Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
14. Hutan Azuar


__ADS_3

Setelah malamnya dibicarakan dengan Lucia, akhirnya disetujui bahwa mereka akan menggunakan Kapal Udara keempat yang diberi nama NCC Enterprise oleh Aksa untuk menuju ke hutan Marga Azuar di ujung timur daratan selatan.


Yang akan pergi bersama Aksa dan Nata, jelas Lily dan Val. Namun Luque dan Rafa pun memutuskan untuk ikut. Dan disetujui oleh Yvvone.


Setelah melakukan persiapan, sehari kemudian rombongan tersebut mulai bergerak menuju ke timur. Bersama dengan Kapal Udara beserta 60 awak kapalnya.


Perjalanan yang biasa ditempuh selama 2 hari oleh rombongan Yvvone itu hanya ditempuh sehari semalam oleh Kapal Udara.


Dan sehari setelah keberangkatan dari Wilayah Pusat, mereka pun telah tiba di depan mulut hutan Marga Azuar.


Karena akan memakan waktu beberapa hari maka Kapal Udara memasang jangkar di mulut hutan meski dalam posisi masih melayang.


Sementara rombongan Aksa dan Nata, beserta rombongan Yvvone melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki memasuki hutan.


.


"Wah, aku tidak sabar untuk segera melihat seperti apa pemukiman Elf itu," ucap Aksa saat mereka sudah berjalan selama 10 menit menyusuri jalan setapak ke dalam hutan.


"Apa mirip dengan pemukiman Yllgarian di hutan Sekai?" tanyanya lagi.


"Ya, kurang lebih mirip," jawab Lily yang berjalan di sebelah Nata.


"Bedanya hanya pada luas dari pemukiman tersebut." Yvvone menambahi. "Karena biasanya luas pemukiman Elf tak jauh beda dari kota-kota manusia pada umumnya," lanjutnya kemudian.


"Wow, benarkah? Aku jadi semakin tidak sabar untuk melihatnya." Terlihat senyum Aksa tidak pernah hilang semenjak dari kemarin saat hendak berangkat dari Wilayah Rhapsodia.


"Jangan terlalu bersemangat seperti itu, Aks, kau bisa menakuti para Elf nantinya," sahut Nata memperingatkan Aksa.


"Apa masih jauh?" tanya Aksa menyahut tanpa memperdulikan ucapan Nata.


"Tidak terlalu," jawab Kanna kemudian.


Mereka sudah berjalan selama 30 menit lamanya saat kemudian Kanna memberi tanda untuk mereka berhenti dengan tiba-tiba.


"Kenapa? Apa ada masalah?" Nata yang terkejut mulai terlihat waspada.


"Kita sudah tiba," sahut Yvvone dengan setengah berbisik.

__ADS_1


"Benarkah?" Aksa segera meluncurkan pertanyaan. "Dimana? aku tidak melihat ada pemukiman di sekitar sini?" lanjutnya seraya celingak-celinguk menatap berkeliling.


Lalu Kanna mulai maju beberapa langkah dan kemudian mengangkat telapak tangannya ke depan.


Dan tak lama setelah gadis Elf berambut hitam itu menggumamkan rapalannya, udara yang ada di hadapan telapak tangannya itu mulai terlihat bergelombang aneh seolah riak pada permukaan air.


Dan setelah riaknya terlihat semakin membesar, Kanna mulai melangkah maju dan secara perlahan tubuhnya menghilang seolah tertelan oleh sesuatu tak kasat mata di hadapannya.


"Wow! Kau lihat itu, Nat. Seperti visual efek film," sahut Aksa yang tampak sangat kagum melihat hal tersebut.


"Oh, benar," balas Nata yang juga tidak dapat menutupi perasaan kagumnya melihat hal tersebut.


"Ini adalah sihir pelindung milik Elf," ucap Val menjawab.


"Apa jangan-jangan kalau kita tidak mengetahui keberadaan sihir ini, maka kita akan berputar-putar terus dalam hutan ini?" tanya Aksa memastikan.


"Benar sekali." Kali ini Yvvone yang kembali menjawab. "Kalau begitu, ayo kita segera masuk," ajak gadis Elf itu yang kemudian melangkah maju dan mulai menghilang secara bertahap mengikuti Kanna.


Tak lama kemudian yang lain pun menyusul masuk ke dalam riak air di udara tersebut.


.


Elf Marga Azuar itu berkulit kecoklatan tak beda dari warna kulit kaum Morra. Hanya saja rambutnya berwarna perak, dan matanya hitam seperti warna mata Rafa, kaum Seithr.


"Wow, ini luar biasa. Baru pertama kali ini aku melihat Elf menggunakan seragam," ucap Aksa terlihat berbinar mendapati beberapa Elf berseragam yang berdiri di hadapannya itu.


