Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
29. Pergolakan Utara I


__ADS_3

Dua hari setelah pengambilan alih istana Estrinx oleh pasukan Bruixeria Raya. Kini Lugwin dan sisa kekuatannya mulai berkumpul dan membuat markas di Kota Benteng Halmd yang terletak di tenggara wilayah kerajaan Estrinx.


"Seperti perkiraan anda tuan Nata, pasukan besar Bruixeria yang di bawa ke Kotaraja itu memang sengaja untuk mempermudahkan pergerakan mereka mengambil alih wilayah di sekitarnya." Matiue berucap saat ia, Nata, bersama Lugwin dan pejabatnya sedang mengadakan sebuah pertemuan.


"Pilihan tepat membangun markas di kota ini. Setidaknya kita tidak akan terjebak saat pasukan mereka berhasil mendesak. Karena ada kerajaan Rhapsodia di belakang kita." Hans tampak terkesan.


"Rencananya pasukan Rhapsodia akan mengambil alih wilayah pesisir timur di sekitaran kota Esta." Nata memberi informasi.


"Oh, kota itu hanya berjarak 3 hari dari sini," sahut Piere.


"Mungkin akan lebih cepat lagi bila menggunakan Kereta Besi," tambah pria berambut pirang belah tengah itu.


"Wah, sekarang kau sudah bisa membanggakan Kereta Besi itu seolah milikmu sendiri." Hans menyeletuk dengan nada menggoda.


"Tapi memang seperti itu kenyataannya. Kereta Besi memang sangat efektif digunakan untuk perjalanan jarak jauh," balas Piere yang terlihat tidak terima sahabatnya membuat lelucon dari ucapannya.


"Ya, memang benar. Dan juga Kereta Penghancur. Untung saja kita berhasil menyelamatkan semua kereta-kereta itu. Karena hanya dengan kereta-kereta itu kita memiliki kesempatan untuk menyeimbangkan kekuatan melawan jumlah pasukan Sefier." Kali ini Lugwin yang berucap.


"Yang Mulia benar. Dan lagi dari mana mereka mendapatkan sebegitu banyak prajurit untuk digerakan?" Piere ikut berucap.


"Sepertinya itu gabungan dari pasukan Elbrasta dan pasukan Cilum yang ditangkap," respon Hans.


"Mereka bersedia mengikuti Sefier semudah itu? Pasti ada yang tidak beres."


"Memang segala hal tentang pria bernama Sefier itu tidak ada yang beres." Nata menimpali.


"Lalu setelah ini, apa yang akan anda lakukan, tuan Nata?" Lugwin bertanya.


"Setelah ini saya akan kembali ke hutan Azuar, Yang Mulia. Namun saya akan singgah terlebih dahulu di Rhapsodia untuk bertemu dengan Yang Mulia Ratu," jawab Nata.


"Dan setelah ini kita akan kembali berhubungan melalui Telepon Sihir. Jangan segan untuk menghubungi saya atau Aksa bila ada hal genting yang memerlukan bantuan kami," lanjut pemuda itu menambahi.


"Baik tuan Nata. Aku tak akan segan." Lugwin menjawab dengan tersenyum.


"Namun sebelum itu kita perlu membicarakan tentang strategi lain bila ada sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi. Sekedar untuk berjaga-jaga." Nata kembali berucap.


Dan kemudian pembahasan rencana cadangan pun dimulai.


-


Serangan Rhapsodia dalam mengambil alih sebagain wilayah bekas kerajaan Elbrasta berjalan dengan lancar. Karena konsentrasi pasukan Bruixeria kala itu hanya tertuju pada wilayah pemerintahan Estrinx.


Penduduk wilayah Elbrasta pun juga tampak lebih senang dan bersyukur pasukan Lucia lah yang sekarang menguasai wilayah mereka. Disamping gadis itu adalah keturunan langsung dari darah raja Elbrasta, juga karena kebijaksanaannya dalam memimpin.


-


Sementara itu di Wilayah Pusat Rhapsodia.


"Saat ini Daniel Voryn tengah berdiri di depan gerbang istana. Entah bagaimana dia bisa memasuki Wilayah Pusat ini." Orland melapor di ruang kerja Lucia.


"Sepertinya pria itu memiliki mata dan telinga di dalam sini. Karena ia mengetahui bahwa kita telah menempatkan pasukan kita di wilayah bekas kerajaan Elbrasta." Kali ini Cornelius yang berucap dengan dugaan.


