Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
26. Percakapan Malam IV


__ADS_3

Tiga hari kemudian pembangunan kamar mandi di tebing belakang tenda Aksa dan Nata pun dimulai. Nyaris berbarengan dengan segala pekerjaan yang telah diberikan Aksa kepada para pengerajin. Wilayah Rhapsodia menjadi terlihat lebih sibuk dibanding sebelumnya. Hampir di segala bidang kini tengah mengerjakan sesuatu yang baru.


Kini mereka pun jarang melakukan sesuatu bersamaan. Nata selalu sibuk dengan Lucia dan para pemimpin. Sedang Aksa kerap mengadakan pertemuan dengan para pengerajin untuk meminta arahannya. Bahkan Rafa dan Luque yang tadinya hanya berurusan dengan Ellian, Katarina, dan Selene mengenai obat-obatan itu kini juga mulai sibuk berurusan dengan wilayah Desa Timur dan para Yllgarian untuk mulai memproduksinya.


Mereka bertemu hanya di saat malam hari. Di acara yang entah kenapa mulai menjadi rutinitas mereka akhir-akhir ini. Duduk bersama sambil menikmati segelas teh hangat seusai makan malam di ruang tamu tenda mereka. Yang kemudian mereka fungsikan juga sebagai rapat untuk membahas perkembangan serta kendala dari tugas yang mereka jalani masing-masing.


.


"Apa kita memang harus membuat buah-buah itu menjadi busuk untuk mendapatkan obat, Nat?" tanya Luque yang telah mengeyekan tubuh di atas sofa di sebelah Lily.


"Maksudnya membiarkan jamur muncul pada jeruk-jeruk itu?" Nata bertanya tanpa menengok ke arah gadis itu. Ia terlihat sibuk menulis.


"Benar. Bukankah sesuatu yang busuk itu malah akan menimbulkan penyakit? Sakit perut misalnya," balas Luque kemudian.


"Ya jangan langsung dimakan gitu aja, dong," sahut Aksa dari seberang ruangan.


"Benar. Tapi tujuan kita di sini adalah untuk menangkap jamur itu terlebih dahulu sebelum nantinya akan kita kembang biakan." Nata menjawab kemudian.


"Menangkap? Mengembang biakan? Jamur?" Terlihat Luque menggaruk kepalanya.


"Pada dasarnya jenis Fungi dalam keluarga Trichocomaceae yang ditempatku disebut dengan Pinicillium itu dapat menghasilkan semacam zat yang mampu membunuh berbagai jenis bakteri yang dapat menyebabkan infeksi." Sekali lagi Aksa menyela.


"Apa itu traikokomesi? Aku semakin tidak mengerti."


"Tidak perlu terlalu dipikirkan, Nona Luque. Pokoknya itu adalah obat yang cukup mujarat untuk beberapa jenis penyakit." Nata mencoba mempermudah dan menyerdehanakan penjelasan Aksa untuk Luque.


"Obat Ajaib pokoknya," seru Aksa menambahi.


"Benarkah? Terdengar mencurigakan buatku," sahut Luque seraya menyipitkan matanya menatap Aksa.


"Tapi apakah ada masalah dalam pengerjaan untuk obat-obatan tersebut?" Kali ini Nata bertanya sambil mengangkat kepalanya menatap Luque dan Rafa yang duduk di selahnya secara bergantian.


"Bukan masalah yang terlalu serius, Tuan Nata. Namun cara dan penanganan untuk pembuatan obat-obat itu memang sudah cukup sulit dari awalnya. Dan orang-orang kita belum terbiasa. Paling kita perlu waktu lagi untuk membiasakannya," jawab Rafa menjelaskan.


"Memang diperlukan penangan khusus dan ketelitian untuk mengembangbiakan jenis fungi dan bakteri tertentu," balas Nata yang tidak memiliki solusi lain untuk hal itu. "Tapi bila sudah terbiasa, kita bisa membuat lebih banyak hal lagi dengan keahlian tersebut," tambahnya kemudian memberi semangat.


