
"Sudah lama kita tidak bertemu tuan Nata," ucap Alexander memberi salam ketika melihat Nata yang tengah duduk di ruang tamu kediaman Ignus.
"Selamat siang tuan Nata," susul Eden dari belakang kakaknya.
"Selamat siang Pangeran Alexander, Pangeran Eden." Nata membalas salam dari dua pangeran tersebut.
"Dimana tuan Aksa?" Alexander bertanya setelah duduk di sofa di hadapan Nata.
"Ah, Aksa masih berada di Hutan Azuar," jawab Nata.
"Ku dengar tuan Aksa tengah membuat peralatan sihir bersama para Elf di hutan tersebut?" Kali ini Eden yang bertanya. Pemuda itu sudah duduk di sebelah Alexander.
"Benar, pangeran Eden." Kembali Nata menjawab.
"Tak kusangka tuan Aksa bisa membuat peralatan sihir juga." Terlihat ada ketertarikan dan rasa kagum di binar mata Eden.
"Oh, benar! Saat ini Aksa sedang membuat alat sihir yang serupa dengan drone, namun dengan tambahan fungsi untuk mempermudah serta mengefisiensikan pemetaan sekaligus pengawasan dari udara." Nata sengaja memberikan informasi tersebut kepada Eden.
"Oh, benarkah?" Dan terlihat Eden mulai terpancing.
"Ya, mungkin beberapa hari lagi selesai," ujar Nata kemudian.
"Aku jadi tidak sabar untuk segera melihatnya." Eden terlihat semakin bersemangat.
"Anda tunggu saja, pangerang," balas Nata saat kemudian terlihat Lucia muncul dari dalam.
-
"Jadi aku memanggil kalian berdua kali ini, terutama kau Alexander, adalah mengenai situasi di wilayah utara. Pasti kalian sudah mendengarnya." Lucia membuka percakapan setelah duduk di sofa di antara Nata dan Alexander.
Mereka memang hanya berbicara berempat saja.
"Ya, saya sudah mendengarnya Yang Mulia." Alexander menjawab.
Sedang Eden hanya mengangguk kecil.
"Dan kau pasti juga tahu bahwa keluarga bangsawan Elbrasta menginginkan audiensi denganku," lanjut Lucia.
"Ya, saya juga sudah mendengar tentang hal itu." Kembali Alexander mengiyakan dugaan Lucia.
"Dan kau pasti juga bisa menebak apa yang sebenarnya mereka inginkan, bukan?"
"Ya, kurang lebih. Mereka ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengambil kembali posisi mereka di wilayah utara," jawab Alexander mengungkap pemikirannya.
"Ya, kurang lebih memang seperti itu," balas Lucia membenarkan.
"Dan mungkin kau juga sudah menyadarinya, bahwa sejak lama aku dan Nata berencana untuk menyerahkan Elbrasta ketanganmu bila sesuatu terjadi terhadap kak Grevier." Lucia kembali berucap. Yang kali ini tidak mendapat jawaban.
Alexander dan juga Eden hanya terdiam tidak merespon.
"Tapi sayangnya aku tidak bisa menyerahkan tahta Elbrasta dengan begitu saja pada mu. Karena situasi saat ini mau tidak mau mengharuskan kau turun tangan untuk merebutnya sendiri," lanjut ratu muda itu.
Sedang Alexander masih saja terdiam dengan wajah dingin tanpa ekspresinya. Tidak dapat ditebak apa yang sedang pemuda itu pikirkan.
__ADS_1
"Apa anda tidak berminat mengambil alih tahta Elbrasta, pangeran Alexander?" tanya Nata tiba-tiba.
"Aku akan memilih untuk tidak menduduki posisi tertinggi bila itu memungkinkan." Alexander akhirnya angkat bicara.
"Tapi aku sadar akan posisiku sebagai keluarga kerajaan. Aku tahu tanggung jawabku terhadap rakyat Elbrasta yang sekarang sedang membutuhkanku. Jadi aku rasa pertanyaan itu tidak tepat ditanyakan padaku, tuan Nata," lanjutnya kemudian.
