Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
21. Teman Lama III


__ADS_3

"Apa kau baru saja mengatakan bahwa Peradaban Ninue dan Pharos itu maju dan berkembang karena buku yang ditulis pemuda itu?" Ymone terlihat tidak percaya.


"Yang benar saja? Aksa yang menyebabkan bangkitnya peradaban besar di masa ketiga itu?" Kali ini Yvvone yang berucap menanggapi.


"Secara tidak langsung. Karena Mahan Gyaan itu ditulis oleh Aksa... Wah, ini benar-benar sesuatu yang luar biasa. Dengan begini beberapa bagian yang kosong dalam sejarah bisa mulai terisi," ucap Solas yang terlihat penuh gairah.


"Tapi bagaimana Anda bisa mengetahuinya, Tuan Solas? Apa Anda berusia lebih dari 400 tahun?" tanya Nata yang juga terlihat setengah tidak percaya.


"Bukan, aku baru 120 tahun. Tapi kami menyimpan sisa halaman dari Mahan Gyaan yang berhasil selamat, di perpustakan besar kami," jelas Solas lagi.


"Oh, benarkah? Tak ku kira perpustakan kalian juga menyimpan buku bersejarah seperti itu." Talos yang kali ini menimpali.


"Itu berarti Tuan Aksa adalah penyebab bangkitnya sebuah peradaban besar di tanah Elder ini?" Morgana terlihat mulai terkagum-kagum menatap Aksa.


Bukan hanya Morgana seorang. Namun hampir seisi ruangan itu mulai merubah pandangan mereka terhadap Aksa. Kecuali Lily, Val, dan Nata. Mereka tetap menganggap Aksa seperti biasanya.


"Sebentar-sebentar, Tuan Solas," sahut Aksa kemudian. Di luar dugaan yang lain, tidak terlihat wajah sombong dan bangga dari pemuda itu. Ia terlihat cukup serius bertanya kepada Solas. "Apa barusan anda bilang anda punya perpustakan besar di wilayah anda?" Tampaknya pemuda itu tertarik dengan hal lain sehingga mengacuhkan sekitarnya.


"Benar," jawab Solas pendek.


"Apa aku boleh mengunjunginya?" tanya Aksa dengan wajah memohon.


"Kau-Anda, mau mengunjunginya?" Solas terlihat tidak siap dengan permintaan Aksa tersebut.


"Jelas untuk membaca buku-bukunya juga," balas Aksa lagi masih dengan tatapan memohon.


"Untuk hal itu, aku-saya tidak bisa memutuskannya." Solas terlihat bingung hendak menjawab apa.


"Apa aku perlu bikin member dulu?"


"Member?" Solas baru pertama kali mendengar kata tersebut.


"Perpustakaan itu tempat sakral untuk marga Rhafie, Aks. Jadi tidak sembarang orang boleh memasukinya," ucap Val membantu Solas menjelaskan.


"Yah..." Aksa terlihat kecewa. "Oh, bagaimana kalau kita membuat kesepakatan. Buku itu ditukar dengan akses ke perpus anda selama sepekan penuh. Bagaimana? Hanya sepekan saja tidak lebih," tambah pemuda itu memberikan tawaran kepada Solas. "Isi buku itu sama persisi seperti buku Mahan-Mahan itu tadi."


Mata Solas terlihat melebar dan mulai berbinar karena tertarik dengan penawaran yang Aksa berikan itu. Namun beberapa saat kemudian terlihat kembali meredup. Pria Elf itu terlihat sedang menimbang sesuatu.


"Atau mungkin kita bisa bertukar informasi. Setelah ku baca semua buku yang ada di perpustakaan anda itu, akan ku tuliskan buku lain yang pernah ku baca yang tidak ada dalam koleksi perpustakaan tersebut, untuk melengkapinya. Bagaimana dengan penawaran yang ini?" Terlihat Aksa masih belum menyerah. "Aku sudah membaca hampir semua buku di perpustakaan istana kerajaan Elbrasta, dan juga Urbar. Oh, dan juga gulungan-gulungan kuno Yllgarian," tambahnya lagi mencoba menaikan nilai jual.


