
Selepas kepergian Lugwin, Nata mulai menuliskan rencana dan strategi perang berdasar dari informasi tentang situasi kerajaan Estrinx yang ia peroleh dari Matiu sebelumnya. Berikut kemungkinan situasi yang akan terjadi sekaligus cara penanganannya.
Sedang Axel, Sigurd, dan Ende rutin melakukan pemeriksaan situasi di dermaga secara bergilir tiap harinya.
Sampai lima hari kemudian Trio Pemburu kembali dari desa mereka bersama dengan 5 pemuda dan 2 gadis yang ikut serta.
.
"Jadi mereka adalah sanak keluarga kalian yang ingin ikut ke Rhapsodia?" Nata bertanya kepada Huebert saat dia dan yang lain sedang menyiapkan kamar kosong di tempat tinggal Lily untuk pemuda-pemudi itu tidur selama berada di desa tersebut.
"Benar. Mereka memutuskan untuk ikut karena merasa tidak memiliki kemampuan untuk menjadi Pemburu atau pun Penambang. Dua mata pencaharian utama dari desa kami." Huebert menjawab.
"Ya, kurasa memang tak banyak pilihan pekerjaan di wilayah ini secara keseluruhan," celetuk Sigurd yang tengah duduk bersama Axel di balai-balai teras depan.
"Apa lagi dalam kondisi Dataran Utara yang seperti saat ini." Axel menambahi.
"Benar. Andai saja pembangunan wilayah ini berjalan seperti pembangunan di wilayah kita," ucap Nata dengan nada sedikit kecewa.
"Itu berarti Rhapsodia juga harus mengambil alih Dataran Utara," sahut Ende dengan asal dari ujung ruangan, masih terlihat sibuk melipat jubahnya yang baru saja kering dijemur.
"Dengan Ratu saat ini? Yang benar saja," balas Nata sambil tertawa kecil. Yang lalu diekor oleh yang lain.
"Baiklah kalau begitu. Kalian persiapkan saja semua hal sebelum berangkat. Mungkin kita akan bertolak dari tempat ini sekitar 3 atau 5 hari lagi," ucap Nata kemudian kepada Huebert dan orang-orang dari desa Tirgis.
"Saya mengerti." Huebert menjawab.
-
Dan tepat seminggu setelah kepergiannya ke Kotaraja, Lugwin pun kembali dengan membawa berita baik. Para Bangsawan dan Pejabat Kerajaan menyetujui usulan perjanjian dagang dengan pihak Rhapsodia.
Malam harinya Nata menghubungi Lucia dengan Telepon Sihir nya. Ia memang sengaja baru menghubungi Ratu muda tersebut setelah pihak Estrinx menyetujui perjanjian yang ia tawarkan.
.
"Kenapa aku tak terkejut kalau semua ini adalah rencanamu sejak awal, Nat." Terdengar suara Lucia dari Telepon Sihir milik Nata.
"Yang Mulia terlalu berprasangka buruk terhadap saya. Bukankah dengan begini keinginan Yang Mulia membuka perdagangan dengan wilayah Estrinx dan membantu mereka secara langsung bisa terwujud," balas Nata.
"Dan apa kau yakin bijak memberikan peralatan perang dan persenjataan kita kepada pihak Estrinx?" tanya Lucia menyikapi rencana Nata.
"Menurut saya sebenarnya bukan senjata yang benar-benar wilayah Estrinx butuhkan saat ini. Tapi pengetahuan seperti jaringan komunikasi dan beberapa hal yang berguna dalam peperangan." Nata menjawab.
"Jadi untuk senjata kita hanya perlu mengirim beberapa Kereta Besi, Kereta Penghancur, dan beberapa pakaian pelindung. Karena percumah juga memberikan mereka Senjata Api kalau tidak ada prajurit yang terlatih menggunakannya," lanjut pemuda itu lagi.
"Ya, kurasa kau benar." Suara Lucia terdengar setuju dari balik corong pengeras suara. "Tapi apa menurutmu aman memberikan pengetahuan tentang jaringan komunikasi kita kepada mereka?" lanjutnya dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Saya rasa malah lebih menguntungkan buat kita bila Arcdux Lugwin benar-benar mau menggunakan dan menerapkan pengetahuan tersebut di wilayah Estrinx. Karena dengan begitu kita akan lebih mudah untuk berhubungan dengan wilayah Utrara tanpa perlu bekerja keras membangunnya," jawab Nata memberi penjelasan.
Terdengar Lucia tertawa kecil.
"Ya, itu terdengar seperti rencanamu, Nat," ucap perempuan itu kemudian. "Aku hanya kuatir hal buruk mungkin saja terjadi pada kerajaan itu ketika telah mendapat pengetahuan dan senjata dari kita." Lucia mengungkapkan pemikirannya.
"Seperti misalnya?" tanya Nata kemudian.
"Kekuatan kerap mendatangkan ambisi. Mungkin tidak buat Lugwin. Tapi bangsawan Estros yang lainnya, kita tidak pernah tahu." Lucia berucap.
"Seperti kemungkinan adanya pemberontakan setelah perang selesai?" ujar Nata memberi contoh.
"Ya, kurang lebih."
"Yang Mulia tak perlu kuatir. Arcdux Lugwin adalah pemimpin yang memiliki pengaruh dalam aspek kepercayaan. Mirip seperti Nona Luque. Jadi beliau tidak akan dihianati dengan mudah." Nata menjawab. "Dan bila pun hal itu benar-benar terjadi, saya sudah menyiapkan rencana untuk menghadapinya."
