
"Lalu bagaimana anda sekalian bisa tahu kami berada di tempat ini?" tanya Nata melanjutkan perbincangan.
"Pasti karena ini," jawab Lily sambil menunjuk ke sebuah liontin kecil yang menggantung di samping tas pingganya.
"Ya benar. Aku melacak Aliran Jiwa benda itu." Yvvone membenarkan tebakan Lily.
"Apa itu Sihir Penanda?" Ganti Nata yang bertanya menebak.
"Benar." Yvvone mengangguk kecil. "Primaval dan Nona Rafa juga memilikinya. Agar mempermudahkan ku untuk mencari. Apa kalian juga mau?" lanjutnya dengan tawaran.
"Iya. Aku mau," sahut Aksa tanpa jedah berpikir. "Ini kayak GPS lokasi ga, sih? Jadi kalau aku hilang kalian bisa menemukan keberadaanku," lanjutnya yang kembali terlihat bersemangat.
"Baiklah, nanti akan kusiapkan untuk kalian berdua," jawab Yvvone kemudian.
"Lalu ada keperluan apa, sampai jauh-jauh mencari kami?" Nata kembali bertanya kepada Yvvone.
"Ya untuk meminta kalian membetulkan Smartphone itu. Sudah tiga tahun ini aku tidak bisa menggunakannya. Padahal ada banyak hal yang ingin aku simpan dalam wujud gambar dengan benda itu," jawab Yvvone menjelaskan.
"Bila hanya untuk itu mengapa datang beramaian seperti sekarang?"
"Oh, itu karena kami baru saja selesai mengadakan pertemuan di Hutan Tua sana. Dan mereka memaksa ikut karena penasaran dengan kalian," jawab Aeron mungil itu lagi.
"Penasaran dengan kami?" Nata terlihat mengeryitkan dahinya.
"Mereka ingin melihat seperti apa manusia yang sampai bisa dijadikan Tuan oleh Nona Lily dan Realn legenda Valastrum," jelas Yvvone kemudian.
"Lalu setelah melihat kami, bagaimana menurut kalian?" sahut Aksa dengan pertanyaan. "Menawan, bukan? Ke dewa-dewa an, bukan?" Terlihat pemuda itu menyisir rambutnya dengan tangan.
"Seperti yang sudah ku ceritakan pada kalian sebelumnya," ucap Lily mengganti topik pembicaraan dan mengacuhkan Aksa. "Jadi selama kalian tidak ada, kami mulai membentuk kelompok untuk memantau pergerakan orang-orang yang tengah mengumpulkan gelang-gelang Scion itu."
"Dan kami sering melakukan pertemuan di pemukiman Yllgarian di Hutan Tua sana. Hanya saja setelah kalian kembali aku jadi tidak bisa mengikutinya. Aku hanya akan menerima kabar dari mereka," lanjut kelinci mungil itu kemudian.
"Begitu ternyata." Nata mengangguk paham.
__ADS_1
"Nah, sekarang giliranku yang bertanya. Kemana saja kalian selama lima tahun ini?" Yvvone kembali mengambil alih dengan pertanyaan.
"Ceritanya cukup panjang, Nona Yvvone." Nata menjawab.
"Jadi akan jauh lebih baik, kalau kita lanjut sambil makan siang," sahut Aksa dengan cepat. "Aku jamin kalian pasti belum pernah memakan makanan yang kami bawa," ucapnya lagi seraya bangkit berdiri.
"Apa kalian membuat hal baru lagi?" tanya Yvvone yang terlihat penasaran. "Memang sudah berapa lama kalian kembali?"
"Sepuluh bulan kurang lebih," balas Aksa sebelum menghilang di balik pintu.
-
-
"Sulit dipercaya Anda berdua datang bersama Mahan Staan yang keberadaannya dianggap mitos itu," ucap Murrel seraya menggeleng tidak percaya.
Mereka baru saja selesai mendengar cerita dari Aksa dan Nata secara lengkap. Mulai dari awal tiba di Ceruk Bintang, sampai kejadian melompati waktu dan tiba di lima tahun ke depan.
Orang-orang baru itu terlihat tidak ingin percaya mendengar sepak terjang Aksa dan Nata selama ini. Bahkan setelah sebelumnya juga dibuat terkesan dengan makanan-makanan siap saji yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
"Aku tidak akan percaya bila tidak melihat sendiri fisik kalian yang tidak berubah sama seperti sang Primaval." Yvvone menambahi.
"Tunggu sebentar, tadi kalian bercerita bahwa kalian meninggalkan buku pengetahuan di masa itu?" Kali ini Solas yang bertanya. Terlihat Elf itu begitu penasaran.
