Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
12. Benteng Ignus


__ADS_3

Pagi harinya gerbang selatan yang telah lama ditutup itu akhirnya mulai dibuka. Bersamaan dengan itu keluar berarakan ratusan prajurit dan juga kereta-kereta besi. Mereka berbaris menuju ke wilayah Ignus di selatan.


Lucia turut serta dalam rombongan tersebut menuju ke medan perang. Sedangkan Nata dan Aksa tetap berada di wilayah Rhapsodia karena harus mengurusi beberapa hal.


Namun tanpa hadirnya mereka sekarang ini bukanlah sebuah masalah besar. Karena dengan jaringan Radio Komunikasi, mereka bisa saling memantau dan berdiskusi dimanapun mereka berada.


.


Setelah nyaris setengah jam berjalan, akhirnya terlihat juga tembok benteng Kota Varun yang baru dibangun dua tahun yang lalu. Berdiri cukup kokoh di sebuah area berkontur perbukitan padas.


Meski tinggi dan terlihat tangguh, namun yang menarik perhatian dari tembok tersebut adalah plat logam yang dipasang berjajar melapisi nyaris seluruh bagian tembok tersebut. Terlihat mengkilat di bawah sinar matahari pagi.


Caspian, Jean, dan Lucia terlihat berbincang dari atas kuda-kuda mereka saat rombongan pasukan berhenti pada posisi aman tak jauh dari benteng Ignus tersebut.


"Apa itu seluruhnya logam Dracz?" tanya Jean yang terlihat sedikit terkesan saat melihat jumlah logam yang terpasang.


"Benar. Sepertinya mereka bekerja keras untuk membangun tembok benteng itu," jawab Caspian menyipitkan mata menatap tembok logam tersebut, sambil meletekan tangan di atas dahi untuk melindungi pandangannya dari cahaya matahari.


"Dan ironisnya dari semua bangunan yang ada di wilayah selatan ini, hanya tembok benteng itu yang layak untuk dihancurkan," ucap Lucia menambahi.


"Sayang sekali, semua usaha mereka akan jadi sia-sia," balas Jean yang tampak menyayangkan hal tersebut.


"Baiklah, Cas. Mari kita mulai," ucap Lucia yang mulai menegakan posisi tubuhnya di atas pelana kuda. "Demi paman Mateus. Akan kita kembalikan kejayaan wilayah serta nama keluarga Ignus di tanah selatan ini," tambahnya lagi.


Yang kemudian dibalas dengan anggukan dalam dari Caspian dan Jean secara bersamaan.


"Lakukan, Cas," lanjut Lucia memberi perintah kepada Caspian.


"Siap, Yang Mulia." Caspian terlihat kembali mengangguk sebelum kemudian berteriak ke belakang. "Siapkan Meriam!"


"Siapkan Meriam!" Seorang prajurit mengekor ucapan Caspian untuk memastikan bahwa perintah tersebut sampai kepada prajurit yang bertanggu jawab.


Dan tak lama kemudian satu dari Kereta Tempur jenis baru terlihat bergerak maju. Laras senjata yang terpasang di bagian atas kereta itu mulai bergerak-gerak seolah sedang mengukur posisi dan jarak.


"Ini pertama kalinya kita menggunakan meriam dengan peluru sihir dalam medan perang sesungguhnya," ucap prajurit yang bertugas mengemudikan Kereta Tempur tersebut.

__ADS_1


"Benar, senjata ini akan jadi wajah dari penyerangan kali ini," balas prajurit lain yang duduk di sebelah kursi kemudi.


"Kurasa kita masih memiliki Kapal Udara yang akan membuat lawan lebih gentar," celetuk prajurit lain di ruang belakang dalam Kereta Tempur tersebut.


"Ya, kurasa kau benar juga." Prajurit yang duduk di sebelah kursi kemudi itu berucap menanggapi.


"Peluru telah siap untuk ditembakan," seru seorang prajurit dari tempat pengendali Meriam.


"Peluru Meriam sudah siap ditembakan, Nona Parpera," ucap pemimpin dari satuan Kereta Tempur itu melapor kepada sang Penyihir Bulan yang sudah tampak bersiap di luar Kereta Tempur.


Dan hanya menjawab dengan anggukan kepala, Papera mulai merapal sihirnya. Tampak tiga lingkaran sihir yang cukup besar dan menarik perhatian muncul berlapis di bagian ujung dari laras Meriam tersebut.


Yang berwarna kuning terang adalah sihir penguat, sementara yang biru tua adalah sihir petir, dan yang terakhir merah gelap adalah sihir api.


