Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
6. Yang Terlewat


__ADS_3

Setelah makan siang, Aksa dan Nata meluangkan waktu untuk berbicara secara pribadi dengan Lucia dan Orland mengenai hal yang tengah terjadi di wilayah kerajaan.


Sedang Lily, Rafa, dan Luque tetap tinggal untuk menunggu Aksa dan Nata. Sementara yang lain kembali ke tempat mereka masing-masing. Beberapa orang terlihat tidak sabar ingin segera mengabarkan tentang kedatangan Aksa dan Nata pada rekan dan sanak kerabatnya.


.


"Jadi apa yang kita lewatkan?" tanya Nata saat ia, Aksa, Lucia, dan Orland sudah duduk melingkari sebuah meja di ruang kerja Lucia.


"Banyak hal," jawab Orland seraya menyerahkan beberapa buku untuk dibaca Aksa dan Nata.


"Oh, ini buku anggaran dan pencatatan wilayah kependudukan? Bagus sekali, Tuan Orland." Aksa terlihat cukup terkesan setelah membuka isi dari 5 buku yang diberikan Orland itu.


"Benar, itu catatan tentang anggaran dan kependudukan selama lima tahun ini," jawab Orland membenarkan. "Dan sekarang aku akan bercerita tentang apa yang sedang terjadi di kerajaan ini sekarang," lanjutnya yang kemudian ditanggapi Nata dengan sikap siap mendengarkan.


"Seperti yang mungkin sudah kalian dengar dari Tuan Couran dan cerita dari yang lain, bahwa wilayah selatan berhasil diambil alih oleh pasukan gabungan dari beberapa pemimpin Estat dan kerajaan selatan," ucap Orland yang mulai bercerita.


"Ya, saya mendengar tentang hal itu. Dan kemudian kalian menutup gerbang, kan?" Nata memberi tanggapan.


"Ya, semua itu karena kita juga sedang bermasalah dengan kerajaan Elbrasta, yang memotong jalur pasokan logam Dracz kita dari Estrinx," ucap Orland melanjutkan bercerita. "Dan setelah tiga tahun mencoba untuk bertahan, akhirnya kami memutuskan untuk merubah rencana dan menutup gerbang," lanjutnya.


"Ya, kurasa itu bukan keputusan yang buruk," ucap Nata. "Tapi sebenarnya seperti apa permasalah kerajaan ini dengan Kerajaan Elbrasta? Kudengar dari Tuan Couran, Raja mereka meminta pertanggung jawaban terhadap kematian Ratu Daisy dan meminta dua pangeran untuk dikembalikan, namun kenapa mereka belum juga melakukan tindakan? Apakah kerajaan ini mengabulkan tuntuan mereka?"


"Benar seperti yang kau dengar. Tapi tidak, kami tidak menjawab tuntutan mereka." Kali ini Lucia yang menjawab. "Mereka tidak melakukan serangan karena sekarang kekuatan kerajaan itu tengah terpecah. Beberapa keluarga Bangsawan besar tampak mendirikan aliansi masing-masing, setelah Kak Grevier berhasil mengambil alih Kotaraja dan menduduki tahta," tutupnya kemudian.


"Berapa lama hal tersebut terjadi?" Nata terlihat sangat penasaran.


"Mungkin sejak lima tahun ini. Dan sepertinya keadaan mereka semakin lama semakin bertambah buruk," jawab Lucia.


"Itulah kenapa tidak seharusnya keluarga bangsawan memiliki tentara pribadi," celetuk Aksa yang masih terlihat sedang membaca buku-buku dari Orland tadi.


"Dan ironisnya kami malah bersyukur dengan adanya kekacauan di dalam kerajaan Elbrasta tersebut. Setidaknya hal itu dapat membuat kami sedikit bernafas lega," tambah Orland.


Sedang Nata hanya mengangguk kecil. Terlihat ia sedang memikirkan sesuatu.


