
"Kenapa Bruixeria? Bukankah itu adalah nama kerajaan kuno yang hancur saat perang Api Hitam?" sahut Vossler dalam sebuah pertemuan darurat yang dihadiri oleh Lucia, Nata, dan pihak militer.
Nyaris semua Jendral besar ikut hadir.
"Entahlah. Apa ada hubungan antara si Sefier itu dengan kerajaan kuno tersebut?" Evora menyahut.
"Sekarang hal itu tidaklah penting. Yang jadi permasalahan sekarang ini adalah Sefier sudah mulai bergerak. Itu berarti besar kemungkinan persiapannya sudah selesai dilakukan," sela Caspian tampak kuatir.
"Apa yang kau maksud persiapan Batu Arcane?" Vossler kembali bertanya.
"Atau jangan-jangan gelang Scion yang selama ini ia cari-cari?" sahut Helen menebak.
"Bisa jadi keduanya." Kali ini Nata yang menyela.
"Ya, ini benar-benar menghawatirkan. Kita harus mulai lebih waspada setelah ini. Terutama perbatasan wilayah utara." Lucia ikut menambahi.
"Padahal masalah dengan Joren dan Augra saja masih belum benar-benar kita selesaikan." Helen terdengar sedikit kesal.
"Apa lagi sekarang kerajaan itu juga sudah memiliki akses ke wilayah Cilum. Yang berarti sisi barat juga rentan akan serangan," susul Caspian.
"Benar. Kita memang harus mulai memperkuat pertahanan di garis pantai utara wilayah barat, dan juga Gerbang Utara." Nata berucap.
"Dan sementara anda sekalian membicarakannya, saya mohon ijin untuk menghubungi Aksa serta memberitahukan kabar ini kepada para Elf. Siapa tahu mereka belum mendengarnya," susul pemuda itu meminta ijin.
"Baiklah, Nat. Kau boleh pergi."
.
Dan setelah Nata berada di tendanya di dasar jurang Ceruk Bintang bersama Lily, segera ia menghubungi Aksa.
"Ada masalah, Nat?" Ucapan pertama yang terdengar dari Telepon Sihir Nata begitu sambungan komunikasi terhubung adalah pertanyaan dari Aksa. Dan bukan sapaan.
"Ya. Masalah besar." Nata menjawab.
"Masalah besar?"
Dan Nata mulai menceritakan hal yang terjadi beberapa hari terakhir tentang situasi di wilayah Utara.
Memang Nata hanya sesekali menghubungi Aksa. Hanya saat ia memerlukan sesuatu atau ketika adanya hal atau masalah seperti sekarang.
Disamping itu juga karena Aksa merasa terganggu bila Nata melakukan panggilan hanya untuk membicarakan hal yang tidak penting. Karena itu berarti ia harus meluangkan waktu yang harusnya ia gunakan untuk menyelesaikan pekerjaannya di Hutan Azuar. Dan ia tidak suka pekerjaannya disela.
"Bruixeria?" Kali ini terdengar suara Luque mengambil alih.
"Benar. Apa anda mengetahui tentang kerajaan tersebut, nona Luque? Atau bisakah kau tanyakan kepada Val tentang hal ini, Aks? Karena Lily juga tidak begitu tahu tentang kerajaan itu." Nata berucap.
Sementara Lily hanya mengangguk di sebelahnya.
"Sebentar, aku akan memanggil Val dulu," balas Aksa kemudian.
"Seingatku dulu kerajaan itu cukup besar di daratan selatan. Rajanya bernama Rei leBruixa. Tapi hanya sejauh itu. Karena di masa itu aku sudah memutuskan untuk tidak mencampuri pergolakan politik di Daratan Selatan," ucap Luque sementara Aksa pergi.
"Begitu ternyata."
"Ini Val sudah datang." Tiba-tiba terdengar kembali suara Aksa menyahut.
"Val, apa mungkin kau mengetahui hubungan Sefier dengan kerajaan kuno itu? Mengapa dari semua hal ia malah ingin membangitkan kerajaan itu kembali," tanya Nata kemudian tanpa berbasa-basi.
__ADS_1
"Ya, ada kemungkinan dia adalah keturunan dari Rei leBruixa." Val menjawab dengan tenang dan yakin.
