
Sementara di kediaman Vistralle di Kota Dios. Kabar tentang Serikat Petarung Yllgarian Bulan Darah yang berhasil dikalahkan itu tiba dengan menggunakan Batu Arcane. Yang berarti pesan tersebut bersifat darurat untuk Vistralle.
"Sulit dipercaya mereka bisa menemukan cara untuk mengalahkan para Lycan itu. Tadinya kupikir berhasil menghalau pasukan Augra saja sudah cukup hebat," ucap Vistralle dari tempat duduk biasanya dalam ruang pertemuan tersebut.
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang, Dux?" tanya John dari kursi di samping kiri Vistralle.
"Apa lagi kalau bukan melarikan diri. Kita sudah tidak memiliki kesempatan untuk menang," jawab Vistralle dengan getir. "Pasukan yang berhasil mengalahkan... bukan, menghabisi serikat petarung Bulan Darah, sudah bukan tandingan pasukan kita lagi," tambahnya yang kali dengan sedikit tertawa.
"Lalu... hendak kemana kita setelah ini, Dux?" John terdengar ragu untuk kembali bertanya. Karena ia tidak yakin apakah tuannya itu bermaksud sarkas atau tidak.
"Kita akan menuju ke tempat Tyrion," jawab Vistralle cepat. Yang menandakan bahwa dia serius. "Kita harus membantunya menyakinkan pihak Joren dan Augra menggabungkan kekuatan untuk mengalahkan Rhapsodia," jelasnya kemudian.
"Apa mereka akan setuju untuk melakukan hal tersebut, Dux?" Kali ini Lucas yang bertanya. "Mungkin Tyrion dapat membujuk pihak Joren melalui sepupunya Jarl Salier. Tapi akan susah untuk meyakinkan pihak Augra," tambahnya mengemukakan pendapat.
"Kita harus berusaha keras untuk meyakinkan mereka. Karena kalau tidak, maka Rhapsodia tidak akan bisa dikalahkan lagi," jawab Vistralle kemudian. "Mereka harus sadar tentang kenyataan ini."
"Baiklah kalau begitu, Dux. Saya akan segera mempersiapkan semuanya sebelum pasukan mereka tiba di kota ini," ucap John menimpali seraya berdiri dari tempat duduknya.
"Kurasa akan jauh lebih baik bila pada awalnya aku memihak ke Rhapsodia. Kerajaan itu tidak akan bisa dibendung lagi di masa depan," ucap Vistralle samar seraya mengikuti yang lain berdiri.
\=
Menjelang senja, pasukan di bawah pimpinan Lucia akhirnya tiba di depan gerbang benteng Kota Dios.
Terlihat gerbang kota tertutup rapat, dengan beberapa prajurit dan penyihir bersiap di atas tembok bentengnya. Terlihat waspada dan gelisah.
"Sepertinya Vistralle dan para pengikutnya sudah tidak berada dalam kota lagi, Yang Mulia," ucap Caspian dari atas kuda di sebelah Lucia. "Menurut informasi dari jaringan mata-mata kita, dia dan beberapa kaki tangannya telah berlayar dengan kapal beberapa jam yang lalu dari pelabuhan di sisi barat," jelasnya kemudian.
"Ck, pengecut itu," ucap Lucia yang terlihat jengkel. "Pasti dia sedang mencari perlindungan ke tempat Tyrion," tebaknya kemudian.
"Ya, saya juga berpikir seperti itu, Yang Mulia," balas Caspian yang memiliki tebakan serupa dengan Lucia.
"Baiklah kalau begitu. Mari segera kita selesaikan peperangan ini. Dan mulai bersiap untuk menyerang wilayah Tyrion," ucap Lucia kemudian yang dianggap sebagai perintah oleh bawahannya.
"Baik, Yang Mulia!" sahut Caspian dengan tegas.
..
__ADS_1
.
Dan tidak memakan waktu lama, prajurit penjaga Kota Dios yang sudah ditinggalkan oleh pemimpin mereka itu akhirnya menyerahkan diri setelah Lucia dengan Pengeras Suara menawarkan pengampunan dan keselamatan atas nyawa mereka, bila mereka menyerah tanpa perlawanan.
Dan kemudian gerbang Kota Dios pun dibuka tepat di saat matahari sudah benar-benar tidak terlihat lagi. Hal tersebut seolah menjadi penanda bahwa Lucia telah berhasil menduduki wilayah Ceodore, dan secara resmi mengakhiri kekuasaan Vistralle di dataran selatan.
Kabar tersebut pun dengan segera di sebarkan ke semua tempat di seluruh wilayah Rhapsodia melalui Radio Komunikasi. Dan hal itu membuat semangat para prajurit dan juga para pekerja di kota-kota yang baru saja mereka ambil alih menjadi semakin meningkat.
.
Sementara Aksa, Nata, Lily, dan Val sedang beristirahat sambil menikmati teh di dalam tenda mereka di alun-alun Kota Varun saat kabar keberhasilan Lucia mengambil alih Kota Dios itu mereka dengar.
"Akhirnya tujuan kita selesai juga meski baru separuhnya," ucap Aksa yang terlihat memanjangkan tubuh dengan santai di atas kursinya.
"Ya, semoga sisanya nanti bisa berjalan sesuai dengan rencana," jawab Nata yang terlihat fokus menatap buku yang sedang ia tulisi.
"Aku ingin segera kembali ke Wilayah Pusat. Aku ingin segera berendam air hangat," ucap Aksa menambahi.
