
Setelah itu mereka berempat melanjutkan menuju ke Kedai milik Edward yang terletak tepat di seberang jalan.
Berbeda dari Bar Pietro sebelumnya, Kedai milik Edward itu sekarang terlihat jauh berubah. Bahkan mungkin sudah tidak bisa lagi disebut sebagai sebuah Kedai. Bangunannya bertambah besar dengan jendela kaca terlihat mendominasi di bagian depan.
"Selamat datang." Seorang perempuan Narva tampak menyambut begitu mereka berempat memasuki Kedai tersebut. Aksa dan Nata tidak mengenal perempuan itu.
"Wah, masa Tuan Edward berubah gender?" celetuk Aksa lirih di samping telinga Nata.
"Beliau adalah istri Tuan Edward," sahut Couran memberi tahu.
"Oh... Kukira... " ujar Aksa seraya mengangguk kecil.
"Oh, Tuan Couran, Tuan Val, selamat datang. Sepertinya Anda membawa teman baru hari ini. Apa yang bisa saya bantu?" sapa perempuan itu setelah melihat Couran dan Val sedang berbincang dengan Aksa dan Nata.
"Kita orang baru, Nat," bisik Aksa lagi yang terlihat terkikik pelan menikmati ketidaktahuan orang baru terhadap dirinya.
Sedang Nata mencoba untuk tidak memperdulikan Aksa.
"Apa Tuan Edward ada, Nyonya?" tanya Couran kemudian.
"Oh, dia sedang berada di belakang. Sebentar, saya panggilkan," ujar perempuan itu seraya beranjak memasuki ruang belakang. "Ed! Ed! Kau dicari Tuan Couran dan Tuan Val," teriaknya kemudian.
"Tuan Edward pintar sekali cari istri. Muda dan cantik. Berapa selisih usia mereka berdua?" celetuk Aksa setelah istri Edward menghilang di balik pintu.
"Apa Istri Tuan Edward dari Bangsawan kelas rendah? Atau Bangsawan yang sudah cukup lama berada di wilayah ini?" tanya Nata kepada Couran.
"Apa kau merasa penasaran mengapa perempuan Narva mau menikahi seorang pria Morra?" Couran memastikan maksud dari pertanyaan Nata. Yang dijawab Nata dengan anggukan pendek.
__ADS_1
"Mungkin karena keadaan. Atau bisa jadi karena lingkungan." Couran melanjutkan ucapannya. "Yang ku dengar, Nyonya Mura adalah salah satu dari Bangsawan Utara yang melarikan diri ke tempat ini saat terjadi ketegangan antar Bangsawan di Kerajaan Elbrasta. Beliau tinggal di tempat ini selama satu setengah tahun, sebelum kemudian menikahi Tuan Edward tiga tahun yang lalu," jelasnya kemudian.
"Begitu ternyata. Tapi apapun alasannya, dari yang kulihat, kurasa sekarang wilayah ini sudah tidak terlalu memperdulikan tentang perbedaan kaum. Dan itu merupakan hal yang bagus." Nata menjawab sambil tersenyum lebar.
"Pasti itu karena makanan manis yang ku ajarkan padanya. Ah, aku jadi iri. Apa aku buka toko makanan manis juga biar bisa populer di kalangan gadis-gadis?" oceh Aksa yang tidak dihiraukan oleh yang lain.
Tak lama terlihat Edward keluar dari pintu belakang bersama sang istri. Tampak sedang sibuk membersihkan sisa tepung yang menempel di celemek koki yang ia pakai.
"Maaf sudah membuat Tuan-Tuan menunggu. Apa yang bisa saya..." Dan Edward dibuat terkejut begitu mendapati sosok Aksa dan Nata berdiri di antara Couran dan Val. "Tuan Aksa?! Tuan Nata?!" teriaknya kemudian yang membuat terkejut tidak hanya sang Istri, tapi juga beberapa pelanggan yang ada dalam Kedai tersebut.
Pria berkumis dan berjambang dengan perawakan bongsor itu segera mendekat dan merangkul Aksa dan Nata secara sekaligus. Dan dengan postur lengan Edward yang cukup besar itu, Aksa dan Nata dengan mudah tertarik masuk dalam rangkulannya.
"Anda berdua kembali." Terlihat Edward meneteskan air mata, sementara Aksa dan Nata berusaha untuk melepaskan diri dari rangkulannya karena mulai kehabisan nafas.
"Ed?" tanya Istri Edward yang tampak terkejut dan kuatir melihat tingkah laku suaminya.
"Oh, maaf, maaf." Edward melepaskan Aksa dan Nata dari rangkulannya.
"Siapa kedua pemuda ini, Ed?" Sang Istri bertanya dengan sedikit curiga. Terlihat seperti sedang menduga-duga.
