
Sehari setelahnya Nata mengadakan pertemuan dengan Joan di Kota Tengah Wilayah Pusat.
"Senang bisa bertemu lagi dengan anda, Tuan Nata," ucap Joan begitu duduk di meja di hadapan Nata di Ruang Pertemuan Kota Tengah.
"Dalam kondisi sekarang ini, seharusnya aku yang merasa senang bertemu anda lagi. Karena berarti aku memerlukan bantuan anda," jawab Nata sambil menuangkan minuman ke dalam gelas kosong di hadapan Joan.
"Tak perlu sungkan, tuan Nata," balas Joan seraya mengangkat gelasnya yang sudah penuh terisi sebelum kemudian meneguknya sedikit.
"Bagaimana kabar putra anda?" ucap Nata lagi berbasa-basi.
"Terima kasih pada anda, saat ini ia bahkan sudah mulai menghadiri sekolah darurat yang didirikan di Kota Gala bersama anak-anak lain dari wilayah Eblan," jawab Joan dengan jujur.
"Untuk yang itu aku tidak bisa menerimanya. Karena jelas banyak orang yang bekerja sangat keras untuk mewujudkan hal tersebut, dan bukan aku," balas Nata.
Perempuan Narva dengan rambut disanggul sederhana itu tertawa kecil. "Saya tahu anda pasti akan menjawab seperti itu. Tapi mau bagaimana pun juga, Kota Gala dan wilayah Eblan secara keseluruhan tidak hancur saja, saya sudah bersyukur. Apa lagi kini rencana kerja untuk mengentaskan masalah kelaparan sudah mulai berjalan," ucapnya kemudian
"Ya, syukurlah semua berjalan sesuai rencana," balas Nata yang kemudian meneguk minuman dalam gelasnya
"Lalu bantuan apa yang bisa saya berikan kali ini?" lanjut Joan dengan pertanyaan langsung tanpa basa-basi.
"Ya, untuk itu." Nata meletakan gelas minumnya. "Apa anda memiliki jaringan informasi di wilayah Augra dan Joren?" lanjutnya kemudian dengan pertanyaan.
"Ya, saya punya jaringan yang cukup kuat di wilayah kedua kerajaan itu. Namun tertidur selama 5 tahun terakhir ini sejak kerajaan Urbar jatuh," jawab Joan menjelaskan tanpa bertele-tele.
"Apa masih mungkin untuk membangunkan jaringan itu lagi?" tanya Nata.
"Saya rasa masih memungkinkan. Apa yang tuan Nata inginkan dengan jaringan informasi tersebut?" Joan terlihat mulai penasaran.
"Untuk Kerajaan Augra, apa mungkin kita bisa mendapatkan informasi tentang seluk beluk istana mereka?" tanya Nata langsung tanpa basa-basi.
"Maaf? Istana Kerajaan Augra?" Joan mengangkat alis dan meninggikan nada bicaranya karena sedikit terkejut atas permintaan Nata tersebut.
"Benar." Pemuda itu menjawab cepat.
"Maaf sekali lagi, tapi apa mungkin anda berencana untuk menyerang istana Kerajaan Augra, tuan Nata?"
"Bukan menyerang. Kita hanya akan mengantarkan surat pengajuan perundingan untuk pemimpin Kerajaan Augra secara pribadi," balas Nata mengoreksi ucapan Joan.
Joan menatap mata Nata dengan sedikit gusar untuk beberapa saat sebelum kemudian menghembuskan nafas panjang. "Anda serius ternyata. Saya tahu tujuan dari rencana tersebut. Tapi apakah itu tidak terlalu beresiko, tuan Nata?" ucapnya kemudian. "Ya, kecuali anda sangat percaya diri dengan siapapun yang bakal anda utus nantinya."
"Ya, aku sangat percaya diri dan yakin benar dengan mereka yang ku utus nanti," jawab Nata ringan.
"Baiklah kalau begitu. Saya akan mengusahakannya. Tapi mungkin akan perlu cukup banyak biaya. Karena kita harus melakukan suap ke beberapa pihak." Joan menyanggupi permintaan Nata dengan beberapa kondisi.
__ADS_1
"Mengenai biaya tersebut, anda bisa bicarakannya dengan tuan Orland. Aku akan memberikan laporan tentang hal ini kepada beliau."
"Baik, saya mengerti. Lalu untuk wilayah Joren?" Joan langsung menyambungnya dengan pertanyaan lain.
"Ya, untuk yang Joren aku tidak menginginkan informasi. Tapi lebih ke menyebarkan informasi. Apakah itu mungkin?" jawab Nata kemudian.
"Maksud anda seperti menyebar rumor?" Joan memastikan.
"Ya, kurang lebih." Nata menjawab. "Tapi ini lebih ke menyebarkan gagasan kepada penduduk atau tokoh penting di wilayah yang berdekatan dengan wilayah Cleyra atau Solidor."
"Gagasan?" Joan tampak tidak paham dengan maksud pemuda itu.
"Benar. Gagasan bahwa wilayah kita makmur dan maju. Dan akan menguntungkan bila melakukan kerjasama dengan kita," jelas Nata kemudian.
"Dan apa tujuan dari semua hal tersebut? Apa hal tersebut bisa menimbulkan kekacauan di wilayah mereka?" Joan masih terlihat tidak mengerti dengan tujuan dari rencana Nata tersebut.
"Bukan. Tujuan awalnya adalah agar mereka melakukan tekanan pada kerajaan. Karena setelah ini kita juga akan mengajukan perundingan kepada pihak Joren. Tapi bila pihak kerajaan tidak menghiraukan suara mereka, maka..."
