
Setelah mendapat perintah dari Moor, segera Yvvone dibantu Ymone masing-masing mengeluarkan sebuah alat serupa Radio Komunikasi yang umum ada di wilayah Rhapsodia, namun dengan ukuran yang jauh lebih kecil, yang kemudian diletakan di tengah ruangan.
"Benda apa itu?" tanya Xorzio penasaran.
"Ini adalah alat untuk berkomunikasi jarak jauh." Yvvone menjawab.
"Apa maksudnya?" Xorzio kembali bertanya karena masih belum mengerti.
"Seperti namanya, alat ini digunakan untuk kita berkomunikasi dari jarak jauh," jawab Yvvone lagi.
"Maksudmu seperti telepati?"
"Akan lebih mudah bila saya tunjukan secara langsung cara penggunaan alat ini." Yvvone tampak memilih cara mudah untuk melakukan penjelasan terhadap yang lain.
"Saya perlu satu orang untuk ikut bersama saya pergi ke pemukiman Marga lain untuk mencoba alat ini," lanjut gadis Aeron itu meminta.
Para Elf yang ada di ruangan itu terlihat saling pandang dan tampak ragu untuk menawarkan diri.
Sampai kemudian seorang pemuda dari Marga Vaelum mengangkat tangannya. "Aku saja," ucapnya kemudian.
Yvvone mengenal Elf itu sebagai Makki. Salah seorang petarung handal dari Marga Vaelum.
"Baiklah. Majulah kemari," ucap Yvvone seraya mengambil benda seperti Radio Komunikasi kecil tadi dan kemudian mengeluarkan Kristal Arcane dari dalam kantong kulit yang menggantung di pinggangnya.
Tujuan Yvvone dan Makki itu adalah pemukiman Marga Vaelum di selatan. Dan setelah portal Ruang-Waktu terbuka, mereka berdua pun segera melompat masuk kemudian menghilang bersama tertutupnya lingkar sihir berwarna ungu itu tadi.
Tak beberapa lama kemudian terdengar suara Yvvone dari Radio Komunikasi yang ditinggalkan di tengah ruangan pertemuan tersebut.
"Hai? Kalian mendengarku?"
Semua orang tampak cukup terkejut mendengarnya.
"Ya, kami mendengarmu," jawab Ymone sambil mengangkat benda mungil dengan dua corong yang terpasang tak simteris itu kemudian.
"Sebentar, Makki sedang memanggil Nyonya Kaede untuk berbicara," ucap Yvvone kembali terdengar. Meski berjedah cukup lama.
"Bagaimana caranya? Aku hanya perlu berbicara saja di depan benda ini?" Tiba-tiba terdengar perempuan lain dari Pengeras Suara Radio Komunikasi yang dipegang Ymone tersebut.
"Kaede?" Tama Pemimpin Marga Vaelum mengenali suara istrinya tersebut.
"Oh, apa itu suara suamiku?" Terdengar suara Kaede bertanya dengan sedikit terkejut.
"Benar, ini aku," balas Tama lagi.
"Wah, bagaimana cara benda ini bekerja? Marga mana yang membuatnya?" Kaede terdengar cukup antusias di ujung Radio Komunikasi itu bersama Yvvone.
"Maaf Nyonya Kaede, tapi saya harus kembali. Biar Pemimpin Tama yang nanti menjelaskan semuanya kepada anda sepulangnya beliau dari pertemuan," ucapan Yvvone masih terdengar sebelum kemudian terputus.
Dan tak lama setelah itu, sihir Ruang-Waktu pun kembali tercipta di tengah ruangan membawa Yvvone dan Makki kembali.
"Kami benar-benar kembali, Pemimpin. Semua itu bukan tipuan," ucap Makki mengkonfirmasi segala yang dilakukan Yvvone saat tidak berada di ruang pertemuan.
__ADS_1
"Bagaimana sekarang? Apa kalian tidak menginginkan peralatan mistik seperti ini? Bayangkan, dengan adanya alat seperti ini bukankah kehidupan kita semua akan jauh lebih mudah?" ucap Moor memecah kegaduhan para Pemimpin Marga yang terjadi setelah melihat cara alat tersebut bekerja.
"Bagaimana cara benda ini bekerja?" tanya Symmrê Pemimpin Marga Rhafie yang terlihat setengah kagum setengah tak percaya.
