CATATAN HARIAN NAURA

CATATAN HARIAN NAURA
Kepindahan Naura dan Fiki


__ADS_3

Setelah pak Catur meminta persetujuan dari anaknya dan dapat tanggapan yang bagus ia langsung meminta izin dari istrinya, jika ia sudah mengizinkan maka tinggal berangkat dan menghubungi pak Aan terlebih dahulu. Untuk mempercepat prosesnya juga.


Setelah mendapatkan persetujuan dari pak Aan, siang ini mereka akan pindah di rumah sakit sebelum. Dibantu oleh pengawal yang di tinggalkan tadi malam akhirnya siang ini mereka semua sudah tiba di rumah sakit tujuan. Karena kondisi Naura yang sudah membaik jadi ia tak membutuhkan perawatan di dalam mobil sedangkan Fiki yang belum sadarkan diri akhirnya memakai ambulans untuk tiba di rumah sakit itu. Ditemani ibuk Dini akhirnya mereka memulai perjalanan. Hanya ibuk Dini dan Fiki serta satu dokter yang ada di dalam mobil ambulance yang ia gunakan itu. Karena sopir duduk didepan jadi tak bisa saling bertanya atau sekedar melihat satu sama lain.


"Dok makasih ya sudah mau ikut mengantarkan anak saya. Sampai kapan anak saya akan seperti ini Dok?


"Iya buk sama-sama, kondisi pasien belum ada peningkatan dari pertama datang kemari buk. Apakah pasien pernah mengalami benturan keras sebelumnya?


Karena ini bisa mempengaruhi daya ingatnya jika pun sadarkan diri nanti buk, jawaban dokter yang bersama ibuk Dini dan menceritakan tentang kondisi Fiki tersebut.


"Deg,, perasaan ibuk Dini tak karuan setelah jawaban yang diberikan dokter tadi. Terbesit pikiran akankah masih akan bisa mengingat keluarga lagi.


"Buk,". Kita berdoa saja Allah pasti memberikan jalan yang terbaik untuk semua ini. Kita serahkan saja pada Allah buk. Sambil mengusap punggung ibuk Dini dokter tadi memberikan semangat yang akan membuat ibuk Dini tak merasakan terpuruk lagi.


"Tapi dok, akankah itu lama dok. Sedangkan saat ini anak-anak juga membutuhkan dia dok.


"Wah berarti pasien ini sudah memiliki keluarga ya buk, saya kira dia masih lajang, jawab dokter tadi yang napak kekecewaan yang terlihat jelas di wajahnya. Sebenarnya ia sedikit memiliki perasaan pada Fiki tapi setelah mengetahui bahwa ia sudah memiliki anak ada rasa menyerah yang tak tau harus bertahan atau hanya ingin terus memperjuangkannya. Disisih lain ia tak ingin melepaskan pasiennya itu tapi ia juga tak akan egois dengan anak-anaknya yang harus terebutkan kasih sayangnya nanti. Jika semua pelakor memiliki perasaan yang sama pada dokter itu mungkin tak ada perselingkuhan jika memikirkan bagaimana nasibnya anaknya nanti.

__ADS_1


"Kenapa Dok, adakah sesuatu yang tak aku ketahui tentang kondisi anak saya?


Kok dokter diam saja setelah saya menceritakan semuanya. Pertanyaan ibuk Dini yang tanpa ia ketahui menyadarkan dokter tadi dari lamunannya.


"Em, em gak buk gak apa-apa. Oya buk nanti jika ada apa-apa ibuk bisa kabari saya ya ini nomor telepon saya. Setelah menyerahkan kartu namanya dokter tersebut menyibukkan dengan mengecek kondisi Fiki yang harus ia laporkan pada rumah sakit rujukannya itu. Sedangkan ibuk Dini menelfon Naura yang berbeda mobil ingin menanyakan kondisinya. Dalam hitungan detik akhirnya telefon pak Catur berbunyi karena ibuk Dini menelfon lewat teleponnya itu.


"Pak bagaimana kondisi Naura dan anak-anak pak?


"Baik buk, ini anak-anak pada istirahat, ibuk baik-baik aja kan. Ya udah sampai ketemu di rumah sakit ya.


Hidup ibuk Dini mengulang dimana ia merasakan betapa hancurnya waktu sang mendiang almarhum ayah Fiki koma dulu. Betapa hancurnya melihat orang yang ia sayangi seperti ini. Cobaan yang tak henti-hentinya ia rasakan sampai Fiki juga mengulangi masa seperti ini juga. Takdir yang tak bisa ia minta tapi ia dapatkan dengan hanya memejamkan mata.


Pak Aan yang baru masuk diruangan istrinya itu kaget karena mendapai wanita yang ia cintai menangis sesegukan. Ntah apa yang membuat ia seperti ini padahal tadi sebelum ia meninggalkannya baik-baik saja. Dengan lembutnya akhirnya ia mendekati dan menanyakan apa yang terjadi sehingga ia seperti ini.


"Ma, kenapa kok bersedih seperti ini?


Mau apa biar Papa carikan?

__ADS_1


"Gak Pah, Mama gak pingin apa-apa, cuma mau bilang kalau Mama siap pindah dari sini ikut Papa Huda dan Mama Fina, Pah. Aku ingin dekat dengan mereka semuanya. Tapi bagaimana dengan bisnis Papa?


"Udah itu urusan Papa yang penting sekarang Mama harus cepat pulih ya. Biar kita bisa memecahkan apa yang akan kita lakukan esok hari lagi. Dan satu lagi kita juga harus kuat demi kedua cucu kita lho. Kasian mereka ditinggalkan kemarin "Mah" makanya aku telfon bibik suruh nemenin.


"Iya ya Pah, aku harus cepat pulih Pah. Oya Naura baik-baik aja kan?


Mama pingin cepet ketemu anak-anak ni Pah. Biasanya juga gak pernah pisah lama e sekarang malah gak ketemu.


"Ya udah Mama senyum dulu dong.


Cup,, kecupan hangat dari pak Aan pada istrinya itu walaupun kamar mereka saat ini ada pak Huda tapi mereka masih bisa bermesraan seperti ini mumpung pak Huda lagi istirahat. Sedangkan yang lainnya ikut sibuk menyiapkan apa yang akan dibutuhkan Naura dan Fiki nanti. Mengingat masa mereka pacaran dulu begitu indah. Pak Aan yang tak pernah memiliki rasa bosan pada istrinya pun semakin mempererat pelukannya sambil menciumi kening istrinya itu.


"Ehem',, goda Mama Fina yang barusan masuk ke ruangan itu dan mendapati kedua orang lagi bermesraan. Rasanya tak ingin menganggu pemandangan seperti ini tapi apa boleh buat ia juga ingin mengambil ponselnya didalam kamar tersebut.


Pak Aan dan dokter Vineta pun nampak malu karena kegiatannya di lihat orang lain. Rasanya ia ingin sembunyi di bawah bantal agar Mama Fina tak melihat expresi saat ini.


"Sudah Mama juga pernah muda kok, kalian lanjutin aja Mama hanya ingin mengambil ini kok, kata Mama Fina yang juga merasa tak enak sekali saat ini.

__ADS_1


****


Terimakasih atas dukungannya kakak semua.. apalagi tapπŸ’•πŸ’• sebanyak-banyaknya kak biar aku tambah bisa berhalu. heheheh


__ADS_2