Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
34. Progress II


__ADS_3

Genap sebulan dari saat dimulainya, grup ekspedisi pembuat peta akhirnya menyelesaikan tugas mereka. Gambar yang ditangkap oleh Drone tersebut sangat lengkap dan menjangkau semua wilayah Rhapsodia. Bahkan sampai ke balik dinding tebing pembatas.


Lalu dengan bantuan alat aneh dari Nata yang disebut Printer Laser, mereka mulai mencetak gambar-gambar tersebut dengan kertas berbahan baru buatan James dan Luke. Lembar demi lembar yang kemudian menyatukannya hingga membentuk sebuah peta wilayah yang cukup besar.


Peta besar itu kemudian ditempel pada sebuah papan di salah satu ruang pertemuan di kediaman Lucia. Nata juga menyarankan untuk melindungi peta besar itu dengan kaca, agar lebih tahan lama.


Kemudian tugas untuk memasang alat komunikasi pun juga telah selesai dilakukan. Mereka bahkan sudah memasang pengeras suara pada sebuah tiang besi di tempat-tempat strategis dalam kota maupun desa. Yang nantinya akan digunakan untuk memberitakan pengumuman dan memberi peringatan bila terdapat bahaya.


Saat pertama kali dilakukan uji coba sehari setelah dipasang, orang-orang terlihat terkejut dan kebingungan mendengar suara Ratu mereka menggaung nyaris di seluruh pelosok wilayah, menjelaskan tentang guna alat Pengeras Suara tersebut.


Dan sebagai cara untuk membiasakan para penduduk dengan Pengeras Suara tersebut, Nata menyarankan untuk membuat pengumuman rutin di setiap paginya. Yang kemudian Aksa muncul dengan ide untuk melakukan 'Siaran' pendek di waktu-waktu tertentu, lengkap dengan Mikrofon model baru, dan alat pemutar musik yang ia sebut dengan Phonograph.


Yang kemudian berujung pada pembangunan gedung khusus di Kota Tengah, untuk tempat melakukan 'Siaran' tersebut.


.


Sepekan kemudian, giliran pembuatan Ransum yang siap untuk diuji coba. Edward dan sanak keluarga Lumire terlihat cemas saat Aksa dan Nata mencoba makanan dan minuman yang akan dijadikan perbekalan para prajurit itu.


Mereka berkumpul di gedung serbaguna Desa Waduk, tak jauh dari Bukit Air Terjun. Tampak pula Lucia, dan beberapa orang yang berkepentingan ikut hadir menyaksikannya.


"Anda sekalian memang sangat berbakat. Ini semua hampir seperti yang ada di dunia kami," puji Nata setelah mencicipi salah satu makanan yang berbentuk seperti lembaran batang kayu berwarna hijau tua.


"Benar. Anda sekalian akan masuk dalam sejarah sebagai pembuat makanan dan minuman instant pertama di dunia ini," celetuk Aksa menambahkan, setelah ia menyeduh sesuatu dari dalam kantong kain kecil.


"Ini semua karena Anda berdua. Sebelumnya saya tidak akan memikirkan cara yang seperti ini. Membuat roti kering dari daging dan sayuran yang seharusnya untuk membuat sup. Mencetak dan mengeringkan mi gandum yang sudah masak. Semua ini benar-benar di luar imajinasi saya." Edward terlihat bersemangat dan tampak sangat bahagia saat mengucapkannya.


"Idenya memang untuk membuat para prajurit dapat merasakan makanan yang biasa ia makan, hanya saja dalam bentuk yang jauh lebih praktis," jawab Nata menjelaskan.


"Dan saat saya pikir ide memasukan rempah daun teh dalam kain kasa untuk mempermudahkan kita menyeduh itu sudah sangat menakjubkan, Anda menambahkan lagi dengan ide untuk mengeringkan minuman dan menjadikannya serbuk? Saya sudah tidak dapat berkata apapun lagi tentang hal tersebut." Edward masih terlihat mengelu-elukan ide yang diberikan Aksa dan Nata untuk mengolah makanan tersebut.

__ADS_1


"Membuat minuman menjadi serbuk?" Lucia tampak tertarik dengan ucapan Edward barusan.


"Benar, Yang Mulia. Yang Mulia bisa mencobanya sendiri." Edward dengan segera mengambil beberapa kotak kaleng dari dalam tasnya, dan meletakannya di atas meja di hadapan Lucia. "Serbuk ini adalah susu. Dan yang ini adalah kopi. Untuk yang ini mungkin akan sedikit masam, karena ini adalah jus jeruk," jelasnya kemudian masih dengan penuh semangat.


Dan tanpa perlu diperintah, salah satu dari keluarga Lumire yang bernama Adam segera mengambilkan botol air putih dan tiga buah gelas untuk Lucia.


