
Karena proses pernikahan Naura dan Fiki sudah usai akhirnya keluarga yang tadinya menginap pagi ini pamit untuk pulang kerumah masing-masing. Begitupun dari kakek Huda dan keluarga yang sudah pamit dan melakukan perjalanan untuk pulang. Tak sabar mereka untuk melihat kediaman anak angkatnya itu yang karena keterbatasan waktu langsung ke rumah eyang yang untuk melakukan pernikahan kemarin.
Didalam perjalanan Abi yang satu mobil dengan pak Aan dan dokter Vineta hanya bisa diam karena ia tak menyangka jika kakak angkatnya juga memutuskan untuk tinggal di dekat rumahnya. Akan ada kenangan bersama kakaknya Aulia dulu yang akhirnya terkorek lagi. Padahal ia yang sudah menyimpan kenangan itu rapat-rapat pun tak bisa menolak dari rencananya dari awal.
Sebenarnya rencana awalnya Abi yang akan mencari rumah kontrakan untuk ia tinggali yang dekat dengan kantornya akhirnya pupus. Ia lebih memilih untuk tinggal di rumahnya lagi, ya sebenarnya ia akan mencoba lebih akrab lagi dengan kakak angkatnya lagi. Itu semua karena permintaan Papa Huda dan Mama Fina yang menginginkan Abi bisa lebih akrab lagi dengan kak Vineta. Mungkin jika ia mau membuka hatinya itu hal yang mudah, tapi karena ia belum begitu bisa melakukannya jadi ia juga akan berusaha untuk itu.
Di perjalanan itu kak Vineta ya tak tertidur hanya melihat sekeliling jalan perjalanan itu. Walaupun ia sering diajak untuk perpergian tapi ini lebih dari istimewa dari biasanya. Jadi ia sempatkan untuk melihat kota ini dengan harap haru hatinya.
Jika ia bisa memilih mungkin ia sudah sejak dulu bisa tinggal di kota ini jika bertemu keluarga ini dari dulu. Tapi karena baru ketemu maka ia baru bisa melihat indahnya kota ini dari dalam hatinya. Hati yang nyaman ia rasakan tatkala ia tiba di daerah perantara daerah kampung Papa Huda. Rasanya ia pernah merasakan betapa indahnya kota ini tapi kapan sedangkan ia baru pertama kali ke sini.
Pas mobil mereka sampai di rumah megah dan indah akhirnya Kak Vineta langsung keluar dan melihat betapa besarnya rumah itu. Ia kira rumah itu adalah rumah Papa Huda yang akhirnya ia bisa lihat tapi ternyata pikirannya salah sama sekali.
__ADS_1
"Sayang bagus kan, ini rumah kita lho kamu suka kan?," kata Papa Aan yang mengucapkan itu di depan istrinya. Karena ia tak pernah membicarakan ternyata ia sudah membangun rumah yang indah ini pada istrinya pastinya ia akan merasa bahagia jika tahu ini sudah ia rencanakan.
"Iya Pah, bagus banget pasti kamu belinya mahal ya Pah, jawab Mama Vineta yang tahu betapa bagusnya rumah yang ia akan tempati itu.
"Ini hadiah dari ku untuk kamu sayang. Ini memang sengaja aku bangun untuk kamu dan untuk keluarga kita nantinya, sahut Papa Aan yang langsung menekan tombol buka di depan pintu utama yang langsung memperlihatkan para pelayan setianya sudah menunggu di dalam rumah itu. Papa Huda dan Mama Fina serta Abi takjub begitu megahnya isi dari rumah itu jika di bandingkan dengan rumah Papa Huda bagikan 3 banding 1. Indah pujian yang mereka ucapkan dalam hati masing-masing.
