
Di kamar rawat Fiki tadi dokter yang sudah kenal dengan Naura pun belum usai dalam perbincangannya itu. Apalagi jika bersama orang yang pernah ia cintai pastinya ada sesuatu yang menolak untuk berpisah. Perasaan baru yang tumbuh lagi untuk wanita cantik itu pun tak ada yang meminta dan tak ada yang tahu hanya dokter Danu yang tahu itu semua. Dalam tatapannya Naura begitu anggun dan cantik, lebih dewasa dari terakhir mereka bertemu dulu.
"Naura, apakah aku bisa meminta nomor ponsel kamu. Karena mungkin setelah kamu pindah ke kota kita lagi kita bisa bertemu lagi. Aku disini juga hanya ditugaskan untuk berapa Minggu saja kok, ujar dokter muda yang masih terus menatap Naura itu.
"Tapi kak, aku juga gak bisa janji jika kita akan bisa ketemu lagi kak. Mungkin jika masih ada kesempatan kaya gini lagi kita akan bisa berjumpa tapi jika kita sudah memiliki kesibukan yang lainnya mungkin tak bisa bertemu lagi.
"Iya gak apa-apa aku gak harus memaksa kamu kok yang penting aku juga hanya ingin bisa akrab lagi kaya dulu sama kamu Naura. Jika kamu merasa kalau aku akan menganggu kamu nantinya ya gak apa-apa yang terpenting aku sudah ketemu dengan kamu lagi sekarang. Oya aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan kakakmu Nuara. Kamu baik-baik ya aku mau balik ke kantor lagi, pamit dokter Danu yang akan beranjak dari tempat duduknya tapi sudah di tahan oleh Naura. Tangan dokter tadi di tahan oleh Naura yang akhirnya dokter Danu berhenti dan menatap Naura.
"Makasih kak aku tak akan melupakan kakak, aku berterima kasih atas kerja keras kakak ini. Tapi ijinkan Naura menangis lagi didepan kak Danu. Tangisan Naura akhirnya pecah lagi setelah dokter Danu berhasil menepuk lembut punggung Nuara itu.
"Menangislah Nuara, aku akan tetap disini menghiburmu. Harapan yang akhirnya ia pupuk lagi karena perlakuan Naura ini Danu pikir jika Naura memberikan lampu hijau untuk ia bisa terobos lagi. Jika ini benar apa yang dipikirkan Danu mungkin ia juga akan bisa langsung meluluhkan hati Naura nantinya. Tepukan lembut akhirnya ia berikan pada Naura yang masih menangis di dekapannya itu.
Mungkin Naura yang saat ini sedang menangis itu juga tak berfikiran apapun tentang ia berpelukan dengan Danu. Walaupun dulu ia tak begitu akrab karena Fiki selalu melarang ia dekat dengan laki-laki lain tapi entah saat ini ia butuh sandaran untuk melepaskan semua sesak di dadanya itu. Sesegukan ia saat ini jika ada yang tak sengaja melihat adegan ini mungkin mereka berfikir jika Naura menangis karena ulah dari dokter Danu. Hingga tak terasa 30 menit lamanya Naura menangis dan masih di posisi semulanya.
__ADS_1
"Maaf kak, Naura lancang", Ucapan Naura yang sambil mengusap air mata dan melihat ke arah jas kebesaran Danu yang sedikit basah itu. Akhirnya ia sadar apa yang ia lakukan dari tadi sudah melewati batasnya.
"Udah tak usah sungkan, jika kamu memiliki begitu banyak masalah aku siap untuk terus dijadikan teman curhat kamu Naura. Dan jika kamu tak masalah ijinkan aku memiliki nomor kamu agar aku bisa tetap bertukar kabar Nuara. Permohonan Danu yang untuk kedua kalinya berharap Naura akan langsung memberikan nomor itu. Padahal Naura saat ini sedang berfikir akankah akan ia berikan atau tidak. Tapi ia merasa berhutang budi dengan Danu. Tapi jika Fiki tahu pastinya ia akan marah dan akan menghukumnya. Akhirnya sebelum ia bisa memutuskan apa yang akan ia ambil suara berat milik Danu membuyarkan lamunannya.
"Naura jangan dipikirkan, jika kamu tak mau tak apa kok. Ya udah kakak mau pergi dulu ya. Kakak akan kesini sore nanti jika jam kerjaku sudah habis.
"Kak, ini nomorku kak.."teriak Naura yang sambil memperlihatkan ponselnya dan ada catatan nomor ponselnya itu. Tak mau merasa tak enak dengan Danu akhirnya ia menyerah ponselnya yang langsung diambil oleh Danu. Rasanya ia telah berkhianat dengan Fiki tapi ia tak bisa membiarkan rasa hutang budinya akan menghantuinya.
"Makasih Naura kakak pamit dulu ya, setelah menyerahkan ponsel Naura lagi akhirnya Danu pergi dari ruangan itu setelah berhasil meninggalkan usapan di kepala Naura itu. Atasnya saat ini ia sedang bahagia sekali.
Sedangkan Danu yang sudah kembali di ruangannya terus mengusap baju jas dokter yang tadi di buat sandaran untuk Naura. Karena harum wangi tubuh Naura masih melekat di baju putihnya ia terus menciuminya. Berharap suatu saat nanti bisa menciumi wanita itu juga.
"Naura aku yakin kamu akan aku miliki Naura. Karena aku tak akan melepaskan kamu untuk kedua kalinya lagi. Hanya ada namamu di ukiran hati ini Nuara, ucapan Danu yang masih mengusap jas dokternya itu. Andai hari ini ia tak ada halangan untuk tugas pasti ia saat ini masih ada di ruangan Fiki tadi. Tapi apa boleh buat nanti sore ia akan berusaha mendekati Naura lagi.
__ADS_1
Disetiap apa yang Danu lakukan mulai saat ini mungkin hanya untuk bisa mendapatkan Naura. Ntah rasa apa yang ia selipkan di memori hatinya itu, antara ambisi atau rasa cinta yang tumbuh lagi di hatinya itu. Tapi apa yang harus ia gapai selama ini selalu ia dapatkan dengan mudah apalagi soal perasaan mungkin ini adalah awal untuk kemudahannya.
"Tok...tok
Suara pintu yang membuyarkan lamunan Danu saat ini.
",Masuk, sahut Danu.
"Maaf dok, sepertinya saat ini dokter Danu di tunggu pasien yang akan melakukan terapi. Apakah dokter masih sibuk? ", Tanya suster yang mengingatkan bawah ia sudah waktunya untuk kerja lagi.
"Iya sus, terima kasih. Mari kerungaan yang akan di gunakan. Aku sedikit gak enak badan rasanya sus, alasan Danu agar setelah tugas saat itu ia di bebaskan dan bisa menemani Nuara lagi. Rasanya tak ingin jauh-jauh jika dengan Naura.
*****
__ADS_1
Kak ditunggu ya like nya. Semoga dengan like kakak semua bisa membuat saya sedikit terhibur karena tahu jika cerita ini sudah ada yang baca...💕💞