Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
26. Medan Perang


__ADS_3

Melihat kejadian tersebut, Parpera yang berada di belakang Pasukan Senjata Api itu dengan segera bertindak. "Pasukan Penyihir, maju!" perintahnya seraya berlari mendahului yang lain.


Dan Pasukan Penyihir Petarung yang telah bersiap itu mulai berlarian maju mengambil alih medan tempur.


Sementara Parpera yang sudah tiba terlebih dahulu di antara para prajurit yang tergeletak karena ledakan tadi, segera mengangkat tongkat sihirnya dan mulai merapal sesuatu.


Dan sebuah kubah sihir besar, berwarna biru muda terbentuk melindungi sebagian besar wilayah di sekitar tempat perempuan penyihir itu berdiri. Kubah itu melindungi para prajurit dari serangan sihir berupa bola api tadi yang masih terus berdatangan.


Terlihat beberapa ledakan terjadi di udara saat bola-bola api itu menghantam permukaan luar kubah sihir milik Parpera tersebut.


"Bersiap membentuk formasi!" perintah Parpera kemudian yang tak ingin membuang waktu.


Dan tidak menunggu lama, para penyihir segera mengambil posisi mereka masing-masing dan mulai merapal Sihir Pelindung di depan para prajurit yang sebagian besarnya tergeletak karena luka dari sihir peledak sebelumnya. Sementara para Penyembuh dan Tabib mencoba untuk menangani luka mereka.


Parpera membatalkan kubah sihirnya ketika para penyihir yang lain sudah selesai memasang Sihir Pelindung di tempat mereka masing-masing. Bahkan 4 penyihir telah selesai membuat sihir perlindungan berlapis tepat di depan tempat Parpera berdiri.


Dan setelah kubah sihir Parpera sudah benar-benar lenyap, perempuan dengan julukan Penyihir Bulan itu kembali melakukan rapalan yang lainnya lagi. Kali ini sihir serangan tingkat tinggi. Butuh cukup waktu untuk mempersiapkan rapalan tersebut. Dan untuk itulah 4 penyihir tadi bersiap melindunginya.


Kemudian tak lama berselang, terdengar dari belakang barisan, Biggs berteriak mengambil alih pimpinan, memerintah pasukan lainnya untuk bergerak.


Tampak ia yang baru saja terpental kebelakang cukup jauh itu, tidak mengalami luka yang cukup berarti. Meski terlihat darah di pelipis kanannya.


Dan dari perintah Biggs tadi, beberapa Kereta Besi mulai bergerak maju dari barisan paling belakang.


-


Sementara Lucia bersama Jean dan sisa Pasukan Rhapsodia, mengamati jalannya peperangan dari kejauhan dengan bantuan teropong.


"Apa Caspian baik-baik saja?" tanya Lucia yang terllihat kuatir dari belakang teropongnya.


"Yang Mulia tidak perlu kuatir. Caspian tidak akan mati hanya dengan sihir peledak seperti itu," balas Jean dengan lelucon untuk menenangkan Lucia. Namun sayangnya ucapan setengah bercandanya itu tidak mengurangi kekuatiran Lucia.


"Kurasa para Penyembuh dan para Tabib Petarung itu tiba tepat waktu," ucap Lucia lagi yang berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.


"Nona Parpera memang cekatan dalam mengambil tindakan. Saya yakin 40 prajurit dari Pasukan Senjata Api dan 30 Penyihir Petarung dan juga Penyembuh itu akan berhasil menyingkirkan seratus prajurit lawan." Jean menimpali.

__ADS_1


"Ya, kau benar, Jean. Sepertinya sisa seratus pasukan kita hanya akan turun untuk mengambil alih Kota Dios." Terlihat Lucia mulai sedikit jebih tenang.


"Tapi tidak kusangka bocah itu bisa mendapat ide menggunakan alat seperti itu untuk menghadapi kelompok Yllagrian paling mematikan di daratan Elder ini." Jean kembali berucap seraya mengeleng pelan.


"Ya, dan mereka sudah mempersiapkan itu sejak lama. Bahkan sebelum kita mengambil alih Pertambangan Trava kalau aku tidak salah ingat," ucap Lucia menanggapi. "Nata meminta Tuan Evora untuk melakukan uji coba terhadap alat tersebut," jedahnya kemudian. "Dan untungnya Tuan Couran berhasil menyiapkannya dan mengirimkannya bersama peralatan yang lain sebelum kita berangkat."


"Ya, tapi yang membuat saya tidak habis pikir adalah, bagaimana bocah itu bisa membuat benda yang dapat mengeluarkan suara melengking seperti itu?" Jean terlihat masih dipenuhi dengan rasa penasaran.


\=


Sementara itu di pihak lawan, semangat juang para prajurit Vistralle pun terus menurun saat Pasukan Rhapsodia berhasil menghadang serangan Sihir Peledak yang mereka keluarkan. Ditambah lagi melihat puluhan kereta besi yang perlahan mendekat.


"Lapor, Jendral. Sepertinya salah satu dari penyihir mereka sedang merapal sihir serangan tingkat tinggi," lapor seorang prajurit kepada sang Jendral.


"Sihir tingkat tinggi? Apa mereka menggunakan Senjata Mistik?" tanya sang Jendral menanggapi.


"Penyihir kita tidak mendeteksi adanya Aliran Jiwa yang berasal dari Senjata Mistik, Jendral," jelas prajurit itu kemudian.


