Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
31. Kembali ke Peradaban I


__ADS_3

"Ya, menjawab juga pertanyaan dari tuan Tama tadi. Mengenai sumber tenaga dan juga tekanan balik dari Aliran Jiwa saat melalui proses perubahan bentuk."


Aksa kembali membentuk senjatanya menjadi seperti sebelumnya. Gagang pedang tanpa bilah.


"Jadi senjata ini bisa sangat luar biasa dan mampu diisi dengan berbagai jenis Formasi Sihir yang terdengar mustahil itu karena, yang pertama, aku tidak memiliki Aliran Jiwa." Aksa mulai memberi penjelasan.


"Dan karena mustahil untukku mentenagai senjata ini secara manual, maka jelas aku menggunakan Formasi Sihir aktif yang akan menarik Aliran Jiwa di sekitar secara terus menerus selama tetap diaktifkan. Dan hal itu menjawab bagaimana caraku mengakali tenaganya.


"Kemudian yang kedua, karena aku tidak memiliki Aliran Jiwa, jadi aku tidak akan menerima dampak dari tekanan balik Aliran Jiwa dalam proses perubahan bentuknya," tutupnya kemudian.


"Ah, benar sekali. Karena tidak memiliki Aliran Jiwa sama sekali, maka kalian tidak akan merasakan dampak dari kekacauan atau tekanan balik dari Aliarn Jiwa tersebut," sahut Xorzio yang baru saja menyadari hal tersebut. Sama seperti para Elf yang lain.


"Dan oleh sebab itu pula Aksa meminta anda sekalian menjaga jarak. Karena dalam radius 1 meter di sekitar alat itu, seluruh Aliran Jiwa akan ditarik secara paksa untuk dijadikan tenaga. Dan tak terkecuali Aliran Jiwa dalam mahluk hidup." Kali ini Nata yang berucap.


"Itu berarti mahluk hidup yang memiliki Aliran Jiwa bisa mati hanya dengan berada di dekat alat itu saja?" Yvvone bertanya memastikan.


"Ya, kurasa." Yang dijawab Aksa dengan sedikit ragu sambil menatap jajaran Rafa, Lily, dan juga Val.


"Benar. Setidaknya bisa membuat kita menjadi sangat lemah." Val menambahi.


"Apa kau pernah berada di dekat senjata itu saat sedang digunakan?" Reiré bertanya memastikan.


Yang kemudian dijawab Val dengan anggukan.


Mengetahui hal itu beberapa Elf yang sudah berdiri cukup jauh masih mencoba melangkah mundur lagi karena kuatir.


"Itulah kenapa aku bilang senjata ini hanya bisa digunakan oleh kami berdua saja. Karena hanya kami berdua yang tidak memiliki Aliran Jiwa," ucap Aksa kemudian.


"Mengerikan sekali. Kau membuat sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari Alta Larma." Yvvone menimpali.


"Ya, setidaknya senjata ini tidak akan digunakan untuk melukai orang tanpa melukai penggunanya." Kali ini Nata yang mencoba mencarikan alasan positif untuk senjata tersebut.


"Ya, kecuali utusan dewa sepertiku," timpal Aksa.


Dan pemuda itu kembali memasukan senjata tersebut ke dalam wadahnya.


"Bagaimana? Anda sekalian sudah puas?" Aksa kembali bertanya setelah menutup kotak pipih tersebut.


"Kalian berdua memang manusia gila. Terutama kau Aks," sahut Yvvone.


"Kenapa kau sampai harus menciptakan benda seperti itu?" Moor bertanya. Terlihat prihatin menatap Aksa dan Nata secara bergantian.


"Kami memerlukan alat perlindungan. Karena kami sadar kami akan lebih banyak menghadapi bahaya di kedepannya. Dan kami juga tidak mungkin terus mengandalkan bantuan dari orang lain." Nata menjawab.


Yang tidak dijawab balik oleh Moor.

__ADS_1


-


Malam harinya para pemimpin Marga memberi putusan bahwa mereka setuju untuk mengadakan pertemua dengan orang-orang dari Rhapsodia.


Dan setelah itu, Aksa mulai mengajarkan cara membuat peralatan yang sudah ia tunjukan sebelumnya ke pada para Elf.


Namun karena cukup rumit, pada akhirnya Aksa terpaksa membuatkan semacam jadwal untuk mengajarkan pengetahuan dasar guna mempermudahkan memahami rancangan akan peralatan tersebut kepada para Elf.


Yang terutama adalah pembuatan LED Magic yang oleh para Elf disebut dengan Jendela Sihir.


Aksa menamai kegiatan belajar itu dengan sebutan Kursus. Dan Kursus tersebut berjalan setiap hari setelah sarapan sampai sebelum jam makan siang, selama ia masih berada di Hutan Azuar.


Karena rencananya Aksa dan yang lain akan kembali ke Rhapsodia dalam waktu seminggu lagi.


Dan alasan mereka tidak langsung meninggalkan Hutan Azuar saat itu juga, karena Aksa dan Val tengah dalam proses untuk menciptakan ulang materi Carbon-Alloy yang di dapat dari keturunannya melewati Moor. Dibantu oleh Elf dari marga Realn, Vaelum, dan juga Aeron yang memang cukup ahli di bidang mineral dan logam.


Dan 10 hari kemudian, proses penciptaan ulang material baru itu pun selesai dibuat. Dan karenanya Aksa, Nata, beserta rombongannya pun meninggalkan Hutan Azuar.


