Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
Antology Story : Rombongan dari Barat


__ADS_3

Sebuah kapal besi tampak merapat di dermaga pelabuhan Kota Barat pagi itu. Kesibukan pelabuhan terlihat semakin meningkat setelah penyerangan ke wilayah Cleyra dan Solidor yang dilakukan sehari sebelumnya.


Tampak seorang gadis Morra berpostur mungil dengan pakaian seorang Penyihir Petarung menyipitkan matanya seraya mengarahkan telapak tangannya ke depan kening memayungi pandangnya dari sinar matahari.


"Setahun sudah," sahut seorang pria Morra berpakaian seorang Kesatria Lepas dari belakang gadis tersebut. Tampak pula seorang pria lain berambut panjang dengan pakaian seorang Pemburu berdiri di sebelahnya.


Mereka bertiga berada di atas geladak menunggu kapal untuk benar-benar merapat di pelabuhan.


Tak lama kemudian terdengar teriakan seorang perempuan memanggil dari arah dermaga di sela-sela teriakan burung camar dan derak-derak kayu saat gelombang menghantam.


"Ende! Sigurd! Axel!"


Dan terlihat Margaret yang berdiri di sebelah Shuri dan Maeve, melambai ke arah ketiga orang tadi.


.


"Selamat datang kembali, kalian." Margaret berucap saat mereka berenam sudah berada dalam ruang kerja Margaret dalam Balai Perizinan.


"Benar-benar gila. Hanya dalam setahun kami tinggal, kalian sudah mengambil kembali seluruh wilayah selatan?" sahut Sigurd sambil menggeleng tidak percaya.


"Apa benar kedua bocah itu sedah kembali?" Yang langsung disela oleh Ende yang duduk di sebelah Maeve.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka?" Axel ikut menimpali.


"Dan benda apa itu?! Bagaimana benda itu bisa mengeluarkan suara?" Sigurd yang sedari tadi mengamati perubahan dalam ruangan Margaret itu tampak sangat penasaran dengan Radio yang mengeluarkan alunan lagu mendayu di ujung rak ruangan tersebut.


"Pelan-pelan. Aku tahu kalian pasti banyak pertanyaan. Aku akan ceritakan semuanya," jawab Margaret mencoba menghentikan rentetan pertanyaan dari ketiga anggotanya itu.


Dan kemudian perempuan wakil ketua Bintang Api itu mulai bercerita tentang hal yang terjadi selepas Ende, Sigurd, dan Axel berlayar ke barat.


.


"Apa aku tidak salah dengar? Kapal yang melayang di udara?" Axel menyela di tengah Margaret bercerita.


"Kau tidak salah dengar. Dan aku yakin kalian tetap tak akan percaya meski sudah melihatnya sendiri, atau bahkan menaikinya," sahut Maeve membenarkan cerita Margaret.


"Kau pernah menaikinya, Maeve?" tanya Ende kemudian.


"Pernah. Dan rasanya benar-benar seperti mimpi," jawab gadis berambut cepak itu dengan wajah penuh kegembiraan.


"Oh, aku jadi ingin menaikinya juga," jawab Sigurd yang terdengar iri dan bersemangat.


"Ya, Kapal Udara itu jugalah salah satu hal yang membuat kita dapat mengambil alih wilayah selatan dalam waktu relatif singkat." Margaret kembali berucap.


Axel menggeleng pelan mendengar kenyataan tersebut.

__ADS_1


"Jangan heran. Mereka memang selalu melakukan sesuatu dengan meriah, kan?" tambah Shuri dengan ringan.


"Memang benar." Ende mengangguk setuju.


"Jadi beberapa minggu setelah kami berangkat, kedua pemuda itu kembali muncul dari dalam gua," ucap Axel mencoba mengulang apa yang ia tangkap dari cerita Margaret.


"Benar." Margaret menjawab.


"Dan dalam waktu delapan bulan setelahnya, mereka mulai melakukan pelatihan khusus terhadap para prajurit, dan membuat senjata dan juga Kapal Udara itu."


"Benar."


"Kemudian dalam waktu kurang lebih dua bulan saja, kerajaan telah berhasil mengambil alih seluruh wilayah lama di daratan selatan? Begitu?" tutup Axel dengan pertanyaan memastikan.


"Benar. Dan Tyrion ditemukan mati dua minggu yang lalu di pinggiran utara wilayah Damcyan." Margaret menambahkan informasi yang lain.


"Juga saat ini kita sedang melakukan penyerangan untuk mengambil alih wilayah Solidor dan Clyera dari Joren." Shuri ikut menambahkan informasi.


"Oh, apa mungkin karena aku terlalu lama di atas kepal, ya? Kepalaku jadi pusing mendengar cerita itu," sahut Sigurd yang dilebih-lebihkan.


"Benar-benar cerita gila." Ende terlihat mengeleng pelan.


"Seperti yang diharapkan dari mereka," sahut Axel. "Lalu dimana mereka sekarang?" tanyanya kemudian.


"Masih berada di tenda mereka di dasar jurang Ceruk Bintang," jawab Margaret.


"Ya, aku ikut. Aku juga ingin melihat seperti apa Kapal Udara itu," sahut Sigurd kemudian.


"Ya, sekalian melihat Kapal Udara, mampirlah terlebih dahulu ke gedung pusat untuk menyelesaikan pencatatan rutin kalian," sahut Margaret memberi perintah.


.


Ditemani oleh Shuri, Ende beserta Axel dan juga Sigurd menggunakan Kereta Uap menuju ke Stasiun Kota Tengah.


