
Terlihat Pasukan Augra masih cukup tangguh dan mampu mengimbangi serangan Prajurit Rhapsodia meski sudah memecah formasi mereka.
Sedang Pasukan Rhapsodia yang berada di tengah-tengah barisan, kini mulai mendesak ke salah satu sisi. Yaitu barisan lawan yang berada di posisi paling dalam di jalur lembah tersebut. Untuk menyudutkan mereka.
Sementara Kapal Udara yang melayang tersembunyi di balik pegunungan tampak mulai menghidupkan mesin pengerak baling-balingnya. Setelah Kapten Kapal mendapat kabar dari Helen melalui Radio Komunikasi. Giliran mereka untuk memasuki medan perang sudah tiba.
"Ayo, semua masuk ke dalam. Sebentar lagi tiang besi itu akan mulai menyambarkan listrik ribuan Watts," sahut Aksa memberi peringatan sekaligus perintah kepada yang lain.
"Tapi aku ingin melihatnya," ucap Yvvone seraya menekuk wajah.
"Kita bisa melihatnya dari dalam Anjungan." Nata mencoba menenangkan Yvvone.
.
Tak lama setelah rombongan tersebut masuk ke dalam anjungan, lampu-lampu sorot yang terpasang di bagian bawah lambung kapal mulai menyala satu persatu. Tiang kumparan di dekat haluan juga mulai terdengar mendengung pelan. Yang tak lama kemudian mulai terlihat percikan cahaya kilat melompat-lompat kecil dari bagian bola logam di atasnya.
Terlihat wajah-wajah tidak percaya dan kagum dari balik jendela kaca anjungan saat melihat hal tersebut. Sementara suara-suara mekanis mulai terdengar sebelum Kapal Udara tersebut perlahan bergerak.
"Benar-benar seperti Sihir Petir," ujar Yvvone dalam kagum mendapati kilatan petir yang mulai memanjang ukurannya.
"Dan aku benar-benar tidak merasakan adanya Aliran Jiwa dalam benda itu," sela Ymone yang terlihat tak percaya. "Bagaimana itu mungkin?"
"Apa kita akan menuju medan tempur?" potong Murrel yang tampak mengamati situasi di bawah yang mulai bergerak.
Aksa hanya memberikan anggukan kecil menjawab pertanyaan pria Elang tersebut.
"Apa tidak apa-apa terbang di atas para prajurit kalian sendiri? Bukankah petir akan menyambar segala hal tanpa bisa dikendalikan?" tanya Solas kali ini.
"Ya... meski tak dapat dikendalikan, namun listrik lebih memilih untuk menyambar konduktor." Aksa menjawab dengan penjelasan yang tjdak dapat ditangkap maksudnya.
"Konduktor?"
"Maksudnya material logam. Petir itu akan memilih menyambar logam yang menyentuh permukaan tanah." Nata menambahi dengan penjelasan yang lebih mudah dimengerti oleh yang lain.
"Dan karena Pasukan Rhapsodia menggunakan pelindung dari bahan kulit, Silikon, dan Fluoropolymer, jadi kesempatan mereka tersambar sangat kecil dibanding lawan yang menggunakan pelindung dari logam murni. Apa lagi logam Dracz." Aksa menambahkan penjelasannya. "Logam itu adalah konduktor paling baik di bawah Perak dan Emas," lanjutnya lagi.
"Tapi bila yang Anda bilang kesempatan mereka tersambar kecil, berarti masih ada kemungkinan mereka akan tersambar petir-petir itu, kan?" Murrel bertanya.
"Benar. Hal tersebut tidak dapat dihindari. Untuk itu, baju pelindung mereka dibuat menggunakan kulit Hewan Mistik, Exion. Jadi dapat meredam kekuatan Sihir Petir hingga nyaris seluruhnya." Nata menjawab.
"Exion? Maksud Anda kuda bertanduk sabit itu?" Kali ini Morgana yang bertanya untuk memastikan.
"Dan itu digunakan oleh seluruh pasukan? Bagaimana kalian bisa mendapat sebegitu banyak kulit hewan tersebut?" Kali ini Solas yang bertanya.
"Kami memelihara beberapa Hewan Mistik di wilayah Rhapsodia," jawab Nata kemudian.
__ADS_1
"Kalian memelihara hewan itu?" Terlihat Solas masih belum yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Benar," jawab Nata singkat.
"Luar biasa sekali." Solas terlihat tidak dapat menutupi rasa kagumnya.
"Rhapsodia memang punya Penjinak yang hebat," sahut Yvvone mengakui.
.
Sementara di medan peperangan, prajurit dan para pemimpin pasukan Augra dikejutkan oleh sebuah cahaya terang yang tiba-tiba saja muncul dan bergerak mendekat dengan tidak wajar di langit malam yang cerah tanpa awan.
Dan meskipun samar, namun dibalik cahaya itu tampak sebuah siluet sesuatu dengan sayap mengepak yang terlihat menyambarkan petir secara liar.
Pasukan Augra tampak terkejut dan kebingungan melihat hal tersebut. Mereka tidak tahu apa sebenarnya cahaya aneh itu, sampai kemudian terdengar suara teriakan seseorang.
"Berunda telah tiba!"
Yang kemudian disusul dengan teriakan serupa dari pasukan Rhapsodia lainnya.
"Berunda?"
Dan tak lama kemudian mulai terdengar suara teriakan-teriakan ganjil dari arah cahaya aneh tersebut. Seperti campuran dari suara pekik, lolong, dan teriakan puluhan binatang.
