
"Aku baru saja mendapat kabar dari Helen dan Pasukan Elit yang berhasil menghadang pasukan Saronia dan menangkap Dux Eul. Kini mereka sudah bergabung dengan pasukan Yllgarian Tuan Masserati di Kota Ulry," ucap Lucia saat ia dan Jean sedang makan siang bersama Aksa dan Nata di kediaman sementaranya.
"Saya juga mendengar laporan tersebut, Yang Mulia," jawab Nata di tengah acaranya memotong daging panggang di atas piringnya.
"Kabar serupa juga datang dari Vossler yang melakukan pengejaran pasukan Feymarch menuju Kota Meso." Kali ini Jean yang ikut menambahi. "Meski pada akhirnya Dux Austin berhasil melarikan diri, namun seluruh pasukannya berhasil dikalahkan. Sekarang dia dan Nona Versica sudah berada di Kota Meso bersama Nona Corvette," lanjutnya setelah menelan makanan dalam mulutnya.
"Tidak ada pasukan lain yang membantu mereka?" Nata kembali bertanya.
"Tidak ada," jawab Jean cepat.
"Itu berarti pertanda bahwa Vistralle tidak memiliki pasukan cadangan," ucap Nata kemudian. "Ya, kecuali bila Tyrion memberinya bantuan," tambahnya lagi.
"Ya, itu benar." Lucia terlihat setuju dengan ucapan Nata. Dan mulai menyeka mulutnya dengan serbet setelah meletakan pisau dan garpunya di atas meja, sebelum kembali berbicara. "Dan menurut laporan dari jaringan mata-mata Nona Joan, Tyrion memang mengirimkan pasukan ke Ceodore. Namun sepertinya pasukan bantuan itu akan sangat menyulitkan kita."
"Kenapa begitu, Yang Mulia?" Nata terlihat penasaran.
"Karena Tyrion mengirimkan Serikat Petarung Lycan, Bulan Darah. Serikat mereka terkenal buas dan tak kenal rasa takut," jawab Lucia kemudian.
"Dahulu di awal-awal penyerangan wilayah ini, Serikat itu berhasil menghabisi hampir seratus prajurit kita meski dilengkapi dengan Senjata Api." Jean mengimbuhi. "Dan mereka hanya berjumlah sekitar 30 saja."
"Sama seperti jumlah Pasukan Elit kita," celetuk Aksa tiba-tiba.
"Apa kau akan memanggil Pasukan Elit untuk menghadapi mereka di medan perang nanti, Nat?" Kini gilaran Lucia yang mengajukan pertanyaan.
"Tidak, Yang Mulia. Tugas mereka saat ini adalah melindungi wilayah Saronia dari kemungkinan serangan Pasukan Augra," jawab Nata cepat.
"Lalu, apa kau sudah memikirkan cara untuk mengalahkan para Lycan itu?" Lucia kembali bertanya.
"Ya, sepertinya saya punya. Namun sebelum itu, saya harus menghubungi Tuan Evora dan Tuan Matyas terlebih dahulu." Nata menjawab setelah sempat berhenti sebentar untuk berpikir.
"Baik. Lakukan sebelum aku menyusul Caspian besok," balas Lucia tanpa mempertanyakan maksud ucapan Nata lebih rinci.
"Baik, Yang Mulia." Nata menjawab tegas.
-
Sehari kemudian beberapa peti kayu berisi pesanan Nata yang dikirim oleh Couran dari wilayah Pusat, tiba di Kota Varun dengan Kereta Besi sebelum siang. Tepat sebelum semua persiapan Lucia selesai dikemas.
Dan tak lama setelah itu, Lucia, Jean, beserta pasukan khususnya mulai berarak keluar dari Kota Varun menuju ke wilayah Coedore untuk bergabung dengan pasukan utama pimpinan Caspian.
__ADS_1
Sementara Aksa dan Nata tetap tinggal di Kota Varun untuk mengurusi pembangunan jalur kereta ke wilayah Saronia dan Feymarch. Juga untuk memastikan bahwa pengiriman perbekalan makan dan obat-obatan ke medan perang berjalan dengan lancar.
.
Tak lama setelah keberangkatan Lucia dan pasukannya, Rafa dari wilayah Pusat menghubungi Aksa dengan Radio Komunikasi.
"Oh, apa kabar Ra?" sapa Aksa setelah mengangkat gagang mikrofon dari tempatnya.
Aksa bersama Nata, Lily, dan Val sedang berada di salah satu tenda di alun-alun kota, hendak mengadakan pertemuan dengan Orland dan Amithy perihal pembangunan ulang Kota Varun. Dan juga kota-kota lain di wilayah selatan pada umumnya.
"Sebentar, Nona Yvvone ingin berbicara." Terdengar Rafa memberikan mikrofonnya kepada Yvvone.
"Oh, baiklah," balas Aksa kemudian.
"Hai, Aks. Apa Nona Lily ada bersamamu sekarang?" Terdengar suara Yvvone bertanya tanpa basa-basi.
"Ya, Lily, Nata, dan Val ada disini," jawab Aksa cepat.
"Baguslah. Jadi kemarin sore teman kami Kanna baru tiba di wilayah pusat ini dari Hutan Azuar," ucap Yvvone lagi masih tanpa basa-basi. "Dan tampaknya kita terlambat mengantisipasi gerakan para Pencari Gelang Scion itu," ucapnya lagi.
