanyakan hal semuanya.
__ADS_1
"Ini Aden, non Naura masih di bujuk ibuk sama Bapak, padahal kalau Aden tau bibik aja gak berani mendekat soalnya non nangisnya sambil menyiksa dirinya sendiri Aden. Belum lagi non juga bilang kalau Aden gak sayang lagi sama non nyatanya Aden memilih tinggal sama eyang. Semua yang di lakukan Naura bisa semuanya diceritakan oleh bik Ina pada Fiki.
"Aku salah bik, tapi eyang juga butuh teman, kalau Naura gimana-gimana bibik kabari aku aja ya bik, pasti setelah kejadian ini Naura tak ingin menerima telefon dari aku untuk waktu yang lama. Dan satu lagi jika Naura di rumah menceritakan tentang teman sekolah atau siapapun itu Fiki minta bibik kabari Fiki ya bik, pesan Fiki pada bibik untuk selalu mengawasi Naura jika dirumah. Karena telafon dengan bik Ina sudah sedikit membantu pikirannya.yang gundah saat ini akhirnya Fiki mematikan telfonnya dan kembali menghubungi seseorang. Ya seseorang yang bisa ia percayai untuk mengawasi Naura jika di sekolah. Karena setelah ia pindah dari sana pasti akan ada yang menggangu Naura dan Fiki butuh informasi itu semua tanpa ada yang ditutupi sama sekali.
__ADS_1
"Bro, ini aku minta tolong untuk lebih yang mengawasi Naura ya, karena setelah aku lulus dan tak melanjutkan di sini lagi aku ingin kamu tetap exstra menjaganya, pesan WhatsApp Fiki yang sudah berhasil ia kirimkan pada temanya itu.