"Keturunan dari keluarga kerajaan Bruixeria?" Nata mencoba memproses ucapan Elf Marga Realn tersebut.
"Tapi bukankah menurut cerita dan catatan sejarah, keluarga kerajaan dan keturunan-keturunannya menerima hukuman mati saat Bruixeria kalah perang?" lanjut pemuda itu memastikan informasi yang pernah ia dengar sebelumnya.
"Benar. Namun Rei memiliki anak haram dari seorang Seithr di sebuah dusun kecil di wilayah barat. Yang sekarang adalah wilayah kerajaan Durahan." Kembali Val memberikan informasi besar. Rahasia yang tidak diketahui oleh siapapun.
"Jadi menurutmu Sefier adalah keturunan dari anak haram itu?" Terdengar Aksa yang kali ini berbicara. "Apa kau yakin?" susulnya meminta kepastian.
"Aku tidak begitu yakin apakah Sefier adalah keturunan anak haram itu. Tapi aku tahu tentang keberadaan anak haram tersebut. Rei pernah membawaku menemui anak itu ketika masih berusia 1 tahun," ucap Val menjelaskan apa yang ia tahu.
"Tapi Aliran Jiwa pria Seithr yang sempat mengangguku waktu itu memang serupa dengan Aliran Jiwa dari raja Bruixeria kalau sekarang aku ingat-ingat lagi." Lily ikut mengungkapkan pendapatnya.
"Wah, jadi ini semacam rencana untuk membalas dendam?" celetuk Aksa menyahut.
"Ah, kalau begini jadi menjelaskan tentang pergerakan Glaive. Semua jadi masuk akal bila memang dia adalah keturunan dari raja-raja era Perang Api Hitam," ucap Lily tiba-tiba. Yang tampaknya baru menyadari hal tersebut.
"Jadi selama ini kita salah duga? Bukan putra raja Elbrasta lah yang mengirimkan para Glaive ke Wilayah Pusat 6 tahun lalu. Tapi si Sefier-Sefier itu ternyata?" Terdengar Luque sedikit sewot.
"Setelah ini beri tahu Nona Yvvone dan para Elf yang ada disana untuk mulai menyelidiki tentang hubungan Sefier dengan Bruixeria. Siapa tahu dengan informasi ini mereka bisa mendapatkan petunjuk tentang bagaimana cara Sefier menemukan gelang-gelang Scion dan syukur-syukur bisa mengetahui kelemahannya." Nata memberi perintah.
"Oke, setelah ini akan ku sampaikan ke Yvvone dan Tuan Moor." Aksa menjawab.
"Lalu bagaimana dengan progress pekerjaanmu, Aks?" Nata menyambung dengan pertanyaan.
"Untuk pembuatan mesin sihir sudah berjalan setengah dari yang kita rencanakan. Begitu pula peralatan anti-gravity nya." Aksa menjawab.
"Sedang untuk Alta Larma itu sendiri masih belum ada perkembangan. Tak ada catatan tentang bentuk Formasi Sihirnya. Bahkan catatat perihal cara kerja dan kemampuannya saja tidak terdokumentasi dengan baik di perpustakaan milik Marga Azure sendiri," lanjut pemuda itu.
"Itu benar. Dan yang kita punya sekarang ini hanya penggambaran samar tentang kekuatan masing-masing gelangnya. Itupun dari sebuah Epos dan cerita orang-orang yang pernah menyaksikannya secara langsung." Aksa menambahi.
"Itu berarti mau tidak mau kita harus membuat alat untuk menyabotase segala proses paling dasar dari Formasi Sihirnya?" Nata mencoba memberikan solusi.
"Ya, aku sempat terpikir untuk membuat semacam Jammer Aliran Jiwa mirip pisau mistik punya Val. Tapi rasanya kita perlu sesuatu yang lebih dari itu." Aksa membalas.
"Mungkin dengan membuatnya kelebihan muatan? Overload?" Kembali Nata menyarankan solusi yang lain.
"Tapi kita tidak tahu ukuran kapasitas yang dapat ditampung senjata itu. Takutnya malah berdampak kebalikannya dan menambah kekuatan serangannya lagi." Aksa merespon.
"Ya, kau benar juga," balas Nata dengan sedikit lesu. Ia baru menyadari tentang hal tersebut.