"Baguslah kalau memang begitu. Aku merasa jauh lebih tenang sekarang." Terdengar suara Lucia sedikit lebih lega.
Dan pembicaraan pun berlanjut hingga beberapa menit membahas tentang rencana lanjutan milik Nata, sampai kemudian ditutup.
-
Esok paginya berdasar dari kesepakatannya dengan Lugwin, Nata mulai mempersiapkan pembangunan beberapa fasilitas di desa Dyms sebagai bagian dari pertukaran pengetahuan yang ia janjikan. Yang untuk saat ini adalah jaringan komunikasi.
.
Nata meminta Trio Pemburu yang sudah memiliki pengalaman untuk merakit dan memasang Antena Radio beserta pembangkit listriknya tepat di samping kediaman lama Lily yang memang cukup strategis karena berada di atas sebuah bukit.
Yang untungnya mereka mendapat bantuan dari 5 pemuda sanak keluarga mereka, disamping para pekerja anak buah Piere.
"Atau bisa saja ini bagian dari rencana pemuda itu yang dengan sengaja menciptakan situasi dimana wilayah ini akan bertindak sesui yang dia mau." Tiba-tiba Ende menyeletuk mengomentari ucapan Loujze sebelumnya.
Terlihat Ende dan Axel juga membantu di waktu senggang mereka. Sementara Sigurd sedang dalam tuhas memeriksa situasi dermaga.
"Wah, luar biasa sekali kalau memang benar seperti itu," ucap Loujze yang terlihat benar-benar kagum.
"Lebih ke menakutkan sih kalau buatku," timpal Ende seraya menggeleng enggan.
.
Pembangunan tersebut selesai 2 hari kemudian. Selama pembangunan Nata mengajarkan cara pembuatan serta menjelaskan fungsi dari Antena Radio itu kepada pihak Lugwin.
Diluar itu Nata juga telah menyiapkan 15 Radio Komunikasi untuk diberikan kepada Kerajaan Estrinx. Karena saat ini mustahil bagi kerajaan tersebut untuk membuatnya sendiri.
Dan genap 10 hari setelah tiba di desa Dyms, Nata mulai mempersiapkan diri untuk kembali ke wilayah Rhapsodia.
__ADS_1
-
"Jadi kau akan kembali setelah ini?" Lugwin bertanya setelah ia dan Nata selesai membicarakan tentang perjanjian kerjasama secara lebih detail di kediaman Lily.
"Benar, Yang Mulia. Saya harus segera kembali untuk mengurus semua ini." Nata menjawab.
"Aku berharap kau bisa berkunjung tidak karena perang atau permasalahan politik kerajaan ini." Terlihat sedikit kekecewaan di wajah Lugwin.
"Jangan kuatir, Yang Mulia. Saya dan Aksa pasti akan berkunjung lagi setelah semua ini berakhir," balas Nata memberikan janjinya.
"Tapi biarkan kali itu aku menjamu kalian di kotaraja," sahut Lugwin kemudian.
"Saya menantikannya, Yang Mulia," balas pemuda itu dengan senyum mengembang.
Kemudian terlihat Lugwin menghembuskan nafas panjang seraya menatap menara yang baru saja selesai dibangun sehari sebelumnya itu dari balik kaca jendela.
"Aku ... maksudku kami, kerajaan ini, benar-benar berhutang banyak pada kalian. Mungkin akan terdengar seperti omong kosong yang diulang-ulang, tapi sungguh, kami sangat berterima kasih kepada kalian," ucap pemimpin wanita itu kemudian.
Nata terdiam sesaat menanggapi ucapan penuh emosi yang tiba-tiba itu.
"Mari kita selesaikan semua masalah ini dengan secepatnya. Agar kita bisa membahas tentang hal ini dengan lebih tenang saat kami kembali berkunjung nantinya," ujar Nata setelahnya.
"Ya, anda benar."
"Baiklah, setelah ini Yang Mulia bisa menghubungi saya melalui Telepon Sihir bila menemukan masalah dengan Radio Komunikasi atau pun Antena Radio. Dan nantinya kita juga akan mengadakan diskusi resmi mengenai pengiriman peralatan berat dan juga baju pelindung bersama pihak Rhapsodia," lanjut pemuda itu menyambung.
"Baik, aku mengerti." Perempuan pemimpin Estrinx itu menjawab.
-
"Bagaimana, tuan Axel? Apa semuanya sudah siap?" Nata bertanya tentang persiapan Kapal Besi kepada Axel malam harinya.
"Sudah, tuan Nata. Sigurd, para pemburu, beserta sanak keluarga mereka sudah menuju pelabuhan sejak siang tadi untuk memastikan persiapannya." Axel menjawab.
"Tak kusangka semuanya berjalan lebih cepat dari yang ku perkirakan."
"Semakin cepat semakin baik. Banyak para pengungsi dari wilayah perbatasan yang menderita karena agresi dari pasukan Sefier," ucap Azel menabggapi.
"Ya, semoga semua rencana kita berjalan dengan lancar." Nata berharap.
-
Sehari kemudian rombongan Nata kembali berlayar dari dermaga Gargazu menuju pelabuhan baru di sisi timur wilayah Ignus setelah 10 hari tinggal di desa Dyms. Perjalanan masih sama memakan waktu 3 hari.
Dan tanpa menunggu lebih lama lagi, sehari setelah Nata tiba di wilayah Rhapsodia, diskusi tentang perjanjian dagang antara pihak Estrinx dan Rhapsodia pun digelar. Dengan menggunakan Telepon Sihir sebagai media perantaranya.
__ADS_1
-