
"Bahkan sekarang wilayah pusat saja tidak aman lagi." Terlihat Karka sedang berbicara dengan Joan di sebuah bar di wilayah pengungsi di perbatasan timur.
"Tapi dimanapun tempatnya sekarang tidaklah aman. Selama orang dengan senjata seperti itu masih ada." Joan menanggapi.
"Kenapa aku masih harus mendengar kekuatiran seperti itu Disini? Aku ingin menghilangkan kekuatiran dan penatku dengan menikmati minuman di tempat ini." Tiba-tiba datang Versica yang kemudian duduk di sebelah Joan dengan gelas minuman di tangannya.
"Ya, maaf-maaf. Kegusaran seperti itu keluar tanpa disadari." Karka meminta maaf.
"Ngomong-ngomong tempat ini sudah seperti kota baru saja." Kali ini Joan yang berucap mencoba merubah topik pembicaraan.
"Benar, apa kubilang? Kalau tidak tidak mungkin tuan Pietro mau membuka cabang Bar pertamanya di tempat ini." Versica menjawab.
"Ya, kurasa kau benar. Lalu bagaimana kerjaanmu sekarang, Ve?" tanya Joan kemudian.
"Tidak banyak. Hanya saja beberapa saat yang lalu aku menyaksikan Gerbang Teleportasi itu diaktifkan,\= jawab Versica.
"Benarkah? Kau ada saat penyerangan ke pertambangan Arcane itu?" Karka menyahut dengan sedikit antusias.
"Iya, walau dari jauh. Tapi saat diaktifkan, Gerbang Teleportasi itu menyala dengan sangat indah berkilauan." Versica melanjutkan ceritanya.
"Benarkah? Aku jadi iri ingin melihatnya juga." Karka terlihat sedikit kecewa.
"Tak perlu iri segala. Aku sempat merekam saat kejadian itu." Tiba-tiba terdengar suara dari belakang Karka.
"Oh, Pangeran Eden? Selamat malam." Karka segera menunduk kecil memberi salam saat mengetahui Eden yang baru saja menyahutinya.
Terlihat Joan dan Versica juga menunduk kecil memberi salam.
"Malam Pangeran Eden."
"Malam." Eden mengambil meja di sebelah meja ketiga orang itu bersama beberapa tim nya.
"Apakah benar Pangeran Eden merekamnya?" Karka bertanya dengan sedikit antusias.
"Benar. Karena tuan Aksa membuat alat sihir penangkap gambar yang dapat disimpan dan diputar ulang. Meski durasinya terbatas." Eden menjawab.
"Apakah memungkinkan buat kami melihatnya?" Karka bertanya lagi dengan nada sedikit memohon.
"Boleh saja. Tapi ada di tenda di wilayah Gerbang Teleportasi sana. Kapan-kapan mampirlah kesana." Eden membalas.
"Oh, baik. Saya akan mampir kesana. Terima kasih Pangeran." Terlihat wajah Karka terlihat berseri.
"Padahal anda adalah seorang Pangeran bisa-bisa bergaul di tempat seperti ini," potong suara dari arah pintu masuk.
"Oh, Herman?" sahut Eden saat mendapati sumber dari suara tersebut.
"Wah, apa kabar pedagang muda kita." Kali ini Versica yang menyapa.
"Baik, nona Versica," jawab putra pertama Dirk itu seraya berjalan mendekat. "Selamat malam tuan Karka, nyonya Joan," lanjutnya menyapa.
"Tumben kau kemari? Apa kau juga ingin mengungsi?" Karka bertanya dengan candaan.
"Hahaha, saya datang bersama tuan Huston dan aliansi pedagang mandiri." Herman menjawab. "Kami membawa bantuan pangan dari provensi Barat," lanjutnya menjelaskan.
"Ah, begitu rupanya," balas Karka. Jawaban Herman membuatnya mengingatkan kembali akan situasi yang sedang dialami wilayah tersebut.
"Ironis memang, warga Wilayah Pusat harus mengungsi ke tempat yang dibuat untuk menampung orang luar." Eden berucap.
__ADS_1
"Besok pagi kan, penyerangan besar-besaran dilakukan?" Joan bertanya.
"Benar. Pasukan utama sudah bersiap di sekitar Gerbang Teleportasi sejak kemarin lusa." Eden menjawab.
