
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun telah tiba. Hari dimana festival gagasan Aksa digelar.
Sudah dari sepagian wilayah Eblan dipenuhi oleh orang-orang dari wilayah lain. Mereka sudah tidak sabar untuk menunggu Pasar Raya yang akan di buka malam nanti.
Beberapa penginapan besar di sekitar tempat itu sudah mulai terlihat sibuk oleh para pelanggan. Sementara bagi mereka yang tidak mampu menyewa penginapan, sudah mulai berberbaris rapi di area perkemahan untuk memesan tempat.
Para pengurus acara pun juga tampak sibuk menyiapkan segala halnya.
Sedang beberapa orang-orang dari Wilayah Pusat sudah mulai berangkat bersama dalam rombongan besar menggunakan Kereta Besi dan juga Kereta Uap ke wilayah Eblan.
Sementara untuk orang-orang penting, nantinya akan diantar menggunakan Kapal Udara untuk datang ke tempat tersebut.
-
"Tak kusangka kita bisa pergi ke sebuah perayaan di masa seperti ini," ucap Katarina dalam Kereta Besi bersama Ellian, Couran, dan Haldin yang baru saja melewati Gerbang Selatan.
"Benar. Padahal baik di wilayah selatan maupun wilayah utara saat ini sedang dipenuhi ketegangan." Ellian menanggapi ucapan kakaknya seraya menatap pemandangan di luar melalui kaca jendela.
"Ya. Kita harus bersyukur menjadi penduduk kerajaan ini," ucap Couran kemudian dari kursi kemudi di sebelah Haldin. "Karena kita memiliki dua pemuda itu dan Yang Mulia Ratu," tambahnya lagi.
"Benar-benar. Tidak salah dulu kita memutuskan untuk pindah kemari," sahut Haldin dengan tawa kecil yang tampak disetujui oleh rekannya yang lain.
Dan tak jauh di belakang Kereta Besi rombongan Couran, berjalan Kereta Besi rombongan Go dan tiga keponakannya.
"Kalau tahu bakal ramai seperti ini, harusnya kita pergi ke wilayah Eblan dari kemarin bersamaan rombongan tuan Aksa dan tuan Nata. Kalau begini bisa-bisa kita terlambat tiba." Loujze terlihat kuatir menatap jalanan utama wilayah Ignus yang tampak dipenuhi oleh Kereta Besi.
"Jangan kuatir. Kita akan pindah menggunakan Kereta Uap begitu tiba di Kota Varun nanti," balas Deuxter dari kursi kemudi berusaha menengangkan sahabatnya itu.
"Lagi pula kita perlu membawa sisa dari Kembang Api ini, yang baru selesai di kemas malam tadi," sahut Go dari kursi belakang di samping Hubert seraya menunjuk ke tumpukan peti kayu di belakang kursinya.
"Benar. Jadi tidak mungkin buat kita berangkat ke sana kemarin." Hubert membenarkan ucapan Go.
"Aku tahu itu. Tapi tetap saja hal ini membuatku kuatir. Karena kita masih harus melakukan persiapan setibanya di sana nanti," jawab Loujze yang masih terlihat tidak tenang.
"Jangan kuatir. Mengutip ucapan bocah itu, acara malam nanti pasti akan berjalan dengan spektakuler," ucap Go kemudian mencoba mengurangi kekuatiran Loujze.
Dan tampaknya berhasil. Karena kini Kereta Besi itu sudah diisi dengan suara tawa dari para penumpangnya.
-
Sementara tak lama setelah itu di Pelabuhan Barat di gedung Perizinan, tampak Carl sedang membereskan pekerjaannya ketika ia melihat rekannya Maeve masih terlihat sibuk membaca ulang kertas laporan.
__ADS_1
"Maeve? Apa kau berniat untuk tinggal di balik tumpukan laporan itu? Hari ini hari pembukaan Festival Rhapsodia untuk pertama kalinya," ucap Carl mencoba mengingatkan perempuan berambut cepak itu.
"Ah, aku bimbang haruskah datang atau tidak," ucap Maeve menjawab setelah menghembuskan nafas panjang.
"Memang kenapa? Apa ada masalah?" Carl terlihat kuatir melihat rekannya yang tampak seperti sedang kesusahan.
"Karena kalau aku datang, Nona Margaret dan Versica pasti akan mengajaku minum-minum sampai pagi. Dan itu berarti tidak hanya hari ini saja aku menangguhkan pekerjaanku ini. Tapi kemungkinan besar sampai besok lusa," jawab Maeve yang terlihat frustasi.
"Lalu kenapa?" balas Carl dengan ringan. Karena merasa tidak ada masalah dalam ucapan sahabatnya itu.
"Kau enak tinggal ngomong. Itu berarti aku harus lembur tidak tidur lusa depannya." Maeve menjawab dengan tatapan sinis ke arah Carl.
"Lah, bukankah itu kebiasaan sehari-harimu?" Carl masih menanggapi ucapan Maeve dengan ringan.
"Ah.... aku tidak tahu lagi." Maeve mengajak-acak rambutnya sendiri.
"Jadi bagaimana? Ikut tidak? Nona Anna dan yang lain sudah menunggu di pelabuhan," ucap Carl tidak memperdulikan keluhan Maeve sebelumnya.