"Dan sepertinya para bangsawan itu benar-benar tidak ingin melewatkan kesempatan ini." Orland melanjutkan.

__ADS_1


Lucia pun menghembuskan nafas panjang sebelum kemudian berucap,


"Sepertinya kami memang harus bertemu. Beritahukan ke pria itu. Aku akan mengadakan pertemua dengan seluruh bangsawan utara di wilayah penampungan pengungsi 2 hari lagi. Dan antarkan dia kembali."


"Baik Yang Mulia." Cornelius menjawab cepat.


"Benar-benar memusingkan orang-orang itu." Lucia menggeleng pelan.


"Apa Yang Mulia juga akan membawa Pangeran Alexander?" Orland bertanya penasaran.


"Ya, paman. Kurasa aku harus membawa serta Alexander. Lagi pula Nata akan kembali malam ini. Kita akan berbicara dengannya besok." Lucia menjawab.


"Kalau begitu saya akan segera menghubungi Pangerang Alexander setelah ini," balas Orland cepat.


-


Sore harinya Nata, Lily, dan Val sudah berada di kediaman keluarga Ignus di kota Varun dengan menggunakan Batu Arcane.


Mereka sengaja menuju kota Varun karena Wilayah Pusat memiliki Formasi Sihir Penghalang yang mencegah Sihir Pemindah untuk masuk.


Disamping itu juga karena beberapa hari ke depan Lucia akan mengadakan pertemuan dengan bangsawan Elbrasta, jadi ia juga akan menuju kota Varun besok paginya.


-


-


"Akhir-akhir ini kau tidak seperti dirimu, Nat." Lucia berucap saat tengah berdua bersama Nata selepas sarapan di kediaman Ignus esok paginya.


"Kau terlihat seperti sedang tergesa-gesa," lanjut perempuan itu kemudian.


"Yang Mulia benar. Saya memang sedang tergesa-gesa. Karena sempat merasa ragu dengan penilaian saya," jawab Nata mengakuinya.


"Kau ragu dengan penilaianmu sendiri?" Lucia terlihat tidak mengerti.


"Awalnya saya berpikir Sefier tidak akan bergerak sampai setidaknya 3 bulan lagi. Pemikiran yang saya dapat setelah menilai dari pergerakan situasi di wilayah utara," ucap Nata menjelaskan.


"Namun penilaian tersebut tanpa mengikut sertakan kekuatan yang dimiliki oleh pria itu. Dan karenanya saya tidak berusaha untuk ikut campur dalam situasi wilayah utara, dan menunggu agar kita lebih siap lagi," lanjutnya lagi.


"Sampai kemudian serangan dasyat di istana kerajaan Estrinx kemarin terjadi." Terlihat kesedihan dalam mata pemuda itu.


"Tdak ada yang bisa menduga hal seperti itu." Lucia berucap berusaha untuk menghibur.


"Saya sudah menduganya. Tapi saya memilih untuk mengacuhkannya. Saya sudah memperkirakan kemungkinan Sefier akan mengunakan sihir dari Alta Larma untuk menghadapi persenjataan dan jaringan komunikasi yang kita berikan kepada Kerajaan Estrinx. Saya sudah menduganya...."


"Dan karena itu banyak nyawa yang mungkin bisa selamat, harus mati sia-sia."


"Tapi itu bukan salahmu, Nat."


"Saya sudah tidak lagi menyalahkan diri atas kejadian seperti itu. Saya hanya menyesalkan pemikiran bodoh saya saja Yang Mulia." Nata membalas dengan senyuman getir.


"Maka dari itulah sekarang saya harus buru-buru menjalankan rencana saya yang terlambat saya terapkan. Dan oleh karenanya saya juga mohon untuk Yang Mulia mau mendukung rencana saya ini," lanjut pemuda itu yang mencoba untuk bersikap lebih ceria.


Kemudian terlihat Lucia menghembuskan nafas panjang.

__ADS_1


"Baiklah. Tapi aku tidak janji akan mengikuti rencanamu itu mentah-mentah," lanjut perempuan itu menjawab.


"Terima kasih Yang Mulia."


"Ya, sepertinya sudah waktunya." Lucia berucap setelah menatap arloji di tangannya. "Ayo, yang lain pasti sudah menunggu," lanjutnya seraya bangkit berdiri.


-


"Untuk saat ini kita akan serahkan tugas pengawasan perbatasan wilayah Joren dan Augra kepada Pasukan Elit dibawah Nona Helen. Sementara Pasukan Udara tuan Evora akan bertugas sebagai penjaganya." Nata menjelaskan rencananya di depan para Jendral. Di aula kediaman keluarga Ignus.


