Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
17. Teknologi Sihir IV


__ADS_3

Dan setelah beberapa penjelasan dan sedikit argumen, pertemuan itu pun berakhir.


Terlihat Galvatr dan beberapa Elf Marga Nautua pengikutnya menghampiri Aksa saat ia sedang berjalan keluar dari Balairung bersama rombongannya.


"Maaf, aku cukup tertarik dengan penjelasanmu mengenai seni Rapalan Tulis sebelumnya. Apakah boleh kalau aku bertanya sesuatu padamu?" ucap Galvatr dengan sapaan dan pertanyaan menghentikan langkah Aksa.


"Oh, silahkan," sahut Aksa yang terlihat terkejut juga sedikit senang karena ada orang yang menghentikannya untuk berbicara tentang hal yang ia minati.


Sementara itu rombongannya yang lain tetap berjalan menjauh.


"Ini hanya pertanyaan konseptual berhubungan dengan pengetahuan Runic." Galvatr seperti sedang memberi pembukaan untuk pertanyaannya.


"Apa yang ingin anda tanyakan?" Terlihat senyum Aksa mulai mengembang.


"Jadi menurutmu apakah mungkin untuk merubah patokan penulisan rapalan pada sebuah Formasi Sihir?" tanya Pemimpin Marga Nautua itu kemudian.


"Oh, itu sangat mungkin, Nona...?" Aksa lupa menanyakan nama perempuan Elf tersebut.


Terlihat beberapa Elf pengikut Galvatr menatap tajam ke arah Aksa. Merasa tidak terima seorang Morra tidak mengenali Pemimpin nya.


"Maaf, perkenalkan aku Galvatr." Galvatr pun segera memperkenalkan dirinya.


"Ya, sangat mungkin Nona Galvatr. Anda dari Marga...?" Aksa kembali bertanya karena Galvatr tidak lengkap memperkenalkan dirinya.


Para pengikut Galvatr semakin bertambah kesal melihat kelakuan Aksa yang dianggap tidak sopan dan melecehkan harga diri pemimpin mereka itu.


"Nautua," jawab Galvatr yang tidak keberatan dengan kelakuan Aksa tersebut. Perempuan itu hanya tertarik dengan tema yang sedang ia bicarakan.


"Oh, Nautua? Para pengerajin Tongkat Sihir." Aksa terlihat sangat senang mengetahui pemimpin dari para pengerajin Tongkat Sihir lah yang ia ajak bicara saat ini.


"Benar. Marga kami memang mengkhususkan diri dalam seni pembuatan Tongkat Sihir," jawab Galvatr.


"Kalau begitu apa anda bisa melihat Tongkat Sihir buatanku?" sahut Aksa dengan cepat seolah baru saja mendapat kesempatan berharga yang tidak boleh ia lepaskan.


"Maaf? Apa baru saja kau bilang bahwa kau membuat Tongkat Sihir?" Galvatr bertanya untuk memastikan ia tidak salah dengar.


Reaksi serupa juga ditunjukan oleh pengikut Galvatr yang lain. Mereka malah terlihat sangsi dan menganggap Aksa asal bicara.


"Benar." Aksa mengangguk antusias. "Aku ingin mendengar pendapat anda tentang tongkat sihir buatanku. Bagaimana? Apa anda mau melihatnya?" pintanya kemudian seraya memasang wajah memohon.


"Bo-boleh..." jawab perempuan Elf itu ragu tidak tahu harus bereaksi seperti apa.


"Kalau begitu tunggu sebentar. Lily! Lily!" Teriak Aksa kemudian berlari memanggil Lily dengan cukup kegirangan. "Coba mana Tongkat Sihir yang kubuatkan untukmu kemarin? Aku mau menunjukan sekaligus meminta masukan dari ahlinya."


"Apa Morra itu bilang dia membuat Tongkat Sihir?" ucap Elf dari Marga Vaelum yang mendengar teriakan Aksa tersebut.

__ADS_1


"Apa tidak asal bicara manusia itu?" Elf marga Realn yang berada di sebelahnya menimpali.


"Oh, ini." Lily mengambil Tongkat Sihir barunya dari belakang pinggang, dan menyerahkannya kepada Aksa. "Memang kau akan meminta masukan dari siapa?" tanyanya kemudian.