Namun tidak selesai sampai di situ saja, dari cahaya aneh itu sebuah sinar terang secara tiba-tiba menyorot ke arah barisan pasukan Augra yang membuat mereka silau. Memberi kesempatan Pasukan Rhapsodia untuk melancarkan serangan. Memanfaatkan keterkejutan pasukan lawan dari silaunya sinar tersebut.
Pasukan Elit yang pertama melakukan serangan. Dan kemudian diikuti oleh yang lainnya. Yang membuat Pasukan Augra harus berusaha mati-matian untuk bertahan dari serangan tersebut, juga dari sambaran petir yang mulai mendekat.
"Larilah kalian sebelum binasa dalam murka Berunda!" Tiba-tiba terdengar suara menggema di antara lembah.
Dan tak lama kemudian petir mulai terlihat menyambar beberapa prajurit Augra yang berada di bawah cahaya aneh itu. Melumpuhkan prajurit tersebut secara langsung.
Dan meski terlihat liar tak terkendali, namun sambaran petir itu hanya tertuju pada Pasukan Augra saja. Bahkan petir menyambar tubuh prajurit Augra beberpa kali meski mereka sudah tergeletak tak berdaya di atas tanah.
Melihat hal tersebut membuat prajurit lawan menjadi panik. Mereka mulai kehilangan konsentrasi menghadapi prajurit Rhapsodia yang berada di hadapan mereka.
Ditambah suara teriakan bercampur lolongan tadi mulai terdengar menggema memenuhi lembah, membuat situasi menjadi semakin mencekam.
.
"Apa itu yang yang disebut-sebut dengan Berunda oleh para penambang?" Jendral dari Pasukan Augra tampak memfokuskan pandangannya ke langit gelap di atas jalur lembah jauh di hadapannya. "Apa itu benar-benar seekor burung?" Tidak terlihat kekuatir berlebih dari wajahnya.
"Tampaknya seperti itu, Jendral. Karena jelas itu bukanlah Yllgarian," jawab seorang kesatria yang berada di samping sang Jendral.
"Lanar, apa kau bisa membidiknya dari tempat ini?" tanya sang Jendral tanpa memindah pandangannya dari cahaya aneh tersebut.
__ADS_1
"Bisa, Jendral." Seorang kesatria perempuan yang berdiri di belakang sang Jendral mengangguk penuh percaya diri.
"Kalau begitu, jatuhkan mahluk itu," perintah sang Jendral kemudian.
"Siap, Jendral." Dan setelah menjawab, perempuan bernama Lanar itu segera mengambil busur panah berwarna gading dengan beberapa permata tertatah di beberapa bagian, dari samping pelana kudanya. Yang adalah Senjata Mistik.
Setelah mencari posisi untuk mempermudahkannya melakukan bidikan, segera perempuan dengan pakaian kesatria bangsawan itu menarik lengkung busur yang nyaris terlihat seperti sebuah tulang binatang di antara kedua tangannya.
Dan cahaya jingga kemerahan mulai muncul diantara bentangan tangan perempuan itu. Membentuk sebuah anak panah yang siap untuk ditembakkan.
Sang Jendral masih tidak terlalu kuatir menatap cahaya aneh dengan petir menyambar-nyambar itu, saat kemudian suara berdesing kencang terdengar bersamaan dengan melesatnya anak panah berwarna jingga menuju ke arah cahaya aneh tersebut.
Dan tidak diantisipasi sama sekali, anak panah sihir dari Senjata Mistik itu berhasil menghancurkan salah satu lampu sorot yang terpasang di lambung kapal.
.
"Apa itu tadi?" Aksa terlihat sedikit panik setelah mendengar suara kencang ditambah guncangan pada Kapal Udara.
"Senjata Mistik." Val menjawab cepat.
"Senjata Mistik? Dari mana ditembakan?" Kali ini Murrel yang bertanya. Ia terlihat terkejut.
"Dari sana." Lily menjawab sambil menujuk ke arah mulut lembah yang cukup jauh dari posisi Kapal Udara mereka.
"Dari mulut lembah? Ada Senjata Mistik yang mampu melakukan serangan dari jarak sejauh itu?" Aksa terlihat lebih seperti tidak terima dibanding tak percaya.
"Itu Epirus," ucap Val lagi dengan singkat.
"Apa senjata itu buatanmu?" tanya Aksa kemudian.
Dan belum sempat Val menjawab, puluhan anak panah berwarna jingga terlihat memenuhi langit malam mengarah ke Kapal Udara tersebut.
Meski sang nakhoda dengan cekatan melakukan manuver untuk mengelak, namun dengan kecepatan gerak kapal tersebut tetap saja sebagian besar peluru sihir itu tak dapat dihindari.
Anak panah tersebut menghujani sisi kiri kapal. Menghancurkan beberapa lampu sorot, serta meninggalkan beberapa lubang pada bagian sayap. Untungnya tidak cukup tinggi untuk mengenai balonnya.
.
Sementara di bawah, para prajurit mulai bisa melihat dengan lebih jelas sosok asli dari cahaya dengan petir aneh tersebut. Karena sekarang sudah tidak ada lagi cahaya yang menghalangi pendangan mereka.
Dan sekali lagi mereka dibuat terkejut setelah mendapati wujud sebenarnya dari sesuatu yang disebut dengan Berunda itu.
Sebuah kapal layar yang menggantung di bawah balon raksasa, dengan sayap besar dan baling-baling di bagian atasnya.
-
__ADS_1