
Beberapa hari setelahnya Aksa bersama Rafa dan juga Luque mulai sibuk berkeliling untuk menemui beberapa orang guna meminta bantuan untuk ikut serta dalam festival yang ingin ia buat.
Yang pertama didatanginya adalah Dirk dan serikat dagang Rhapsodia. Karena untuk sebuah Pasar Raya dan juga bazar, Aksa memerlukan banyak pedagang untuk ikut serta mengisi lapak yang nantinya akan disediakan.
Kemudian setelah itu ia menemui Edward dan perkumpulan pedagang kuliner Rhapsodia yang baru terbentuk setahun tarkhir setelah Aksa memperkenalkan cara membuat makanan instan.
Aksa memerlukan mereka untuk membuka kedai makanan di Pasar Raya nantinya. Juga membagikan beberapa resep makanan yang biasa dijual saat ada festival di dunianya.
Tak lupa Aksa juga meminta keluarga Lumire dan para pedagang Nomad lainnya untuk ikut berpartisipasi dalam Pasar Raya nantinya.
Kesibukan Aksa itu pun berlanjut hingga seminggu penuh. Karena setelahnya ia harus berhubungan dengan orang-orang dari wilayah Eblan untuk mempersiapkan tempat dan prasarana yang dibutuhkan untuk acara nantinya.
-
Bersamaan dengan itu Lucia dan Nata mulai sibuk mengurusi masalah kerjasama dan perjanjian damai dengan Kerajaan Augra dan Joren. Sementara di daratan utara, kondisi perang saudara di Elbrasta jadi semakin memburuk.
Perkemahan pengungsi yang sengaja dibuat di depan Gerbang Utara itu kini semakin membesar. Dan lebih banyak prajurit, juga Kereta Tempur dikirim untuk berjaga di tempat tersebut.
-
Dan setelah semua urusan Aksa dalam mempersiapkan festival itu selesai dilakukan, ia pun mengunjungi Trio Pemburu yang baru beberapa hari sebelumnya kembali dari Pertambangan pegunungan Trava, untuk meminta bantuan mereka.
"Akhirnya setelah sekian lama aku bisa melihat kalian juga di Wilayah Pusat ini," ucap Aksa berbasa-basi saat ia mengunjungi kediaman Trio Pemburu di Desa Timur bersama Lily.
Karena Rafa dan Luque tengah menemui Selene untuk menanyakan apakah mungkin membuat semacam atraksi hewan untuk pertunjukan di Pasar Raya nantinya.
"Ya, kami rasa sudah cukup banyak orang-orang yang mampu untuk mengurus pertambangan itu, jadi sudah tidak ada alasan lagi untuk kami tinggal lebih lama." Loujze berucap menjawab pertanyaan Aksa tersebut.
"Lalu apa rencana kalian setelah ini?" Aksa bertanya yang kali ini setengah berbasa-basi, setengah memang ingin tahu.
"Sepertinya kami akan mulai melakukan penjelajahan ke hutan-hutan di wilayah Lighthill dan Ravos yang sampai sekarang masih banyak yang belum tersentuh," jawab Deuxter kali ini.
"Sekaligus membantu tuan Selene untuk memeriksa jenis hewan yang tinggal di dalamnya." Huebert menyahut menambahi.
"Begitu," ucap Aksa seraya mengangguk paham. "Kalau Nona Elaine?" tanyanya kemudian.
"Untuk saat ini bibi hanya akan memantau dua pertambangan kita dari wilayah ini. Tuan Orland sudah menyiapkan tempat kerja untuknya di Kota Pusat." Deuxter kembali menjawab.
"Oh, baguslah. Aku jadi dekat kalau ingin menghubunginya," sahut Aksa yang terlihat benar-benar senang.
"Lalu ada keperluan apa sampai anda jauh-jauh datang kemari?" tanya Huebert kemudian menghentikan percakapan basa-basi mereka. "Tidak mungkin anda kemari hanya sekedar ingin menyapa kami, kan?"