"Tapi kurasa tidak akan ada masalah dengan wilayah ini. Sejauh yang tertulis dalam buku ini, semuanya tampak berjalan dengan baik," ucap Aksa seolah mencoba merubah tema pembicaraan. "Mungkin hanya perlu tambahan-tambahan kecil saja untuk membuatnya lebih optimal," imbuhnya lagi.


"Akhirnya setelah sekian lama impian Anda untuk menciptakan wilayah seperti ini terwujud juga, Yang Mulia." Nata pun ikut menambahi untuk merubah suasana.

__ADS_1


"Benar. Tapi tidak sepenuhnya seperti apa yang aku bayangkan." Lucia menjawab dengan cepat. "Aku ingin wilayah ini menjadi contoh bagi wilayah lain. Bukan malah menutup diri dan terkungkung dari dunia luar. Bahkan sekarang saja, kami harus menyelinap dan bersembunyi bila ingin menuju ke daratan utara atau ke daratan selatan," tambahnya.


"Bila tujuan Anda untuk membuka gerbang dan memulihkan jalur, kita bisa mengajukan kesepakatan dan perjanjian damai pada kerajaan di utara dan selatan." Nata memberi saran.


"Kurasa hal itu bukanlah pilihan untuk saat ini. Satu-satunya jalan yang kita punya adalah mengamankan jalur kita sendiri. Lagi pula wilayah selatan adalah bagian dari Kerajaan Rhapsodia saat kerajaan ini pertama dibentuk." Lucia kembali menjawab dengan cepat. Matanya menatap tegas ke arah Nata.


"Jadi Anda masih ingin menyerang dan melanjutkan peperangan?" Aksa sampai menarik pandangannya dari buku dan menatap ke arah Lucia karena merasa terkejut. "Ini hal yang cukup mengejutkan keluar dari mulut Anda, Putri. Eh, maksudku, Ratu." ujarnya yang terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Aku tidak ingin memperpanjang peperangan. Malahan aku ingin sekali untuk segera menghentikannya," balas Lucia menjawab ucapan Aksa. "Tapi meski aku sangsi pihak utara ataupun pihak selatan mau menerima perjanjian damai yang kita tawarkan, juga karena aku tetap harus meminta pertanggung jawaban Tyrion atas serangannya yang merenggut banyak nyawa lima tahun yang lalu," jelasnya kemudian.


Terlihat Nata hanya terdiam mengamati Lucia dengan seksama. Ia merasakan ada yang berubah dari sosok Lucia yang sedang duduk di hadapannya itu.


Bukan hanya pada postur tubuhnya yang telah tumbuh dengan sempurna, hingga membuatnya terlihat sangat menawan. Atau parasnya yang menampakan kecantikan dan keanggunan seorang perempuan dewasa. Tapi lebih ke bagaimana gadis itu berprilaku. Gerak tubuhnya, cara bicaranya, ketegasannya, semua itu yang dirasa berubah oleh Nata.


"Tapi aku juga paham bahwa aku tidak bisa mengorbankan wilayah ini untuk terus melakukan peperangan," lanjut Lucia kemudian.


"Jadi apa yang Anda rencanakan, Yang Mulia?" Kali ini Nata yang bertanya. Tatapannya masih diisi dengan rasa penasaran dan penuh selidik terhadap Lucia.


"Rencananya kami akan membangun wilayah ini, sambil sedikit demi sedikit membangun ulang kekuatan untuk melakukan serangan lagi. Setidaknya untuk mengambil alih kembali wilayah paman Mateus," jawab Lucia yang terlihat penuh percaya diri.


"Dan berapa lama perkiraan waktu untuk rencana Anda tersebut?" Nata bertanya lagi.


"Jadi Anda benar-benar bersiap untuk melakukan serangan lagi?" Aksa tampak sedang memastikan.


"Benar. Sudah kuputuskan." Terlihat Lucia tersenyum kecil. Meski matanya tidak tampak sedang tersenyum.


"Sepertinya Anda memang telah banyak berubah seperti yang dikatakan Tuan Couran, Yang Mulia," sahut Nata sambil ikut tersenyum. Ia tidak tahu hal apa yang sudah dilalui Lucia hingga jadi seperti sekarang, tapi yang jelas hal itu pasti benar-benar meninggalkan bekas mendalam di hati gadis tersebut.