"Kita lihat, apakah peluru ini bisa menembus logam Dracz yang mereka pasang?" ucap prajurit dalam Kereta Tempur itu di saat Parpera sedang menyempurnakan lingkaran sihirnya.


"Aku yakin dengan sepenuhnya, peluru sihir ini akan menghancurkan logam Dracz beserta tembok benteng itu dengan sekali tembak saja," balas prajurit pengemudi Kerta Tempur itu kemudian.


.


"Kurasa ini akan jadi pembuka perang yang akan diingat dalam sejarah," sahut Jean kemudian.


"Yang Mulia." Caspian menunggu perintah dari Lucia.


"Tembak!" Lucia memberikan perintah.


"Tembak!" Perintah itu diteruskan oleh Caspian kepada prajurit tadi.


"Tembak!" seru prajurit tadi melanjutkan perintah tersebut kepada prajurit pengendali Meriam.


Dan semua orang yang berada di dekat Kereta Tempur itu segera menutup telinga mereka untuk mengantisipasi suara ledakan yang akan terdengar cukup keras saat peluru ditembakan.


\=


Beberapa saat sebelumnya, di atas benteng Ignus.

__ADS_1


"Pasukan Rhapsodia benar-benar berarak menuju kemari." Seorang prajurit penjaga dengan pakaian bertanda Serikat Petarung Gajah Putih, terlihat menajamkan pandangannya ke arah ratusan prajurit yang sedang berbaris menuju tempat itu.


"Benar ternyata dugaan Dux Vistralle," sahut seorang kesatria dengan zirah lengkap yang berdiri di sebelah prajurit penjaga tadi. "Semuanya bersiap dan waspada. Kita tidak pernah tahu muslihat apa yang akan digunakan kerajaan itu untuk menyerang kita kali ini," ucapnya kemudian memberikan perintah kepada anak buahnya.


"Siap, Jendral." Dan dengan segera tambahan prajurit bergerak maju menuju pinggiran tembok benteng sambil menyiapkan panah dan Senjata Api hasil jarahan dari 5 tahun yang lalu.


"Utus Pengirim Pesan untuk mengabarkan hal ini kepada Dux Vistralle," perintah kesatria yang dipanggil Jendral itu kepada salah satu prajurit yang berada di bawah tembok benteng.


"Baik, Jendral."


"Jendral, sepertinya mereka hendak melakukan serangan." Prajurit penjaga tadi melapor.


"Apa itu Kereta Besi baru mereka?" Jendral itu terlihat menyipitkan matanya saat menatap ke arah Kereta Besi yang bergerak maju secara perlahan. "Tapi apa gunanya peluru dari Senjata Api itu dihadapan logam Dracz?" ucapnya kemudian terlihat tidak kuatir.


"Sepertinya itu bukan senjata yang biasa, Jendral. Lihat seorang penyihir terlihat merapal sihir pada moncong senjata tersebut."


"Apa mereka hendak melakukan penggabungan peluru Senjata Api dengan sihir seperti yang pernah ku dengar rumornya?" Sang Jendral terlihat seperti sedang menimbang sesuatu.


"Jendral, sepertinya mereka siap untuk menembak." Prajurit penjaga itu kembali berucap, saat suara seperti siulan pendek yang sangat keras terdengar, dan sedetik kemudian sebuah ledakan menerbangkan tubuhnya.


\=


Peluru dari Kereta Tempur tersebut meluncur dengan sangat cepat setelah melewati tiga lingkaran sihir milik Parpera. Dan dalam hitungan detik tembok benteng yang berada sejauh tiga puluh panjang kereta kuda itu hancur dengan suara ledakan yang menggaung dasyat.


Baik pasukan Rhapsodia maupun pasukan Vistralle yang berada jauh dari tembok benteng itu, tampak tak percaya dengan apa yang sedang mereka lihat.


Namun berbeda dengan prajurit lawan yang tampak ketakutan setelah melihat kehancuran tembok benteng Ignus secara spektakuler itu, para prajurit Rhapsodia menanggapinya dengan sorak kegembiraan. Dan hal tersebut membuat mental juga semangat mereka menjadi semakin meningkat.


.


Dan ketika debu di sekitar tembok benteng itu mulai menghilang, pemandangan yang cukup mengerikan pun terlihat. Sebuah lubang besar menganga di bagian kiri temboknya, yang dipenuhi dengan puluhan tubuh prajurit penjaga, genangan darah, serta bagian dari anggota tubuh yang berserakan di antara puing-puingnya.


Lucia tampak mengernyitkan dahinya saat melihat pemandangan tersebut. Namun dengan segera perempuan itu kembali memasang wajah seriusnya, sebelum kemudian berteriak. "Rhapsodia, Maju!"


-

__ADS_1


__ADS_2