
Hari ini setelah kedua anaknya berangkat sekolah yang diantar oleh ayahnya. Naura langsung bergegas untuk melihat kamarnya dulu yang pernah ia tempati itu. Karena adik dari nenek Dina yaitu nenek Leni tak mau pulang ke rumah itu akhirnya rumah itu tak berbeda dari waktu ia pergi dari rumah terakhir dulu. Pas ia menikah saja Nenek Leni juga meminta maaf karena ia tak bisa hadir di pernikahan itu. Karena tinggal di luar negeri jadi tak setiap saat bisa langsung pulang apalagi kesibukan yang membuat waktu mereka kurang untuk keluarga yang jauh di sini.
Dengan hati-hati Naura yang meminta kunci kamar yang saat ini kosong itu pada pelayan langsung membuka pintu depan pelan-pelan. Pas pintu itu terbuka ia langsung teringat waktu dimana ia kehilangan kesuciannya dulu. Tapi kondisi kamar yang masih sama dengan ia waktu terakhir tinggalkan. Dari ranjang yang terlihat bersih karena setiap hari selalu dibersihkan oleh pelayan. Buku-buku yang masih tertata di tempat semula juga. Karena Fiki tak menginginkan kamar itu berubah sama sekali maka para pelayan selalu memperhatikan tempat dan apa yang berubah di kamar Naura itu.
Sambil duduk di meja belajarnya dulu Naura langsung membuka laci dan menemukan buku catatan yang ia pakai dulu. Lembar demi lembar ia buka dan ia baca betapa ia merutuki tulisannya itu. Ia menceritakan betapa perasaannya yang begitu besar ia miliki untuk Fiki dan pastinya Fiki baca waktu ia tak ada. Itu jika hanya Fiki tapi jika keluarga yang lainnya juga tahu ia pastinya sangatlah malu, tapi ia yang sekarang berstatus istrinya Fiki tak memperdulikan itu lagi. Dan ia juga menemukan semuanya yang sudah lima tahun yang lalu ia tinggalkan di kamar ini. Laci yang masih ada dua kotak misterius lagi yang tertata rapi di tempatnya. Karena terlalu penasaran ia langsung membuka kotak yang bentuknya besar itu. Satu alat yang Naura gunakan untuk mengetes pas ia tahu ia sedang hamil waktu itu ternyata masih disimpan oleh Fiki dengan bagusnya dan ada satu kertas yang ternyata itu tulisan tangan Fiki sendiri.
__ADS_1
Yang intinya ia minta maaf atas apa yang ia perbuat pada Naura yang sampai mengakibatkan Naura hamil itu. Dan disaat ia hamil tak ada Fiki disampingnya yang pastinya akan berat bagi Naura. Dengan perasaan penuh haru Naura yang membaca tulisan itu tak terasa menitihkan air matanya yang ternyata kakaknya tak melupakan apa yang terjadi pada Naura itu sendiri. Karena ia yang masih penasaran pada kotak yang sedikit lebih kecil ia langsung membukanya dan mendapati satu kunci yang ternyata wasiat dari eyang yang pernah ia terima waktu itu. Dengan penasaran akhirnya ia membuka kedua lemari yang ada di kamarnya itu dengan kunci itu tapi tak ada yang cocok. Karena tak mendapatkan apa yang ia mau akhirnya Naura keluar kamar dan pergi ke satu kamar yang masih ia belum ketahui yaitu kamar mendiang almarhum eyang. Karena hanya disitu yang masih ada lemari kayu miliknya itu. Dengan keyakinan penuh akhirnya Naura membuka pintu itu langsung menunjuk kedua lemari yang masih bagus dan pastinya pahatan kuno yang bagus.
"Eyang izinkan Naura membuka apa yang eyang telah berikan pada Naura saat itu eyang, ucap Naura sambil mengusap kedua lemari kuno itu. Dengan keyakinan penuh akhirnya ia mencoba lemari yang satunya ternyata tak dikunci yang masih terdapat beberapa potong baju eyang waktu dulu. Jadi hanya tinggal satu lemari yang belum bisa terbuka. Pas hitungan ke tiga akhirnya lemari yang begitu sulit ia buka akhirnya bisa terbuka juga. Ada 3 bagian yang terdapat dari lemari kayu itu.
"Sepertinya ini buka Ayah tapi apakah ini ayah kak Fiki yang semuanya tutup-tutupi kepada kami. Dari mata dan tubuhnya tak berbeda jauh dari kak Fiki. Karena Naura yang binggung dan akan tanya pada siapa ia tak tahu akhirnya ia akan melihat rak keduanya tapi keburu pintu kamar eyang terbuka karena Fiki ternyata sudah pulang.
__ADS_1
"Sayang aku mencari kau dimana-mana ternyata kau ada disini. Apakah kamu telah membuka apa yang eyang berikan pada mu, karena ternyata eyang ingin tahu hubungan sebenarnya kita ini sebelum akhirnya aku melakukan hal yang kamu benci itu. Aku tahu eyang menutup rapat-rapat rahasia kita ini dari permintaan keluarga besar kita dan ini adalah ayah ku yang aku tahu satu bulan sebelum akhirnya aku memiliki persamaan mu. Tapi aku tak bilang apapun padamu karena waktu itu aku tak sadar apa yang telah aku lakukan itu. Tapi percayalah lemari ini tak pernah aku buka karena ini adalah milikmu yang harus kau sendiri yang membukanya. Ini di rak kedua ada perhiasan eyang dulu waktu muda yang diberikan padamu dan hanya kau yang bisa memakai itu semua, ucap Fiki sambil mengambil kota perhiasan yang begitu besar di rak kedua itu. Ternyata eyang sudah menyiapkan ini semua untuk Fiki dan Naura karena beliau tahu jika Fiki dan Naura sama-sama memiliki perasaan cinta satu sama lain.
"Kak apakah aku pantas menerima ini semau. Ini terlalu berlebih-lebihan untuk ku kak, tolak Naura yang takut menerima apa yang eyang berikan padanya itu.
"Sudah ini milikmu dan di rak ke tiga kita buka bersama karena aku juga tak tahu apa yang ada didalamnya itu. Selama ini aku tak pernah berani membuka ini sendiri dan karena sudah ada kau disini kita buka bersama, anaknya sambil membuka map yang terbungkus plastik itu. Sedikit berdebu tapi Fiki juga tak tahu apa ini. Dengan keyakinan penuh akhirnya map itu terbuka dari bungkusnya dan mendapati sertifikat tanah rumah ini dan perusahaan yang sudah bergantikan nama Fiki. Kebahagiaan yang tak ada duanya karena eyang telah memberikan apa yang selama ini mereka tak berani bayangkan sama sekali. Apalagi Naura yang menerima hampir berkilo- kilo emas yang sudah eyang kumpulan dari masa mudanya itu. Jika di jual tak akan habis sampai 9 keturunan mereka. Tapi dengan apa pun kekuatan mereka tak akan menjual wasiat yang sudah di amanatkan untuk mereka itu. Setelah mengetahui apa isi lemari itu akhirnya keduanya menutup kembali dan menuju ke kamarnya untuk istirahat.
__ADS_1