"Besok aku akan datang ke tempat Nona Ellian untuk melihat apakah prosesnya sudah benar atau masih ada yang perlu dikoreksi," ucap Aksa menimpali.


"Benarkah? Asik!" seru Luque yang terlihat berseri-seri.


"Oh, dan juga untuk Mandragor dan Ranti Hitam nya, kita masih butuh waktu sedikit lebih lama untuk mendapatkannya," ucap Rafa yang baru saja mengingatnya. "Karena menurut Nona Ellian dua tanaman itu adalah jenis yang mengandung racun, jadi tidak dibiayakan di tempat ini. Jadi kita harus mendatangkan tumbuhan tersebut beserta bibitnya dari daratan selatan."

__ADS_1


"Tidak salah juga, sih. Karena Anestetis memang jatuhnya racun bila digunakan tidak tepat pada tubuh kita," sahut Nata menanggapi.


"Dulu salah satu Druid dari suku Hagia juga membuat obat penghilang rasa sakit dari bunga beracun," ucap Luque ikut membagi pengetahuannya.


"Apa itu Opium? Apa bentuknya seperti berkantong?" Aksa segera menyahut dengan pertanyaan. Terlihat tatapannya dipenuhi dengan harapan.


"Bukan. Itu bunga Tunjung Hitam. Bentuknya seperti Teratai," jawab Luque yang dengan seketika memadamkan harapan dalam mata Aksa.


"Yah, andai saja kita tahu apa nama untuk Opium dan Koka di tempat ini. Kita jadi bisa punya obat penang yang kuat dan efektif dengan cara yang lebih gampang," desahnya seraya kembali menunduk melanjutkan acaranya menggambar rancangan.


"Ngomong-ngomong, apa aku sudah membicarakan tentang ransum untuk para prajurit?" Nata tampak baru saja teringat.


"Belum. Ke siapa tugas ini akan kau berikan?" tanya Aksa yang kali ini tanpa mengangkat pandangannya dari gulungan kertas yang sedang ia gambari.


"Entahlah, aku masih belum menentukannya. Penanggung jawab makanan militer yang seharusnya mengambil tugas ini," jawab Nata yang juga tidak menatap ke arah Aksa.


"Tapi apa orang itu mampu membuat makanan dengan jenis dan metode pembuatan yang baru seperti itu? Sedang kesehariannya saja hanya memasak makanan umum untuk para prajurit."


"Apa Ransum yang Anda maksud adalah makanan yang dibuat sedemikian rupa agar memudahkan para prajurit untuk memakannya di tengah peperangan?" tanya Rafa memastikan sebelum ikut masuk dalam pembicaraan.


"Hm, iya," jawab Aksa nyaris seperti gumaman.


"Kurasa mereka akan sangat senang dapat membantu. Apa lagi membuat hal baru dari kalian." Luque ikut menambahi.


"Ya, kurasa memang begitu. Tapi memberikan tanggung jawab kepada orang yang sudah memiliki pekerjaan lain untuk hidup sehari-hari, rasanya seperti sedang menjahati orang itu. Apa lagi hal yang akan dibuat nantinya tidak begitu berguna untuk keseharian," ucap Nata dengan sedikit berat hati.


"Benar. Kecuali kau siap membuat jenis makanan instant siap saji untuk umum," celetuk Aksa membenarkan.


Terlihat Luque menegakkan tubuhnya, tertarik mendengar kata yang belum pernah ia dengar sebelumnya itu. "Apa itu instan?"


"Kurasa untuk saat ini biaya produksi makanan instant masih terlalu tinggi. Kita belum bisa menjualnya untuk masyarakat umum," jawab Nata tidak menghiraukan pertanyaan Luque.


"Atau mungkin kita bisa memberi imbalan yang sepadan untuk orang yang mau mengambil tugas tersebut. Anda bisa membicarakannya dengan Yang Mulia Ratu. Beliau pasti akan setuju," ucap Rafa memberi masukan.


"Oh, benar itu. Nice advice, Ra." Aksa mengangkat ibu jarinya ke arah Rafa. "Cie, yang mulai Ratu," lanjutnya yang mulai siap untuk kembali meledek Nata.