"Jadi tidak menggunakan Senjata Mistik?" Terlihat sang Jendral mengangguk paham. "Kalau begitu tidak perlu terlalu dihiraukan. Perintahkan saja kepada para Penyihir untuk memasang Sihir Pelindung berlapis," lanjutnya dengan perintah.


"Yang jadi masalah penting sekarang ini adalah Kereta-Kereta Besi itu. Bagaimana prajurit kita akan melawannya? Bahkan pasukan berkuda juga akan kesulitan menghadapinya," ucap sang Jendral mengungkapkan kegusarannya.


"Tapi sepertinya Kereta Besi itu hanya mereka gunakan untuk memindahkan prajurit yang terluka saja, Jendral. Tidak ada Kereta Besi yang bergerak melewati batas Pelindung Sihir yang mereka buat," ujar salah satu kesatria yang berada di sebelah sang Jendral mencoba menyatakan penilaiannya.


"Beruntunglah kalau memang begitu. Karena kita tidak membawa peralatan berat untuk menghadapi Kereta-Kereta Besi mereka."


-


Kembali ke medan perang, terlihat Caspian mulai tersadar dan berusaha untuk bangkit berdiri, setelah seorang Penyembuh berhasil menutup sebagian luka di atas telinga kanannya dengan sihir.


Dengan telinga yang masih mendenging dan kepala yang terasa nyeri, Caspian mencoba mengedarkan pandangannya berkeliling dari belakang 2 penyihir yang sedang memasang Sihir Pelindung di hadapannya. Ia mencoba untuk membaca situasi.


Saat kemudian Biggs datang mendekatinya. "Jendral? Anda baik-baik saja?" tanya pria berbadan bongsor itu kepada Caspian.


"Ya, aku baik-baik saja. Bagaimana situasi saat ini, Biggs?" tanggap Caspian.

__ADS_1


"Nona Parpera berhasil menghalau serangan sihir peledak yang ditembakan lawan." Biggs menjawab. "Dan sekarang Nona Parpera sedang merapal serangan balik," lanjutnya dengan penjelasan sesingkat mungkin.


"Ya, aku bisa melihatnya," ucap Caspian menatap sosok Parpera yang terlihat sedang fokus merapal sihir di kejauhan. "Kalau begitu bawa prajurit yang terluka parah ke dalam Kereta Besi, dan perintahkan prajurit yang masih bisa bertarung untuk membentuk formasi siap menyerang, Kita akan kembali maju setelah Penyihir Bulan selesai melepas sihirnya," tambahnya kemudian dengan perintah.


"Baik, Jendral!" sahut Biggs yang segera bergegas untuk melanjutkan perintah Caspian.


Sedang Caspian mulai terlihat membenahi pakaian dan memeriksa ulang senjatanya sebelum memerintahkan para Penyihir dan Penyembuh untuk mundur.


Dan setelah itu ia pun segera berlari ke area di belakan Parpera berdiri untuk menyiapkan kembali pasukan.


.


Tak lama setelah Pasukan Senjata Api kembali berbaris dalam posisi siap menyerang, terlihat Parpera baru saja menyelesaikan rapalan sihirnya.


Kini terlihat ujung tongkat milik penyihir wanita itu bersinar biru muda dengan sangat terang. Dan saat diayunkan ke atas, cahaya tersebut melesat dengan cepat ke angkasa.


Kemudian terdengar seperti suara guntur mengelagar. Yang membuat orang-orang mulai merasa gelisah dengan sesuatu yang akan datang mengikutinya. Terutama Pasukan Vistralle.


Dan benar saja, petir terlihat menyambar ke beberapa tempat dari atas barisan Pasukan Vistralle. Yang berhasil menghanguskan puluhan prajurit dan membuat panik sisanya.


Hal itu tadi merupakan aba-aba bagi Caspian untuk melancarkan serangan. Dan tidak menunggu lama, Jendral Besar Rhapsodia itu segera berteriak memberikan perintah. "Rhapsodia, Serang!" Sambil berlari maju ke depan dengan Senapan di tangan kanan dan Senjata Api di tangan kirinya.


Mengikuti pemimpinnya, sisa Pasukan Senjata Api yang masih dapat bertarung, segera berlari menuju barisan pasukan lawan.


.


Rentetan peluru panas menyambut para prajurit Vistralle terlebih dahulu, sebelum Caspian dan pasukannya mendekat. Dan hal itu membuat lawan semakin panik dan mengacaukan formasi awal mereka.


Ditambah dengan sabetan pedang, tusukan tombak, dan bahkan tembakan panah dan sihir dari Pasukan Vistralle tidak dapat menembus pakaian pelindung Pasukan Rhapsodia. Yang membuat Pasukan Rhapsodia dapat bertahan bahkan mengungguli pasukan lawan, meski mereka kalah dalam hitungan jumlah.


.


Melihat situasi yang tidak menguntungkan tersebut, Jendral dari Pasukan Vistralle segera memutuskan untuk mundur ke kota Dios. Sementara sisa dari prajurit yang tidak sempat melarikan diri, tampak mulai menyerah.


Dan setelah memastikan bahwa sudah tidak ada lagi pasukan lawan yang masih melakukan perlawanan, Caspian mulai mengangkat tangan ke atas. Yang segera disambut dengan sorak kegembiraan dari para prajuritnya.

__ADS_1


-


__ADS_2