
Entah berapa menit lamanya semua keluarga mondar-mandir di depan ruangan dimana Naura dirawat. Sampai pak Catur dan Mama Vineta tak kunjung berhenti yang mondar-mandir. Cemas karena belum ada kepastian dari dokter kandungan yang merawat Naura. Sedangkan Fiki yang merasa semakin terpuruk hanya bisa menyesali perbuatannya sambil terduduk di lantai dan memegangi kepalanya. Rasa sakitnya setelah dikasih tahu jika anak yang dikandung Naura adalah anaknya yang membuat ia semakin ingin mencekik lehernya sendiri. Tak pernah ia merasa jika sudah membahagiakan Naura tapi malah selalu membuatnya terluka terus.
"Ya Allah kenapa kamu ciptakan aku dengan rasa cemburuku yang sangat besar, dengan rasa itu sudah membuat hati orang yang aku cintai terluka sampai nyawanya sendiri dan calon buah hatiku yang jadi jaminannya, kata Fiki lirih sambil menitihkan air mata. Ia tak tahu jika Nenek Dina ada disampingnya dan mendengarkan itu semua walaupun ia sudah sangat pelan tapi masih tetap terdengar olehnya.
"Sudah ini semua sudah jalan Tuhan untuk kamu. Setelah kita besok pulang kamu harus langsung nikah ya sama Naura karena kamu harus tanggung jawab atas apa yang terjadi ini. Dan satu lagi, kamu harus menjadi laki-laki yang bertanggung jawab karena hanya kamu yang bisa membahagiakan Naura dan kedua anakmu itu Fiki. Nasehat nenek Dina pada cucunya kesayangannya. Walaupun bagaimana ia juga harus memberikan pengertian pada cucunya jika ia sudah menjadi suami harus mengurus apa yang dibutuhkan dari keluarganya itu.
"Iya nenek, tapi aku takut akan calon bayiku yang saat ini sedang lemah nek. Aku sangat takut jika Naura akan membenciku Nek.
"Tak akan Naura sampai marah padamu sayang. Nenek tahu betapa ia mencintai kamu, dia tak akan mungkin marah padamu. Kamu juga tahukan penjelasan Naura kenapa waktu itu pergi dari rumah?
__ADS_1
"Karena ia tak ingin kau dipersulit oleh kehamilannya, tapi takdir berkata lain karena semua keluarga tahu jika Naura sedang hamil dan kamu jadi sasaran juga, jelas nenek Dina tadi.
"Iya Nek, aku janji setelah ini aku hanya untuk mereka dan kasih sayang aku juga tak akan pernah pudar pada anak-anak dan ibuknya juga. Nek tapi jika anakku tak bisa diselamatkan bagaimana Nek, aku ingin tetap merawat anakku nek dan Naura bersama-sama, jelasnya.
"Sudah kita berdoa saja pasti ada jalan terbaik untuk mereka sayang. Ya udah kamu harus tetap kuat dong. Sana tunggu Naura di depan pintu gih. Tunggu sampai dokter muncul.
Tak lama dari itu tadi dokter keluar dari ruangan Naura dan langsung mendekati dokter Vineta. Ntah apa yang ia bicarakan akhirnya Fiki mendekati dan menanyakan kondisi keduanya.
"Sudah pak, kami memberikan obat kuat untuk kandungan jadi untuk saat ini diharapkan pikiran dan tenaga tak boleh terlalu capek. Dan satu lagi buat kondisi ibuknya selalu bahagia pak karena akan membuat kandungan semakin membaik. Ya udah saya pamit dulu dan pasien juga sudah sadarkan diri didalam bersama suster kami.
__ADS_1
"Makasih dokter, sahut semuanya. Setelah dokter tadi pergi keluarga langsung masuk ke ruangan tadi ingin melihat kondisi Naura. Akhirnya semuanya bisa selamat dari masa kritis ini tinggal Fiki bagaimana akan memperlakukan Naura selanjutnya. Pas semuanya sudah didalam Naura yang melihat Fiki ada disamping nenek Dina pun langsung memalingkan wajahnya ke arah berlawanan. Ia tak mau melihat Fiki sama sekali. Mungkin rasa bencinya sudah sangat menganggu pikirannya yang mengakibatkan ia akan kehilangan bayinya juga.
"Sayang maaf kan kakak ya, yang sudah membuat hatimu terluka. Kakak pantas mendapatkan hukuman apapun itu darimu aku akan terima asalkan kamu maafkan Kakak, sayang. Kakak janji akan menjadi Ayah yang baik untuk anak-anak nantinya. Setelah kita pulang kita langsung tinggal di rumah eyang dan kita langsung nikah ya, kata Fiki yang mendekati Naura tadi. Walaupun ia tahu jika Naura sedang marah tapi ia tetap maju untuk meluluhkan hatinya. Sedangkan yang lainnya hanya melihat perjuangan Fiki karena semuanya tak mau ikut campur masalah perasaan hati mereka.
"Kakak bilang minta maaf, kakak gak tahu betapa sakitnya kak disini. Jawaban Naura dan menunjukkan dada tepat hatinya.
"Iya kakak minta maaf ya kakak janji tak akan melakukan seperti ini asal kamu janji tak akan dekat dengan laki-laki lain lagi ya. Ntah kakak cemburu jika kamu dekat dengan laki-laki lain Naura.
"Aku tahu itu kak, tapi aku juga tak bisa berbuat apa-apa dia sendiri yang kesini dan mendekati aku kok. Ya udah kalau kakak mau aku maafkan, aku minta kakak sekarang janji akan selalu mengutamakan apa yang aku mau dan anak-anak. Tak ada kemarahan lagi antara kita, dan aku ingin kita menikahnya di rumah eyang aja ya biar anak-anak tahu rumah nenek buyutnya.
__ADS_1
Keluarga yang lainnya pun ikut bahagia karena akhirnya Naura dan Fiki sudah baikan. Sedangkan besok mereka juga akan langsung balik ke kota mereka. Kenangan yang indah akhirnya terukir di pikiran masing-masing dimana musibah hilir berganti sampai akhirnya mereka bisa bersatu lagi. Rasanya tak ada yang bisa dijelaskan bagaimana rasanya hati mereka masing-masing. Dan dokter Vineta serta pak Aan juga sudah mantap ingin ikut pindah ke kota mereka itu.
Tak terasa akhirnya pagi ini mereka sudah dalam perjalanan untuk pulang ke kota Fiki dan Naura. Pak Aan serta istrinya yang duduk berdekatan saling berpegangan tangan bukan karena takut tapi karena ia meninggalkan kota mereka itu. Walaupun sering berpergian tapi pergi saat ini mereka belum tahu akan kembali lagi atau tidak karena akan menetap di kota Papa Huda dan Mama Fina. Para pelayannya yang sebagian sudah tiba bersama mobil barang-barangnya sudah tiba disana dan mengurus rumah baru yang pak Aan beli dekat dengan rumah Mama Fina itu. Bahagia akhirnya karena mereka semua menjadi keluarga yang begitu besar dan rame nantinya. Fiki yang duduk berdampingan dengan Nuara tak henti-hentinya mengusap perut Naura yang masih rata. Sedangkan pak Catur duduk dengan oci sedangkan ibuk Dini bersama Oca. Tujuan pertama untuk langsung ke rumah eyang karena akan melangsungkan pernikahan Naura dan Fiki yang sudah tertunda itu. Karena masih banyak yang mengurus jadi keluarga itu tinggal terima hasil akhirnya saja. Apalagi pernikahan itu tak akan terlalu megah karena menginggat sudah ada Oca dan oci yang tumbuh dewasa itu.