"Benar." Aksa menjawab cepat.
"Buku seperti apa itu?" tanya Solas dengan sama cepatnya dan terlihat serius. Yang membuat Nata dan Aksa merasa sedikit terkejut dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba itu.
"Solas itu sama sepertimu, Aks. Ia tertarik dengan buku dan gulungan," ucap Yvvone memberi tahu. "Ya, lebih tepatnya sih marga Rhafie secara umum memang tertarik dengan buku dan gulungan," tambahnya kemudian.
"Begitukah?" Aksa tiba-tiba saja terlihat lebih bersemangat. "Buku itu ku tulis sendiri. Sebuah katalog sih lebih tepatnya. Aku punya salinannya bila anda tertarik untuk membacanya, sebentar," ucapnya cepat yang kemudian berdiri dan meninggalkan ruang makan tersebut.
"Aksa memang seperti itu. Lama kelamaan kalian akan terbiasa," sahut Nata sebelum yang lain sempat mengatakan sesuatu. "Lalu bagaimana keadaan orang-orang yang tengah mencari gelang Scion itu?" lanjutnya kemudian dengan pertanyaan merubah topik.
__ADS_1
"Saat ini mereka sedang bersembunyi dari pantauan kami. Setelah terakhir terlihat, mereka menerobos perpustakaan besar di pemukiman marga Rhafie, untuk mencuri salah satu Grimore yang ada di sana," jawab Yvvone dengan rinci.
"Apa mereka sudah mendapatkan seluruh gelang dan permatanya?" Nata bertanya lagi.
"Hanya tinggal satu permata yang tersisa. Yang disimpan di pemukiman marga Azuar di ujung timur Elder." Yvvone menjawab.
"Kemarin kami merasakan Aliran Jiwa yang meluap dari arah tanah bebas Azure saat berada di wilayah Lighthill," ucap Lily kemudian. Gadis kelinci itu baru saja teringat akan hal yang ia rasakan ketika sedang berada di Kota Randon. "Apa kau tahu sesuatu tentang hal itu? Apakah ada hubungannya dengan Marga Azuar?" tanyanya kemudian.
"Entahlah, aku tidak mendengar apapun tentang hal tersebut," balas Yvvone. "Tapi sekarang ini Kanna sedang menuju ke pemukiman Azuar. Kita tunggu saja kabar darinya," ucap gadis Elf itu bersamaan dengan munculnya Aksa dari balik pintu dengan sebuah buku di tangannya.
"Ini bukunya. Aku menyalin isinya sama persis dengan katalog yang ku tinggal." Aksa menyerahkan buku bersampul kulit binatang berukuran satu setengah jengkal pria dewasa, dengan tebal satu kepalan tangan itu kepada Solas.
Setelah menerimanya, Solas segera membuka buku tersebut dan mulai membacanya. Namun tak lama kemudian wajahnya mulai berubah.
Sekarang ia mulai membuka halaman buku tersebut dengan lebih cepat. Dan mulai membaca hanya di bagian-bagian tertentu saja dari halaman tersebut. Seperti sedang memastikan sesuatu.
Terlihat yang lain mulai kebingungan melihat sikap Rhafie muda itu.
"Kau kenapa, Sol?" tanya Ymon yang tampak kuatir melihat tingkah Solas tersebut.
"Ini tidak bisa dipercaya." Solas masih membuka halaman-halaman buku tersebut sambil menunjuk ke beberapa tempat seolah ia sedang menyamakannya dengan hal lain.
"Apanya yang tidak bisa dipercaya?" Kali ini Yvvone yang bertanya karena penasaran. Sama penasarannya dengan yang lain.
"Apa anda tertarik dengan ilmu pengetahuan, atau terkesima dengan tulisanku yang rapi dan indah itu, Tuan Solas?" Aksa juga terlihat penasaran dan tidak sabar melihat tingkah Elf itu.
"Bukan, bukan itu. Ini, tulisan ini." Kembali Solas menjedah sambil kemudian menatap wajah-wajah di sekitarnya seolah tidak percaya. "Tulisan ini sama seperti yang ditulis dalam Mahan Gyaan."
"Apa itu?" Yvvone dan Nata bertanya nyaris bersamaan.
"Mahan Gyaan adalah pengetahuan dari Mahan Staan yang mendasari kebangkitan peradaban Ninue dan Pharos di tanah Rhapsodia, 400 tahun yang lalu." Solas berusaha untuk menjelaskan.
"Maksudmu?" Semua orang tampak terkejut dengan dugaan mereka masing-masing setelah mendengar ucapan Solas itu tadi.
__ADS_1
-