
Terlihat Rafa mengisi kembali beberapa gelas yang sudah kosong dengan teh yang masih hangat dari dalam teko.
"Oh, dan juga kita butuh alat transportasi yang lebih cepat dan efektif, Aks," ucap Nata yang baru saja teringat akan hal tersebut.
"Apa yang kau maksud adalah pesawat?" tanya Aksa memastikan.
"Apa kalian ingin membuat kereta yang dapat melayang itu?" Lily yang kali ini bertanya. Kelinci mungil itu emang sangat tertarik akan hal-hal dari dunia Aksa dan Nata yang pernah ia lihat dari laptop atau komputer yang ada di
dalam laboraturium.
"Benar, kereta yang melayang itu." Nata membenarkan.
"Wah, aku jadi ikut bersemangat mendengarnya. Aku juga ingin merasakan terbang di udara." Luque tampak menegakan tubuhnya karena tertarik.
"Meski sebenarnya aku sangat ingin membuatnya, tapi sepertinya sedikit susah bila kau ingin membuat pesawat untuk membawa lebih dari dua penumpang," jawab Aksa yang membuat Luque menurunkan pundaknya karena kecewa.
"Apa kendalanya?" tanya Nata seraya meletakan bukunya kembali ke atas meja.
"Avturnya. Kita kesulitan mendapatkan minyak atau gas bumi tanpa radar Seismik, atau satelit." Aksa mencoba menjelaskan alasannya. "Sedangkan bila kita asal gali saja, bisa-bisa menimbulkan masalah ekologi, karena wilayah ini hampir seluruh bagiannya digunakan sebagai tempat hunian."
"Berarti kalau jenis pesawat tempur ala Perang Dunia pertama, masih memungkinkan dibuat?" Nata memastikan sambil terlihat berpikir.
"Ya. Kalau hanya pesawat berbaling-baling ganda yang membawa dua orang dan beberapa senapan sih, bahan bakar Biogas cair yang sekarang ini masih bisa kita gunakan. Karena tidak perlu sampai yang harus mengandung Octane tinggi." Aksa menjelaskan lagi. "Karena mesinnya juga hanya modifikasi dari mesin empat-tak saja, dan bukan mesin turbin jet," imbuhnya kemudian.
Luque, Lily, dan bahkan Rafa tidak mengerti apa yang sedang Aksa dan Nata bicarakan. Namun mereka tidak terlalu perduli untuk sampai harus menanyakannya.
"Apa kau tidak tahu jenis bahan bakar lainnya di dunia ini yang memiliki kandungan Octane tinggi?" Nata terlihat tidak puas bila mereka hanya bisa membuat jenis pesawat yang tidak dapat mengangkut banyak orang sekaligus.
"Menurutku kita tidak harus mencari padanan hal dari dunia kita di tempat ini, Nat." Kali ini Aksa berhenti menulis dan mengarahkan kursinya menghadap Nata.
"Karena berbeda dari dunia kita, di dunia ini sebenarnya mereka memiliki sumber energi lain yang lebih murah dan praktis. Dan mungkin tidak akan meninggalkan polusi," lanjut Aksa.
"Maksudmu sihir?" Nata menebak.
__ADS_1
"Benar. Tepatnya Aliran Jiwa," balas Aksa cepat.
"Aliran Jiwa?" Luque, Lily, dan Rafa terlihat tertarik dengan ucapan Aksa tersebut.
"Benar. Itu karena setelah berkeliling selama dua hari ini, aku jadi menyadari sesuatu." Aksa berucap lagi, bersiap melakukan penjelasan panjangnya.
"Akan jadi sebuah evolusi atau revolusi yang alami bila dunia ini menggunakan sihir sebagai elemen dalam kehidupan mereka sehari-hari. Seperti misalnya, bagaimana sekarang mereka membangun sesuatu. Menggunakan sihir api untuk membakar tungku uap generator listrik, mengunakan sihir es untuk membuat sebuah kulkas, dan lain sebagainya.
"Lalu bayangkan hal apa saja yang mungkin bisa kita temukan bila teknologi dan ilmu pengetahuan yang kita tahu, dipadu dengan Free Clean Energy alias Aliran Jiwa itu tadi? Mungkin kita benar-benar bisa memecahkan kendala tenaga dalam akselerasi pemecahan partikel yang selama ini kita cari-cari." Aksa berucap dengan terlihat meyakinkan.
"Gaya mu, Aks. Aku tahu benar, pasti ocehan mu itu hanya karena kau ingin membuat pesawat bertenaga sihir, kan? Itu juga kenapa kau tidak mau mencari tahu lagi tentang jenis bahan bakar yang lain, selain sihir, kan?" Nata berucap dengan wajah menuduh. "Kau sedang berbicara dengan ku, Aks. Bukan dengan sponsor atau pemimpin institusi yang akan mudah termakan ucapan muluk seperti itu."
"Oh iya benar juga, sih. Tapi memang seperti itulah seharusnya sebuah pesawat di dunia fantasi, Nat." Aksa mencoba mempertahankan pendapatnya.
