Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
20. Kota Pelabuhan II


__ADS_3

Suara lantai kayu yang berderak-derak terdengar semakin keras saat mereka tiba di persimpangan di tengah wilayah dermaga tersebut.


Persimpangan jalan itu terlihat sempit dan penuh sesak oleh banyaknya orang yang berlalu-lalang melewatinya. Meski nyatanya ukuran jalan tersebut cukup lebar. Kurang lebih selebar 3 kereta kuda berjajar.


Dan oleh karena itu pula kereta kuda maupun kereta besi tidak dibolehkan melintas di atasnya. Disamping juga karena masalah batas beban yang dapat diterima oleh pondasi dermaga tersebut.


Hanya kereta pengakut barang atau troli yang ditarik oleh orang secara manual saja yang diperbolehkan lewat.


Sedang untuk barang-barang besar dan berat yang perlu dipindahkan dari kapal atau ke dalam kapal, diangkut menggunakan troli khusus bertenaga biogas yang langsung menghubungkan pelabuhan kapal dengan wilayah bongkaran di sekitar benteng.


"Oh, Galangan Kapal, Dermaga, Distrik Merah." Aksa membaca penanda arah yang terpasang di persimpangan jalan. "Jadi di sini kalian menempatkan kawasan hiburan dewasa itu. Aku sudah penasaran sejak dari kemarin," ucapnya kemudian.


"Benar. Jalan ke arah kiri itu menuju ke kawasan hiburan seperti Bar, Rumah Judi, Cakela, dan tempat hiburan dewasa lainnya." Nikolai menjawab.


"Apa Anda ingin mengunjunginya, Tuan Aksa?" Anna tiba-tiba bertanya dengan senyum jahil di wajahnya.


"Tidak! Tidak perlu, Nona Anna!" Luque dan Rafa menyahut nyaris bersamaan.


"Tadi Tuan Aksa berkata ia penasaran akan tempat tersebut." Anna masih mencoba menggoda.


"Ya, aku penasaran karena sedari kemarin aku berkeliling wilayah lainnya, aku tidak menemukan kawasan tersebut." Aksa menjawab tanpa jedah berpikir.


"Apa kau benar-benar mencari tempat hiburan seperti itu, Aks?" Luque bertanya dengan wajah seperti tidak terima.


"Iya. Memangnya kenapa?" Aksa bertanya balik dengan polosnya. "Tempat itu dibutuhkan," tambahnya kemudian.


"Dibutuhkan?" Luque terlihat mengerutkan dahi dan menyipitkan matanya saat menatap Aksa.


"Prostitusi dan Perjudian itu tidak mungkin bisa kita hilangkan. Melarang hal tersebut malah akan membuatnya bergerak di bawah bayang-bayang. Dan akan jadi masalah yang sangat merepotkan bila hal tersebut menjadi liar di luar radar dan kendali kita," jelas Aksa kemudian.


Semua orang hanya terdiam tidak menyangka akan tanggapan yang Aksa berikan.


"Jadi sudah sewajarnya kita membuat satu tempat untuk mengakomodasi sekaligus mengendalikan dan mengawasi hal tersebut. Lagi pula pajak dari sektor itu cukup besar dan sangat berguna untuk menambah pemasukan wilayah." Aksa melanjutkan penjelasannya.


Tampak Rafa, Luque, Anna, dan Nikolai mengangguk kecil tanpa suara setelah mendengar penjelasan dari Aksa tersebut. Sedang Lily hanya terlihat tersenyum kecil menatap Aksa.


"Dan kurasa kita memang tidak perlu ke tempat itu sekarang. Karena masih pagi," ujar Aksa kemudian. "Ayo kita ke Dermaga Kapal dulu," tambahnya kemudian seraya berjalan lurus ke depan mendahului yang lain.

__ADS_1


-


Setelah menyusuri jalan lurus menuju ke arah laut, yang mana banyak terdapat bangunan seperti gudang-gudang besar di sisi kiri dan kanan jalanannya, dan orang-orang yang terlihat sibuk mengeluar-masukan kotak dan peti kayu berbagai ukuran, akhirnya rombongan Aksa pun tiba juga di depan sebuah bangunan besar yang berada di ujung dermaga.


Beberapa kapal dagang dengan berbagai bentuk dan ukuran terlihat sedang berlabuh tak jauh dari bangunan tersebut.


"Itu kapal-kapal dari wilayah luar?" Terlihat Aksa menatap kapal-kapal dagang itu dengan penuh minat.


"Benar. Beberapa berasal dari Cilum, dan beberapa berasal dari wilayah di ujung barat Elder." Nikolai menjawab saat mereka sudah berada di depan pintu masuk bangunan besar tersebut.


Bangunan dengan pintu ganda yang terbuka lebar itu adalah Balai Perijinan yang sekaligus juga Balai Pertukaran Jasa. Orang-orang terlihat sibuk keluar masuk hampir tanpa sela. Tampak lebih banyak prajurit yang berjaga di sekeliing tempat tersebut.


"Oh, jadi ini tempat perijinan itu?" Aksa berhenti tepat di depan pintu masuk tersebut dan mulai mengamati sisi depan bangunan. Mulai dari pondasi dasar hingga bentukan atapnya sambil mengangguk-angguk kecil. Seolah ia sedang membuat penilaian.


"Benar, disamping Balai Perijinan, tempat ini juga merupakan Balai Pertukaran Jasa dan markas cabang Bintang Api," sahut Nikolai menjelaskan.


"Pantas besar sekali. Siapa yang bertanggung jawab atas tempat ini?"