"Sudahlah, akan kupikirkan lagi setelah ini," ucap Aksa kemudian.
"Baiklah kalau begitu kuserahkan padamu, Aks. Rencana seminggu lagi aku akan kesana untuk mengambil semua peralatan sihir."
"Oke, akan kupersiapkan semuanya."
Dan panggilan pun berakhir.
-
Sehari setelahnya, berita mengejutkan kembali diterima pihak Rhapsodia. Kotaraja kerajaan Estrinx diserang oleh sihir tingkat tinggi, yang memakan korban hingga ratusan jiwa.
Untungnya Lugwin dan bebeapa tokoh penting kerajaan Estrinx telah mengantisipasinya dengan memasang Pelindung Sihir di sekitaran istana dan kediaman mereka.
Meski Pelindung Sihir itu tidak sepenuhnya dapat menahan serangan sihir berskala tinggi, namun setidaknya memberikan kesempatan lebih besar untuk mereka selamat dan bertahan hidup.
__ADS_1
.
"Lug?! Kau mendengarku?" Lucia mencoba menghubungi Lugwin melalui Telepon Sihir malam harinya setelah ia mendapatkan berita tentang penyerangan tersebut.
"Ya, aku mendengarmu, Luc." Terdengar suara Lugwin di ujung Pengeras Suara Telepon Sihir. Serak dan tidak bersemangat.
"Apa kau baik-baik saja? Bagaimana keadaan disana?" Lucia bertanya dengan kuatir.
"Kacau," jawab Lugwin dengan nada datar yang tidak dapat ditebak emosinya.
"Katakan, bantuan apa yang kau butuhkan sekarang?" Lucia sangat ingin bisa membantu sahabatnya yang sesama pemimpin itu.
"Aku masih belum tahu, Luc. Meski situasi sudah mulai terkendali, namun beberapa informasi masih belum terkumpul. Antena Radio juga banyak yang hancur dalam serangan tersebut." Lugwin menjawab dengan masih terdengar datar. Seolah ia sudah tidak memiliki kekuatan untuk menunjukan emosinya.
"Oh, baiklah. Aku mengerti. Hubungi aku segera bila kau membutuhkan sesuatu." Lucia kembali mengulang ucapannya seolah Lugwin tidak mau mendengarkannya.
"Baik, Luc. Terima kasih sebelumnya," balas Lugwin sebelum kemudian terdengar seseorang menerobos ruangannya.
"Yang Mulia gawat!l" Terdengar bocoran suara dari belakang Lugwin.
"Ada apa?"
"Pasukan Elbrasta, bukan, maksud saya pasukan kerajaan baru itu menyerang."
"Menyerang? Dimana posisi mereka sekarang?"
"Di luar tembok Kotaraja."
"Apa? Mereka sudah ada disini?"
"Sepertinya mereka menggunakan Kristal Pemindah, Yang Mulia."
"Ah, sial! Maaf Luc, tapi aku harus pergi," ucap Lugwin dengan bergegas.
"Sebentar, Lug?!" Dan sambungan pun terputus.
"Kita harus segera melakukan sesuatu, Nat." Lucia segera menatap arah Nata yang memang sedang berada bersamanya di ruang kerja.
Sedang Nata sendiri hanya terdiam menatap balik ke arah Lucia yang terlihat cukup panik. Pikirannya sibuk mencari cara dan membuat rencana.
"Nat?"
"Yang Mulia, tolong minta tuan Caspian dan tuan Vossler untuk menyiapkan beberapa prajurit dan membentuk tim khusus. Jangan terlalu besar," ucap Nata tiba-tiba.
"Kemudian perintahkan pasukan militer yang sekarang tengah berjaga di Gerbang Utara untuk bersiap melakukan pergerakan. Dan setelah itu minta kepada para Yllgarian dalam hutan Sekai untuk berjaga di pesisir pantai," lanjut pemuda itu dengan rentetan perintah.
"Ba-baik. Lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Saya harus menemui Aksa," sahut Nata cepat.
"Menemui Aksa?"
"Kalau begitu saya permisi dulu Yang Mulia."
Dan tanpa penjelasan lebih, Nata segera berlari meninggalkan Lucia seorang diri.
-
__ADS_1