"Dan bukan hanya Magic Ariships saja yang aku maksudkan," ucap Aksa melanjutkan. "Tapi dengan energi yang tidak memerlukan generator sebesar lokomotif kereta untuk membuatnya, berarti hal itu membuka jalan baru untuk kita menciptakan alat yang tidak pernah ada sebelumnya. Bahkan di dunia kita sekalipun."
"Aku tidak akan bertanya alat apa itu. Karena pasti berasal dari cerita fantasi atau game," sahut Nata seraya menggeleng pelan.
"Benar sekali. Kita bisa menciptakan Magic Mecha. Wow, bukan?" Aksa terlihat bersemangat dan mulai meracau sendiri.
"Robot," sahut Aksa cepat.
"Apa itu robot?"
"Sudah kukira," timpal Nata kemudian. "Terserah kau sajalah. Tapi yang terpenting adalah kita perlu pesawat penumpang itu secepatnya," lanjutnya seraya menyeruput teh dalam gelas.
"Lagi pula apa kau yakin ada yang mampu mengeluarkan sihir untuk menerbangkan pesawat tersebut? Untuk bertahan melakukan penerbangan jarak jauh, meski sudah dikombinasi dengan teknologi kita?" tanya Nata kemudian.
"Benar. Manusia menggunakan sihir, atau lebih tepatnya menggerakan Aliran Jiwa itu, rata-rata hanya satu-dua menit saja sebelum kemudian tumbang karena kelelahan." Rafa menyahut memberikan penjelasan. "Mungkin beberapa yang memiliki bakat dapat bertahan hingga lima sampai sepuluh menit. Dan itupun tidak banyak." tambahnya kemudian.
"Ya, aku juga menyadari hal tersebut. Itulah kendalanya sekarang. Maka dari itu aku butuh tambahan informasi mengenai Formasi Sihir untuk membuat mesin bertenaga Aliran Jiwa." Aksa menjawab masih terlihat meyakinkan dan penuh percaya diri.
"Oh, benar juga. Formasi Sihir memungkinkan untuk digunakan seperti itu." Lily terlihat mengangguk kecil.
__ADS_1
"Kurasa pengetahuan tentang Formasi Sihir yang tersisa sekarang ini hanya berada di tangan Marga Azuar." Kali ini Luque yang menabahi dengan informasi.
"Kau dengar itu? Lalu mau sampai kapan kita menuggu hingga kau mendapatkannya? Kita butuh transportasi itu secepatnya. Aks."
"Yah, kalau kau ingin pesawat penumpang yang cukup besar dalam waktu cepat, kita bisa membuat semacam Zeppelin. Dengan menggunakan balon udara untuk mengangkat sebuah gerbong kereta atau sebuah kapal kecil. Dan kemudian menggunakan mesin yang digunakan Kereta Besi untuk menggerakan baling-baling dan melakukan manuver sederhana," jawab Aksa menawarkan.
"Apa berati kita jadi membuat kereta terbang itu?" Luque terlihat bersemangat.
"Kurasa kita bentuk seperti gerbong kereta saja sebagai tempat pengangkutnya. Terlihat cocok dengan balon udaranya," ucap Aksa tidak menghiraukan Luque.
"Bilang saja kau memang mau membuat pesawat bergaya Retro Victorian. Pake muter-muter ga jelas." Nata terlihat sedikit jengkel.
"Kan cocok dengan Subgenre Gaslamp Fantasy nya, Nat," balas Aksa masih tidak mau kalah.
"Terserah kau sajalah."
"Oh, dan juga jangan berharap pesawat itu dapat bergerak dengan cepat. Juga jangan sampai Hidrogennya terkena serangan sihir api. Atau balon udaranya akan, Blaarr... Ambiyar." Aksa membuat gerakan tangan agar terasa lebih dramatis,
"Ya, aku paham. Untuk saat ini yang seperti itu juga tidak apa-apa," balas Nata kemudian. "Kita bisa menggunakan pesawat tempurnya untuk melakukan pengintaian wilayah musuh atau melakukan serangan kejutan dari udara. Sedang yang besar untuk transportasi barang dan pasukan."
"Aku jadi tidak sabar untuk mencoba menaikinya." Tampak Luque bahagian menggerak-gerakan pundaknya dari balik balutan selimut.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menghubungi Amanda besok. Meminta untuk pengerajin kulit dan penenun yang ada di Kota Selatan membuatkan bahan buat balonnya. Sementara Bintang Timur akan mengerjakan kerangka pesawat tempurnya," ucap Aksa kemudian seraya kembali menulis.
"Oh, dan juga besok sebelum ke Kota Pelabuhan di barat, aku ingin kau ikut bersamaku ke Garnisun Utara. Aku ingin melihat seperti apa peluru sihir yang dikatakan oleh Nona Rafa kemarin, bekerja," ucap Nata kemudian.
"Benarkah?" Aksa segera memalingkan wajahnya ke arah Nata dengan penuh harapan.
"Iya, jangan berlebihan. Aku sudah mengundang Nona Parpera untuk datang dan mendemonstrasikan hal tersebut besok di Garnisun Utara," ujar Nata menjawab.
"Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa tidur dengan nyenyak juga." Aksa terlihat kembali menulis dengan wajah berseri-seri.
"Baru juga sehari, Tuan Aksa," sahut Rafa kemudian.
__ADS_1
-