CATATAN HARIAN NAURA

CATATAN HARIAN NAURA
Danu yang egois


__ADS_3

Di rumah sakit dimana Naura belum bisa dijenguk, disitu pula dua hati yang sedang menanti itu. Karena Fiki yang menginginkan ia akan bertemu istrinya dan Danu yang belum mengizinkan Fiki untuk masuk dengan melarang lewat dokter yang merawat Naura. Apalagi ia tahu jika hanya saat inilah ia bisa melakukan hal ini pada Naura. Jika ia sudah diperbolehkan untuk pulang ia juga tak akan bisa bertemu apalagi berdua seperti ini. Perasaan yang egois pastinya Danu saat ini. Dia tak akan melewatkan waktu ini untuk sedetik saja, sampai- sampai ia juga meminta rekan dokter yang mengartikan jam kerjanya untuk hari ini. Pokonya ia tak akan pergi dari didih Naura sama sekali.


"Dok apakah saya boleh masuk kedalam untuk melihat kondisi istri saya dok. Hanya beberapa saat saja, pinta Fiki memohon pada dokter yang baru saja keluar dari ruangan Naura tadi. Sebenarnya dokter tadi tak enak dengan Fiki tapi dia juga tak berani pada Danu yang melarang laki-laki yang ada di luar ruangan itu untuk masuk ke dalam ruangan. Apalagi yang ada di luar ruangan itu hanya dia seorang.


"Maaf Tuan, belum bisa untuk dijenguk Tuan. Paling tidak sampai pasien agar sadarkan diri dulu. Maaf Tuan saya pamit untuk kembali ke ruangan saya ya Tuan.


Sebenarnya Fiki frustasi tak di ijinkan untuk masuk tapi karena jawaban dokter tadi yang memberitahukan istrinya belum sadarkan diri jadi ia akan tetap menunggu keajaiban ini tiba. Dia tak tahu jika saat ini didalam ruangan ada Danu yang sedang menjaga Naura yang masih terpejam itu. Jika Fiki tahu hal itu tak hanya rumah sakit ini yang akan rusak tapi mungkin Danu dan dokter yang membantu Danu berbohong tadi juga akan di musnahkan olehnya.", Tapi sampai kapan ini akan Danu tutupi?"


",Atau samapi akhirnya Fiki tahu!


Yang pasti Danu melakukan ini sampai Naura membuka matanya dan ia akan meminta maaf pada Naura atas apa yang ia sebabkan itu. Dan mungkin jika Naura menginginkan ia menjauh darinya ia akan menjauh asal ia bisa melihat Naura bahagia. Tapi sebelum itu semua terjadi ia ingin melihat Naura lebih lama dan tak ada yang melarang hal itu makanya ia tak memperbolehkan Fiki masuk ke ruangan itu dulu.

__ADS_1


Hingga sore hari Fiki juga hanya bisa berdoa dan masih menunggu diperbolehkan melihat Naura. Tapi hal itu juga belum kunjung bisa. Dengan amarah yang menggebu akhirnya ia langsung menuju ke ruangan dimana manager rumah sakit ini berada. Ia ingin melaporkan jika ia tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam ruangan istrinya itu. Padahal ia kadang juga tak dipersulit seperti ini jika di rumah sakit lainnya.


"Tok, Tok..


Ketukan pintu ruangan dimana tertulis nama manager itu. Dengan keyakinan yang amat dalam akhirnya ia sampai di situ. Pas ketukan terakhir akhirnya seorang perawat datang dan menanyakan apa keperluan dari Fiki tadi.


"Maaf Tuan, ada perlu apa ya. Ini ruangan manajer rumah sakit kami Tuan.


Suara keras Fiki yang masih terdengar dari jauh oleh dokter kandungan yang disuruh oleh Danu tadi. Sebenarnya perawat tadi adalah suruhannya.


"Maaf Tuan, manager kami sedang tidak ada dirumah sakit. Dan untuk nona yang dirawat apakah keluhannya ya. Karena jika beliau masih belum sadarkan diri maka belum bisa di jenguk, itu sudah keputusan dari pihak rumah sakit yang harus kami jalankan Tuan. Jika sudah tidak ada perlu lagi saya permisi Tuan.

__ADS_1


Setelah sepeninggalan perawat tadi Fiki langsung pergi ke kamar istrinya lagi dan tepat saat itu juga ia melihat ada dua dokter yang masuk keruangan Naura. Seperti sedang tergesa-gesa dan panik.


"Ada apa ini kenapa semuanya masuk keruangan Naura. Apakah Naura semakin parah. Suara hati yang terus tak tenang. Karena hal tadi akhirnya Fiki semakin berlari dan ingin meminta penjelasan dari dokter-dokter tadi. Tapi apa yang ia pikirkan juga tak bisa ia lakukan karena pas ia sampai di tempat itu pintu kamar Naura sudah tertutup lagi. Hanya tangisan yang ia bisa lakukan saat ini. Ia tak berguna sama sekali sebagai laki-laki, yang seharusnya ia yang menjaga Naura tapi sekedar tahu kondisinya saat ini aja ia juga tak bisa. Bodoh umpatan yang ia keluarkan sambil memukul-mukul tembok di depannya.


Sejak saat ia datang ia juga tak makan sedikit pun. Padahal waktu makan siang sudah lewat akan berganti malam malam. Tapi ia tak akan ***** juga tak mendengarkan kabar dari Naura sebelumnya. Ditempat ia duduk saat ini Fiki melihat ke arah pintu yang ternyata terbuka lebar itu, dengan langkah besarnya akhirnya ia berlari dan mencari tahu apa yang terjadi pada istrinya.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok, apakah saya bisa melihatnya sebenar saja.


"Silahkan Tuan, saat ini nona baru sadar dan masih ditangani oleh satu dokter sepesial saraf yang ada di rumah sakit ini, jawab satu dokter yang langsung meninggalkan Fiki sendiri.


Dengan informasi yang ia dapatkan tadi akhirnya Fiki masuk dan melihat ruangan itu masih ada dua orang berjas putih. Yang satu adalah dokter kandungan dan yang satu adalah Danu. Sebenarnya ia ingin marah kenapa ada Danu di ruangan ini tapi ia yakin ini semua karena sekedar pekerjaan yang ia harus turuti. Dia melihat Danu memberitahukan semuanya pada Naura agar tak memikirkan apapun dulu sampai ia pulih dan sembuh total. Dan Danu juga memberitahunya jika kandungannya saat ini semakin lemah jadi harus ia jaga sekali. Jangan dipaksakan untuk sesuatu yang berat untuk keduanya. Karena Danu memberitahukan itu juga tepat didepannya Fiki agar ia tahu betapa ia tak ada hubungan yang lebih sebatas dari sahabat saja.

__ADS_1


Fiki yang mendengar itu pun terharu karena ternyata Danu begitu baik pada Naura bukan semata-mata ia akan merebutnya darinya. Mungkin ia akan luluh suatu saat nanti jika melihat kebaikan Danu yang lainnya lagi. Tapi kenyataannya yang saat ini Danu pikirkan buka untuk mencari simpati dari Fiki tapi mencari simpati dari Naura dan Naura yang sudah tahu jika ia dibantu oleh Danu untuk donor darahnya tadi dari dokter kandungan yang memang sengaja agar Naura terus merasa berhutang budi pada beliau itu. Dan pasti suatu saat Danu bisa merebut Naura untuk selamanya jika Naura sudah merasa nyaman dan itu tanpa yang ia inginkan.


__ADS_2