"Ya, baiklah. Anggap ini kejadian tak terduga," jawab Maeve seraya berdiri dari kursinya.
"Benar-benar. Anggap saja seperti bencana alam yang tidak terduga," ucap Carl seraya berjalan lebih dulu meninggalkan ruang kerja tersebut.
Yang kemudian disusul Maeve dengan mematikan lampu baca mejanya, mengambil jubah, dan berjalan keluar ruangan.
-
Sementara di Kota Gala, rombongan Bintang Api yang sudah datang dari sehari sebelumnya, kini mulai bersiap-siap hendak berkeliling Pasar Raya bersama-sama.
Dan memang melakukan hal bersama-sama seperti itu bukanlah sesuatu yang baru bagi kelompok tersebut. Mereka nyaris selalu melakukan pertemuan secara berkala di setiap akhir pekannya.
"Ayolah kalian, kita akan terlambat melihat Kembang Api nya nanti." Sigurd terlihat tidak sabar dalam kamar penginapannya bersama Axel dan Shyam.
"Tak perlu ribut begitu, Sig. Sebelum ini Hubert memberitahuku bahwa Kembang Api itu akan diluncurkan pukul 9 malam nanti. Dan sekarang bahkan pukul 6 saja belum," sahut Shyam yang terlihat bersila di atas tempat tidurnya.
"Tapi tetap saja. Jalanan pasti bakalan ramai karena hampir seluruh orang dari wilayah selatan ini akan datang untuk melihatnya." Sigurd terlihat masih belum bisa tenang.
"Apa kau sudah gila, Sig? Kita sengaja menyewa penginapan ini karena jaraknya hanya beberapa menit saja dari Pasar Raya itu." Axel menjawab dengan sedikit jengkel atas rengekan rekannya yang mengganggu itu. "Dan lagi kita masih harus menunggu Thomas dan Ketua."
"Ah, kelamaan. Ayo kita saja yang menghampiri mereka," jawab Sigurd berinisiatif.
"Sudah pergi sana sendiri aku tidak perduli lagi," sahut Axel yang kini terlihat kesal.
__ADS_1
Namun tak lama setelah Axel berhenti berbicara, terdengar pintu kamar diketuk. Dan kemudian terdengar suara Thomas memanggil dari luar.
"Tuh, kau senang sekarang?" sahut Shyam dengan nada sedikit ketus.
Dan kemudian kelompok Bintang Api pun berangkat menuju ke Pasar Raya bersama-sama.
-
Meski masih pukul 6 sore, namun Pasar Raya itu sudah sangat ramai oleh pengunjung. Orang-orang jauh lebih antusias dari yang diperkirakan.
Sedang mereka yang berpartisipasi pun tidak kalah banyak. Terima kasih kepada Serikat Dagang dan beberapa pedagang rintisan dari wilayah selatan. Juga Serikat Pengerajin dan perkumpulan Pendagang Kuliner Wilayah Pusat.
Sehingga puluhan lapak yang cukup beragam pun terlihat berjajar membentuk pola mengulir memenuhi petakan tanah lapang berbentuk persegi tempat Pasar Raya itu digelar.
.
Terlihat sosok Versica sedang berjalan seorang diri di tengah keramaian Pasar Raya sambil menikmati jajanan ringan dan minuman dalam botol kecil, saat tiba-tiba terdengar seseorang memanggil namanya dari belakang.
"Ve?!"
"Joan?" ucap Versica setelah mendapati bahwa Joan lah yang memanggilnya. "Dimana Arthur?" tanyanya kemudian saat ia melihat Joan hanya seorang diri.
"Dia sedang mencoba beberapa permainan bersama teman-temannya. Apa kau datang seorang diri?" tanya Joan balik karena melihat Versica yang juga seorang diri.
"Tidak. Aku ada janji dengan Margaret dan orang-orang Bintang Api. Tapi sepertinya mereka belum datang," jawab Versica.
"Oh, begitu. Bagaimana kalau kita mencari minum sambil menunggu mereka," ucap Joan memberi saran.
Yang langsung disetujui oleh Versica. "Ide yang bagus. Ayo!"
Dan tak lama kemudian dua perempuan itu sudah asik berbincang di sebuah kedai kecil milik warga setempat di antara lapak dagangan masih berada dalam area Pasar Raya tersebut.
"Wilayah ini benar-benar sangat ramai hari ini. Seperti bukan wilayah Eblan," ucap Versica membuka perbincangan.
"Benar. Padahal beberapa bulan yang lalu, puluhan orang di wilayah ini nyaris mati kelaparan karena penguasa mereka," ucap Joan menjawab. "Dan sekarang, bahkan setiap orang bisa membeli barang-barang mewah yang dulu hanya para bangsawan yang mampu membelinya."
"Tak pernah terpikir bahwa sebuah perayaan bisa membantu orang-orang seperti ini," balas Versica. "Yang kutahu dulu sebuah perayaan seringnya menjadi beban bagi para warga," lanjut perempuan itu lagi.
"Kurasa sekarang ini kita berada di tangan orang-orang yang tepat." Joan berucap dengan tulus.
"Benar," balas Versica saat kemudian terlihat rombongan kelompok Bintang Api berjalan dari kejauhan.
__ADS_1
"Hei, kalian!" teriak perempuan itu kemudian memanggil mereka sambil melambaikan tangannya ke udara.
-