"Apa itu benar? Anda bisa menulis ulang seluruh buku yang pernah anda baca?" Murrel menyahut karena tidak percaya.


"Pemuda ini tidak bisa melupakan hal yang pernah ia lihat." Nata menjawab menggantikan Aksa.

__ADS_1


Murrel terlihat sedikit terengah setelah mendengar jawaban dari Nata barusan.


"Baiklah-baiklah, akan saya coba untuk sampaikan tawaran anda tadi kepada pengurus perpustakaan dan para pemimpin," ucap Solas kemudian setelah selesai menimbang. "Tapi saya tidak bisa menjanjikan apapun," tambahnya lagi.


"Ya, tidak masalah. Setidaknya aku masih ada peluang bila tawaran itu sampai ke pihak-pihak yang berwenang," jawab Aksa kemudian. "Dan anda tidak perlu berkata-kata sopan pada ku. Hal itu bisa membuatku besar kepala nantinya," tambahnya lagi sambil lalu.


"Lah itu sadar," celetuk Nata menimpali.


"Kita benar-benar telah bertemu dengan tokoh penting di masa ini." ucap Morgana kepada Murrel sambil masih menatap Aksa dan Nata di seberang meja.


"Apa itu berarti Rhapsodia akan menjadi sebesar peradaban Pharos?" Murrel bertanya lebih kepada dirinya sendiri.


"Kurasa akan lebih besar," balas Morgana.


"Seperti yang diharapkan dari orang yang dianggap tuan oleh Nona Lilian." Pria Elang itu mengangguk seolah telah memahami sesuatu.


"Benar. Berarti mulai sekarang aku harus terus berada di samping Nona Lilian. Siapa tahu namaku akan ikut ditulis dalam sejarah nantinya," sahut Morgana kemudian.


"Aku juga."


-


Dan selesai makan siang, Aksa dan Nata pun kembali ke tugas mereka masing-masing. Sementara Lily, Val, dan rombongan Yvvone tampak kembali mengadakan pertemuan untuk membahas tentang Aliran Jiwa yang terpancar dari arah Tanah Bebas Azure beberapa hari yang lalu.


-


"Aks, aku juga mau Smartphone terbang itu. Rubah punyaku jadi seperti itu," ucap Yvvone begitu ia melihat Aksa dan Nata memasuki ruang makan tersebut.


"Smartphone terbang? Maksudmu Drone?" Aksa bertanya seraya menarik kursi dan duduk di depan gadis Elf itu.


"Ya, yang bisa dikendalikan dari jauh itu," ucap Yvvone lagi sambil menggerakan kedua ibu jarinya seolah sedang memegang Remote Pengendali.


"Maaf, Nona Yvvone. Tapi itu tidak mungkin. Drone itu dibuat dari peralatan yang lain. Bukan dari Smartphone," ucap Nata menggantikan Aksa menjawab.


"Hah, memangnya tidak sama?" Yvvone terlihat benar-benar terkejut.


"Emang dasar si Loli ini. Bentuk dan ukurannya aja beda," sewot Aksa sambil menggeleng kecil.


"Tapi memang luar biasa sekali peralatan yang anda berdua ciptakan." Murrel ikut memuji. "Apa lagi peralatan komunikasi jarak jauh itu. Benar-benar sangat praktis."


"Dan mengejutkannya, semua itu tidak menggunakan sihir sama sekali." Ymon yang biasanya diam, kali ini terlihat ikut berucap karena merasa kagum.


"Bila ilmu pengetahuan ini sama seperti yang digunakan oleh Peradaban Pharos kala itu, maka jadi masuk akal mengapa pengetahuan seperti Formasi Sihir menghilang dari daratan ini." Solas terlihat serius membuat kesimpulan. "Mungkin bila anda berdua ada waktu, kita bisa berbincang tentang hal ini, Tuan Aksa, Tuan Nata," tambahnya kemudian dengan antusias.