"Ya, aku tahu. Aku sudah dua puluh empat tahun sekarang. Pengalamanku jauh lebih banyak dari kalian berdua," balas Lucia yang sudah merubah intonasi dan tatapan matanya menjadi lebih ceria.


"Ya... kurasa tidak. Selain Anda lebih banyak melewati kehidupan dibanding kami, sisanya aku meragukannya, Ratu," sahut Aksa menimpali. Yang hanya dibalas Lucia dengan tawa kecil.


.


"Selamat siang, Yang Mulia Ratu, Paman Orland, Primaval, Nona Rafa, Nona Lily, Nona Jean," Tiba-tiba seorang pemuda Narva dengan baju seorang bangsawan memberi salam saat berpapasan dengan rombongan Aksa dan Nata yang sedang berjalan di koridor menuju ke luar.


Mereka hendak meninggalkan kediaman Lucia untuk mengunjungi tempat Ellian dan Selene. Mereka adalah, Aksa, Nata, Lily, Rafa, Luque, Lucia, dan Jean.

__ADS_1


"Selama siang, Al." Lucia menyapa balik.


"Selamat siang, Pangeran Alexander," ucap yang lain hampir bersamaan.


"Ah, Pangeran kedua?" Terlihat Aksa baru saja mengenali pemuda tersebut.


"Oh, benar. Anda sudah bertambah besar sekarang," tambah Nata yang seingatnya dulu masih berusia 14 tahun dan hanya setinggi pundaknya. Namun sekarang terlihat nyaris mengungguli tingginya.


"Kau masih mengingat mereka, Al? Aksa dan Nata." Lucia mencoba mengingatkan Alexander.


"Ya, pemuda-pemuda aneh waktu itu," jawab Alexander tanpa perubahan wajah dan intonasi. "Selamat siang. Senang bertemu lagi dengan Anda berdua," ucapnya kemudian sambil mengangguk sopan.


"Hei, siapa bilang kami aneh?" sahut Aksa terlihat tidak terima.


"Sekarang dengan penampilan Anda berdua yang tidak bertambah tua sama sekali itu saja sudah merupakan hal yang aneh," jawab Alexander masih terdengar datar.


"Oh, benar juga sih." Terlihat Aksa mengangkuk kecil menerima argumen dari Alexander.


"Kau hendak kemana, Al?" tanya Lucia kemudian.


"Saya hendak menjemput Eden, untuk berangkat berlatih ke Garnisun Pelatihan Senjata Sihir di utara." Alexander menjawab dengan sopan.


"Pelatihan Senjata Sihir? Apa itu sama seperti Senjata Mistik?" Aksa mulai terlihat penasaran dan bersemangat setelah mendengar kata-kata Senjata Sihir barusan.


"Bukan, itu hanya pelatihan penggunaan sihir untuk membantu memaksimalkan senjata yang kita gunakan." Kali ini Rafa yang menjawab.


"Wow, benarkah? Luar biasa sekali," terlihat Aksa bertambah bersemangat.


"Ya, itu karena kami telah membagi jenis pelatihan prajurit menjadi lebih spesifik." Rafa menjawab lagi.


"Nona Rafa yang memiliki ide tersebut, terutama tentang penggunaan sihir untuk meningkatkan penggunaan senjata itu tadi," ujar Jean yang tiba-tiba menambahi. "Dan kemudian mengembangkannya bersama Nona Parpera," lanjutnya kemudian.


"Seperti yang diharapkan dari asisten Utusan Dewa," ujar Aksa yang terdengar sangat bangga terhadap Rafa.


"Terima kasih, Tuan Aksa," jawab Rafa yang terlihat tersipu malu.


"Baiklah kalau begitu, ayo kita mampir ke Garnisun itu dulu. Aku ingin melihat seperti apa pelatihannya."

__ADS_1


-


__ADS_2