"Maafkan saya pangeran." Nata membalas cepat. Ia cukup paham dengan apa yang pemuda itu rasakan saat ini.
"Lalu apa yang Yang Mulia Ratu ingin saya lakukan mengenai permasalahan ini?" tanya Alexander kemudian.
Terlihat Lucia menarik nafas seolah sedang mempersiapkan diri.
"Aku ingin kau untuk mulai menggerakan para bangsawan utara dan menghimpun kekuatan guna mengambil alih kembali Kotaraja Elbrasta," ucap Lucia memberikan tugas kepada sepupunya yang sudah ia anggap sebagai adik kandung itu.
"Anda yakin para bangsawan itu masih memiliki kekuatan militer?" Alexander terlihat meragukan.
"Bila pun tidak, kami tetap akan meminjamimu pasukan," balas Lucia.
Kembali ada jeda dalam balasan Alexander. Pemuda itu mencoba membaca maksud dari niatan kakak sepupunya itu.
"Itu berarti Rhapsodia menginginkan sesuatu sebagai balasannya?" tanyanya kemudian.
"Benar. Sama seperti kerajaan Estrinx. Hubungan kerjasama. Baik di bidang perdagangan ataupun bidang yang lain." Lucia menjawab.
Alexander mengejapkan mata beberapa kali. Tampak terusik dengan rencana tersebut.
"Kenapa Yang Mulia harus melakukan hal tersebut?" ucapnya kemudian terlihat tidak mengerti.
"Membuat sekenario membantu kerajaan lain untuk mengambil alih wilayah mereka, dan menjalin hubungan baik setelahnya," ucap pemuda itu terdengar tidak terima meski nada bicaranya tetap datar seperti biasa.
"Rhapsodia saat ini, dan mungkin ke depannya, mampu untuk berdiri dan bertahan secara mandiri tanpa batuan dari kerajaan lain," tambahnya lagi.
"Aku yakin kau pasti sadar bahwa yang kau ucapkan itu tidaklah benar. Rhapsodia masih memerlukan bantuan dari kerajaan lain untuk bisa bertahan. Terlebih bila perselisihan dengan Joren-Augra tidak kunjung selesai." Lucia menjawab dengan sabar.
"Disamping itu, kesepakatan ini adalah kesepakatan terbaik yang tidak akan bisa ditolak oleh para bangsawan utara itu," lanjutnya menambahi.
"Apa memang kita harus mengembalikan kerajaan Elbrasta? Saya tidak keberatan bila tidak mewarisinya." Alexander membalas masih dengan wajah datarnya. Tidak bisa ditebak apa yang sebenarnya pemuda itu rasakan saat ini.
"Atau kalau tidak ambil alih saja wilayah utara sekalian. Jadi tidak perlu pusing melakukan hal seperti ini," susulnya dengan usulan.
"Aku tidak bisa mengambil alih Elbrasta. Karena disamping itu adalah kerajaan leluhurku, juga karena dulu tepat sebelum pelantikanku sebagai Ratu wilayah ini, aku pernah berjanji kepada ibu kalian untuk tidak akan pernah menyerang atau mengambil alih Elbrasta. Dan akan memberi kalian bantuan ketika kalian membutuhkannya," jawab Lucia yang akhirnya memberikan alasan dibalik keputusannya itu.
"Pengambil alihan wilayah yang sedang kita lakukan sekarang ini hanyalah tindakan pengamanan saja. Kami akan mengembalikan begitu semuanya selesai." Perempuan itu menambahi.
Alexander kembali terdiam. Cukup lama kali ini. Tatapannya seolah menembus meja yang tengah dipandanginya.
"Kalau memang ini sudah menjadi keputusan Yang Mulia, maka saya akan mengikutinya," ucap pemuda itu kemudian. Masih tidak terlihat perubahan ekspresi di wajahnya.
"Maafkan bila aku terkesan memaksakan kehendakku padamu, Al. Tapi hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu dan Ed." Terlihat sedikit penyesalan di wajah Lucia.