"Nona Galvatr." Aksa menjawab cepat.


"Apa?"


Tidak hanya Lily yang terkejut mendengar jawaban Aksa. Yvvone dan beberapa Elf yang berjalan sekitar Lily juga tampak terkejut dengan apa yang hendak dilakukan Aksa.


"Wah, mendebarkan. Berasa penilaian tugas praktek," sahut Aksa yang terlihat berseri-seri berjalan kembali ke tempat Galvatr berada.


-


"Oh, ini dari kayu pohon Goliat yang tumbuh di pemukiman ini," ucap Galvatr setelah menerima tongkat kayu sederhana yang panjangannya tak lebih dari setengah lengan itu.


"Benar. Karena menurut Nona Yvvone, hanya kayu dari jenis pohon itulah yang paling cocok untuk material Tongkat Sihir yang bisa ditemukan di sekitar tempat ini." Aksa menjawab seolah sedang memberikan informasi tambahan kepada perempuan Elf di hadapannya itu.


"Ya, Yvvone tidak berbohong. Hanya pohon Goliat yang mampu menahan Aliran Jiwa dalam jumlah besar," ucap Galvatr membenarkan.


"Tuan Solas juga mengatakan hal tersebut," sahut Aksa cepat tanpa ia rencanakan. "Hanya sekedar info saja," tambahnya kemudian karena gugup.


"Bentuknya cukup sederhana. Tapi bila memang ini dibuat khusus untuk Nona Lilian, kurasa sangat sesuai." Kembali perempuan Nautua itu memberi penilaiannya.


"Ya. Lily sendiri yang mendesain bentuknya. Aku hanya tinggal menulis Formasi Sihir nya saja," balas Aksa cepat.


Terlihat rangkaian simbol muncul seperti terproyeksi dari batang Tongkat Sihir itu sendiri. Berwarna putih terang.


"Benar ... Benar berbeda. Apa ini Rapalan untuk Tongkat Sihir? Aku belum pernah melihat yang seperti ini dalam seumur hidupku," ucap Galvatr tak dapat memproses ucapannya mendapati Rapalan Sihir yang baru pertama kali ia lihat itu.


Tak ubahnya para pengikutnya yang lain. Yang nyaris menjatuhkan rahang mereka saat melihat rangkaian simbol-simbol tak lazim ada pada Tongkat Sihir tersebut dari belakang Galvatr.


"Ya, itu karena aku menyederhanakan beberapa fungsi yang tidak terlalu penting dan memotong beberapa pengulangan proses penyimpanan Aliran Jiwa nya." Aksa segera menjawab dan secara bawah sadar mencoba memberi penjelasan.


"Karena menurutku hal itu tidak terlalu dibutuhkan untuk sebuah senjata yang semestinya digunakan secepat mungkin. Bila itu alat pelindung atau semacam mesin pengerak sih--"


"Sebentar." Galvatr segera memotong ocehan Aksa. "Kau menye-- Maaf..." Terlihat perempuan Elf itu menarik nafas cepat. Mencoba mengendalikan diri. "Apa baru saja kau bilang kau menyederhanakan proses kerja Rapalan Sihir?" tanyanya dengan sangat hati-hati.


"Benar. Dan menurut Lily performanya jauh lebih baik dibanding Tongkat Sihirnya yang lama," jawab Aksa yang seolah mencari pendukung dari pendapat orang lain yang dirasa cukup relevan.


"Sebentar." Galvatr menghembuskan nafas cepat, kemudian mulai merapal sihir menggunakan Tongkat Sihir buatan Aksa tersebut. Seolah hendak melakukan pembuktian langsung.


Dan secara tiba-tiba dan terlihat sangat ajaib bagi Aksa, tanah di sekitar tempat Galvatr berdiri dengan cepat ditumbuhi rerumputan hijau dan beberapa bunga liar berwarna-warni.


"Oh... Sihir Druid," ucap Aksa terkagum-kagum melihat sihir yang sama seperti milik Ellian dan Katarina digunakan dalam skala seperti itu.