"Semoga serangan itu berjalan sesuai rencana." Joan berucap.
"Dan semoga krisis ini bisa cepat berlalu." Herman menanggapi.
"Ya, semoga masalah ini cepat berlalu," ucap Karka mengekor.
Sedang Versica tidak bersuara. Dalam diamnya perempuan itu lebih dari sekedar mengharap yang terbaik.
-
Sementara itu di salah satu tebing di atas gua jurang Ceruk Bintang terlihat Aksa dan yang lain baru selesai melakukan pemasang alat mistik penghasil Sihir Pelindung yang baru.
"Seperti janjiku."
Aksa menyerahkan kotak kayu berbentuk lingkaran berwarna hitam tua kepada Yvvone saat mereka sedang beristirahat sejenak sebelum memutuskan untuk turun ke dasar jurang.
"Apa ini?" Yvvone menerima kotak tersebut.
"Peralatan mistik khusus untukmu." Aksa menjawab.
"Eh? Yang benar?" Yvvone mengurungkan niat untuk membukanya dan sedikit menjauhkan kotak tersebut dari wajahnya.
"Jangan kuatir aku tidak membuatkanmu senjata seperti milikku. Alat mistik itu tidak akan berbahaya bagi penggunanya. Rafa dan Luque yang membantu membuatnya." Aksa buru-buru menjelaskan.
"Benar, benda itu aman nona Yvvone." Luque membenarkan.
"Dan saya yakin anda pasti menyukainya." Dan Rafa menambahi.
Yvvone mulai terlihat penuh dengan antisipasi saat mulai membuka kotak tersebut. Begjtu pula Elf yang lain.
Bahkan Ymon, Solas, dan Kanna sudah mendekat agar dapat melihat benda apa yang ada di dalam kotak kayu tersebut.
Dan terlihat sebuah logam tak lebih besar dari keping uang dengan sebuah batu Arcane kecil di tengah-tengahnya. Ada enam keping di dalam kotak tersebut.
"Apa ini? Semacam mendali? Atau liontin?"
Gadis Elf itu mengangkatnya kemudian meneliti setiap sisinya dengan seksama. Seolah mencoba mencari keistimewaan yang luput dari perhatiannya.
"Coba berikan satu kepada Rafa, dia akan menunjukan cara penggunaannya." Aksa berucap.
Dan kemudian Yvvone pun memberikan satu kepada Rafa.
Setelah menerimanya gadis Seithr itu berjalan menjauh dari rombongan.
"Coba pegang satu dari kepingan itu, nona Yvvone. Dan beri Aliran Jiwa ke dalam kristal Arcane yang ada di bagian tengahnya." Rafa memberi panduan.
"Oh, baiklah. Seperti ini?" tanya Yvvone sambil menunjukan kepingan di tangannya itu yang kristalnya terlihat bersinar ungu kemerahan.
"Benar." Rafa menjawab sambil juga memegang keping yang diberikan padanya. "Bersiaplah, nona Yvvone," seru gadis Seithr itu kemudian.
"Bersiap untuk ap-"
Belum Yvvone menyelesaikan ucapannya, ada sensai aneh yang dirasakan Elf muda itu. Dan kini posisinya sudah berada di posisi Rafa sebelumnya.
__ADS_1
Semua Elf terkejut dengan kejadian yang baru saja mereka saksikan itu.
"Apa... yang sebenarnya... terjadi?" Yvvone memutar tubuhnya dan menemukan Rafa yang kini berdiri di antara Ymon, Solas, dan Kanna.
"Bagaimana? Aku menyebutnya Blink-Disc. Alat itu bisa saling berpindah tempat saat sama-sama diaktifkan dalam waktu dan kondisi tertentu." Aksa dengan bangga menjelaskan alat buatannya itu kepada yang lain.
"Dan tidak harus selalu bertukar tempat dengan seseorang. Rafa akan memberikan contoh lainnya," lanjut pemuda itu dengan lebih antusias.
"Oh, baiklah." Yvvone mengangguk kaku. Masih belum memahami betul apa yang sedang terjadi.
"Seperti ini, nona Yvvone. Rafa mengambil satu keping lagi dari dalam kotaknya, kemudian mengisinya dengan Aliran Jiwa hingga kristalnya menyala ungu kemerahan.
