Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
32. Pembentukan Aliansi I


__ADS_3

"Jadi sebagai ganti dari pengembalian wilayah secara menyeluruh, hanya dengan kerjasama dagang khusus? Dan untuk bantuan prajurit serta senjata perang akan dihitung sebagai hutang yang harus dibayar setahun setelah kerajaan sudah kembali berjalan?" Makari bertanya memastikan setelah mendengar rincian perjanjian yang Lucia tawarkan sebagai bagian dari pembentukan aliansi.


"Benar. Dan untuk rincian nilai hutang atau bentuk dari kerjasama khusus nya akan kita bicarakan terpisah. Masing-masing per kerajaan," lanjut Lucia menambahkan.


"Maaf, tapi perjanjian ini rasanya terlalu menguntungkan kami untuk jadi kenyataan. Dan hal itu malah terlihat mencurigakan," balas Makari.


"Benar. Saya juga setuju dengan ucapan tuan Makari. Karena melihat kemampuan dan teknologi dalam wilayah ini saja saya merasa Rhapsodia bisa menghadapi Bruixeria seorang diri dan bahkan menguasai tanah utara bila mau." Kali ini Daniel dari keluarga Voryn yang menabahi. Setuju dengan ucapan pemimpin pemberontakan Cilum itu.


"Ya terlihatnya memang seperti itu. Padahal kalau boleh jujur, kami pun saat ini sedang mengalami masalah kami sendiri dengan kerajaan di Dataran Selatan." Lucia mencoba untuk menjelaskan.


"Dan kami memutuskan untuk ikut campur tangan dalam pergolakan Daratan Utara sekarang ini karena kami tahu bahwa bila kerajaan anda sekalian kalah, berarti sudah terlambat untuk kami bisa menandingi Bruixeria," lanjut pemimpin wanita itu kemudian.


"Karena disamping kami akan sangat kesulitan menahan serangan dari kedua arah secara sekaligus, juga seperti yang anda sekalian ketahui, bahwa Sefier memiliki kemampuan untuk mengeluarkan sihir tingkat tinggi." Kali ini Nata yang menimpali.


"Belum lagi serangan mendadak mereka yang menggunakan Kristal Arcane," sahut Lucia menambahi.


"Dan apa menurut kalian kami masih bisa menghadapinya tanpa bantuan?" Pemimpin Rhapsodia itu melanjutkan.


"Kami melakukan hal ini murni karena kami ingin bertahan dan menjaga wilayah kami." Ratu muda itu masih terus berusaha meyakinkan orang-orang yang ada di hadapannya sekarang.


"Kami sadar benar bahwa kami hanya kerajaan yang baru berdiri dan mengalami banyak kesulitan untuk mempertahankan wilayah kami yang sekarang.


"Jadi kami cukup tahu diri untuk tidak mencoba mencari musuh baru, apa lagi mencoba melebarkan wilayah," tutup Lucia kemudian.


"Tapi bila melebarkan jaringan perdagangan itu lain cerita." Nata menimpali.


Dan semua orang terdiam setelah mendengar penjelasan dari duet Nata dan Lucia tersebut.


Memang saat ini hanya ada Nata dan Lucia saja yang mengikuti pertemuan tersebut dari sisi Rhapsodia. Seharusnya masih ada Aksa yang saat ini terlambat hadir karena suatu alasan.


"Sebagai seseorang yang sudah berada di wilayah ini sejak kerajaan ini dibentuk, aku bisa pastikan bahwa situasi yang dikatakan Yang Mulia Ratu memanglah benar." Kali ini Alexander yang berucap. Membenarkan perkataan Lucia mengenai masalah yang sedang dialami Rhapsodia.


"Dan sebagai seorang yang berhasil menaiki tahta Estrinx berkat pemuda itu, bisa kupastikan bahwa rencana untuk memajukan perdagangan tanpa melebarkan wilayah itu bukan lah sekedar alasan belaka." Lugwin pun ikut angkat bicara memberikan kesaksiannya.


"Karena tuan Nata yang ku tahu selalu membuat rencana sederhana dengan memanfaatkan segala hal yang dimilikinya. Tanpa ambisi berlebih di luar tujuan utamanya," lanjut perempuan itu menambahi.


"Yang Mulia terlalu tinggi menilai saya. Saya hanya orang yang malas dan tidak ingin repot saja." Nata menanggapi pujian Lugwin padanya.


"Ya, seperti itulah dia," balas Lugwin kemudian.


Terlihat Makari dan Daniel terdiam mencoba memikirkan ulang pendapat dua pemimpin itu sebelum mengambil keputusan.


"Hm..." Makari terdengar seperti sedang mendengus kencang. "Setelah melihat dan mendengar kesaksian secara langsung seperti ini, kurasa aku akan mencoba untuk mempercayai niatan baik dari kerjasama ini," ucap pria berberewok angker itu kemudian.


"Ya, kurasa bila semua merasa perjanjian ini dilandasi dari niat baik, maka saya pun akan ikut menyetujui dan mempercayainya." Kali ini Daniel yang mengambil keputusan.

__ADS_1


"Baguslah kalau memang semuanya sudah sepakat. Karena setelah ini saya ingin mengajukan penawaran kepada anda sekalian sebagai sebuah aliansi." Nata pun memulai pembahasan yang berikutnya.


"Penawaran yang lain lagi?" Alexander bertanya.


"Sebagai sebuah aliansi?" Disusul Lugwin dengan cukup penasaran.