__ADS_1
"Benar. Aku ingin kalian dan bibi kalian membantuku untuk menyiapkan beberapa jenis mineral," jawab Aksa yang juga tidak lagi berbasa-basi. "Rencananya nanti akan aku campur dengan bubuk mesiu," tambahnya menjelaskan.
"Maksud anda mencampur bubuk mesiu dengan mineral? Berupa serbuk mineral?" Loujze bertanya memastikan.
"Ya, benar," jawab Aksa cepat. "Ini daftar mineral-mineral yang aku ingin kalian siapkan," lanjutnya seraya mengeluarkan lipatan kertas kecil dari dalam saku celananya.
"Apa anda ingin membuat peledak jenis baru lagi?" tanya Loujze seraya menerima lipatan kertas itu dari Aksa.
"Bukan. Aku ingin membuat Kembang Api untuk festival nanti," jawab Aksa cepat.
"Kembang Api?" Deuxter terlihat tidak mengerti maksud dari kata-kata tersebut.
"Untuk festival nanti?" Huebert tampak tidak paham apa hubungan mineral dan mesiu dengan sebuah perayaan.
"Susah untuk dijelaskan secara omongan. Nanti saja kalau kalian sudah selesai menyiapkan mineral-mineral itu, akan ku tunjukan seperti apa itu Kembang Api." Aksa memutuskan akan lebih mudah untuk menjelaskan dengan peragaan.
"Hm, baiklah. Akan kami antarkan setelah kami selesai menyiapkannya," jawab Deuxter yang setuju bahwa melihat langsung akan jauh lebih membantu mereka dibanding mendengar penjelasan dari Aksa.
"Oke, kalau begitu aku tinggal pergi dulu. Karena setelah ini aku harus ke tempat Bintang Timur untuk mengambil pesananku sekaligus meminta mereka membuatkan sesuatu yang lain." Aksa tanpa basa-basi segera pamit sebegitu selesai dengan keperluannya.
"Oh, baiklah kalau begitu. Kami juga akan menuju ke Pertambangan di kaki gunung Sekai setelah ini. Untuk segera menyiapkan pesanan anda." Deuxter menjawab.
"Kalau begitu aku permisi dulu."
-
Aksa datang ke tempat Matyas di Atelir utama Bintang Timur itu dengan gulungan kertas berisi rancangan sebuah alat yang diberi nama : 'Peluncur Kembang Api'.
.
"Jadi dengan kata lain, Kembang Api itu adalah ledakan yang berwarna-warni?" Matyas mencoba membayangkan penjelasan Aksa tentang Kembang Api tersebut.
"Ya tepat. Nanti setelah Trio Pemburu selesai mencarikan mineral yang dibutuhkan, aku akan tunjukan seperti apa bentuknya," jawab Aksa dengan bersemangat.
"Saya sangat menantikan hal itu, tuan Aksa." Matyas terlihat lebih bersemangat lagi mendengar hal tersebut.
"Lalu bagaimana dengan peralatan yang aku minta buatkan sebulan yang lalu? Apakah sudah selesai? Apa ada kendala?" tanya Aksa merubah topik pembicaraan.
"Maksud anda alat musik itu? Kami sudah mengirimkannya ke bar tuan Pietro kemarin, seperti yang anda perintahkan." Matyas menjawab.
"Bukan-bukan. Peralatan yang untuk hiburan itu." Aksa mengoreksi.
__ADS_1
"Maksud anda rancangan dengan nama : Bianglala, Komidi Putar, dan Kereta berlampu itu?" Matyas kembali memastikan maksud dari pertanyaan Aksa.
"Ya, yang itu," jawab Aksa seraya mengangguk cepat.
"Oh, kalau yang itu dalam beberapa hari lagi anda sudah bisa melihat hasilnya, meski bukan hasil akhir. Karena masih butuh tambahan waktu untuk melakukan pengecatan dan pemasangan dekorasinya," jawab Matyas menjelaskan.
"Kerja bagus, tuan Matyas. Kerjakan sebaik mungkin. Karena peralatan itu adalah esensi dari sebuah festival." Aksa terlihat sangat puas dengan hasil kerja Matyas dan pengerajin Bintang Timur.