"Anda berniat membuat mereka memberontak dan masuk menjadi bagian dari wilayah kerajaan ini dengan suka rela?" potong Joan yang mulai paham dengan tujuan dari rencana pemuda itu.
"Benar sekali. Karena kita juga perlu membuka jalur untuk perdagangan ke wilayah barat. Ke kerajaan dan wilayah feudal di balik wilayah Joren," jawab Nata menjelaskan.
"Jadi memiliki wilayah yang langsung menyambung dengan wilayah barat akan jauh lebih baik dibanding hanya mengandalkan jalur perdagangan laut saja," lanjutnya lagi.
"Aku tahu anda bersemangat tentang hal ini. Tapi jangan terlalu memaksakan diri," balas Nata sambil kembali mengangkat gelas minumnya.
"Anda menasehati saya dengan kata-kata yang harusnya lebih tepat untuk meansehati anda sendiri, tuan Nata," sahut Joan mencoba mengembalikan ucapan Nata.
"Hahaha... Anda benar. Itu memang ucapan Nona Luque yang selalu diucapakannya pada kami berdua."
Dan kemudian perbincangan mereka berdua pun berlanjut hingga jam makan siang.
-
Sementara itu di bar tempat Luna bekerja, Aksa juga tengah mengadakan pertemuan lanjutan tentang pembangunan wilayah selatan dengan Dirk dan beberapa orang yang nantinya akan diposisikan sebagai penanggung jawab masalah ekonomi di Wilayah Selatan.
.
"Di luar mengatur ulangan pembangunan di tiap wilayah, kita juga harus mulai membuat sistem," ucap Aksa setelah melakukan pengarahan pendek sebelumnya.
"Sistem?" Dirk bertanya dari meja paling dekat dengan posisi Aksa berdiri.
Total ada 8 orang termasuk Aksa dan Dirk dalam pertemuan tersebut. Mereka tidak duduk membuat lingkaran di depan satu meja besar, karena memang Aksa menginginkan pertemuan yang tidak bersifat formal.
__ADS_1
Bahkan Dirk membawa putra sulungnya Herman yang berusia 17 tahun untuk mengikuti pertemuan tersebut.
Mereka duduk menyebar di meja-meja dalam bar yang masih tutup itu. Menatap ke arah Aksa yang berdiri di depan sebuah papan tulis besar.
"Pertama kita akan membuat Koprasi Tani." Aksa menuliskan ucapannya di atas papan tersebut dengan kapur yang ia pegang.
"Apa itu Tuan Aksa?" Dirk bertanya.
"Kita akan memberi pinjaman entah berupa lahan ataupun uang kepada para petani yang ingin bercocok tanam." Aksa mulai menjelaskan.
"Kemudian kita akan mengadakan pelatihan cara menanam dengan benar untuk mereka yang mengambil pinjaman tersebut. Sebagai penjamin keberhasilan panen mereka.
"Dengan begitu kita tidak perlu terlalu kuatir mereka tidak dapat mengembalikan pinjaman mereka."
Beberapa orang terlihat mencatat setelah mendengar penjelasan Aksa tersebut. Namun tidak ada orang yang bertanya, yang berarti mereka semua paham dengan maksud ucapan Aksa.
"Setelah itu kita juga akan mengadakan pasar lelang, atau lelang panen." Aksa kembali menulis di atas papan.
"Apa lagi itu?" Dirk bertanya saat ia tidak paham dengan ucapan Aksa.
"Baik petani, peternak, atau bahkan nelayan, akan kita buatkan fasilitas untuk menemukan pembeli." Aksa memulai penjelasannya.
"Dengan begitu mereka tidak perlu pihak ketiga. Dan karenanya harga pangan di Wilayah Selatan akan perlahan menurun, tapi para petani, peternak, dan nelayan tidak akan menerima imbas dari turunnya harga tersebut.
"Jadi mereka bisa meningkatkan kualitas hidup mereka dan produktifitas mereka akan meningkat secara perlahan," tutup Aksa kemudian.
Terdengar setelahnya beberapa orang saling berbicara dan mendiskusikan tentang hal tersebut dengan cukup bersemangat dan antusias. Yang membuat Aksa cukup senang melihatnya.
"Kedepannya nanti kita juga akan mulai menjangkau wilayah-wilayah di selatan Augra melewati tanah bebas Azure," ucap Aksa kemudian sambil berjalan menuju meja bartender untuk mengambil minumannya.
"Dengan begitu Balai Pertukaran Jasa di Wilayah Selatan juga akan mulai berjalan karena mendapat tawaran untuk melakukan pengamanan terhadap para pedagang tersebut.
"Dan bila hari itu tiba, maka aku akan memberikan kalian seminar tentang Management and Marketing," tutup Aksa sebelum kemudian meneguk minumannya.
"Menejemen en marketing?" Dirk mewakili yang lain bertanya.
"Gampangnya adalah cara agar barang-barang kita bisa laku terjual di luar sana," jawab Aksa kemudian.
"Tapi tidak dengan metode lotre atau jual CD pakai salaman. Bukan itu. Kita akan membuat tren pasar. Menggiring opini masyarakat terhadap hal yang akan kita jual. Seperti dengan bantuan orang terkenal atau hal yang memiliki citra baik di mata masyarakat.
"Tapi nanti saja bila saatnya tiba," tutup Aksa yang membuat mata-mata orang yang ada di tempat itu berbinar penuh semangat dan tak sabar menatinya.
-
__ADS_1