"Saya mengerti, tuan Nata." Helen dan Evora merespon nyaris bersamaan.


"Sedang tugas untuk menjaga keamanan di wilayah dalam, akan kita pasrahkan seluruhnya pada Bintang Api. Karena sisa prajurit militer akan mulai kita gerakan." Nata melanjutkan.


"Ya, meski kami akan mengusahakan yang terbaik, namun kami tetap tidak akan dapat menangani seluruh wilayah." Cedrik terlihat sedikit keberatan.


"Benar. Terutama pesisir utara. Kita tidak mungkin bisa menangani wilayah sebesar itu sendirian meski pun armada milik Kapten Anna ikut membantu." Kali ini Margaret, wakil Cedrik, yang ikut angkat bicara


"Saya juga setuju. Lagi pula kami juga tidak akan mampu untuk fokus ke pergerakan kapal lawan dari wilayah Cilum bila kami harus membagi armada untuk menjaga pesisir utara." Nikolai yang kali ini menyahut.


"Saya mengerti kerisauan anda sekalian." Nata menanggapi.


"Karenanya untuk solusi penjagaan wilayah pesisir utara itu, kita perlu menghadang jalur serang pasukan Sefier. Dengan cara mengambil alih sisi barat wilayah Elbrasta hingga kota pelabuhan Zeraza. Bila memungkinkan sampai perbatasan Cilum." Pemuda itu menjelaskan rencananya.


"Ah, kurasa bila bisa seperti itu akan jauh lebih baik." Terlihat ada rasa lega di wajah Cendrik mendengar rencana tersebut.


"Sementara sisi timur juga sama. Kita akan bergerak di sepanjang pesisir timur sampai ke perbatasan kerajaan Estrinx. Hal ini akan membatasi gerak Bruixeria untuk melakukan serangan secara langsung ke sisi timur melalui pantai Sekai." Nata melanjut.


"Lalu bagaimana dengan masalah Batu Pemindah yang mereka miliki? Saat ini hanya Wilayah Pusat saja yang memiliki Pelindung anti Sihir Pemindah. Wilayah yang lain akan rentan dengan serangan mendadak seperti 6 tahun lalu." Caspian bertanya tentang hal yang ia kuatirkan sejak lama.


"Untuk hal itu saya rasa saat ini mereka telah kehabisan persediaan Kristal Arcane. Setelah mereka gunakan untuk melakukan serang mendadak dan besar-besaran ke pinggiran Kotaraja Estrinx beberapa hari yang lalu." Nata menjawab.


"Karenanya saat ini kita masih memiliki waktu untuk memikirkan cara menggatasinya," tambah pemuda itu.


"Namun sebagai pengantisipasian lebih lanjut, kita harus mulai merencanakan untuk mengambil alih pertambangan mineral Arcane milik mereka." Nata masih belum selesai dengan penjelasannya.


"Mungkin kita bisa bekerjasama dengan para pemberontak Cilum yang cukup mengenal wilayah tersebut?" susulnya kemudian dengan gagasan.


"Apa kita masih berhubungan dengan tuan Makari?" Lucia bertanya kepada Caspian.


"Masih Yang Mulia. Setelah ini saya akan meminta Joan mempersiapkan rincian informasi dari kelompok pemberontak tersebut untuk Yang Mulia." Caspian menjawab cepat.


"Baiklah." Lucia mengangguk kecil. "Lalu sekarang masalah dengan para bangsawan itu," lanjut ratu muda itu merubah topik pembicaraan.


"Tampaknya memang sudah saatnya untuk Pangeran Alexander campur tangan." Nata merespon cepat.


"Ya, sepertinya memang sudah waktunya. Meski aku berharap dia tidak turut campur ketika situasi sedang rumit seperti ini," ucap Lucia dengan sedikit berat hati.


"Saya rasa beliau sudah siap untuk hal ini." Nata berucap.


"Dan juga dengan munculnya Pangeran Alexander, aksi kita mengerakan pasukan bisa kita samarkan sebagai 'Gerakan pewaris Elbrasta dalam mengambil kembali wilayahnya'. Jadi kerajaan selatan akan berpikir ulang bila ingin memanfaatkan situasi ini untuk menyerang kita," lanjutnya dengan alasan yang lain.


"Ya, meski aku merasa tidak nyaman dengan semua itu, tapi ucapanmu memang benar," ucap Lucia kemudian.

__ADS_1


-


__ADS_2