"Saya dan para Pengerajin akan melakukan yang terbaik untuk membuat peralatan tersebut hingga tidak akan merusak jalannya festival nanti." Matyas menanggapi pujian dan rasa puas Aksa dengan sebuah janji.
"Ya, aku percayakan pada anda tuan Matyas," jawab Aksa kemudian "Oh iya, para pengerajin juga akan ikut mengisi lapak di Pasar Raya nanti kan?" tanyanya kemudian.
"Tentu saja. Kami tidak akan ketinggalan untuk ikut andil dalam acara perayaan yang pertama kali diadakan di kerajaan ini," jawab Matyas yang terdengar cukup antusias.
"Bagus-bagus. Tapi nantinya kalau bisa aku ingin kalian tidak hanya sekedar berjualan barang. Tapi juga menjual jasa. Terlebih membuat semacam permainan berbayar yang memiliki hadiah," pinta Aksa kemudian.
"Ya, saya mengerti maksud anda, tuan Aksa." Matyas menjawab dengan yakin.
Yang kemudian dibalas Aksa dengan mengangkat jempolnya seraya tersenyum lebar.
-
Trio Pemburu dan bibi mereka datang ke tenda Aksa dan Nata di dasar jurang Ceruk Bintang tiga hari kemudian. Mereka datang untuk menyerahkan mineral-mineral yang ada dalam daftar yang diminta Aksa sebelumnya. Sekaligus ingin melihat apa sebenarnya Kembang Api itu.
Dan karena sehari sebelumnya peralatan Peluncur Kembang Api yang diminta Aksa juga sudah selesai dibuat oleh pengerajin Bintang Timur, maka Aksa pun berniat untuk memperagakan apa itu Kembang Api, sekaligus mengajarkan metode yang ia sebut dengan 'Piroteknik' pada yang lain.
Alhasil setelah menunggu Aksa selama 2 jam untuk mempersiapkan segalanya, Kembang Api yang bentuk awalnya serupa bola kertas seukuran dua kepalan tangan itu siap untuk ditembakan.
Terlihat Trio Pemburu, Go, Couran, dan juga para pengerajin Bintang Timur yang Aksa ajari tentang Piroteknik itu berdiri berkerumun di depan tenda tempat Alat Peluncur Kembang Api berada. Terlihat pula Rafa, Luque, dan Val diantara mereka.
Nata dan Lily tidak tampak karena sedang berada di Kota Pusat untuk melakukan pertemuan dengan Lucia menyangkut masalah daratan utara.
Kemudian setelah bola-bola tadi sudah siap untuk diluncurkan, Aksa pun menarik pelatuk alat Peluncur Kembang Api yang terlihat seperti tabung bambu itu. Dan seketika suara ledakan terdengar, hanya saja tidak senyaring suara ledakan Senjata Api.
Tak lama berselang suara seperti siulan kencang pun terdengar bersamaan dengan meluncurnya bola kertas ke udara. Dan kemudian terjadi ledakan susulan yang kali ini terjadi berulang-ulang. Selaras dengan pola cahaya yang terbentuk dari ledakan tersebut.
Waktu saat itu menunjukan pukul 2 siang. Namun ledakan berbentuk seperti bunga berwarna merah, kuning, dan hijau itu masih terlihat cukup jelas di langit yang cerah.
Orang-orang yang berada di depan tenda Aksa tadi tampak terpukau dengan cantiknya cahaya yang dihasilkan oleh ledakan tersebut.
Namun karena cahaya tersebut dapat dilihat dari Kota Selatan dan juga Kota Tengah, meski suara ledakannya tidak cukup nyaring terdengar, membuat sebagian orang mengira itu adalah sihir yang hendak menyerang Wilayah Pusat. Dan hal itu nyaris membuat panik warga.
__ADS_1
Pada akhirnya Aksa pun meminta maaf dan memberi penjelasan kepada semua orang melalui jaringan Radio Komunikasi.
-