Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
06. Fase Berikutnya


__ADS_3

"Saya ulangi, Pasukan kita telah berhasil mengambil alih pertambangan di Pegunungan Trava." Suara Helen itu terdengar di setiap Pengeras Suara di seluruh kerajaan Rhapsodia.


Dan seketika itu juga semua orang bersorak gembira mendengar kabar keberhasilan tersebut.


Ucapan Helen yang langsung dari Pegunungan Trava itu memang sengaja disiarkan ulang keseluruh penjuru wilayah. Disamping untuk mengabarkan perkembangan situasi terkini, juga sekaligus meningkatkan semangat para penduduk.


.


"Sepertinya hari ini akan jadi hari yang penuh warna buat Augra dan juga Vistralle," ucap Aksa di tengah-tengah sarapannya di dalam tenda.


Suara Helen masih terdengar dari sebuah radio kecil di atas meja di ujung ruangan.


"Tak kusangka akan secepat ini. Padahal mereka baru saja berangkat siang kemarin," ucap Luque yang duduk disebelah Aksa.


Pagi itu mereka sarapan bersama dengan lebih banyak orang di dalam tenda tersebut. Ada Couran, Haldin, Matyas, Marco, dan Val. Disamping penghuni asli tenda tersebut.


Itu karena mereka akan segera mengerjakan sesuatu setelah ini.


"Kan sudah pernah kubilang bahwa mereka pasti tidak akan memprioritaskan penjagaan wilayah yang jauh dari tempat kita," ucap Aksa yang siap menyendokan makanan terakhirnya ke dalam mulut.


"Benar. Malah justru setelah inilah peperangan kita melawan Augra yang sebenarnya baru akan dimulai," sela Nata menambahi.


"Mereka pasti akan berusaha mengambil alih pertambangan itu dengan mengirim lebih banyak prajurit." Kali ini Matyas yang menambahi.


"Benar juga. Mana setelah ini kita akan mengirim para pekerja, penambang, dan penyihir pembangun untuk memulai bekerja ditempat itu. Aku jadi kuatir," tambah Couran yang sudah selesai dengan porsi makannya.


"Tenang saja, Tuan Couran. Serahkan semuanya pada ku. Karena Utusan Dewa ini akan turun tangan langsung untuk menghadapi pasukan Augra tersebut," sahut Aksa dengan bangga, sambil membusungkan dadanya.


"Kau, Aks? Kau akan ikut menuju ke sana dan berperang?" terdengar Couran tak percaya mendengar ucapan Aksa barusan. Haldin, Matyas, dan Marco juga terlihat tidak percaya meski tidak berkata apapun.


"Tuan Couran sepertinya lupa tentang siapa aku ini sebenarnya. Aku ini adalah, U-tus-san-de-wa," ucap Aksa seraya mengejakannya dengan berlebih kepada Couran.


Sementara Couran hanya menggeleng pasrah.

__ADS_1


"Tak perlu kuatir. Selama kita memiliki lampu-lampu itu, dan juga Tesla Coil yang baru selesai ku buat kemarin, pihak Augra pasti akan berpikir dua kali untuk melakukan serangan," tambah Aksa kemudian.


"Apa maksudmu menara dengan lilitan tembaga dan bola besi di bagian ujungnya itu adalah sebuah senjata?" Couran terlihat kembali terkejut.


"Bagaimana Anda bisa melupakan hal penting, Tuan Couran? Bahwa sejatinya Ilmu Pengetahuan itu adalah senjata," jawab Aksa ringan seraya membereskan tempat makannya.


"Terserah kau sajalah."


"Dan kapan kau akan berangkat, Aks?" Kali ini Luque yang bertanya, sembari membantu Aksa berberes.


"Nona Elaine dan Trio Pemburu sudah bersiap di Kota Tengah sekarang ini. Aku akan ikut dengan rombongan mereka, dan berangkat siang ini juga setelah Kapal Udara tiba." Aksa menjawab seraya beranjak menuju tempat cuci piring yang baru saja dibuat tiga minggu yang lalu.


"Padahalah aku juga ingin sekali ikut." Terlihat Luque menekuk wajahnya.


"Kita masih punya banyak tugas di Wilayah Timur, Nona Luque," sahut Rafa kemudian.


"Benar. Lagian bukannya kau bosan bila naik Kapal Udara di atas awan?" Aksa sudah terlihat kembali duduk dengan segelas minuman hangat di tangannya.


"Tapi, aku jadi kuatir bila berpisah jauh denganmu lagi," sahut Luque bertindak sok manja di sebelah Aksa. Yang membuat semua orang terlihat canggung mendengar ucapan tersebut.


"Tidak perlu merasa kuatir, Nona Luque. Aksa pergi bersama Lily." Nata mencoba meyakinkan Luque.