"Jadi alat ini untuk membuat kopi tanpa harus menyedunya?" tanya Sigurd saat melihat sebuah alat seperti timbangan dengan dua tabung logam terpasang di kedua sisinya.


Saat ini mereka sedang berada dalam gerbong makan Kereta Uap melewati Bukit Waduk.


"Benar. Aksa menyebutnya Balan Syphon Kopi Mekér, kalau tidak salah." Shuri menjawab dengan tambahan sedikit penjelasan.


"Bagaimana mereka bisa menemukan ide aneh seperti itu?" Sigurd tampak sedikit kagum melihat benda pembuat kopi yang kini sudah mulai mengucurkan kopi hangat dari salah satu tabung ke cangkir yang sudah disiapkan oleh Shuri sebelumnya.


"Terlebih dari itu, serbuk ini adalah minuman yang dikeringkan?" Kali ini Ende yang berucap seraya meraba serbuk susu berwarna putih dari sebuah cawan tembaga di sebelah benda pembuat kopi tadi.


"Itu belum seberapa. Masih ada yang seperti ini. Tapi makanan." Shuri menjawab seperti sedang menamerkan barang miliknya sendiri.

__ADS_1


"Mungkin aku perlu liburan untuk mengejar ketinggalanku akan barang buatan kedua pemuda itu," ucap Sigurd kemudian saat Shuri mulai membubuhkan gula ke dalam cangkir kopinya.


"Kurasa bisa bila hanya sehari saja," jawab Shuri setelah menyeruput minuman hangat dalam cangkirnya itu. "Karena kita sudah memulai proyek untuk membuka rute perdagangan ke laut timur," tambahnya kemudian.


"Hei-hei, kami baru saja tiba hari ini. Apa kau mau langsung mengusir kami?" Terlihat Sigurd tidak terima atas ucapan Shuri barusan.


"Jadi menara dan galian tali tembaga itu yang membuat kita dapat berkomunikasi jarak jauh secara langsung?" Tiba-tiba Axel yang sedari tadi mengamati keluar jendela bertanya seraya menunjuk ke sebuah Menara Antena di atas tebing di belakang komplek Garnisun Utara.


"Benar. Jaringan kabel tembaga itu saat ini sudah mencakup ke seluruh pelosok Wilayah Pusat ini. Namun masih dalam pengerjaan untuk daratan selatan," ucap Shuri menjawab.


"Apa yang masih ada dalam kepala kedua pemuda itu?" Axel bertanya lirih sambil menggeleng.


"Oh, demi Deuz! Apa itu Kapal Udara nya?" seru Sigurd nyaris membuat semua penumpang yang ada dalam gerbong tersebut menoleh memandangnya.


"Oh, benar-benar sebuah kapal yang melayang di udara," ucap Ende terlihat kagum, saat mereka telah melewati Stasiun Kereta Kota Utara dan mulai menyeberangi jembatan Jurang Besar.


"Benar. Itu Kapal Udara ke empat yang baru melakukan uji coba untuk diterbangkan," jawab Shuri menjelaskan.


"Keempat? Benar-benar..." sahut Sigurd menanggapi.


"Pertama mereka membuat kapal layar dari besi. Sekarang mereka membuat kapal berlayar di angkasa," ucap Axel seraya menatap ke arah Kapal Layar yang mengantung pada sebuah balon raksasa melayang tepat di atas Jurang Besar.


.


"Aku yakin ini pasti dari salah satu alat aneh buatan mereka," ucap Sigurd saat melihat sebuah peta nyaris seukuran tinggi dan panjang salah satu dinding ruangan Cedrik dalam Balai Pertukaran Jasa di Kota Tengah.


"Benar. Itu adalah gambar asli dari wilayah ini yang diambil dari angkasa dengan alat yang disebut dengan Dron." Cedrik menjawab.


"Sudah tidak bisa berkata-kata lagi," balas Sigurd kemudian, seraya mengedarkan pandangannya mengamati peralatan atau benda aneh yang belum pernah ia lihat sebelumnya dalam ruangan tersebut.


"Kalau tidak ada halangan nanti malam kita akan melakukan pertemuan dengan seluruh kelompok dan juga Tuan Dirk untuk membahas tentang jalur perdagangan kita ke barat," ucap Cedrik mengembalikan tema pembicaraan.


"Baiklah, tapi setelah ini aku akan ke tempat kedua pemuda itu terlebih dahulu," ucap Axel kemudian.


"Tak perlu terburu-buru. Mereka juga akan ikut dalam pertemuan kita nanti," sela Cedrik.


"Jam berapa pertemuan itu?" Axel bertanya.


"Sekitar pukul tujuh malam. Masih sepuluh jam lagi," jawab Cedrik seraya menatap jam dinding di atas pintu masuk ruangannya. "Beristirahatlah dulu kalian. Atau berkelilinglah wilayah ini terlebih dahulu. Karena banyak hal yang telah berubah semenjak kalian tinggalkan," tambahnya memberikan saran.


"Ya, sepertinya itu ide yang bagus," jawab Sigurd kemudian. "Aku akan berkeliling kota ini terlebih dahulu. Aku sudah kangen makanan Tuan Edward," tambahnya seraya berjalan menuju pintu keluar.


"Ya, aku juga sudah lama tidak merasakan anggur buatan keluarga Lumire." Ende berucap seraya mengikuti Sigurd keluar.


"Kalau begitu, sampai jumpa nanti malam ketua," ucap Axel kemudian yang terakhir keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


.


__ADS_2