" Jika ingin kerumah Papa Huda hanya jalan kesamping sayang, kita akan lebih sering lagi jika akan kesana, kata Pak Aan pada istrinya tercinta itu. Rasa haru tercipta di rumah baru itu, karena pak Aan yang begitu romantis itu membuat dokter Vineta tak bisa membendung air matanya untuk tidak keluar.
"Papa, Mama, Vineta bisa dekat dengan kalian semua. Terimakasih karena kehidupan Vineta akan indah dengan adanya kalian. Abi anggap kakak sebagai keluarga kamu juga ya, kata dokter Vineta yang menatap ke arah Abi sambil merentangkan kedua tangannya untuk Abi peluk. Rasanya ia tak akan pernah melupakan kejadian ini dari bertahun-tahun ia hidup sendiri dan hanya suaminya yang setia mendampingi akhirnya saat ini ia memiliki keluarga utuh lagi. Rezeki yang tak pernah ia minta dari dulu tapi karena ia begitu sabar jadi ia bisa merasakan itu semua saat ini. Di keluarga ini begitu kebahagiaan yang tak kira. Sedangkan kita akan langsung mengintip malam pengantin yang baru saja sah menjadi suami istri itu. Karena keluarga yang sudah kembali kerumah masing-masing sekarang rumah eyang hanya tinggal Naura dan Fiki dan kedua anaknya dan dua pelayan rumah itu. Tadinya ibuk Dini akan meninggalkan bibik Ita untuk membantu kebutuhan dari Fiki dan Naura tapi Naura menolak karena dua pelayan yang ada dirumah eyang dulu sudah cukup. Apalagi kedua anaknya sudah sedikit bisa mandiri jadi tak perlu bersusah-susah lagi.
Karena hari ini Naura yang begitu lelah membuka kado pernikahannya dengan kedua anaknya akhirnya izin untuk tidur lebih awal padahal kedua anaknya belum bisa tidur. Mungkin karena harus penyesuaian tempat maka Fiki memutuskan untuk menemani keduanya.
__ADS_1
"Ayah ini rumah Ayah. Kita bisa main besok ayah.
"Iya sayang tapi malam ini kalian tidur aja dulu ya karena sudah begitu larut lho, ujar Fiki yang di angukin kedua anaknya itu. Mungkin karena buku cerita yang di bacakan oleh ayahnya akhirnya kedua anak kembar itu tertidur ke kamar yang tak jauh dari kamar Ibunya dan ayahnya. Karena tak sabar untuk menemani istrinya Fiki langsung menyelimuti kedua anaknya dan mematikan lampu kamar itu. Hari ini ia akan memanjakan istrinya yang begitu lelah itu jadi ia langsung bergegas ke kamarnya. Setelah membuka pintu kamarnya dan mendapati istrinya yang sudah terlelap akhirnya Fiki langsung mencium kening istrinya dan ikut berbaring di ranjangnya itu. Sambil mengusap perut yang ada buah hatinya itu Fiki berdoa akan kebahagiaan keluarga kecilnya itu. Mungkin jika di minta Fiki akan menukar hartanya untuk kebahagiaan keluarganya itu.
Mungkin karena naluri ke ayahnya yang tumbuh akhirnya Fiki langsung duduk kembali dan memijit kedua kaki Naura yang terlelap itu. Agar esok Naura kembali bisa fit lagi.
💓💖💗
Terimakasih atas dukungannya ya kak. Aku akan berusaha untuk yang terbaik dalam novel saya. Jika banyak yang dukung mungkin akan terbit novel terbaru jika novel ini akan selesai. Padahal sepertinya tinggal beberapa episode lagi kakak.. Dukungan kakak anak saya tunggu kak karena juara bukan yang saya tunggu, tapi kebahagiaan dari kakak yang saya tunggu.
..."Didalam setiap kesulitan ada benih keuntungan yang setara. Dalam setiap kelelahan ada pelajaran yang menunjukkan kepadamu bagaimana memenangkan kemenangan didalam waktu". (Ribet Collier)...
__ADS_1