"Saya mengerti Yang Mulia. Saya sadar akan tanggung jawab saya, dan saya tidak akan dengan sengaja menghindarinya. Saya hanya merasa sedikit tidak nyaman karena wilayah ini harus direpotkan untuk membantu wilayah lain dengan cuma-cuma." Alexander mencoba menjelaskan maksud dari ucapan sebelumnya.
"Elbrasta bukanlah sekedar 'Wilayah Lain', Al. Kau dan Ed juga bukan orang lain. Jadi berhentilah merasa dan berpikir seperti itu." Lucia berucap.
__ADS_1
"Lagi pula kau tahu sendiri Nata. Dia mana mau membuat sebuah perjanjian yang sekedar cuma-cuma dan tidak menguntungkan?" susulnya lagi dengan lelucon.
Terlihat Nata dan Eden tersenyum mendengar lelucon itu. Tapi tidak dengan Alexander.
"Baiklah, kalau begitu di pertemuan dengan para bangsawan besok, aku akan memperlakukanmu sebagai perwakilan mereka. Sebagai pewaris sah tahta Elbrasta."
"Saya mengerti Yang Mulia."
-
Sehari kemudian pertemuan dengan bangsawan di wilayah penampungan pengungsi pun dilakukan.
Para bangsawan merasa gembira saat Alexander hadir dan mendeklarasikan diri sebagai pewaris sah tahta Elbrasta yang kemudian meminta dukungan untuk mengambil kembali wilayah Elbrasta dari Bruixeria.
Setelahnya Lucia memberikan penjelasan tentang apa yang tengah Rhapsodia lakukan, dan menawarkan kesepakatan mengenai bantuan kekuatan serta pengembalian wilayah Elbrasta secara penuh, dengan beberapa perjanjian dan ikatan kerja sebagai gantinya.
Dan meski melewati proses tawar menawar yang cukup pelik, pada akhirnya kedua belah pihak pun mendapat titik tengah dan saling sepakat.
.
"Kalau begitu saya pamit dulu Yang Mulia. Mungkin saya akan tinggal di Hutan Azuar untuk waktu satu sampai dua minggu."
Nata berpamitan kepada Lucia selepas makan malam di kediaman Ignus.
Terlihat selain mereka berdua, ada Lily dan Val yang sudah bersiap dengan Batuan Arcane.
Sedang Jean yang tidak pernah tampak bersama Lucia beberapa waktu terakhir ini disebabkan karena kesatria perempuan itu mendapat tugas di garis depan bersama Vossler dari beberapa minggu sebelumnya.
"Kalau begitu berhati-hati lah, Nat. Sampaikan salamku pada Primaval dan juga nona Rafa," ucap Lucia kemudian.
"Akan saya sampaikan. Yang Mulia juga harus berhati-hati," balas Nata.
Setelah itu Lily memecahkan kristal Arcane yang ada di tangannya, dan kemudian ia, Nata, dan juga Val menghilang setelah memasuki lingkaran ungu yang muncul setelahnya.
-
Seminggu kemudian pesisir pantai selatan bekas wilayah Elbrasta berhasil diambil alih oleh pasukan Rhapsodia. Termasuk kota pelabuhan Zeraza.
Sementara di sisi timurnya pasukan Rhapsodia sudah mengambil alih hingga perbatasan wilayah Estrinx.
.
...Bekas Wilayah Elbrasta yang dikuasai Rhapsodia...
.
Sedangkan kini Alxander dengan bantuan keluarga Galian dan juga Voryn mulai mencoba mengumpulkan bangsawan-bangsawan Elbrasta yang sudah terpencar ke segala penjuru wilayah Elder untuk kembali menghimpun kekuatan.
Dan tak lama setelah itu Lucia mengundang Lugwin untuk melakukan perundingan kerjasama bersama Alexander yang mewakili pihak Elbrasta, dan pemimpin pemberontakan Makari yang mewakili pihak Cilum, untuk membuat sebuah aliansi. Yang akan dilakukan di Wilayah Pusat Rhapsodia.
-
__ADS_1