Edward kemudian membantu untuk melarutkan serbuk susu tadi dengan air putih dalam salah satu gelas untuk Lucia coba.


"Oh, benar. Ini susu," ucap Lucia setelah meneguk minuman dalam gelas tersebut. "Tapi ada rasa manisnya juga," tambahnya setelah mengecapkan lidah.


"Yang Mulia tidak salah. Serbuk susu ini memang sudah dicampur dengan gula sebelum digerus menjadi serbuk. Karena bila hanya susu saja, mungkin rasanya akan hambar." Edward menjelaskan.


"Ini benar-benar praktis." Lucia terlihat menikmati minumannya.


"Bahkan tidak hanya untuk minuman saja. Wadah yang ini berisi campuran bubuk yang bila di larutkan dalam air panas akan membuatnya menjadi kaldu dari sup ayam." Kali ini Edward mengeluarkan kotak kaleng yang lebih panjang dari sebelumnya.


"Coba-coba, Nona Ellian sediakan aku air panas. Aku mau mencoba bumbu kaldu ayam ini," sahut Aksa yang terlihat ikut bersemangat.


"Bagaimana makanan ini dibuat? Apakah memerlukan peralatan khusus?" Kali ini Dirk yang bertanya. Pemikiran dagangnya mulai bekerja saat melihat hal yang berpotensi untuk dijual.


"Sebenarnya tidak perlu peralatan khusus, Tuan Dirk." Nata menjawab. "Hanya saja proses untuk membuatnya cukup rumit dan memakan waktu. Kita harus memanaskan hingga menjadi estrak dan kemudian mendinginkannya untuk yang jenis minuman, dan mengeringkan kemudian menghancurkannya bila itu daging atau sayuran," jelasnya kemudian.


"Benar. Kami bekerja bersama penyihir Api dan Es untuk melakukan proses tersebut." Edward membenarkan ucapan Nata.


"Butuh dua hari untuk membuat minuman menjadi bentuk serbuk," tambah Adam yang berdiri disamping Edward.


"Benar. Padahal itu pun sudah mengunakan alat penghancur yang bernama, Blener? Yang seperti wadah dengan pisau berputar itu." Edward seperti sedang meminta Nata untuk mengkoreksinya.


"Blender?" Nata memastikan maksud Edward.

__ADS_1


"Oh, benar. Blender. Dan juga pemanas tanpa api itu."


"Oven?"


"Iya benar, Oven. Peralatan-peralatan dengan tenaga listrik itu benar-benar sangat membantu." Edward kembali terlihat terkagum-kagum dengan segala hal yang telah dilakukan oleh Aksa dan Nata.


"Benar. Alat-alat itu mempermudahkan kita memotong dan memanggang roti kering." Adam kembali menambahi.


"Menyimpan masakan siap saji dalam kaleng kedap udara ini adalah terobosan yang luar biasa, Tuan Nata," ucap Dirk kemudian saat ia mengamati salah satu kaleng berbentuk persegi panjang yang berisi daging giling. "Barang ini akan sangat laku di pasaran."


"Sayangnya untuk saat ini, jenis makanan ini memiliki biaya produksi yang cukup tinggi. Kita tidak mungkin menjualnya ke masyarakat tanpa mengalami kerugian," ucap Nata memupuskan rencana Dirk. "Apa lagi yang kaleng kedap udara itu," tambahnya kemudian.


"Bagaimana kalau kita jual untuk masyarakat kelas atas?" Dirk tampak belum putus asa untuk mencoba.


"Hal tersebut akan membuat kesenjangan dan rasa iri dari yang lain. Kita tidak bisa melakukannya." Kali ini Lucia yang mematahkan rencana Dirk.


"Benar. Yang paling memungkinkan adalah menjualnya untuk para bangsawan kerajaan lain. Namun itu rencana yang akan kita bahas setelah kita sudah kembali membuka gerbang," balas Nata seraya tersenyum kecil ke arah Dirk.


Dirk membalas senyuman Nata. Ia terlihat kembali bersemangat setelah mendengar secercah harapan dari ucapan pemuda itu. "Baik. Saya mengerti, Tuan Nata," jawabnya kemudian.


Dan dengan begitu, pembuatan makanan-makanan tersebut secara massal untuk keperluan militer pun dimulai.


.


Sedang untuk obat-obatan, masih memiliki beberapa kendala untuk memulai pembuatannya secara massal. Karena disamping sumber daya manusia yang belum cukup terampil, juga beberapa bahan masih belum dikembangkan sendiri dan harus mendatangkannya dari tempat lain.


Namun setidaknya daftar untuk penanganan darurat dari Nata sudah semua terpenuhi. Yang mana adalah Antibiotik, Pereda Rasa Sakit, Kapas, dan Perban Kasa. Perlengkapan itu sudah mulai di produksi massal untuk keperluan militer.


-

__ADS_1


__ADS_2