"Aku tidak tahu. Dua pemuda itu yang membuatnya." Moor menjawab ringan.
"Mereka yang membuat benda itu? Berapa lama orang-orang itu belajar tentang pengetahuan Runic?" Kali ini Reiré yang bertanya, seolah ucapan Moor itu hanya sekedar lelucon semata.
"Pemuda itu baru mulai belajar tiga hari yang lalu," jawab Moor singkat.
"Tiga hari yang lalu?" Kali ini Reiré merubah ekspresi wajahya. Karena merasa lelucon Moor sudah mulai keterlaluan.
"Bukankah mereka tidak memiliki Aliran Jiwa dalam tubuh mereka?" Kali ini Xorzio yang bertanya.
"Benar. Tapi buktinya mereka berhasil membuatnya meski harus orang lain yang mengisikan Aliran Jiwa pada alat itu untuk pertama kalinya."
"Bagaimana itu mungkin?" Kembali Pemimpin Marga Rhafie terdengar tidak percaya.
"Saya sudah pernah memberi tahukannya kepada anda mengenai kemampuan dua pemuda itu sebelum ini, Pemimpin. Apa anda percaya sekarang?" sahut Solas yang berdiri di belakang Symmrê.
"Jadi semua isi dalam suratmu itu benar?" balas Pemimpin Marga Rhafie itu terlihat masih belum bisa percaya.
"Jadi bila memang kalian berniat untuk melarang mereka menyebarkan pengetahuan tentang Runic, dan hanya memperbolehkan mereka untuk membuat alat sihir penanding Alta Larma saja, berarti mereka juga tidak diperbolehkan membuat alat seperti ini dikedepannya," ucap Moor menyela.
"Dan supaya adil, kita pun juga tidak diperbolehkan untuk mendapat pengetahuan tersebut. Bagaimana menurut kalian?" lanjut pemimpin Azuar itu kemudian.
Terlihat para Pemimpin Marga yang lain mulai menatap sinis dan tak nyaman ke arah Moor.
-
"Jadi metodenya serupa dengan Sihir Penanda," ujar Aksa menjawab pertanyaan para Pemimpin Marga setelah beberapa saat sebelumnya ia dan Nata dipanggil untuk ikut menghadiri pertemuan tersebut.
"Sihir Penanda?" Xorzio menyahut sedikit terkejut.
"Benar. Jadi dengan mengetahui posisi alat yang satunya kita bisa mempertahankan hubungannya meski berada di jarak yang cukup jauh." Aksa melanjutkan penjelasannya.
"Kau mengerti cara kerja Sihir Penanda?" Xorzio masih belum percaya Aksa mengerti tentang cara kerja Sihir Penanda.
"Ya, karena pada dasarnya Sihir Penanda itu memang berasal dari aturan penulisan Runic. Malah bisa dibilang asal dari semua peralatan yang mengandung sihir," jawab Aksa dengan santai.
"Dan kau bisa memahami hal tersebut?" Kali ini Galvatr yang bertanya. Ada ketertarikan dalam tatapan perempuan Nautua itu.
"Aku dibantu Nona Yvvone untuk bisa memahaminya. Juga Val, tuan Talos, tuan Solas, dan Nona Kanna," balas Aksa jujur.
"Meski ada beberapa Elf yang membimbingmu bukan berarti itu hal yang mudah untuk dilakukan." Galvatr kembali berucap.
"Anda benar. Makanya benda yang kubuat itu masih memiliki kelemahan. Masih ada jedah antar percakapan karena harus menjalankan proses dari Sihir Penanda terlebih dahulu sebelum mengirim Aliran Jiwa sebagai penganti gelombang ke alat penerima," ucap Aksa yang disusul dengan penjelasan.
"Lalu, alat itu juga baru bisa digunakan untuk pasangannya saja. Mirip Walky Talky buat bocah yang dijual di pasar malem. Karena aku belum menemukan cara yang tepat untuk mengakali fungsi frekuensinya. Jadi belum bisa digunakan untuk menghubungi alat yang belum dikenali," lanjut pemuda itu lebih rinci.
"Kau bahkan berencana membuat benda itu lebih baik lagi?" Galvatr terlihat setengah kagum setengah antusias.
__ADS_1
"Dan apa kau bisa melakukannya?" Kali ini Reiré yang bertanya.