"Baiklah kalau begitu, ayo kita mulai mengemasi properti panggung kita," sahut Aksa kemudian seraya berdiri dari tempat duduknya. "Karena ada pertunjukan yang harus kita mainkan," tambahnya dengan senyum mengembang.


-


"Jadi bagaimana lampu-lampu itu bisa menyala dengan sangat terang? Pertanyaan yang bagus," ucap Aksa kepada Trio Pemburu saat mereka sudah mulai mengangkat barang-barang bawaan ke atas Kapal Bherunda yang baru saja mendarat siang itu.


"Itu karena arus listrik akan merangsang gas Merkuri di dalam tabung kaca untuk menghasilkan sinar Ultraviolet gelombang pendek. Yang kemudian menyebabkan campuran material Fluorescent di bagian dalam lampu yang berwarna putih-putih itu bersinar," jelas Aksa dengan bersemangat.


"Flurasen?" Deuxter mengulangi kata asing yang barus saja ia dengar itu.


"Maksudnya campuran dari gerusan Coral dan bebatuan tambang." Nata mencoba menjelaskan dengan lebih sederhana.

__ADS_1


"Oh, jadi untuk itu, kenapa Anda minta Yllgarian dari Klan Squam di pesisir tenggara untuk mencari Coral?" Loujze mengangguk kecil seolah baru saja memahami sesuatu.


"Tapi beberapa lampu yang akan dipasang di Kapal Udara ini tidak memiliki kabel tembaga untuk menghubungkannya pada generator listrik. Lalu bagaimana tadi lampu-lampu itu bisa menyala?" Kali ini Huebert yang bertanya terlihat penasaran.


"Hahaha... itu benar. Mereka memang tidak memerlukan kabel. Karena lampu Electrodeless itu memang Wireless," ucap Aksa yang terlihat kembali membusungkan dadanya. "Tiang Coil disana itulah sumber dari semua keajaiban tersebut," tambahnya seraya menunjuk sebuah tiang besi setinggi dua setengah tinggi pria dewasa, yang dipenuhi lilitan tembaga, dan terdapat sebuah bola logam di antara gelang-gelang besi di bagian atasnya. Yang kini sedang di pasang oleh para pengerajin di bagian geladak depan, tak jauh dari haluan kapal tersebut.


"Itu benda apa?" Loujze bertanya.


"Sebuah Osilator Frekuensi Radio yang menggerakkan Transformator resonansi Air-Cored Double-Tuned untuk menghasilkan tegangan tinggi pada arus rendah. Yang diciptaan oleh dewa bernama Nikola Tesla," jelas Aksa masih dengan penuh gairah.


"Seharusnya aku tidak bertanya." Terlihat Loujze menyesal telah bertanya.


"Ini baru yang namanya breakthrough. Membuat Tesla Coil hanya untuk acara sulap," sahut Nata kemudian.


"Jangan sarkas kau, Nat. Tesla Coil memang sebuah keajaiban di bidang science. Dan cocok ditempatkan dalam dunia fantasy steam punk seperti ini." Aksa terdengar tidak terima dengan ucapan sahabatnya itu.


"Ya, terserah kau lah."


"Hei, kau sendiri yang menginginkan untuk membuat Kapal ini jadi Mystical Beast. Bola plasma di bagian atasnya itu akan membuat Kapal Udara ini terlihat lebih Divine begitu menyala di balik awan."


"Baik-baik, aku mengerti," ucap Nata mencoba mengakhiri perdebatan. Bersamaan dengan mendekatnya seorang awak kapal ke arah mereka.


"Tuan, Kapal Udara sudah siap untuk berangkat," ucap awak kapal itu memberi tahu Aksa dan Nata.


"Baiklah kalau begitu. Hati-hati, kalian semua," ucap Nata kemudian sambil menepuk pundak sahabatnya. "Jaga diri dan jaga Aksa, Lily," tambahnya lagi kepada Lily yang sedang duduk di atas peti di pingir geladak tak jauh dari tempat mereka berdua berdiri.


Yang hanya dijawab dengan anggukan kecil dan senyuman manis oleh kelinci mungil itu.


"Ah, semua ini jadi mengingatkanku saat berada di bandara pas mau mudik. Malah kagen bumi jadinya," ucap Aksa kemudian dengan raut wajah memelas.


"Sudah, ga usah melo-lebay gitu. Kita segera selesaikan semua ini, dan mulai mencari cara untuk mengatasi Mesin Pemecah Partikel itu," ucap Nata yang tidak hanya menyemangati Aksa, tapi juga dirinya sendiri.


-

__ADS_1


Dan tak lama kemudian Kapal Udara yang mengangkut Aksa, para pekerja, dan penambang untuk dibawa ke Pertambangan Trava itu berangkat. Bersama mereka juga ikut beberapa kompi pasukan Yllgarian Kelelawar dan Macan Kumbang.


-


__ADS_2