__ADS_1


"Boleh-boleh saja. Aku juga sangat tertarik dengan pengetahuan seperti Formasi Sihir itu," sahut Aksa yang juga terlihat sama antusiasnya.


"Oh, dan juga kabarnya kalian membuat Kapal yang dapat melayang di udara seperti yang ada pada gambar gerak dalam Laptopmu itu?" tanya Yvvone yang baru saja teringat.


"Benar." Aksa mengangguk.


"Oh, benarkah? Apa juga tidak menggunakan sihir?" Ymone terlihat penasaran.


"Mana-mana tunjukan padaku. Aku ingin menaikinya," sahut Yvvone lagi bersamaan dengan masuknya para pelayan kastil untuk menyajikan hidangan makan malam.


"Kau tidak bisa melihatnya sekarang." Aksa menjawab setelah menerima semangkuk sup hangat dari salah satu pelayan. "Besok rencananya kami akan menuju ke Pertambangan Trava. Kapal Udara itu ada di sana, kau mau ikut?" tambahnya memberi tawaran kepada Yvvone.


"Jelas mau." Yang langsung dijawab oleh Yvvone tanpa jedah berpikir.


"Kau ingin ikut bersama mereka, Yvvone? Bukankah kabarnya Pasukan Augra sedang menuju ke tempat itu?" Ymon terlihat kuatir mendengar keputusan adiknya itu.


"Kau tidak perlu kuatir, Ymone. Mereka ini lemah dan tidak bisa bertarung. Jadi mereka pasti berada di tempat yang aman," jawab Yvvone yang baru saja menerima semangkok sup hangat dari pelayan.


"Itu memang benar. Tapi kenapa aku merasa kesal mendengarnya?" sahut Nata menatap ke arah Aksa. Seolah sedang mencari bantuan.


"Hey, Yvvone. Apa kau lupa? Kami sendiri yang dulu melakukan serangan langsung ke Kota Guam, ibukota Kerajaan Urbar," sewot Aksa kemudian. "Maksudnya berempat. Dengan Lily dan juga Val," tambahnya mengkoreksi.


"Iya, iya, aku mengerti kalian terlahir memang sudah seperti itu. Tidak perlu merasa malu," balas Yvvone sambil mulai menyicipi sup di hadapannya itu.


"Bicara lagi, tidak akan ku perbaiki Smartphone itu," ancam Aksa kemudian.


"Iya, iya. Maafkan aku. Aku hanya bercanda tadi. Kau orangnya serius sekali seperti Morra yang satu itu," ucap Yvvone dengan buru-buru. Ia terlihat kuatir kalau Aksa benar-benar tidak mau memperbaiki Smartphone itu.


"Tidak perlu memaksa ikut Nona Yvvone. Paling kami hanya akan pergi selama dua sampai tiga hari saja. Setelah itu kita bisa bertemu di wilayah pusat," jawab Nata memberikan pilihan lain.


"Tapi kau akan ketinggalan keseruannya." Aksa kembali berucap seperti seorang anak kecil yang sedang memamerkan sesuatu kepada temannya.


"Keseruan?" Yvvone mengernyitkan dahinya.


"Kita akan membawa Berunda untuk menakut-nakuti pasukan Augra," ucap Aksa kemudian.


"Beru..."


"Bukan burung legenda yang sesungguhnya," sahut Lily cepat mencegah kesalah pahaman yang lain.


"Kami membuat Kapal Udara yang masih belum diketahui orang luar itu agar seolah-olah adalah burung legenda Berunda." Nata mencoba memberi penjelasan.


"Supaya prajurit-prajurit lawan kena mental saat melihatnya," celetuk Aksa menambahi.

__ADS_1


"Kalau begitu sudah kuputuskan, aku akan ikut kalian," balas Yvvone kemudian.


-


__ADS_2