Terlihat bahkan untuk tema pembicaraan yang akan dibawa Nata tersebut Lugwin dan Alexander pun tidak mengetahuinya.


"Benar." Dan Nata menjawabnya dengan cepat.


"Baiklah kalau memang begitu, coba utarakan penawaran anda, tuan Nata." Alexander berucap.


"Baiklah. Jadi begini..."


Dan Nata pun mulai menceritakan tentang pembicaraannya dengan para Elf dan peralatan sihir untuk membantu memenangkan peperangan.


.


"Apa yang anda bilang barusan? Membuat peralatan perang dari sihir bersama para Elf dan juga Yllgarian Hutan Tua?" Makari mengulang pertanyaannya setelah mendengar cerita Nata.


"Benar." Nata menjawab cepat.


"Mereka setuju berbagi pengetahuan dengan kita?" Kali ini Daniel yang bertanya terlihat tidak percaya.


"Tidak sepenuhnya setuju. Maka dari itu kita perlu melakukan perundingan lagi dengan mereka dan bila memungkinkan membuat aliansi." Nata kembali menjawab.


"Setidaknya dalam masa krisis melawan Bruixeria saat ini. Karena kita memiliki permasalahan yang sama," ucap Nata menambahi.


"Jadi maksud anda Elf dan Yllgarian itu juga memiliki masalah dengan kerajaan baru itu?" Kali ini Hericus yang bertanya.


"Benar. Karena Sefier saat ini dipercaya memiliki senjata milik mereka." Nata menjawab.


"Maksud anda gelang Scion kan?" Makari tampak sudah mengetahuinya.


"Benar."


"Dan senjata seperti apa yang  akan mereka bagikan pada kita?" Daniel lanjut bertanya. Seolah sedang melihat adanya kesempatan.


"Bukan senjata. Tapi lebih tepatnya peralatan perang." Nata mengkoreksi ucapan pria Voryn itu.


"Apa ada bedanya?" Kali ini Hericus yang bertanya mewakili rasa penasaran yang lain.


"Ya. Karena bukan senjata jadi tidak dapat digunakan untuk menyerang." Nata menjelaskan dengan sabar.


"Lalu apa keuntungannya buat kita." Hericus kembali bertanya.

__ADS_1


"Mempermudahkan kita memenangkan perang ini." Nata membalas.


"Bagaimana cara memenangkan perang ini?" lanjut Hericus.


"Peralatan itu adalah Kapal Terbang dan Gerbang Pemindah." Tiba-tiba terdengar Aksa menyahut dari arah pintu masuk bersama Lily dan juga Val.


"Apa? Kapal terbang? Gerbang pemindah?"


"Eh, siapa dia?"


"Dia adalah Aksa. Yang memang seharusnya mengikuti pertemuan ini namun terlambat karena suatu alasan." Lucia memperkenalkan Aksa kepada yang lain, sekaligus menjelaskan alasan kenapa pemuda itu baru saja datang.


"Dan mereka?" Makari menunjukan pada Lily dan Val.


"Maaf, terlambat memperkenalkan beliau berdua. Beliau adalah Lilian sang Kilat Putih, dan Valastrum." Lucia menyusulkan memperkenalkan Lily dan Val secara resmi.


"Apa? Mereka Pahlawan Legenda Perang!?" Makari dan dua bawahannya tampak terkejut mendapati kebenaran dari Kelinci mungil dan Elf jangkung di harapan mereka itu.


"Apa masih belum selesai?" Tiba-tiba nyaris bersamaan menyusul masuk Luque bersama Rafa.


"Nona Luque! Jangan seperti Tuan Aksa memasuki Ruang Pertemuan tanpa mengetuk terlebih dahulu seperti itu," sergah Rafa dari belakangnya.


"Primaval? Ada keperluan apa anda kemari?" Lucia bertanya sambil berdiri dari kursinya. Bentuk kesopan santunan pada orang yang dihormati.


"Primaval?" Piere yang pertama mengenali kata tersebut. "Maksud anda beliau adalah Gadis Suci?" tanyanya kemudian mencoba untuk meyakinkan diri.


"Benar. Beliau adalah Gadis Suci," ucap Lucia menjawab.


"Oh, be-be-beliau Gadis Suci?" Hericus terbata-bata karena terkejut dan merasa gugup.


Serempak semua utusan berdiri dari kursi mereka dan membungkuk memberi salam kepada Luque.


"Salam Primaval."


"Oh, kupikir kalian sudah selesai. Karena kulihat tadi Aksa main masuk saja bersama nona Lilian dan tuan Val." Luque menjawab dengan santai tanpa memperdulikan tingkah gugup dan kaku dari yang lain setelah mengetahui tentang identitasnya.


"Ya, itu karena aku memang rencananya mengikuti pertemuan ini. Hanya saja sepagian tadi harus mengajarkan Pangeran Eden cara untuk nyeting Drone Sihir dengan LED di tendanya di sekitar perbatasan timur sana." Aksa menjawab.


"Oh begitu ternyata. Kalau begitu teruskan saja, aku tidak akan menganggu. Maaf sudah menyela," ucap Luque dengan santainya.


"Ti-tidak. Bukan masalah Primaval." Hericus menjawab dengan lantang karena rasa gugupnya.


"Kalau begitu ayo kita pergi nona Rafa," ajak Luque kemudian seraya kembali menghilang dari balik pintu. Diikuti Rafa di belakangnya.


"Selamat jalan, Primaval."

__ADS_1


Dan sunyi pun menyusul setelah pintu tertutup.


-


__ADS_2