
Setelah ia sampai di bandara dan mencari penerbangan yang paling cepat untuk ia tuju pun akhirnya ia mendapati rute pulau Borneo, walaupun ia tak memiliki teman atau saudara disana tapi ia tak akan mengubah pikirannya yang sudah mantap untuk pergi meninggalkan kota kelahirannya. Mungkin setelah ia tiba di Kalimantan hari sudah siang dan waktu itulah semuanya akan mencarinya dan pas ia masuk pesawat yang akan mengantarkannya pun ia sudah mematikan teleponnya dan mungkin tak akan pernah ia hidupkan lagi. Menagis rasa tak ingin jauh dari semuanya tapi ia juga tak boleh egois jika ia tetap di rumah itu maka ia akan membuat beban dari semaunya. Bermodalkan buku tabungan yang sudah ia kumpulkan dari dulu akhirnya ia bisa pergi dan mungkin bisa untuk menyewa rumah kecil untuk dirinya dan calon anaknya kelak. Tepat pukul 10 pagi akhirnya ia sampai di Kalimantan dengan satu kopernya akhirnya ia langsung keluar dari bandara tapi siapa sangka pandangan yang tadinya cerah dan tiba-tiba menjadi hitam tak bisa melihat apa-apa.
"Brok,,,
Suara tubuh Naura yang jatuh dan tak sengaja ditangkap oleh satu petugas bandara yang sedang membersihkan lantai.
''Tolong, tolong,,
__ADS_1
Teriak petugas yang ada disana dan binggun melihat wanita yang ia bantu sedang pingsan. Dengan bantuan temanya akhirnya bisa membawa Naura ke arah praktek dokter yang ada di bandara itu.
"Tolong Dok, ada pengunjung yang pingsan tadi dok, ucap petugas tadi yang meletakkan Naura di banker. Dengan terburu-buru akhirnya dokter itu langsung memeriksa Naura dan menyuruh kedua petugas laki-laki yang membantu Naura tadi untuk keluar ruangan. Semuanya sudah usai diperiksa oleh dokter dan menunggu pasien tadi terbangun.
Sedangkan untuk dikediaman ibuk Dini dan pak Catur yang mengetahui anaknya menghilangkan pun sudah di datangin oleh semua nenek dan serta kakeknya juga yang binggun. Dan untuk Fiki yang mengetahui dari pagi tadi pun langsung memutuskan untuk langsung kembali pulang. Didalam perjalanan pulang yang tergesa-gesa akhirnya Fiki memilih untuk menggunakan pesawat untuk cepat sampai dan berkumpul dengan keluarga yang lain untuk segera mencari Naura. Nomor Naura yang tak juga bisa dihubungi sudah membuat semuanya takut dan cemas.
"Sayang kamu disini sama siapa, kok dalam kondisi seperti ini tak ada yang mendampingi kamu, tanya dokter wanita yang berumur 30 tahun itu. Dari parasnya yang begitu cantik dan berwibawa beliau mencoba menanyakan semuanya pada Naura tersebut.
__ADS_1
"Maaf siapa, dan maaf ada apa, sahut Naura binggun campur ada ketakutan. Karena tak ada yang ia bisa mintai tolong juga disini.
Melihat Naura binggun dan ketakutan akhirnya dokter tersebut langsung memberikan teh hangat dan memegang tangan Naura dengan lembut siapa tau anak yang ia tolong tadi bisa lebih rileks.
@@@@
Bagiamana ya kalau Naura dan Fiki tidak bisa bertemu apakah anak yang ada dikandung Naura juga akan selamat. Ayo kita tunggu terus kelanjutan jangan buat Naura bersedih lagi, bantu Naura untuk bisa lebih mengikhlaskan ini semua dan fokus dengan janinnya saja. Karena semuanya nanti akan indah pas itu sudah waktunya juga.
__ADS_1