"Apa maksudmu?"
"Apa yang mereka incar?" Kali ini Nata yang bertanya mengambil alih mikrofon dari tangan Aksa.
"Entahlah. Tidak ada yang tahu. Penjaga tidak pernah melihat isi makam leluhur tersebut sebelumnya. Namun tampaknya semua jasad dan peti mati masih ada di dalam makam tersebut," jelas Yvvone kemudian.
"Apakah ada hubungannya dengan Alta Larma?"
"Kemungkinan besar ada. Tapi Azuar tidak ingin membagi informasi dengan kita," jawab Yvvone.
"Lalu apa rencanamu sekarang, Yvvone?" tanya Nata lagi setelah sempat terdiam beberapa saat untuk berpikir.
"Setelah ini kami akan segera menuju ke kota pelabuhan di daratan utara untuk mencegat mereka," balas Yvvone memberitahukan rencananya.
"Karena dengan adanya peperangan di wilayah selatan saat ini, mereka pasti akan memutar lebih jauh ke selatan sebelum kemudian menuju ke barat untuk melakukan penyeberangan ke daratan utara," lanjut Yvvone lagi. "Dan itu berarti kemungkinan besar mereka masih berada di daratan selatan sekarang ini," tutupnya kemudian.
"Jadi kau akan mencegat mereka begitu sampai di daratan utara?" Nata bertanya untuk memastikan.
"Benar. Rencanaku seperti itu. Aku dan yang lain akan menggunakan Kapal Besi dari Kota Pelabuhan di wilayah pusat ini, untuk menuju Kota Zeraza dan Saziba di daratan utara." Yvvone kembali menjelaskan rencananya.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Jangan lupa untuk memberi kabar kepada kami bila ada sesuatu yang penting," balas Nata kemudian.
"Baik. Ya sudah kalau begitu, aku hanya ingin mengabarkan hal itu saja sebelum kami pergi setelah ini." Kembali Yvvone berucap.
"Baiklah, semoga kalian berhasil," balas Nata, dan kemudian komunikasi tersebut terputus.
"Apa mungkin itu ada hubungannya dengan Aliran Jiwa aneh yang kau rasakan saat kita berada di Kota Randon beberapa hari yang lalu, Lily?" Aksa bertanya dengan wajah penasaran kepada Lily yang duduk tak jauh di ujung tenda.
Terlihat kelinci mungil itu terdiam. Seolah sedang berpikir dan mengingat. "Bisa jadi hal itu memang ada hubungannya dengan kejadian tersebut," jawabnya kemudian.
"Semoga mereka bisa mencegah apa pun yang sedang direncanakan orang-orang itu," balas Aksa dengan harapan.
-
Keesokan harinya di wilayah Ceodore, tak lama setelah rombongan Lucia bergabung dengan pasukan Caspian, tampak sekitar seratus tiga puluh prajurit milik Vistralle muncul untuk menghadang.
Bersamaan dengan itu terlihat juga Serikat Petarung Bulan Darah ada di antara pasukan tersebut. Yang tampaknya sudah tidak sabar untuk mengoyak lawan mereka.
.
"Seperti perkiraan, mereka akan melakukan penghadangan pasukan di wilayah sabana ini," ucap Caspian dari atas kuda di sebelah Lucia dan Jean.
"Melakukan peperangan di tanah lapang di luar kota memang pilihan yang paling tepat untuk menghindari kerusakan pada kota," sahut Lucia yang masih mengamati situasi di hadapannya melewati lensa teropong.
"Sepertinya semua perkiraan Tuan Nata benar. Dan itu berarti mereka akan mengerahkan prajurit Lycan itu untuk membuka jalan." Caspian kembali berucap.
"Benar. Dan itu berarti kau dan Pasukan Senjata Apimu yang harus menghadapi mereka." Kali ini Jean yang menanggapi.
"Ya, kurasa akan jauh lebih baik bila sesuatu yang buruk terjadi di awal-awal," ucap Caspian terdengar sedikit kuatir. "Kalau begitu, saya permisi untuk mempersiapkan pasukan dan peralatan tempur, Yang Mulia," tambahnya meminta ijin kepada Lucia.
"Silahkan," jawab Lucia sebelum kemudian Caspian mengarahkan kudanya menuju ke Pasukan Senjata Api berada. "Dan Jean, pastikan kuda-kuda kita terlindung dengan aman saat pertempuran terjadi," tambahnya yang kali ini kepada Jean.
"Baik, Yang Mulia," jawab Jean dengan tegas sebelum memutar kudanya untuk melanjutkan perintah Lucia ke bawahannya.
.
Terlihat Caspian menarik nafas dalam menatap ke barisan prajurit-prajuritnya. "Aku tahu mereka terkenal sebagai binatang buas dan tidak kenal ampun," ucapnya kemudian dengan setengah berteriak. "Tapi, mereka bukan tandingan kita saat ini. Dengan kekuatan yang kita miliki sekarang, kita akan menghabisi para Lycan itu sampai tak bersisa," jedahnya kemudian.
"Jadi dengarkanlah, Rhapsodia. Tidak ada ampun bagi para Lycan itu. Habisi mereka semua!" teriak Caspian kemudian. Yang segera dibalas dengan riuh sorak dari para prajurit.
__ADS_1
-