Sedang mendengar hal tersebut Luque terlihat tersenyum dan menunggu giliran untuk juga ikut menggoda Nata.


"Oh iya Aks, kurasa kita butuh membuat peta yang akurat untuk wilayah ini dan wilayah selatan," sahut Nata dengan cepat merubah topik pembicaraan untuk menghindari ejekan dari Aksa sebelum dimulai.


"Maksudmu, aku harus menggambar peta wilayah ini dan wilayah selatan? Males, ah," balas Aksa kemudian dengan mengibas-kibaskan tangannya sebagai tanda ia menolak permintaan dari Nata itu. "Butuh banyak waktu untuk membuatnya. Apa lagi yang benar-benar akurat. Mataku bisa katarak dan jari-jariku bakal keriting nantinya," lanjutnya seraya menggeleng kuat.

__ADS_1


"Kalau untuk peta yang itu, kemarin aku sudah meminta Tuan Orland untuk membuatkan yang wilayah ini. Juga ke para informan dari selatan untuk membuatkan wilayah area mereka," jawab Nata cepat.


"Lalu kenapa? Gambaran mereka jelek dan tidak akurat? Kau jadi kesulitan untuk membacanya?"


"Itu juga, tapi aku perlu yang jauh lebih nyata dan presisi." Nata kembali menjawab dengan cepat mencoba untuk menjelaskan maksudnya.


"Lalu kau mau nya apa? Aerial Image? Photo Udara?" Aksa mengangkat wajahnya yang terlihat mulai kesal.


"Ya, benar-benar. Lagi pula sudah saatnya juga kita memiliki alat untuk melakukan pengamatan udara," balas Nata dengan santai sambil menganggukan kepalanya membenarkan tebakan Aksa.


"Kau ini memang tidak punya kesabaran, atau asal ngomong buat menghindar membicarakan Lucia sih, Nat?" sahut Aksa yang kini sudah terlihat kesal. "Itu skrup Kapal Udara aja baru tadi pagi dibuat." Tatapannya sinis ke arah Nata.


"Bukan kapal udara. Aku butuh yang lebih agile dan lebih stealth gitu buat melakukan pengamatan dan saat melakukan pengambilan gambar udara." Nata kembali mencoba menjelaskan yang ia maksud.


"Sebentar-sebentar, jangan bilang kau ingin dibuatkan Drone?" Kali ini Aksa menatap Nata dengan ekspresi yang seolah berkata, 'Apa kau serius?'


"Apa memungkinkan untuk kita membuatnya sekarang?" Di luar dugaan, Nata tidak menyalahkan tebakan Aksa.


"Kau ini tahu diri sedikit, kek," sahut Aksa cepat sambil meletakan pena nya di atas meja dengan cukup kasar.


"Ah, kaya kau ga aja. Aku yakin kau juga sangat ingin membuatnya, kan?" debat Nata.


"Kalian ingin membuat apa lagi?" Luque tampak semakin penasaran dengan perbincangan dua pemuda itu.


"Ya, sepertinya memang seru juga sih, kalau kita punya Drone." Aksa terlihat mulai mengangguk kecil memikirkan gagasan sahabatnya itu.


"Jadi bagaimana? Memungkinkan tidak?" Nata kembali memastikan.


Aksa terlihat sedikit memiringkan kepalanya seperti sedang melakukan perhitungan.


"Memang apa itu Dron?" tanya Luque yang sudah tidak tahan dengan rasa penasarannya.


"Kurasa memungkinkan. Tapi kita harus bongkar beberapa perkakas dari Lab," jawab Aksa yang masih fokus dengan pertanyaan dari Nata.


"Bila membongkarnya tidak berarti menghilangkan kesempatan kita untuk pulang sih, silahkan saja." Nata menanggapi.


"Baiklah kalau begitu. Setelah semua pekerjaanku selesai, akan kubuatkan satu untuk mu," sahut Aksa yang kembali menekuk kepalanya untuk kembali menggambar.


"Hei, jadi apa itu Dron? Instan? Kenapa kalian mengabaikanku!"


-

__ADS_1


__ADS_2