Mereka total berenam menggunakan Sihir Pemindah menuju ke wilayah Ignus. Baru setelah itu menggunakan Kereta Besi menuju ke perkemahan di dasar jurang Ceruk Bintang.


Sementara itu Rhapsodia yang baru saja berhasil mengambil alih garis pantai sisi selatan dari bekas wilayah Elbrasta, baik yang sisi timur, maupun sisi barat, sedang dalam kondisi yang sangat sibuk.


Dan banyak dari pejabat kerajaan dan orang-orang terkait tidak berada di Wilayah Pusat saat rombongan Aksa dan Nata tiba. Karena tengah sibuk menggurusi hal tersebut.


Namun meski begitu Lucia masih sempat meluangkan waktu untum datang ke perkemahan guna menyambut kembalinya Primaval, Rafa, dan juga Aksa di Rhapsodia.


.


Lampu ruang tengah tenda tersebut sudah menyala semuanya. Meski hari masih belum terlalu sore.


Terlihat cangkir-cangkir teh yang masih mengepulkan asap terletak di meja bundar di tengah ruangan.


"Baguslah kalau memang demikian." Nata terlihat senang.


Di ruangan tersebut saat ini hanya ada Lucia, Nata, Aksa, dan Lily. Karena setelah kedatangan Lucia ke tempat itu Luque langsung menuju ke Tanah Suci Baru di Gugus Kota Selatan diantar oleh Rafa dan Couran.


Sementara Val sudah berada di Atelir bersama kelompok Bintang Timur.


"Tapi Eden memilih tetap tinggal. Dan sepertinya ia menanti-nantikan kedatangan kalian," lanjut Lucia.


"Ya, saya tahu. Pangeran Eden tidak sabar untuk melihat peralatan sihir terbaru dari Aksa." Nata menjawab.


"Dia pasti akan terkagum-kagum saat melihat penemuan terbaruku nanti." Aksa menimpali dengan wajah yang terlihat antusias.


"Aku rasa juga begitu." Lucia sependapat.

__ADS_1


"Dimana bocah itu sekarang?" tanya Aksa kemudian.


"Saat ini mungkin dia sedang dalam perjalan kemari. Aku sudah mengabarinya lewat Radio Komunikasi pagi tadi." Lucia menjawab.


"Dia berada di wilayah penampungan beberapa hari terakhir. Karena kita memang akan memulai Rencana Kerja memetakan wilayah perbatasan timur dengan tanah bebas Azure," lanjut pemimpin muda itu menjelaskan.


"Sepertinya pekerjaan dalam negeri kerajaan ini tidak terusik dengan adanya peperangan di sekitarnya. Bagus sekali." Aksa berucap jujur. Dan merasa sedikit terkesan.


"Sekarang beristirahatlah kalian. Besok akan jadi hari yang cukup menyibukan buat kalian," ucap Lucia kemudian mencoba menyudahi pembicaraan.


"Baik, Yang Mulia." Nata menjawab.


"Kalau begitu aku permisi dulu," ucap Lucia seraya berdiri dari kursinya. "Nona Lily," lanjutnya kemudian berpamitan kepada Lily.


"Hati-hati di jalan Yang Mulia," balas kelinci mungil itu dari belakang Aksa dan Nata.


"Memang Jean kemana? Aku tidak melihatnya?" Aksa bertanya saat ia mengantar Lucia keluar tenda.


"Kau tidak akan melihatnya dalam waktu dekat ini. Karena saat ini dia sedang berada di garis depan." Lucia menjawab.


"Oh, begitu." Aksa mengangguk paham.


"Sekali lagi, selamat datang," ucap Lucia kemudian. "Baiklah, aku pergi dulu," lanjutnya lagi seraya menaiki Kereta Besi yang berada tepat di depan pintu tenda tersebut.


.


"Lalu bagaimana dengan kelanjutan dari rumus pada Carbon-alloy dari masa depan itu, Aks?"


Nata dan Aksa lanjut membicarakan permasalahan lain setelah kepergian Lucia.


"Itu disamping simbol energi, simbol kuantitas, dan simbol variable ruang yang sudah kita tahu, simbol terakhir yang berbentuk seperti pusaran itu besar kemungkinan adalah penahan Aliran Jiwa. Yang berarti semacam Transistor untuk kekuatan Sihir." Aksa menjawab dengan penjelasan.


"Apa itu faktor yang selama ini tidak kita ketahui?" Nata seperti sedang bertanya pada diri sendiri.


"Berarti apa kita bisa mulai mencobakannya ke Alat Pemecah Partikel?" tanyanya lagi kepada Aksa kali ini.


"Ya, bisa. Rafa akan membantu mengaktifkan bagian yang berhubungan dengan Aliran Jiwa nya." Aksa menjawab.


"Mungkin kita bisa lakukan besok sore setelah selesai dengan semua hal, bagaimana menurutmu?" Nata menyarankan.


"Kurasa ide yang bagus," jawab Aksa kemudian.


Dan tak lama setelah itu Luque dan Rafa pun kembali. Namun mereka tidak datang sendirian. Ada Trio Pemburu dan beberapa anggota Bintang Api yang ikut serta karena tanpa sengaja bertemu ketika sedang berada di Kota Selatan.


Kedatangan mereka itu kemudian berujung pada acara minum-minum hingga dini hari.

__ADS_1


-


__ADS_2