Setelah itu tanpa di sangka-sangka Rafa meleparkan kepingan tersebut ke angkasa. Dan setelah itu mengangkat keping yang masih ia genggam dan kembali mengisikan Aliran Jiwa ke dalamnya.
Dan dalam hitungan detik tubuh Rafa sudah berada dia atas seolah bergerak dengan sangat cepat.
Semua orang kembali dibuat terkejut dengan kejadian tersebut.
Rafa merapal sihirnya saat berada di udara. Dan sebuah pilar muncul dari dalam tanah, kemudian menagkap tubuh perempuan Seithr itu sebelum sempat jatuh ke bawah.
Setelahnya pilar tanah itu kembali tenggelam dan menurunkan tubuh Rafa dengan selamat.
"Ya, jadi seperti itu. Konsepnya adalah alih-alih memanifestasikan Sihir Pemindah, aku menggunakan media untuk menjalankan Sihir Pemindah tersebut secara langsung." Aksa kembali menjelaskan.
"Jadi hasilnya kau bisa melakukan teleportasi dalam jarak tertentu dengan seketika tanpa memerlukan pintu Sihir pemindah.
"Dan bila kau melatih penggunaannya, kau bahkan bisa melakukan lompatan beberapa kali untuk membantumu menghindar atau melakukan serang kejutan dalam sebuah pertempuran. Bagaimana, hebat, kan?"
Yvvone dan para Elf yang lain tidak bereaksi. Mereka masih terdiam merasa kualahan memahami kemampuan alat tersebut.
"Dan itulah kenapa aku bilang alat ini hanya cocok untukmu, karena kau memiliki sihir angin yang dapat meraih kembali kepingan tersebut setelah kau lemparkan. Karena aku tidak bisa menambahkan Formasi Sihir untuk menarik kembali kepingan-kepingan itu secara otomatis tanpa adanya dampak seperti pada The Omnipotence." Aksa kembali berucap. Tampak bersemangat.
"Jadi kau akan menjadi Elf paling Aeron dari seluruh Marga Aeron. Karena kau memiliki kemampuan berpindah bahkan tanpa menggunakan lingkaran sihir.
"Dan kalau mau lebih digali, penggunaan alat itu sangatlah beragam. Seperti untuk melakukan penyusupan. Kau bisa melemparkan kepingan itu ke dalam sebuah ruangan hanya dari sela pintu atau lubang angin, dan kau sudah bisa memasuki tempat itu. Kece, kan?"
Aksa terus mengoceh panjang lebar karena para Elf masih saja terdiam tidak bereaksi.
"Kenapa? Apa semua itu kurang keren? Kau kecewa?" tanya Aksa kemudian. Merasa ada yang salah dengan para Elf di hadapannya itu.
"Kecewa? Apa kau sudah gila?" seru Yvvone kemudian seraya berjalan cepat menuju ke arah Aksa. "Peralatan ini bagaimana kau membuatnya?"
"Benar. Beritahu kami. Ini adalah terobosan dalam pembuatan alat sihir berdasar Sihir Pemindah." Kali ini Ymone yang bertanya.
"Oh, jadi kalian diam karena terlalu kagum dan terkesan dengan kemampuann alat itu?" Aksa berucap seolah baru menyadarinya.
"Benar." Nyaris semua Elf berseru hal yang sama kepada Aksa.
"Tapi maaf. Karena ini adalah alat yang kubuat kusus untuk Yvvone, jadi agar tetap menjadi benda yang unik, aku tidak bisa memberitahukan rahasianya," ucap Aksa kemudian.
"Tapi setidaknya sekarang kalian tahu bahwa Sihir Pemindah dapat diaplikasikan ke banyak bidang dengan banyak cara," lanjut pemuda itu lagu.
"Apa kau benar-benar tidak akan memberi tahukan Formula Sihir nya kepada kami?" Yvvone bertanya memastikan.
"Tidak. Tapi kalian dibolehkan untuk mencoba membuatnya berdasar dari alat tersebut." Aksa menjawab.
"Jadi benda ini hanya aku saja yang memilikinya di dunia ini?" Yvvone bergumam sendiri. Sedikit tidak percaya sambil kembali membolak-balikan kepingan yang disebut Blink-Disk itu.
__ADS_1
"Ah, aku jadi iri," kesah Ymone kemudian.
.