"Balai Pertukaran Jasa di wilayah Barat ini berada dibawah tanggung jawab Nona Margaret. Namun memang beliau jarang berada di tempat ini. Biasanya Nona Shuri yang sering datang untuk menggantikan saat Nona Margaret harus mengerjakan tugas lain," jawab Anna kali ini.


"Tapi sekarang Nona Shuri dan Nona Margaret sedang berada di Garnisun Utara bersama Tuan Nata dan Yang Mulia Ratu." Rafa menambahi.


"Mungkin Anda masih mengingat Nona Maeve dan Tuan Carl yang sempat membantu mengurusi wilayah selatan dulu?" Nikolai mengeluarkan pertanyaan.


"Oh, gadis manis berambut pendek dan pemuda pirang bawahan Tuan Matias itu bukan?" Aksa terlihat kembali bersemangat saat mendengar ada seseorang yang ia kenal.


"Sejak kapan nona Maeve manis?" Celetuk Luque terdengar tidak terima.


"Benar. Mereka berdua yang sekarang bertanggung jawab atas Balai Perijinan di wilayah ini." Nikolai membalas jawaban Aksa.


"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Ayo kita masuk," ajak Aksa seraya berjalan mendahului yang lain memasuki gedung tersebut.


"Hei, Aks? Jadi menurutmu gadis berambut pendek itu manis?" Tanya Luque sambil bergegas menyusul Aksa.


-


Bagian dalam bangunan itu nyaris seperti Balai Pertukaran Jasa yang terdapat di wilayah lainnya di tanah Rhapsodia. Hanya saja begitu memasuki pintu utama, terdapat pembatas yang membelah aula tengah menjadi dua bagian.

__ADS_1


Sisi kanan untuk tempat pengajuan Permintaan Jasa. Lengkap dengan papan berisi tempelan kertas-kertas pemberitahuan. Sedang di sisi kirinya untuk melakukan pengurusan ijin.


Terlihat lebih banyak orang mengantri di bagian aula sisi kiri. Mengular panjang mengarah ke sebuah ruang lain dengan pintu berwarna merah tua kusam.


Para prajurit penjaga dan beberapa pemburu bayaran segera memberi salam saat melihat Anna dan rombongan orang-orang penting itu berjalan memasuki gedung. Hanya beberapa orang saja yang mengenal dan terlihat terkejut saat melihat sosok Aksa di antara rombongan tersebut.


Beberapa tampak memberanikan diri untuk menyapa dan menyalami Aksa. Sementara yang lain tampak hanya membungkuk hormat dengan wajah yang terlihat berseri-seri. Bayangan mereka mulai dipenuhi dengan harapan akan masa depan yang menjanjikan.


Anna segera menuntun rombongan Aksa dan yang lain memasuki pintu merah di ujung ruangan tadi, tanpa menghiraukan antrian.


Di balik pintu itu terdapat ruangan yang cukup luas dengan empat meja di tiap sudutnya. Di depan meja-meja itu duduk orang-orang yang bertugas untuk mencatat perijinan dan orang yang sedang mengurus perijinan.


Anna kembali tidak menghiraukan kesibukan yang ada di dalam ruangan tersebut dan berjalan menuju ke pintu lain yang ada dalam ruangan tersebut. Ruang kerja Maeve dan Carl.


-


"Tuan Aksa?!" Teriak kaget seorang gadis Narva berambut sepanjang dagu yang nyaris melompat dari kursinya saat melihat Aksa dan rombongan memasuki ruangannya. Bahkan tanpa mengetuk terlebih dahulu.


"Tuan Aksa?!" Kali ini seorang pria Narva berbadan tegap yang tengah berdiri di depan sebuah rak kayu di sebelah gadis itu yang berteriak kaget.


"Selamat siang, Nona Maeve. Tuan Carl." Aksa menyapa.


"Anda benar-benar... kembali, dan benar-benar tidak berubah sama sekali," ujar Carl yang terlihat tidak percaya dan dengan segera menjabat tangan Aksa. "Sulit dipercaya." Matanya terlihat berbinar.


"Tidak menyangka akan melihat Anda lagi, Tuan Aksa." Kali ini giliran Maeve yang menyalami Aksa dengan senyum lebar tertoreh di wajahnya. Gadis Narva itu tidak dapat menutupi perasaan gembiranya.


Sementara Luque terlihat menatap sinis penuh selidik ke arah Maeve dan Aksa secara bergantian. Yang kemudian disusul dengan dehaman keras yang disengajanya, saat merasa Maeve terlalu lama menjabat tangan Aksa.


Rafa dan Lily hanya tersenyum kecil melihat tingkah Gadis Suci itu.


"Oh iya, Selamat pagi Primaval," ucap Maeve terkejut yang dengan buru-buru menyapa Luque. "Nona Lily, Nona Rafa, Nona Anna, dan Tuan Nikolai," lanjutnya menyapa yang lain. Dan kemudian diikuti oleh Carl yang juga ikut menyapa yang lain.


"Apa Tuan Nata tidak ikut bersama Anda sekalian?" Tanya Carl yang terlihat masih menanti seseorang muncul dari balik pintu.


"Dia sedang bersama Ratu dan yang lain di Garnisun Utara," jawab Aksa yang terlihat masih sibuk mengamati lingkungan ruang kerja kedua Narva tersebut.


"Oh, iya. Silahkan duduk. Saya akan siapkan minuman dulu," ucap Maeve kemudian yang buru-buru beranjak keluar ruangan menuju dapur.

__ADS_1


-


__ADS_2