"Oh, maaf. Aku yakin kau belum mengenal Beliau berdua. Jadi perkenalkan beliau berdua ini adalah Tuan Aksa dan Tuan Nata," ujar Edward kemudian memperkenalkan Aksa dan Nata kepada istrinya.
"Maksud mu Tuan Aksa dan Tuan Nata yang itu?" Kali ini sang istri yang ganti terkejut. Terlihat mencoba memastikan.
"Yang itu?" Aksa terlihat mengeryitkan dahinya mendengar ucapan tersebut.
"Jadi Anda berdua yang telah membangun wilayah ini. Maafkan atas ketidaktahuan saya. Perkenalkan nama saya Mura. Istri dari Edward. Kehormatan bisa bertemu dengan Anda berdua," ujar perempuan bernama Mura itu dengan sopan santun ala Bangsawan Utara. "Juga terima kasih telah menjaga dan mengajarkan suami saya seluruh resep makanan luar biasa ini. Kami sekeluarga berhutang budi kepada Anda berdua," tutupnya kemudian.
__ADS_1
"Tidak perlu menggunakan sopan santun seperti itu saat berbicara dengan kami, Nyonya Mura. Kami bukan seorang Narva atau orang berpangkat di wilayah ini. Kami hanya orang biasa. Jadi perlakukan kami sama seperti pelanggan Anda yang lainnya," ucap Nata yang merasa tidak nyaman dengan cara Mura memperlakukan dirinya dan Aksa.
"Saya tidak mungkin bisa melakukan hal tersebut, Tuan Nata. Mengetahui Anda berdua adalah orang yang berjasa dalam membangun tanah ini dan memberikan tempat untuk kami tinggal," balas Mura menolak permintaan dari Nata. "Setidaknya biarkan saya melakukannya sebagai bentuk hormat dan balas budi saya kepada Anda berdua," lanjutnya lagi bersi keras.
"Kalau untuk balas budi sih gampang saja, Nyonya Mura. Anda berdua cukup biarkan kami makan gratis di Kedai ini seumur hidup kami. Bagaimana? Kurasa itu lebih menguntungkan untuk kami berdua dibandingkan tata cara berbicara yang mengganggu itu, kan?" sahut Aksa kemudian.
Terlihat perempuan Narva itu sedikit terkejut mendengar ucapan Aksa barusan. Kemudian menatap ke arah suaminya yang tengah tersenyum lebar menatapnya. "Kurasa apa yang selama ini suami saya ceritakan tentang Anda berdua tidaklah dilebih-lebihkan. Anda berdua memang orang-orang baik," ucapnya kemudian.
"Sudah jelaslah. Mana ada Utusan Dewa yang jahat?" sahut Aksa cepat.
"Oh iya, apa Anda berdua punya waktu? Saya ingin menunjukan pada Anda berdua resep ciptaan saya sendiri," ucap Edward kemudian dengan wajah yang terlihat bersemangat.
"Wah, Anda membuat resep original? Apa itu menu Hidangan Penutup? Atau menu Hidangan Utama?" Aksa menanggapinya dengan tidak kalah bersemangatnya.
"Mungkin kita bisa tunda dulu hal itu untuk nanti. Sekarang ini kami hanya lewat dan mampir untuk sekedar menyapa. Karena kami hendak menuju ke kediaman Yang Mulia Ratu," sela Nata yang mencoba mengingatkan Aksa tentang jadwal yang ia buat sendiri.
"Oh, benar. Kami mau menuju ke tempat Ratu setelah mengunjungi Markas Bintang Api di sebelah," timpal Aksa dengan lesu.
"Oh, baiklah bila begitu. Akan saya tunggu sampai Anda berdua memiliki waktu. Karena saya tidak ingin Anda tergesa-gesa dan tidak dapat merasakannya dengan sungguh-sungguh semua resep yang sudah saya buat selama lima tanun terakhir ini," jawab Edward yang masih terlihat penuh semangat.
"Wah, aku jadi semakin tidak sabar untuk segera mencobanya, Tuan Edward," ucap Aksa yang terlihat kembali bersemangat.
"Sebagai gantinya, bagaimana kalau sebotol Yogurt dingin untuk di perjalanan?" Mura memberi penawaran.
"Setuju!" sahut Aksa nyaris tanpa jedah berpikir.
Dan setelah 1 botol Yogurt ukuran sedang sudah berada dalam genggaman Nata dan 2 botol dalam genggaman Aksa, mereka pun akhirnya undur diri.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, sampai nanti, Tuan Edward, Nyonya Mura. Kami permisi dulu," ujar Nata berpamitan. Yang kemudian dibalas oleh Edward dan Mura dengan lambaian tangan dan senyuman lebar.
-