"Ya, disamping kita juga harus memeriksa dan memastikan, bahwa material yang kita butuhkan dari Pertambangan Trava diterima dan diolah dengan benar oleh para pengerajin Bintang Timur." Nata ikut menambahi.
"Oh, dan kita juga harus mulai mempersiapkan hal-hal untuk festival nanti," ucap Aksa yang seperti baru saja teringat tentang hal tersebut.
"Jelas festival untuk merayakan keberhasilan kerajaan ini mengambil kembali wilayahnya," sahut Aksa dengan penuh percaya diri dan semangat. "Sekaligus sebagai selebrasi untuk memperingati kedatangan kita yang kedua kalinya." Senyuman lebar pun mulai terlihat di wajah pemuda itu.
"Memperingati kedatangan kita yang kedua kalinya? Apa kita sedang minum teh yang sama?" sahut Nata seraya meraih gelas tehnya dari atas meja, kemudian mencium permukaannya seolah curiga bahwa minuman tersebut bukanlah teh.
"Aku tidak sedang mabuk, Nat," balas Aksa dengan ketus.
"Kita bahkan sudah kembali hampir setahun lebih sekarang. Konyol sekali," ucap Nata seraya mengeleng pelan.
"Ok, baik. Kalau begitu untuk memperingati Anniversary kedatangan kita kedua kalinya. Bagaimana? Kau puas?" balas Aksa yang terlihat semakin jengkel.
"Terserah kaulah, Aks," sahut Nata yang terlihat pasrah seraya menutup bukunya dan mulai bangkit berdiri. "Aku mau menghubungi Nona Versica dulu. Untuk membicarakan tentang rencana penyerangan wilayah Eblan dan pertemuan dengan perempuan mantan mata-mata Urbar itu," lanjutnya kemudian sebelum beranjak meninggalkan tenda.
"Pergi sana, dasar orang yang suka cari alasan untuk sebuah perayaan," balas Aksa dengan gerutuan.
Sementara di seberang meja, Lily dan Val terlihat sibuk menatap layar Laptop milik Aksa sambil tetap menikmati teh mereka masing-masing, tidak terpengaruh oleh perdebatan yang tengah terjadi di antara kedua pemuda tersebut.
-
__ADS_1
Esok paginya gelombang besar pekerja dan pengerajin mulai bertolak dari wilayah pusat menuju ke Kota Varun, bersamaan dengan tibanya Lucia dari Kota Dios.
Sementara para prajurit di berbagai wilayah mulai bergerak menuju garis perbatasan untuk bersiap. Terutama tempat-tempat yang bersebelahan dengan wilayah Tyrion. Seperti Feymarch dan Saronia.
Sedang di Wilayah Pusat, kegembiraan dan suka cita melanda seluruh warga. Kabar tentang keberhasilan Rhapsodia mengambil alih wilayah kekuasaan Vistralle itu menjadi berita hangat dan perbincangan di setiap tempat di Wilayah Pusat.
Disamping itu, sebagian dari mereka juga berharapan untuk dapat kembali membuka gerbang dan bertemu dengan sanak keluarga mereka yang terpisah, atau setidaknya bisa kembali melihat tanah kelahiran mereka.
.
Kemudian pertemuan antara Lucia, Petinggi Militer, dengan Nata dan Aksa pun diadakan di kediaman keluarga Ignus selepas makan siang.
Hadir pula dalam pertemuan tersebut, Caspian, Evora, Orland, Amithy, dan Parpera.
"Saya yakin setelah ini Tyrion, Joren, dan Augra akan menyatukan kekuatan mereka untuk menyerang kita," ucap Caspian mengungkapkan pendapatnya.
"Ya, setidaknya mereka akan mulai bekerja sama dalam melakukan serangan untuk memukul mundur pasukan kita," timpal Nata yang setuju dengan ucapan Caspian.
"Joren dan Augra dapat mengerahkan setidaknya lima ribu prajurit dalam satu serangan kalau mereka mau." Orland menambahkan dengan informasi.
"Apa kau memiliki rencana untuk menghadapi jumlah tersebut, Nat?" tanya Jean dari seberang meja dihadapan Aksa.
"Tidak ada rencana khusus. Hanya saja kita perlu bertindak cepat sebelum mereka," balas Nata menjawab.
"Apa anda akan mengandalkan kemampuan dari Kapal Udara kita, Tuan Nata?" Kali ini Evora yang bertanya dari sebelah Caspian.
"Kapal Udara kita yang ke tiga sudah selesai dan siap untuk digunakan," celetuk Aksa tiba-tiba.
"Ya, itu sudah pasti, Tuan Evora. Kita akan menggunakan Kapal Udara untuk melakukan serangan ke tempat-tempat penting mereka," jawab Nata. "Tapi bukan itu saja, kita juga perlu cepat dalam bidang informasi. Yang berarti sudah saatnya bagi kita untuk menghubungi mantan mata-mata yang pernah disebut oleh Nona Versica," tambahnya yang kali ini ditujukan kepada Lucia.
"Ya, aku mengerti. Atur waktu untuk melakukan pertemuan dengannya. Dan bila kau memerlukan keberadaanku, aku akan datang." Lucia memberikan persetujuan atas rencana Nata.
"Yang Mulia tidak perlu ikut menemuinya. Mungkin nanti setelah semuanya selesai." Nata menjawab dengan sopan.
"Baiklah. Kalau begitu kita akan mulai membahas tentang rencana pembangunan ulang provinsi Timur," ucap Lucia kemudian.
Dan pertemuan pun berlanjut.
-
__ADS_1