"Butuh waktu. Tapi konsepnya sudah ada," balas Aksa cepat.
Melihat sikap penuh percaya diri Aksa membuat para pemimpin mulai merubah pemikiran mereka tentang pemuda itu.
Kini tak ada tatapan meremehkan dan tak acuh dari sesepuh Elf tersebut. Diganti dengan wajah penasaran dan rasa ingin tahu tentang kedua pemuda itu.
"Sekarang aku mau bertanya pada kalian. Apa menurut kalian pengetahuan ini aman bila disebarkan?" tanya Tama kemudian.
"Apakah maksud anda aman adalah tidak akan digunakan untuk sesuatu yang berbahaya?" Kali ini Nata yang bertanya untuk memastikan.
"Benar. Kalian mungkin sudah mengetahuinya bahwa ada kemungkinan peradaban Pharos dulu hancur karena Mahan Gyaan yang kalian tulis, kan?" Tama kembali berucap.
"Iya. Saya juga memikirkan tentang kemungkinan tersebut." Nata menjawab. "Namun meski begitu, pada dasarnya sifat dari ilmu pengetahuan itu memang serupa pedang bermata ganda," lanjutnya kemudian.
"Padahal yang ku tulis dalam katalog itu bukanlah pengetahuan tentang senjata, tapi hal tersebut memang sangat mungkin terjadi," sahut Aksa menimpali.
"Berarti kalian merasa pengetahuan itu tidak aman untuk disebarkan?" Tama bertanya lagi. Seolah tengah mencari kepastian.
"Bila kita memilih terfokus pada aman atau tidaknya sebuah pengetahuan disebarkan, maka kita akan menahan diri kita sendiri untuk berkembang. Dan itu berarti peradaban tidak akan pernah maju.
"Lalu apa yang membedakan kita dari hewan dan tumbuhan?" jawab Aksa yang terkesan sedikit asal.
"Kau memiliki banyak pengetahuan namun tidak bijak dalam berbicara." Xorzio menyela dengan sedikit lantang karena merasa sedikit tersinggung dengan ucapan Aksa.
"Maafkan dia tuan. Cara berbicaranya memang seperti itu." Nata segera meminta maaf atas nama sahabatnya itu.
"Yang Aksa maksud adalah, ketakutan akan menghambat perkembangan kita," lanjut Nata mencoba menjelaskan maksud dari ucapan Aksa dengan lebih sederhana dan sopan.
"Apa anda sekalian pernah mendengar teori Kucing Schrodinger?" Terdengar Aksa kembali berucap tanpa kuatir atau merasa bersalah sama sekali.
"Apa itu?"
"Itu adalah sebuah proses pemikiran." Nata mengambil alih. "Sebuah para... maksud saya, sebuah kemungkinan," jelasnya kemudian.
"Sebenarnya proses pemikiran ini kerap digunakan untuk menggambarkan masalah interpretasi Kopenhagen Mekanika Kuantum pada objek sehari-hari. Tapi menurutku, bila mengabaikan masalah Superposisi Kuantum nya, maka masih cocok untuk digunakan sebagai contoh," sahut Aksa dengan ocehan tak jelasnya.
"Jadi anggap ada seekor kucing dan juga racun dalam sebuah kotak--" Namun belum selesai Aksa berucap, Nata segera memotongnya.
"Jadi intinya, kita tidak bisa tahu dengan pasti apakah pengetahuan itu akan membawa malapetaka atau malah membawa kemudahaan dalam hidup, bila kita tidak membagikannya terlebih dahulu," ucap Nata dengan sedikit terburu-buru.
"Ya, itu," sahut Aksa seraya mengangguk setuju.
"Kecuali kita tanya ke Oracle tentang masa depan. Itu baru pasti. Tapi sayangnya beliau sudah wafat," lanjutnya kemudian.
Para Pemimpin Marga terlihat menahan diri untuk tidak berkomentar atau menegur Aksa mendengar ucapannya tersebut. Mereka hanya terlihat mulai bimbang.
Tapi bukan karena mendengar ucapan Aksa dan Nata tentang perumpamaan tersebut. Melainkan karena mereka merasa pengetahuan yang dimiliki oleh kedua pemuda itu sangat berharga dan sangat berguna.
-
__ADS_1