"Ya, sudah lama sekali tidak melihat seragam prajurit Marga Azuar," sahut Luque menambahi dengan tersenyum kecil. Seolah sedang mengenang sesuatu.


Sedangkan Rafa tampak bertingkah seperti Nata. Ia terlihat kagum namun berusaha ia sembunyikan.


Kemudian salah satu dari Elf yang berada di hadapan mereka itu maju ke depan dan membungkuk sopan pada rombongan.


Pria Elf Marga Azuar yang menggunakan seperti ikat kepala berukir mirip dengan gambar di bagian dadanya itu kemudian berucap. "Selamat datang di pemukiman Azuar, silahkan lewat sini. Akan saya antar." Seraya menggerakkan tangannya dengan sopan mempersilahkan rombongan Aksa dan Nata lewat.


.


Dan setelah berjalan mengikuti Elf tersebut cukup lama, mereka pun akhirnya tiba di depan sebuah gapura yang terbuat dari bagian pohon yang memiliki bentuk aneh dengan ukuran yang cukup besar. Namun tanpa pintu gerbang.

__ADS_1


"Apa kita sudah sampai?" tanya Aksa dengan sangat antusias sambil sesekali menengok memandangi sekeliling.


"Belum, ini masih gerbang luar. Pemukimannya masih di depan sana," jawab Yvvone sambil menunjuk ke sebuah jalan setapak di seberang gapura tersebut.


Pinggiran jalan itu terdapat pohon-pohon kecil yang sengaja ditanam berbaris sebagai sebuah pagar di sepanjang jalannya. Terdengar juga samar gemericik air dari kejauhan. Seperti suara aliran sungai.


"Aku sudah tidak sabar untuk melihatnya." Aksa terlihat geregetan seraya melihat setiap detail dari jalanan yang dilewatinya itu dengan gerakan yang dilebih-lebihkan.


"Sudah ku bilang jangan terlalu bersemangat seperti itu, Aks. Kau bisa menakuti para Elf dengan siap norak mu itu," saut Nata yang langsung diacuhkan oleh Aksa dengan membuang muka.


Tak lama menyusuri jalan berpagar pohon tersebut, akhirnya mereka tiba di sebuah sungai yang membelah jalan. Terdapat jembatan kayu untuk menyeberanginya. Terlihat kokoh dan dipenuhi ukiran artistik yang sepola dengan seragam para prajurit Elf tadi.


"Dan itulah pemukiman Marga Azuar," ucap Yvvone kemudian seraya menunjuk ke arah depan saat mereka telah melewati jembatan kayu tersebut.


Di seberang jembatan itu terlihat sebuah wilayah yang datarannya sedikit mencekung seperti sebuah lembah. Terdapat puluhan pohon besar dengan bangunan serupa rumah dari kayu terpasang mengelilingi batang pohonnya.


Tampak pula jembatan gantung dari sulur dan tumbuhan rambat yang terlihat menghubungkan rumah kayu tersebut dari satu pohon ke pohon yang lain.


Dan meski dalam rimbun nya tengah hutan, namun tempat itu masih cukup terang. Selain karena cahaya dari lampu-lampu berwarna kuning cerah yang berasal dari rumah-rumah kayu di sekitar tempat itu, juga karena sinar matahari masih bisa menembus, menyorot dari sela-sela kanopi daun dan membentuk garis cahaya memenuhi desa tersebut.


"Wah... Kita berada di Rivendell sekarang, Nat." Aksa menatap pemandangan tersebut tanpa berkedip. Tampak terkagum-kagum tak ubahnya Nata dan Rafa. Hanya saja Nata berusaha menahan untuk tidak berkata-kata.


"Tak terbayangkan dalam hidupku bisa melihat dan berada dalam pemukiman Elf," ucap Rafa yang masih terlihat mendongak menatap ujung dari pohon-pohon raksasa di hadapannya itu.


"Lewat sini. Tuan Moor sudah menunggu," ucap pria Elf yang mengantar mereka seraya berjalan mendahului.


Rombongan Aksa dan Nata pun berjalan melewati tengah-tengah pemukiman tersebut menuju salah satu bangunan yang berada di dasar pohon paling besar di tempat itu.


Banyak Elf warga pemukiman itu yang memandang dengan tatapan sinis ke arah Aksa, Nata, Rafa, Luque, dan Lily. Yang adalah manusia dan Yllgarian.


Mereka bertanya-tanya curiga kenapa ada orang luar di tempat yang sejak 100 tahun lebih menutup diri dari dunia luar.


Namun tampaknya tatapan sinis itu tidak terlalu berpengaruh terhadap Aksa. Karena terlihat Aksa masih sibuk melambaikan tangan dan menyapa ke para Elf yang menatapnya di sepanjang jalan.


"Sepertinya mereka heran melihat kita, Nat," ucap Aksa kemudian.


"kau pikir?" balas Nata tak acuh.

__ADS_1


-


__ADS_2