__ADS_1


"Ya, kurasa Nona Lilian benar. Tongkat ini memang terasa lebih cepat mengalirkan Aliran Jiwa dibandingkan Astra, Tongkat Sihir nya yang lama," balas Elf perempuan itu bersamaan dengan menghilangnya kembali rerumputan hijau di sekitar tempatnya berdiri.


"Oh, jadi Tongkat Sihir Lily yang lama punya nama?"


"Benar. Tongkat Sihir itu buatan sepupuku, Ezarc. Diberi nama Astra, karena memang dibuat khusus untuk mengoptimalkan Sihir Cahaya Nona Lilian." Galvatr menyerahkan kembali Tongkat Sihir itu kepada Aksa.


Pemimpin Marga Nautua itu masih tidak dapat memproses pemikirannya sendiri. Ia masih cukup dikejutkan dengan kemampuan Aksa merubah cara penulisan Rapalan Pasif. Dan terlebih lagi dapat bekerja dengan lebih baik.


"Kalau begitu aku juga akan memberi Tongkat Sihir ini nama," ucap Aksa dengan mulai terlihat antusias saat menerima Tongkat Sihir tersebut.


"Ya, memang sudah semestinya Tongkat Sihir memiliki nama." Galvatr menambahi.


"Baiklah, aku akan mencarikan nama yang benar-benar merepresentasikan kemampuan penciptanya yang luar biasa ini." Aksa terlihat sangat bertekat.


"Kembali tentang Rapalan Sihir sebelumnya. Apakah boleh bila aku mengetahui cara untuk menyederhanakan Rapalan Sihir tersebut?" ucap Galvatr kembali ke tema pembicaraan yang sedari tadi ingin ia tanyakan.


"Oh, boleh saja. Saat ini aku juga tengah menuliskan dasaran fungsi dari Formasi Sihir untuk tuan Solas." Aksa menjawab dengan ringan.


"Benarkah?"


"Anda bisa berkunjung di ruang baca kediaman Tuan Moor seusai makan siang nanti. Kami rencana akan bertemu disana," lanjut pemuda itu dengan undangan.


"Baiklah kalau memang begitu. Terima Kasih sebelumnya. Aku pasti akan datang." Terlihat Galvatr benar-benar berterima kasih atas undangan Aksa tersebut.


"Kalau begitu sampai jumpa di sana," balas Aksa seraya melambaikan tangannya mengiring kepergian perempuan Elf itu sebelum kemudian menyusul Lily dan rombongannya yang lain.


"Apa baru saja anda melambai pada Pemimpin Marga Nautua?" Solas bertanya setelah sebelumnya melihat Aksa dari kejauhan.


"Iya, rencana dia juga mau bergabung dengan kita di ruang baca setelah makan siang nanti."


"Apa kau serius?" Yvvone terlihat terkejut.


"Oh, ini Lily tongkat sihirmu." Tanpa memperdulikan Yvvone, Aksa berlari kecil menuju ke arah Lily.


"Aku mendapat pujian langsung dari ahlinya Tongkat Sihir. Katanya tongkat ini lebih bagus dari Astra mu itu," ucap Aksa kemudian seperti anak kecil yang sedang memamerkan hasil ujiannya yang bagus.


"Benarkah begitu?" balas Lily dengan tidak terlalu tertarik seraya menyimpan kembali Tongkat Sihir buatan Aksa itu menggantung di pinggang bagian belakang. Berjajar atas-bawah dengan tongkat sihirnya yang lama.


"Hanya satu kekurangan dari Tongkat Sihir ini menurut Nona Galvatr tadi." Terlihat Aksa tidak perduli apakah Lily tertarik atau tidak, ia tetap melanjutkan ucapannya.


"Dan apa itu?" tanya Lily yang terdengar hanya sekedar untuk berbasa-basi saja.


"Belum punya nama," jawab Aksa singkat.


"Oh, baiklah," balas Lily kemudian sambil mulai berjalan meninggalkan Aksa. Wajahnya terlihat malas untuk meladeni hal tidak penting dari pemuda itu.

__ADS_1


"Hei, tunggu. Kau tidak bisa benar-benar menggunakannya sebelum tongkat itu resmi kuberi nama," saut Aksa seraya menyusul Lily.


-


__ADS_2